Jangan lupa like dan vote ya, meskipun sudah end.
Sepasang manusia yang tak kunjung menikah diusianya yang sudah matang. Reuni menjadi awal mula kisah cinta mereka yang lika-liku. Kisah asmara yang dibumbui dengan konflik batin.
Bagaimana kisah cinta mereka? Ayo baca dan nikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ade Irvianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Film Horor
Mereka sudah sampai di rumah orangtua Eric. Lolita sudah duduk bersama kedua orangtua Eric di ruang keluarga.
"Mama, senang Lita main ke rumah."
"Papa juga dong," timpal papa Eric yang tidak mau kalah. "hubungan kalian gimana?" Imbuh papa Eric.
"Baik kok, Pah."
"Maksud Papa itu, kelanjutan hubungan kalian. Iya kan, Pah?" Sela mama Eric.
"Mama sama Papa tumben rapih, mau kemana?" tanya Eric untuk mengalihkan pembicaraan.
"Maaf ya, Ta. Mama sama Papa harus ninggalin kalian dulu. Kita mau jenguk teman Papa di rumah sakit."
"Kok enggak kasih tahu Eric terlebih dahulu." Eric dengan nada kecewa.
"Kamu kan, dari tadi pagi rapat. Kamu juga enggak kasih tahu kalau Lolita mau ke sini." Mama Eric cipika-cipiki dengan calon menantunya.
"Kalian Kami tinggal dulu ya," ujar papa Eric. "Kalian, jangan macam-macam."
Kedua orangtua Eric benar-benar pergi meninggalkan mereka. Kini hanya Eric dan Lolita yang ada di rumah itu. Eric pamit naik ke atas untuk mandi dan berganti pakaian yang lebih santai. Sedangkan, Lolita duduk sambil membuka sosial medianya. Bosan dengan ponselnya, dia memilih melihat foto-foto yang terpasang di dinding. Foto keluarga yang berbingkai besar menunjukkan keluarga yang harmonis.
Lolita memandang foto tersebut sambil bergumam, "beruntung Gue punya Angga. Jadi, Gue enggak kesepian." Lolita masih melihat foto-foto yang ada di bawah foto paling besar tadi.
Sebuah foto masa kecil Eric terpajang di sana. Pemandangannya persis seperti rumah neneknya yang ada di Bandung. Ada juga foto Eric bersama sepupu-sepupunya yang ada di Bandung. Lolita mengamati foto tersebut sambil menunjuk dan menyebutkan satu persatu nama-nama sepupu dari Eric.
"Ini sudah pasti Eric, ini Ical, Jack dan yang paling kecil Nino." Lolita bingung, sepertinya dia salah.
"Bukankah cucu laki-laki yang paling kecil Nino? Bentar-bentar, selisih Eric dengan Nino bukannya jauh? Jack di sini juga masih sangat kisaran usia dua tahun?" Dia masih mengamati foto tersebut.
"Kok wajah Nino mirip Jack?" gumamnya.
"Oh, ini memang Jack. Nino tentu saja belum lahir. Lalu yang tadi aku tunjuk sebagai Jack siapa dong?" Lolita mendekatkan foto tersebut ke wajahnya.
"Dia mirip Eric," gumamnya lirih.
"Lagi apa?" Eric muncul dari belakang Lolita, membuat perempuan itu terkejut.
"Lihat-lihat foto kecil Kamu," jawabnya enteng.
Lolita duduk mengikuti Eric. Sekarang Eric terlihat lebih segar dibandingkan tadi. Eric duduk di sofa menyalakan tv, Lolita memilih duduk sedikit berjarak dengan Eric. Seorang pria dan wanita dewasa di dalam rumah sendirian, apakah semuanya akan baik-baik saja?
Mereka menonton film horor pilihan Lolita. Eric memberi kode kepada Lolita supaya duduk lebih dekat dengannya. Lolita menggeleng, ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Hanya duduk berdua saja seperti ini membuat dirinya takut, kalau saja Eric tidak memiliki sikap seenaknya saja, sudah pasti Lolita menurut dengan titah Eric. Dia tidak bisa menebak, apa yang akan dilakukan Eric nantinya.
Film sudah berjalan beberapa menit, belum ada tanda-tanda hantu akan muncul ataupun efek-efek suara yang membuat mereka takut. Lolita masih bisa menikmati film itu tanpa rasa takut.
Tidak lama kemudian, suara-suara aneh dari film itu muncul. Dan, Eric terperanjat ketakutan memeluk Lolita tanpa sadar. Ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Lolita saat hantunya mulai muncul di layar tv.
"Eric, jangan modus. Lepasin, masa sama ginian saja takut." Lolita mencoba melepaskan pelukan Eric.
"Ta, Aku takut beneran. Please, ganti filmnya." Eric benar-benar ketakutan.
Lolita perlahan menuntun Eric untuk melepaskan pelukannya, dia melihat Eric dengan wajah pucat dan betkeringat dingin. Perempuan itu tidak menyangka, kalau laki-laki yang dihadapannya ini benar-benar tidak bisa menonton film horor. Lolita terkekeh melihat raut wajah Eric.
"Jangan ketawa, matikan filmnya!" Lolita mengikuti perintah dari Eric. Dia mematikan film yang ada di layar tv.
"Setakut itu ya, Ric?" tanya Lolita mencoba menenangkan Eric. Dia memberikan segelas air putih yang ada di depannya.
"Itu cuma film, Ric." Lolita menaruh gelas kosong yang diberikan oleh Eric.
"Tidak takut kok, tadi cuma akting. Biar bisa meluk Kamu." Wajah Eric sudah berubah normal.
"Tuh kan beneran modus. Dasar Eric, sana jauhan."
"Lita, Kamu enggak bisa merasakan mana akting, mana bukan? lihat wajah pucatku." Eric menunjukan wajah pucatnya yang sebenarnya sudah hilang ke Lolita. Namun, Lolita percaya kalau Eric benar-benar takut kali ini.
Perempuan itu tidak menyangka kalau, lelaki yang super dingin dan kaku itu ternyata takut film horor. Terus bagaimana kalau menghadapi karyawan yang sifatnya kaya setan? Apa dia juga takut?
"Aku lapar, Kamu bisa masak?" tanya Eric.
"Enggak terlalu, cuma bisa masakan Indonesia."
"Ya sudah, tidak apa-apa."
Mereka menuju dapur untuk memasak, lokasi dapur tersebut langsung tersambung dengan ruang tv. Eric mengeluarkan sayuran hijau dan dua butir telur dari kulkaskanya.
ceklek.
Lolita menyalakan kompornya, dia mulai memasak apa yang ada di depan matanya. Eric memilih duduk di depan layar tv untuk menonton saluran berita. Dia sama sekali tidak membantu Lolita untuk memasak. Bau masakan Lolita mulai tercium wangi di hidung Eric.
Mereka sudah duduk di meja makan untuk menyantap masakan buatan Lolita. Sebelum makan Eric berkomentar tentang masakan Lolita.
"Ini terlalu Indonesia banget, Ta."
"Aku kan sudah bilang, kalau cuma bisa masak masakan Indonesia." Lolita Menyantap hasil masakannya sendiri.
"Tapi bukan mie instan, telur, sama sayuran juga kali, Ta."
"Bisanya cuma itu," jawab Lita.
Mereka memakan apa yang ada. Eric tidak bisa protes lagi. Harusnya tadi, dia saja yang memasak. Bukankah saat di luar negeri, dia juga masak sendiri. Sudah! penyesalan datang terlambat.
Eric mengemasi bekas peralatan makan yang tadi mereka gunakan. Kini, giliran Eric yang mencuci piring sebagai bentuk terima kasih kepada Lolita karena sudah memasak untuknya. Lolita menemani Eric mencuci piring, meski dia hanya duduk di meja makan.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam lebih, tetapi kedua orangtua Eric belum juga pulang. Lolita sudah merengek meminta pulang, ia takut kemalaman di jalan.
"Besok kan sabtu, kerjanya libur." Eric mengganti siaran tv.
"Nanti, Kamu kemalam sampai rumahnya, Ric," ujar Lolita. "bolak-balik dari rumah kamu ke rumahku kan memakan waktu lama." Lolita sedikit khawatir.
"Nunggu Mama sama Papa pulang."
Eric mendekatkan duduknya di samping Lolita. Dia menyenderkan tubuhnya ke sofa dan menuntun Lolita untuk duduk bersender di tubuhnya. Tangan Eric memeluk tubuh Lolita.
"Kalau sudah mengantuk, tidur dulu. Nanti, Aku bangunin kalau mereka pulang." Eric mengusap pelan ujung kepala Lolita.
"Aku belum mengantuk, Eric." Lolita berusaha memberontak dari dekapan Eric. Namun, nihil Eric sudah memeluknya Erat.
"Biarkan gini saja, Aku sudah nyaman."
Perkataan Eric membuat Lolita membeku. Tanpa disadari Lolita, dia juga merasakan hal yang sama. Lolita sudah mulai terbiasa dengan sikap Eric yang seenaknya saja.
"Mama Kamu, ingin Kita nikah kapan?" tanya Lolita yang masih dalam dekapan Eric yang super nyaman.
"Kamu siapnya kapan?" Erik malah balik bertanya.
"Besok, kalau tidak kesiangan." Lolita menjawab apa yang Eric tuturkan saat di mobil.
"Lolita, Aku serius."
"Eric Andreas, Aku juga serius."