NovelToon NovelToon
Adikku Sayang Adikku Malang

Adikku Sayang Adikku Malang

Status: tamat
Genre:Fanfic / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:627.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: DN YM

"Adek itu penerang hidup kami semua. Mas janji, Mas akan melakukan cara apapun agar Adek bisa sembuh dari kanker. Mas janji, Sayang."

Apalah daya jika janji yang terucap, akan terkalahkan jua oleh takdir yang mutlak. Manusia memang punya rencana, tapi tetap Tuhan yang mengambil kendali dalam segalanya.

Berurai air mata, Ammar berusaha menenangkan sang adik tersayang. Ditemani Sadha dan Dhana yang tak kalah sedih melihat kesedihan sang adik. Dhina menatap ketiga masnya dengan mata yang sembab. Tak menyangka akan hal yang kini terjadi pada dirinya, membuatnya takut, suatu saat nanti penyakit mematikan itu akan merenggut nyawanya.

Ammar, Sadha dan Dhana pun tak kalah terpukul akan kabar buruk yang menimpa sang adik. Takut, khawatir, dan sedih semuanya bercampur aduk. Membuat ketiganya harus tetap kuat dan tegar menerima semua ini, demi sang adik dan kedua orang tua mereka yang tak kalah lebih terpukul.

Akankah Dhina bisa sembuh dari sakitnya?

Apakah Dhina sanggup melewati semua ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DN YM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 ~ Ingin Jagung Bakar

...🍁🍁🍁...

Penyakit Dhina yang sudah diketahui oleh Ammar, Sadha dan Dhana membuat ketiganya menjadi lelah, lelah hati dan lelah pikiran. Ammar dan Dhana bisa melampiaskan rasa lelah mereka di rumah. Namun tidak dengan Sadha yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang.

"Dhina positif kanker darah stadium dua!"

Selama di kantor hingga di perjalanan, ia tidak bisa bekerja dan mengemudi dengan fokus karena selalu teringat dengan pernyataan Dokter Ronald.

"Kata-kata Dokter Ronald selalu saja terngiang di telingaku. Aku tidak cukup tegar untuk menerima semua ini."

Sadha yang gusar pun terus meracau dan bicara sendiri di dalam mobilnya.

"Ya Allah kenapa harus Adek? Kenapa tidak orang lain saja? Aku saja tidak kuat mendengarnya, apalagi adikku yang harus melewati ini semua."

Sadha terus saja meracau di dalam mobil. Perasaannya hancur dan terpukul mendengar adik perempuan satu-satunya itu sakit keras. Sadha terus saja menggerutu, hingga ia tidak sadar kalau sudah dekat dengan rumah. Akhirnya Sadha pun sampai di rumah. Setelah sampai, Sadha turun dari mobilnya dan langsung masuk ke dalam rumah.

"Assalamualaikum."

Di saat Sadha masuk, ia berpapasan dengan Dhina yang baru bangun dan sedang menuruni tangga. Mendengar ada salam, Dhina pun menjawab dan menghampiri asal suara itu.

"Wa'alaikumsalam." jawab Dhina dari arah tangga paling atas dan belum melihat Sadha yang baru masuk.

Dhina pun berjalan menuruni tangga dengan cepat karena ingin melihat orang yang baru saja mengucap salam. Sementara Sadha, melihat sang adik yang menuruni tangga, ia pun menyapa Dhina dan menghampirinya.

"Adek..." sapa Sadha yang melihat ke arah Dhina dan menghampiri adik perempuannya itu.

"Mas Sadha... Mas sudah pulang ya? Kenapa cepat sekali?" jawab Dhina yang menyalami mas tengahnya itu seraya mengucek matanya karena baru bangun tidur.

"Cepat? Ini sudah sore, Sayang." ujar Sadha seraya membalas salaman Dhina dan melihat ke arah jam.

"Sudah sore? Ya ampun, Adek ketiduran, Mas. Adek mau mandi dulu ya." jawab Dhina yang melihat jam.

Saat Dhina hendak berbalik, Sadha pun langsung menarik tangan adik perempuannya itu.

"Tunggu Dek! Mas ingin bicara sebentar." ujar Sadha seraya meraih tangan Dhina yang hendak naik ke lantai atas lagi.

"Mas ingin bicara apa?" tanya Dhina yang heran dan bingung dengan Sadha.

"Mas... Mas ingin minta maaf karena sudah cuekin Adek tadi pagi. Mas menyesal, Sayang. Mas minta maaf ya." tutur Sadha yang masih menggenggam tangan Dhina.

"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Lagi pula Adek sudah tau alasan Mas, Mas Ammar dan Mas Dhana cuekin Adek. Seharusnya Adek yang minta maaf karena sudah membohongi Mas Sadha." jawab Dhina seraya menundukan kepalanya karena merasa bersalah pada mas tengahnya itu.

"Mas mengerti kenapa Adek melakukan itu. Tapi mulai sekarang jangan bohong lagi ya, Sayang." ujar Sadha seraya memegang dagu Dhina hingga membuat Dhina menatapnya.

"Iya, Mas. Adek minta maaf ya. Adek sayang sama Mas Sadha." ujar Dhina yang memeluk mas tengahnya itu.

"Iya, sudah Mas maafkan. Jangan diulang lagi ya. Mas juga sayang sekali sama Adek." jawab Sadha yang membalas pelukan sang adik.

"Iya, Mas." jawab Dhina yang memeluk erat tubuh Sadha.

Perang dingin antara Sadha dan Dhina sudah selesai. Mereka pun saling berpelukan. Saat Sadha dan Dhina berpelukan, tiba-tiba Dhana yang baru keluar dari kamarnya melihat pemandangan indah itu. Lalu menghampiri Sadha dan Dhina.

"Uhuk... uhuk."

"Mas Dhana..." ucap Dhina yang menyadari keberadaan mas kembarnya itu dari arah atas.

"Santai saja, Dek. Mas Sadha baru pulang ya?" jawab Dhana seraya menyalami Sadha.

"Sudah sejak tadi, Dhana. Tapi Mas mengobrol dulu sama Adek." ujar Sadha seraya membalas salaman Dhana.

"Oh, sudah baikan ya kalian." ujar Dhana yang menggoda Sadha dan Dhina.

"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat tadi." jawab Sadha seraya mengacak rambut Dhana yang sudah rapih karena ia sudah selesai mandi.

"Rusak rambut Dhana, Mas." sewot Dhana pada Sadha yang menghancurkan gaya rambutnya.

Sadha dan Dhina tertawa melihat tingkah Dhana yang kesal karena rambutnya dirusak oleh Sadha. Saat sedang tertawa, tiba-tiba Sadha teringat sesuatu tentang Dhina. Lalu...

"Oh iya, Dek. Mas Ammar sudah memberikan vitamin yang dia beli untuk Adek?" tanya Sadha tanpa sadar pertanyaannya itu memancing rasa heran Dhina.

"Vitamin? Sudah, tadi Adek sudah minum. Tapi kenapa Mas Sadha tau kalau Mas Ammar membelikan Adek vitamin?" jawab Dhina dan berbalik bertanya pada Sadha.

Sadha yang baru sadar akan pertanyaannya tadi, langsung bingung setelah ditanya balik oleh Dhina. Ia langsung melirik ke arah Dhana berusaha meminta jawaban yang tepat dari pertanyaan Dhina. Tapi Dhana pun juga tidak tau harus menjawab apa pada adik kembarnya itu.

Aduh, kenapa aku bertanya seperti itu pada Adek. Gumam Sadha dalam hati.

Mas Sadha ini ceroboh sekali sih. Sekarang jadi pusing sendiri 'kan mau jawab apa. Gumam Dhana dalam hati.

"Mas Sadha kenapa diam?" tanya Dhina sambil menggoyangkan tubuh Sadha.

Saat Sadha dan Dhana terdiam karena bingung harus jawab apa, tiba-tiba dari arah atas terdengar suara Ammar.

"Sadha tau karena Mas yang memberitahunya, Dek."

Ammar yang baru keluar dari kamar pun berjalan menuju adik-adiknya itu.

"Mas memberitahu Mas Sadha?" tanya Dhina lagi pada Ammar.

"Sadha memberitahu Mas kalau Adek sempat mimisan saat di mobil. Setelah itu Mas langsung membeli vitamin itu di rumah sakit dan Mas juga memberitahunya." jawab Ammar yang berusaha tenang dan meyakinkan Dhina agar tidak curiga.

"Oh lalu kenapa Mas Sadha susah sekali untuk menjawab pertanyaan Adek?" ujar Dhina yang kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Sadha.

"Kepala Mas Sadha sedang penuh mungkin, Dek. Dia itu baru pulang kerja, makanya sedikit error." timpal Dhana yang menggoda Sadha karena ceroboh.

"Enak saja error. Dasar ya kamu, awas saja nanti." ujar Sadha bercanda yang menggertak Dhana dengan tangannya.

"Sudah, sudah! Kalian ini bercanda terus. Lebih baik kamu mandi sekarang dan istirahat, Sadha." ujar Ammar yang melihat ke Sadha.

"Iya, Mas. Maaf ya Dek karena Mas tidak menjawab pertanyaan Adek. Tapi jawaban Mas Ammar betul kok. Mas tiba-tiba bingung saja harus jawab apa." jawab Sadha pada Ammar dan meminta maaf lagi pada Dhina.

"Mas Sadha akan Adek maafkan tapi ada syaratnya." ujar Dhina seraya menunjuk Sadha.

"Pakai syarat lah pula. Syarat apa adikku Sayang?" jawab Sadha seraya mencubit kedua pipi Dhina yang cubby.

"Mas Sadha temani Adek makan jagung bakar yang ada di depan komplek sana. Bagaimana?" ujar Dhina pada Sadha sambil mengerlingkan matanya.

"Jagung bakar? Makan di sana?" tanya Sadha pada Dhina.

"Iya, Mas. Kalau dibawa pulang tidak enak. Jagung bakarnya enak sekali dan lebih enak kalau makan di sana. Lagi pula dekat kok, Mas. Depan komplek rumah kita. Nanti kita perginya jalan saja." jawab Dhina dengan ekspresi melasnya itu.

"Jalan? Kita pakai mobil saja ya, biar cepat." ujar Sadha sambil berjalan menuju kamarnya.

"Hanya di depan gang kenapa pakai mobil. Kita juga perlu jalan kaki, Mas. Biar sehat. Jalan saja ya." jawab Dhina yang memohon pada Sadha.

"Boleh tidak sama Mas Ammar? Kalau Ayah sama Ibu, Mas rasa tidak masalah asal Adek tidak pergi sendiri." ujar Sadha sambil melihat ke arah Ammar.

"Biar Dhana temani juga, Mas. Mas Ammar mungkin juga ingin ikut." timpal Dhana yang berjalan menuruni tangga.

"Boleh, pergi saja. Tapi kalian hati-hati, jangan pulang terlalu malam. Mas tidak bisa ikut karena masih ada pekerjaan yang belum selesai." jawab Ammar pada kedua adiknya itu seraya berjalan menuruni tangga.

"Yes... berarti jadi ya Mas?" tanya Dhina pada Sadha sebelum masuk juga ke dalam kamarnya.

"Oke, nanti setelah makan malam kita pergi. Mas mandi dulu ya. Bye..." ujar Sadha yang melambaikan tangannya dan masuk ke kamar.

"Oke, Mas."

Dhina pun juga langsung masuk kamar untuk mandi karena hari sudah hampir mau maghrib. Sementara Ammar dan Dhana yang sudah berada di bawah bertemu dengan Pak Aidi dan Bu Aini yang tengah duduk di ruang keluarga.

"Ayah sama Ibu kapan pulang?" tanya Dhana yang menghampiri dan menyalami kedua orang tua mereka itu.

"Ayah dan Ibu sudah pulang dari tadi, Nak. Kalian saja yang tidur siangnya terlalu pulas dan tidak sadar Ayah sama Ibu pulang." jawab Pak Aidi yang membalas salaman Dhana.

"Iya nih, anak-anak Ibu biasanya tidak tidur siang. Lelah sekali ya setelah bekerja?" ujar Bu Aini pada kedua putranya itu.

Ammar dan Dhana pun saling pandang saat mendengar perkataan Bu Aini. Mereka merasa kalau Bu Aini merasakan apa yang kini mereka rasakan. Namun Bu Aini saja yang belum mengetahui semua kebenarannya. Lalu...

"Iya, Bu. Tadi cuaca di luar juga panas sekali. Saat masuk kamar rasanya lebih dingin sampai ketiduran." jawab Ammar yang berusaha tenang agar kedua orang tuanya tidak curiga.

"Tidak apa-apa, Bu. Bagus kalau mereka tidur siang. Biar imunitas tubuh mereka jadi lebih bagus dan terjaga." timpal Pak Aidi pada Bu Aini dan membuat Ammar dan Dhana lega.

"Ya sudah, sekarang kalian siap-siap ambil wudhu, setelah itu ke mushallah ya. Karena sudah adzan maghrib. Sadha dan Adek mana?" ujar Bu Aini yang bertanya keberadaan Sadha dan Dhina.

"Sadha sama Adek sedang di kamar, Bu. Mereka juga sedang bersiap ingin salat maghrib." jawab Ammar yang berjalan menuju kamarnya lagi untuk siap-siap salat berjama'ah.

"Dhana ke atas juga ya, Bu." timpal Dhana yang izin untuk ke kamar pada Bu Aini.

Bu Aini hanya mengangguk pada kedua putranya itu. Lalu Bu Aini dan Pak Aidi pun juga menuju ke kamar mereka.

***

Kegiatan rutin keluarga setiap maghrib pun sudah dilaksanakan. Semua anggota keluarga termasuk Bi Iyah juga ikut salat berjama'ah di mushallah. Setelah salat berjama'ah, semuanya berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Malam ini, Bi Iyah memasak ayam bakar kesukaan Dhana dan Dhina. Namun saat makan malam berlangsung, Dhina tidak begitu bersemangat dengan makanan yang sudah ada di depannya.

"Anak Ibu yang cantik, kenapa makanannya hanya dipandang saja, Nak? Nanti susah move on loh makanannya karena adek pandang terus." sapa Bu Aini yang menggoda putrinya itu.

"Adek makannya nanti saja ya, Bu. Setelah ini Adek ingin keluar sebentar sama Mas Sadha dan Mas Dhana. Boleh 'kan Bu?" jawab Dhina pada Bu Aini.

"Adek mau ke mana? Ini sudah malam, Nak." ujar Bu Aini seraya mengusap kepala sang putri.

"Adek mau beli jagung bakar yang ada di depan komplek sana, Bu. Boleh ya, Bu. Adek perginya bertiga, tidak sendiri. Jadi Ibu tidak usah khawatir." jelas Dhina yang memohon pada Bu Aini.

"Perginya naik mobil 'kan?" tanya Bu Aini pada Dhina dan melirik ke arah Sadha dan Dhana.

"Adek ingin jalan kaki, Bu. Dia tidak mau naik mobil, katanya dekat hanya di depan komplek saja." jawab Dhana yang menyuapi makanannya.

"Kalau jalan, Ibu tidak izinkan! Di depan komplek sana banyak preman, Nak. Nanti kalau kamu diganggu oleh mereka bagaimana?" ujar Bu Aini dengan nada tegasnya dan membuat Dhina terdiam

"Sudah, izinkan saja, Bu. Tidak baik melarang anak sampai seperti itu. Lagi pula Adek perginya dengan Sadha dan Dhana. Jadi Ibu tidak perlu khawatir." timpal Pak Aidi yang membela Dhina dan mengerti apa yang Dhina inginkan.

"Tapi Ayah... Ibu khawatir." jawab Bu Aini yang melihat ke arah Dhina.

"Tenang saja, Bu. Sadha akan menjaga Adek. Lagi pula hanya depan komplek, di sana juga ramai. Jadi Ibu tidak usah khawatir." ujar Sadha dan Bu Aini menghela nafas panjang.

"Ya sudah, kalian boleh pergi. Tapi janji harus hati-hati ya. Putri Ibu tidak boleh diganggu orang." jawab Bu Aini yang mengusap kepala Dhina dan membuat Dhina senang.

"Jadi boleh Bu?" tanya Dhina ulang untuk memastikan apa yang dikatakan sang ibu tidak bercanda.

"Iya, Sayang. Tapi hati-hati dan tidak boleh pulang malam. Ingat, besok kita harus pergi ke acara Ayah kalian di kantor." jawab Bu Aini pada Dhina dan putra-putranya.

"Siap, Ibu. Ayo, Mas kita pergi sekarang saja. Nanti keburu malam." ujar Dhina seraya hormat pada Bu Aini dan langsung mengajak kedua masnya pergi.

"Ya sudah, ayo. Ayo, Dhana! Ayah, Ibu, Mas, kita pergi dulu ya. Assalamualaikum." jawab Sadha yang sudah selesai makan sambil berpamitan pada semuanya.

"Dhana juga ya, Yah, Bu, Mas. Assalamualaikum." timpal Dhana yang juga sudah selesai makan dan pamit pergi.

"Adek pergi dulu ya, Ibu. Adek pergi ya, Ayah. Adek pergi ya, Mas. Assalamualaikum." ujar Dhina yang menyalami semuanya satu per satu.

"Wa'alaikumsalam, kalian hati-hati ya. Kalau ada apa-apa cepat hubungi Mas." sahut Ammar dari dalam rumah pada ketiga adiknya yang sudah berada di luar.

"Siap, Mas." jawab Sadha dari luar menjawab perkataan Ammar.

Sadha dan si kembar pun pergi untuk membeli jagung bakar kesukaan Dhina. Sejak Dhina memberi syarat pada Sadha untuk menemaninya membeli jagung bakar, membuat Dhina tidak nafsu makan dan hanya memikirkan betapa lezatnya jagung bakar itu. Sementara Ammar, Pak Aidi dan Bu Aini yang sudah selesai makan, kembali ke aktifitas malam mereka masing-masing.

"Ayah, Ibu... Ammar ke atas dulu ya. Ammar mau ke kamar karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan." ujar Ammar yang sudah selesai makan lalu hendak berdiri dan berjalan ke lantai atas.

"Iya, Nak. Jangan begadang ya. Kerja boleh tapi juga harus ingat waktu." jawab Bu Aini yang merapihkan meja makan bersama Bi Iyah.

"Iya, Bu. Siap."

"Bi Iyah... nanti tolong antarkan satu gelas susu untuk Ammar ya." ujar Bu Aini pada Bi Iyah yang berada di dapur.

"Baik, Bu."

Setelah Ammar naik ke atas dan masuk ke kamarnya, Bu Aini pun menyusul Pak Aidi yang sedang bersantai di taman samping. Sementara Ammar, langsung memulai pekerjaannya yang sempat tertunda. Ia terlalu sibuk dengan pasien yang banyak dan juga masalah penyakit Dhina.

***

Saat Ammar sedang sibuk menyelesaikan pekerjaannya, tiba-tiba perasaannya berubah menjadi tidak tenang. Ia teringat pada ketiga adiknya yang sedang pergi membeli jagung bakar di depan komplek.

"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya? Apa terjadi sesuatu pada Adek? Kalau benar pasti Sadha ataupun Dhana sudah menghubungiku. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja."

Ammar pun berusaha menghilangkan rasa khawatirnya dengan terus menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat selesai. Namun perasaan itu tetap tidak mau hilang dari hati laki-laki tampan itu. Ia selalu kepikiran pada ketiga adiknya, terutama Dhina. Apalagi saat mengingat perkataan Bu Aini, bahwa di depan komplek banyak preman. Ammar takut kalau preman itu akan mengganggu Dhina, walaupun saat ini Sadha dan Dhana bersamanya.

"Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus cepat menyelesaikan pekerjaanku dan menyusul ketiga adikku."

Ammar pun berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar bisa segera menyusul ketiga adiknya. Jika mereka bertiga diganggu preman usil itu, maka Sadha dan Dhana terpaksa harus melawan mereka. Sedangkan Ammar tau, kalau Sadha dan Dhana tidak terlalu pintar dalam berkelahi seperti dirinya.

Sadha dan Dhana memang bisa berkelahi namun tidak terlalu pandai seperti Ammar. Ammar pun semakin tidak tenang saat mengingat hal itu. Ammar baru menyadari kalau Sadha dan Dhana tidak terlalu pandai berkelahi. Tapi Ammar terus tetap tenang agar pikiran dan hatinya tetap terkontrol.

"Semoga mereka baik-baik saja!"

.

.

.

.

.

Happy Reading All❤️❤️❤️

1
Fitri03
terharu banget bacanya sampe menguras air mata
Fitri03
pas dhina diagnosa terkena penyakit kanker darah disitu aku nangis banget bacanya sampe Dhana akhirnya menikah dengar orang benar2 mirip sama adeknya,benar2 terharu bacanya dan menguras air mata.makasih yaa Thor udah bikin cerita sebagus ini kalau bisa bikin season 2nya tentang Dhana dan mala.
🌹Dina Yomaliana🌹: Alhamdulillah makasih banyak ya kak udah mau baca novel aku🥹🩷🙏 btw lanjutannya ada kok, di sebelah silakan berkunjung juga ya semoga suka☺️☺️
total 1 replies
Asih Asih
jangan di kasih penyakit terus dong Thor,kasih kebahagian bersama imam pliss
🌹Dina Yomaliana🌹
Sebagai penulis dari novel ini, saya berharap akan ada banyak orang yang menyukai alur ceritanya. Walaupun saya sadar, kalau cerita ini masih sangat banyak kesalahannya.
Dina Ima Tari
aduhh capek banget baca cerita ini tuh, rasanya gak berhenti mengalir, ini novel pertama yang aku ingin banget si tokoh utamanya hidup
biasanya klau tokoh utamanya sakit, ya udah pasti bakal kesana mikirnya
tapi ngeliat kebahagiaan, canda tawa, rasanya gak rela bgt kalau dhina dah gak ada
thanks buat author yang membuat cerita keren dan membuat banjir air mata
Nadia Permata
berulang kali baca ini...
ttp aja nangis...
Erma Wahyuni
😭😭😭😭😭
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Erma Wahyuni
gimana ya kabar imam
Erma Wahyuni
😭😭😭😭
Rani Virjani
kenapa jg yg nungguin harus d bawah sih..sedangkan yg sakit berada d lantai atas🤦‍♀️🤦‍♀️
Li Permana
Mampir kak, 3 like untuk karyamu
Mommy Gyo
10;like hadir thor mampir
Ganezt Ganezho
wesss mantap mengandung bawang yg buanyaaakkk pokok e... top dach kk thor bkin certa nya
Yenz_Azzahra
Hadir disini.
tingglkn jejak dulu ya
Μғ⃝🦪тιαяα м͜͡¢͢🦇
Semangat Thor ceritanya sangat bagus😍, mampir juga di novel ku "Hijrahnya Gadis Pembunuh Bayaran" 💙💙
Martina Alfarizqi
semangat untuk karya barunya💪💪
Eva Santi Lubis
keren
Anun
Udah mampir dari my Maria
Yeni Eka
Disitu tulis Plak, eh aku yang meringis ka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!