SEQUEL MY OLD WIFE
Seperti piano yang memiliki tuts hitam dan putih, seperti itu juga kehidupan manusia ada pahit dan manis.
Ini adalah kisah dua musisi berbakat yang jatuh cinta pada satu gadis, Melisa. Perempuan dengan senyum hangat bagai matahari yang berhati malaikat.
Peter seorang pianis yang memiliki Ibu gila karena ditinggal suaminya harus merawat ibunya seorang diri. Ia jatuh cinta pada Melisa gadis yang selalu membantunya.
Di sisi lain ada Niel, seorang pemain biola. Ia adalah Tuan Muda kaya raya, ibunya seorang jaksa ternama dan ayahnya dokter spesialis jantung. Namun, semua kemewahan yang ada padanya seolah sirna tidak ada artinya karena ia kesepian dan kurang akan kasih sayang. Melisa hadir dalam hidupnya dan membuat hatinya menghangat seperti musim semi.
Kisah cinta penuh pengorbanan dan perjuangan, mereka jatuh bangun hanya karena ingin mendapatkan kebahagiaan.
#Sweet Rommance
#Konflik kekeluargaan
#Kanada
#Empat musim
#Tanpa adegan dewasa
#Untuk semua kalangan
Cover: Editing by Little Ice Bear
Penulis: As-Sana
Harap menyiapkan hati sebelum membaca karena kisah ini akan menguras emosi dan membuatmu merasa dilemma.
Sebelum membaca cerita ini, bisa singgah dulu di MY OLD WIFE agar dapat lebih memahami alurnya..
Terimakasih ❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon As-Sana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Bermula
~Masa lalu tidak akan pergi meski engkau telah mengusirnya ~
Rembulan masih mengintip malu dibalik awan, pantulan cahaya keemasannya membasuh wajah tampan Peter ketika ia mendongak ke atas. Lelaki itu menikmati bulan yang tampak mengikutinya ketika ia berjalan. Peter tersenyum tulus, ia mengingat Melisa yang tadi sore mengunjungi ibunya dan mengajaknya berjalan-jalan di taman.
Senyumnya tidak luntur sama sekali dari bibirnya, bahkan ia tidak berhenti bersenandung karena gembira. Meski ia tahu gadis yang ia cintai kini telah menjadi kekasih orang lain, Peter tetap tidak dapat menghilangkan rasa cintanya. Bahkan rasa itu semakin tumbuh dan memenuhi hatinya.
Sesekali Peter menendang kaleng soft drink yang telah kosong, benda tabung tersebut menjadi mainan bagi kakinya. “Entah mengapa Nona Melisa selalu membuatku berdebar? Aku tahu kalau aku mencintainya, tapi – perasaan ini sudah diluar kendali.”
Peter menendang kaleng tersebut masuk ke dalam tong sampah yang kebetulan terbuka. Ia memberhentikan langkahnya, menyandarkan tubuhnya pada tembok jalan pagar rumah seseorang.
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar, ia memejamkan matanya. Bayangan Melisa selalu terlintas di sana, bahkan setiap perempuan yang ia lihat akan berubah rupanya menjadi wajah Melisa.
Ribuan bayangan Melisa seolah-olah terlihat di depan matanya, “Nona Melisa,” ucapnya tanpa sadar saat melihat seorang perempuan memakai seragam berwarna orange yang merupakan penjaga lalu lintas. “Kamu gila Peter, tidak mungkin Nona Melisa menjadi petugas lalu lintas,” rutuk Peter memukul beberapa kali kepalanya lalu membenturkan dahinya ke tembok seperti pria bodoh yang kehilangan akal.
Orang-orang yang lewat melihatnya dengan tatapan kasihan, mengira dirinya sebagai orang gila yang frustasi akan hidupnya. “Peter,” suara rendah nan halus memanggilnya.
Pria itu segera menengok ke sumber suara, wajah Melisa terlihat lagi di sana. Peter tersenyum, ia berbicara pada sosok perempuan yang ia asumsikan sebagai bayangan Melisa.
“Bahkan kamu semakin cantik dalam bayanganku, aku pasti sudah berhalusinasi lagi,” katanya tanpa tahu kalau lawan yang diajak bicara adalah Melisa yang sesungguhnya. “Apa kamu bilang? Kamu sedang membayangkanku?” tanya Melisa menunjuk mukanya. Peter langsung menggosok matanya memastikan ia sedang berhalusinasi atau tidak? Setelah melihat bayangan Melisa bergerak.
Ia mendekat ke arah Melisa menyentuh pipinya dengan jari telunjuknya, Peter segera tersenyum canggung karena gadis di depannya ini benar-benar Melisa bukan orang lain ataupun ilusinya. “Ah.. itu,” katanya gugup karena Melisa menatapnya intens meminta penjelasan.
Secara perlahan namun pasti Peter mundur menjaga jarak. “Nona, Anda salah dengar. Saya sedang memuji sahabat saya Lung Mao Fang,” jawab Peter terseyum manis. Ia segera memanggil Tuan Mao yang terlihat keluar dari kafenya. “Tuan Mao, Anda sangat cantik, bulu mata Anda juga lentik!” Seru Peter menghampiri Tuan Mao yang terlihat berpikir.
Sementara beberapa orang yang lewat menatap penuh tanda tanya, bahkan ada yang mengira Peter menyukai sesama jenis. Sedangkan Melisa, ia hanya melongo menyaksikan sikap Peter. Lelaki tersebut semakin aneh menurutnya. “Apa Peter menyukai laki-laki?” tanya Melisa memperhatikan Peter yang terlihat merangkul pundak Tuan Mao menggiringnya masuk ke dalam kafe.
Melisa acuh hanya memijat pangkal hidungnya, ia tidak habis pikir dengan tingkah Peter yang bertambah tidak jelas. Perempuan tersebut menghentikan taksi segera pergi dari sana setelah mendapatkan obat sakit gigi untuk Hasa yang ia beli di apotik dekat kafe Tuan Mao.
Tuan Mao menghempaskan tangan Peter, ia segera menjauh mendorong tubuh Peter. “Kau merusak reputasiku di depan para pelanggan!” cetusnya kesal ia tidak terima dengan ulah Peter tadi yang memujinya cantik seperti seorang wanita.
Peter tersenyum konyol, ia memegangi tengkuk lehernya. “Maaf aku terpaksa berbohong.” Lung Mao Fang berjalan ke arah bar tender mengelap beberapa gelas kaca.
“Apa perempuan itu yang kamu sukai?” tanya Lung Mao Fang.
Peter mendudukkan dirinya di kursi, ia tersenyum canggung. “Iya, dia orangnya.” Tuan Mao menuangkan segelas air putih untuk ia minum sendiri. Lelaki itu meneguk habis minumannya, membasuh sisa air di bibirnya. “Bukankah dia kekasih Niel?” tanya Tuan Mao membuat Peter tersenyum tipis, giginya yang putih sedikit terlihat. Niel sempat mengenalkan Melisa padanya ketika ia manggung beberapa kali di sana.
“Dia lebih baik bersama Niel daripada denganku,” jawab Peter mengambil buah Cherry di piring kecil yang dihidangkan oleh Lung Mao Fang. Tuan Mao mengambil serbetnya, ia memukul kepala Peter dengan gagang gelas.
“Bodoh! Sudah mundur sebelum berjuang,” ucapnya.
Peter hanya tersenyum manis, ia memegangi kepalanya yang sedikit terasa sakit, “Aku mencintainya bukan untuk mendapat balasan,” kata Peter memakan buah Cherry kembali. “Lung Mao Fang!” jerit Peter ketika sahabatnya tersebut memukul pelan kepalanya dengan botol bir. Sekarang pening kepalanya semakin bertambah.
Lung Mao Fang tidak memedulikan teriakan Peter, ia justru semakin geram. “Pikiranmu harus dibersihkan agar tidak terlalu pesimis.” Tuan Mao menunjuk dahi Peter dengan jari telunjuknya sementara pria itu mengusap kepalanya yang berdenyut menahan sakit.
“Peter, aku katakan ‘Ketika cintamu sudah tidak dapat lagi kau raih, kau baru akan menyesal nanti’ itulah kata Vermon orang yang mengabdikan hidupnya untuk syair cinta.” Tuan Mao menjauhkan botol bir miliknya dari kepala Peter, ia menaruhnya kembali di tempatnya.
Setelah mendengar nasihat dari sahabatnya, Peter tampak berpikir. Mungkinkan ia akan menyesal setelah Melisa benar-benar pergi? Apakah dia akan menyalahkan dirinya ketika pada akhirnya ia hanya akan mencintai Melisa dalam diam sampai ia tua? Akankah hatinya membuka kesempatan untuk wanita lain? Saat dirinya sendiri hanya pernah jatuh cinta sekali dan gadis itu adalah Melisa.
Ah pening kepala Peter semakin bertambah ketika memikirkan hal-hal yang mulai muncul di benaknya. Perkataan Lung Mao Fang sedikit mengguncang keteguhan hatinya, ia takut pada akhirnya Peter hanya bersikap serakah dan ingin memiliki Melisa. Ia sangat khawatir jika nanti ia memaksa Melisa hidup dengannya dengan penuh kekurangan. Sungguh Peter tidak tenang sekarang.
“Hei Peter.” Lung Mao Fang mengguncang bahu Peter saat lelaki tersebut sibuk meremas rambutnya dan menggeleng beberapa kali.
“Kau hanya membuat hatiku ragu, Lung Mao Fang kamu memang pandai meruntuhkan keyakinan orang lain. “ Kesal Peter menatap Tuan Mao sengit, namun pria itu justru tertawa menepuk-nepuk bahu Peter.
“Kamu belum tahu saja Peter bagaimana rasanya melihat perempuan yang kamu cintai menikah dengan orang lain, dan kamu belum merasakan saat tidak ada lagi wanita yang dapat mengisi hatimu selain dirinya. Ketika kamu sudah merasakannya, aku yakin kau pasti akan menyatakan perasaanmu pada Melisa sekarang sebelum semua terlambat. Karena aku sudah pernah mengalaminya, maka aku tidak ingin sahabatku juga merasakannya.”
Lung Mao Fang tersenyum menepuk bahu Peter memberi semangat, ia jadi mengingat kisah cintanya yang kandas di masa lalu.
Sehingga sekarang? Lung Mao Fang masih belum menikah dan memilih melajang, karena tidak dapat menemukan pengganti cinta pertamanya. Gadis yang sekarang telah hidup bahagia bersama pria lain, seniornya sendiri di bangku kuliah.
Peter memakan habis buah Cherry yang hanya tersisa tiga di piring, ia bangkit dari duduknya meninggalkan kafe Tuan Mao. Dalam perjalanan ia terus merenung, pikirannya kalut hanya karena memikirkan Melisa.
Peter menaiki bus menuju ke rumahnya, selama perjalanan ia menyandarkan kepalanya pada dinding kaca bus, melihat pemandangan malam. “Kenapa kamu mulai cemas Peter? Keputusanmu sudah benar, biarkan Melisa bahagia dengan Niel,” gumamnya pelan.
Matanya menangkap bayangan setiap orang di jalan yang dilintasi oleh bus dan beberapa toko swalayan yang masih buka. Jantung Peter berdetak ketika ia memotret bayangan wanita paruh baya yang ia kenal, tetangganya di masa lalu.
“Bibi Jessy?” ucapnya membulatkan mata, ia segera berdiri meminta pada Pak Sopir memberhentikan kendaraan beroda enam rangkap tersebut.
Kaki Peter turun dari bus dengan cepat, ia berlari mengejar bayangan Jessy di antara kerumunan pejalan kaki. Peter menerobos setiap orang, dan menyenggol beberapa orang yang berjalan.
“Nak kalau jalan lihat-lihat,” peringat pria tua yang sempat di tabrak Peter.
“Maaf Kakek aku tidak sengaja,” ucap Peter meminta maaf.
Tanpa sengaja, wanita yang dikejarnya menoleh ke belakang. Mata mereka bertemu, tubuh Jessy terlihat bergetar, ia ketakutan.
“Bibi Jessy! Bibi jangan lari!”
Peter mengejar Jessy yang perlahan mundur dan menghindarinya, wanita itu berlari menabrak setiap orang tanpa melihat ke belakang. “Aku tidak bersalah Peter! Jangan tangkap aku! Ibumu gila bukan karena salahku!” teriaknya membabi buta menghempaskan tubuh setiap orang yang menghadangi jalannya.
Bahkan ia tidak pandang bulu ketika mendorong tubuh anak kecil yang menutup jalannya untuk kabur dari kejaran Peter, anak Sam Hayden lelaki di masa lalunya.
.
.
.
.
.
~Bersambung~
Besok kita bedah masa lalu Mayna ya.. terimakasih banyak atas dukungannya, berkat komentar-komentar positif dari kalian like & votenya Sana masih semangat update meski udah mendekati ujian dan sempet jenuh juga nulis ceritanya hehehehe 🌺
udah Thor aku ketik tu 😀😀😀💜💜💜💜💜
semangat nulis ,biar aku punya bacaan yg bagus 💗as-sana💗
puasa puasa nangis gini batal gak sih 🤧
kenapa orang sebaik Sam punya nasib yg mengenaskan 😩
bahkan aku berhenti membaca novel yg populer sekalipun karna aku jenuh bacanya,dan gak menarik bagiku.
itu itu aja ceritanya.
tetap semangat menulis ya Sana,aku yakin suatu saat Sana dpt menjadi penulis yg handal 👍😊
ayah yang tidak mengetahui kondisi anaknya,
ayah yang menyedihkan, sama dengan ibunya,
mereka sama2 menyedihkan
bener2 bisa buat pelajaran sebagai orang tua
kita butuh uang, tapi uang bukan segalanya
kebahagiaan seorang anak tidak bisa ditukar dengan banyak harta
mantabbbbb Thor 👍👍👍
ttp semangat 💪💪💪