NovelToon NovelToon
INGRID: Crisantemo Blu

INGRID: Crisantemo Blu

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: I. D. R. Wardan

INGRID: Crisantemo Blu💙

Di balik nama Constanzo, Ingrid menyimpan luka dan rahasia yang bahkan dirinya tak sepenuhnya pahami. Dikhianati, dibenci, dan hampir dilenyapkan, ia datang ke jantung kegelapan-bukan untuk bertahan, tapi untuk menghancurkan. Namun, di dunia yang penuh bayangan, siapa yang benar-benar kawan, dan siapa yang hanya menunggu saat yang tepat untuk menusuk dari bayang-bayang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I. D. R. Wardan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 No

Deru mesin mobil berhenti, seorang pria dewasa turun dari mobil, berjalan ke sisi lain mobil, membukakan pintu bagi seorang gadis kecil manis. Wajahnya pucat tapi mata birunya tetap berbinar di balik mata yang sayu. Pria berjuluk Ricc itu membawa Ingrid kecil dalam gendongannya, membawanya memasuki rumah.

"Ayah, kenapa sangat sepi? Apa Ian dan ibu sudah tidur?"

Ricc tersenyum pada putrinya. "Ibu dan Ian pergi sebentar, mereka akan kembali."

Ingrid mengangguk mengerti.

"Putri kecil Ayah ini ingin apa untuk makan malam?" Ricc tak tahan untuk tidak mencubit hidung mungil Ingrid.

"Spaghetti buatan Ayah!"

Ricc tersenyum lebar, kerutan tercetak di ujung kedua matanya. "Kau tidak pernah bosan dengan itu, ya?"

"Tidak, spaghetti Ayah sangat lezat."

Ric mencium gemas pipi cabi Ingrid. Ingrid tertawa geli karenanya. Kehangatan dari ayah dan anak itu menghangatkan seluruh rumah yang sebelumnya terasa dingin dan sunyi. Tawa keduanya memantul di setiap dinding, memancarkan perasaan positif keseluruhan rumah.

"Jika begitu, tunggu sebentar, Ayah akan memasak spaghetti untukmu. Ingin menunggu di kamarmu atau di meja makan?"

"Aku sudah baik-baik saja, aku ingin duduk di meja makan menemani Ayah."

"Baiklah, ayo kita memasak makan malam!"

Keduanya berlalu ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Aroma bawang putih yang ditumis di minyak zaitun menguar keseluruh dapur, menarik siapapun untuk segera menyantap spaghetti panas yang baru saja di sajikan sederhana di atas piring bundar.

"Lezat?"

Ingrid mengangguk senang berulang kali. Mulutnya penuh spaghetti, sekitar bibirnya sangat berantakan. Tetapi, tak menghentikan gadis kecil itu untuk terus menyendok spaghettinya.

Sudut bibir Ricc melengkung, matanya berselimut air mata, bahunya meluruh, lengannya menyentuh pucuk kepala Ingrid bagai kapas.

"Teruslah seperti ini, Ingrid."

Hari demi hari berlalu, Vilia dan Ian tidak kunjung kembali ke rumah mereka. Ingrid terus-menerus bertanya pada Ricc, tapi ayahnya itu selalu menjawab 'mereka akan segera kembali.' Ingrid percaya pada perkataan ayahnya, dia tidak meragukan apapun. Hingga suatu malam, Ingrid tanpa sengaja melihat ayahnya menangis tertahan di kamarnya sambil memeluk bingkai berisikan foto keluarga mereka.

Ingrid tidak pernah melihat ayahnya menangis, hal ini membuatnya terluka. Suara ayahnya yang terdengar tertahan, bahu yang membelakanginya terlihat bergetar, postur ayahnya membungkuk tanda bahwa dia tengah tidak baik-baik saja. Di saat itu, di waktu itu, Ingrid menyadari, Ingrid tahu, ibu dan saudaranya tidak akan pernah kembali.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

Ingrid yang berseragam sekolah menghampiri meja makan, menarik kursi di sebelah Frenzzio yang tengah menikmati cappucinonya dengan damai.

"Selamat pagi," ujar Vesa yang sedari tadi duduk di seberang Ingrid.

Ingrid tersenyum palsu. "Selamat pagi," balas Ingrid sarkas.

Ingrid menikmati sarapannya tanpa memperdulikan Istri pertama ayahnya itu lagi.

Vesa memberi isyarat pada pelayan untuk mengambil sesuatu. Pelayan mengangguk lalu pergi, tak lama pelayan itu kembali membawa kotak kecil di tangannya. Kotak itu di letakkan di depan Ingrid.

Ingrid melirik kotak itu kemudian bertanya. "Apa ini?"

"Ayahmu memberikan itu." Jari-jari Vilia menyobek Cornetto hangat, lalu menyantapnya dengan kunyahan pelan dan teratur.

Ingrid membuka kotak itu, di dalamnya berisi beberapa jenis kartu pembayaran lengkap dengan ukiran namanya 'Ingrid Vittoria Constanzo', selain itu ada beberapa kartu lain, seperti kartu identitas, SIM, kartu keanggotaan eksklusif, dan beberapa kartu penting lainnya. Ingrid mengelus nama Constanzo yang terukir timbul menggunakan ibu jarinya. Verdani telah kukuh berubah menjadi Constanzo.

"Terima kasih." Ingrid berucap hambar.

"Aku mengawasimu, Ingrid. Berbuat di luar kendali hanya akan membakarmu."

"Sesuatu yang telah menjadi abu tidak bisa lagi terbakar, bibi, tidak ada yang harus kau khawatirkan," jawab Ingrid seraya kembali menyantap sarapannya.

Frenzzio menahan ujung bibirnya agar tak terangkat. Ujung sepatunya mengetuk pelan lantai dengan berirama.

Vesa tertawa kecil. "Aku akui, kau memang cocok menjadi putri Giorgio. Sayang sekali, padahal yang kudengar kau dibesarkan oleh Riccolo, darah memang lebih kental daripada air."

"Kau—"

"Giorgio kebanyakan akan langsung menyerang balik orang mengganggunya, berbeda dengan Riccolo yang memilih berdiam diri demi ketenangan dirinya sendiri."

"Kau mengenal ayah Ricc?" tanya Ingrid penasaran.

"Dia mantan kekasihku, tentu aku mengenalnya." Vesa bicara dengan acuh tak acuh. Namun, nada provokasi yang sangat halus masih dapat didengar dari bibir yang dipoles lipstik merah gelap itu.

"Apa? Bagaimana bisa?"

"Jika Giorgio penggila kekuasaan dan harta, maka Riccolo adalah penggila wanita." Vesa sengaja menghiraukan pertanyaan Ingrid.

"Ayah Ricc tidak seperti yang kau sebutkan," protes Ingrid tak terima ayah Riccnya direndahkan.

"Oh, gadis muda, aku mengenal Ricc jauh sebelum dirimu." Vesa menyeka tangannya menggunakan serbet. "Malam nanti, kita akan malam di rumah kakekmu. Belilah sesuatu yang pantas digunakan dengan itu. Nikmati makanan kalian anak-anak."

Vesa beranjak dari kursinya. Sebelum berjalan pergi lebih jauh, dia kembali berbalik, matanya tertuju pada Ingrid, begitupun sebaliknya.

"Berhati-hati dengan air, karena air dapat melarutkan abu."

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

"Ibumu adalah kakak kandung Vesa, yang berarti dia adalah bibimu. Orang yang dimaksud kakekmu olehnya tadi adalah ayahnya dan ibumu, Letro Velucci," papar Frenzzio selagi tangannya sibuk mengendalikan kemudi mobil.

"Aku kira wanita itu yatim piatu," celetuk Ingrid seadanya.

"Jadi mereka saudari. Mereka menikahi satu pria yang sama sekarang, dulu bibi vesa adalah mantan kekasih ayah Ricc, ibuku adalah mantan istri ayah Ricc, lalu bagaimana bisa giorgio menjadi ayah kandungku dan kembaranku? Apa ibuku berselingkuh dengan Giorgio? Kenapa semua ini sangat membingungkan?!" lanjutnya.

"Aku tidak bisa menjawab itu, untuk itu kau harus bertanya pada orang yang menyaksikan kisah rumit mereka."

"Apa kau pernah bertemu kakekku?"

"Ya, beberapa kali. Yang aku tahu dia tidak menyukaiku."

"Mengapa?"

Frenzzio mengendikkan bahunya tak acuh. "Menganggapku ancaman bagi Marcello sebagai pewaris La Cosa, dan ..."

"Dan apa?"

"Karena ayahku membunuh putranya."

"Kejutan! Aku memiliki paman, dan dia sudah tiada. Entah berapa banyak lagi kejutan keluarga yang menantiku." Ingrid berucap dengan jengah.

Mobil yang mereka kendarai telah terparkir sempurna di lahan sekolah.

Keduanya keluar dari mobil lalu berjalan beriringan bersama.

"Aku ingin ke toilet, pergilah lebih dulu." Frenzzio mengangguk, lalu merekapun berpisah.

Toilet sangat sepi, hanya ada Ingrid seorang diri. Dia meninggalkan tasnya di dekat wastafel, baru setelahnya ia masuk ke dalam bilik toilet. Saat di dalam bilik, ia mendengar seperti ada yang masuk ke dalam toilet, tapi sangat sebentar sebelum akhirnya terdengar meninggalkan toilet.

Selepas selesai buang air kecil, Ingrid keluar dari bilik, mendekat kembali ke dekat wastafel di mana tasnya dia letakkan untuk mencuci tangan. air dingin mengalir membasahi tangan Ingrid, di sela-sela mencuci tangannya, mata Ingrid tak sengaja menangkap resleting tasnya yang tampak sedikit terbuka, padahal ia sangat yakin jika sudah menutup tasnya dengan rapat. Gadis penyuka warna biru itu bergegas menuntaskan kegiatan mencuci tangannya dengan cepat, lalu segera memeriksa tasnya.

Tepat saat membuka tasnya, indra penglihatan Ingrid langsung terpusat pada sebuah kertas asing. Ingrid melihat ke sekelilingnya untuk memastikan dia benar-benar sendirian, benar, dia sendirian. Ingrid mengambil kertas yang terlipat itu lalu membukanya.

Kematian berjalan.

Netra Ingrid bergetar, sekujur tubuhnya mendingin, detak jantungnya seakan membeku beberapa saat, sesaat rasanya bumi berhenti berotasi.

Apa maksudnya ini?

Siapa yang meletakkan ini?

Ingrid meremas kertas itu.

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

"Elsa terima kasih telah membantuku tadi saat pelajaran."

Elsa mengibaskan tangannya di udara. "Itu bukan masalah besar, aku akan selalu ada jika kau memiliki masalah. Kau ingin ke kantin bersamaku?" tanyanya Elsa, mata coklatnya bercahaya indah saat bertemu sinar matahari yang menembus langsung dari jendela.

Ingrid menggelang menolak. "Ada sesuatu yang harus kulakukan."

"Oke, Nona sibuk, sampai jumpa nanti."

"Ya."

Ingrid tidak membuang waktu, tak lama berselang setelah Elsa pergi, dia segera pergi menuju tepat tujuannya, yaitu ruang keamanan di mana tempat pemantau kamera pengawas berada. Sesekali kaki Ingrid tersandung karena berjalan dengan tempo yang agak cepat, untung saja dia tidak sampai mencium lantai yang telah bersentuhan dengan ribuan pasang sepatu.

Sesampainya di ruang keamanan, Ingrid langsung berhadapan dengan pria penjaga bertubuh agak berisi, mulutnya masih tampak mengunyah makan siang yang tertunda karena kedatangan Ingrid.

"Ada apa, Nak?" Ia bertanya begitu makanan di mulutnya telah berhasil melewati tenggorokan.

"Maaf, Pak, aku kehilangan sesuatu saat di toilet tadi pagi. Bisakah aku melihat kamera pengawas untuk melihat apakah ada yang masuk ke dalam toilet setelah aku?" dusta meluncur tanpa hambatan dari bibir kemerahan Ingrid.

Alis pria itu menyatu, kerutan tampak jelas di antara kedua alisnya. "Ya, masuklah."

Senyum Ingrid mengembang. Tapak sepatu Ingrid menjamah lantai ruangan yang luasnya tidak lebih dari ruang kelasnya. Lampu dibuat tak terlalu terang demi menghindari pantulan dari layar monitor, warna cat dinding putih netral demi menjaga fokus para petugas, sekotak pizza di sudut ruangan yang tak tertutup dengan baik karena ditutup dengan terburu-buru, jadi karena itu hidung Ingrid masih dapat mencium perpaduan manis tomat dan gurihnya keju yang dipanggang, serta aroma segar dari basil. Lemari arsip tertata rapi, meja panjang dipenuhi perangkat beserta layar datar yang menampilkan hampir segala sisi sekolah.

Pria itu bertanya tepatnya waktu kejadian tersebut, Ingrid menjawab cepat, lalu pria tua itu melakukan sesuatu pada keybord dan monitor di depannya. Tapi, tidak mendapatkan apapun.

Ternyata pria itu baru mengingat, bahwa kamera di luar toilet telah rusak sejak seminggu yang lalu, dan belum diperbaiki hingga kini.

"Maaf, Nak."

"Tidak masalah, Pak, terima kasih sudah mencoba membantu. Maaf, karena telah menganggu." Pria itu mengangguk sekali dan memberikan senyum tulus.

Ingrid keluar dari ruangan dengan langkah berat dan wajah menekuk. Sekarang bagaimana dia bisa mencari orang yang menaruh kertas itu di tasnya?

"Sekarang jelaskan padaku, Amore."

Ingrid terjengkit kaget, kala tanpa diduga Frenzzio berada samping pintu sembari bersandar menyamping menghadapnya.

"Apa yang kau lakukan di sini? Ini jam makan siang, seharusnya kau berada di kantin," kelitnya.

"Katakan."

Frenzzio mengikis jarak antara kedunya. Ingrid membuang padangannya ke sembarang arah, helaan napas panjang keluar di antara bibirnya. Dia menarik tangan Frenzzio untuk mengikutinya. "Tidak di sini."

...•┈┈┈••✦ ♡ ✦••┈┈┈•...

1
minato
Terhibur banget!
I. D. R. Wardan: makasih udah mampir, semoga gak bosan ya🥹💙
total 1 replies
Yuno
Keren banget thor, aku jadi ngerasa jadi bagian dari ceritanya.
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹
total 1 replies
Yoh Asakura
Menggugah perasaan
I. D. R. Wardan: Makasih ya🥹 author jadi makin semangat nulisnya 💙
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!