NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:24.8k
Nilai: 5
Nama Author: Velza

Deswita Anggraeni, seorang wanita berkepribadian baik dan ramah yang berasal dari keluarga sederhana. Di tengah kemelut hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, dia dinikahi seorang pria yang berasal dari keluarga kaya, yakni Zidan Fakhrul Ghani.

Namun, di tengah kehidupan rumah tangga yang dijalaninya, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sangat tak menyukai kehadirannya sebagai menantu di keluarga itu. Berbagai cara telah dilakukan Deswita untuk mengambil hati sang mertua, tetapi kenyataan lain justru harus dia hadapi.

Hasutan demi hasutan dilakukan oleh ibu mertuanya, agar Zidan segera menceraikannya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya.

Mampukah, Deswita meyakinkan sang suami dari segala hasutan tersebut? Dan apakah Zidan akan bertahan dengan pernikahannya atau justru terhasut oleh sang ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. Awal Yang Baik

Usaha yang dijalankan Deswita, perlahan sudah mulai dikenal orang sekitar. Kini dia tak hanya menitipkan dagangan ke warung-warung, tetapi sudah membuka lapak kecil di depan rumah dan juga via online.

Setiap hari dia selalu dibantu oleh Aisyah, tetapi untuk sekarang dia juga sudah memiliki dua orang yang membantunya. Jadi, dia bisa fokus mengurus Dhara dan melayani pembeli kala ramai.

"Masyaa Allah, nggak nyangka usaha kita bisa berkembang secepat ini, Kak."

"Iya, Syah. Allah Maha Segalanya, jika kita mau berdoa dan berusaha pasti akan diberikan jalan kemudahan, seperti sekarang ini. Yang terpenting jangan lupa untuk terus bersyukur, beribadah, dan bersedekah meski hanya sedikit," tutur Deswita.

"Iya, Kak. Semoga kelak usaha yang kita jalankan bisa berkembang pesat dan sukses."

"Aamiin."

Berawal dari memanfaatkan sesuatu yang ada di sekitarnya, kini menghasilkan sebuah usaha yang luar biasa. Dari sebuah mangga, Deswita mampu menciptakan sesuatu yang mendatangkan rezeki untuknya dan orang lain.

Mahidhara Snack, itulah nama usaha yang sedang dikembangkannya saat ini. Membawa nama sang putri dengan harapan menjadi pembuka rezeki untuknya dan yang lain.

"Kak, semisal kita ada rezeki lebih, bagaimana kalau cari tempat yang strategis buat buka usaha lagi? Hitung-hitung buat bantu perekonomian orang lain juga, apalagi zaman sekarang sangat susah untuk mendapatkan pekerjaan," usul Aisyah disela kesibukan menata jajanan.

"Boleh, tuh, Syah. Sambil mengumpulkan dana, kita bisa cari tempat yang sesuai juga."

"Iya, Kak. Nanti coba minta tolong Bang Ujang, siapa tau ada teman yang lagi jual atau sewa ruko."

"Kamu atur aja gimana baiknya. In Syaa Allah, kalau semua kita lakukan dengan ikhlas pasti akan jadi berkah."

Deswita pun kembali berkutat dengan catatan pesanan pelanggan via online. Untuk saat ini lebih banyak yang membeli secara online dan dia pun telah memiliki dua karyawan laki-laki yang bertugas mengantar pesanan.

"Alhamdulillah, Ya Allah."

"Ada apa, Mbak?" Aisyah langsung beranjak menghampiri Deswita di meja kerja.

"Ini, ada pesanan 300 snack untuk acara ulang tahun minggu depan." Deswita menunjukkan ponsel yang dia khususkan untuk berjualan.

"Alhamdulillah, kalau rezeki nggak bakal ke mana."

Deswita segera mencatat pesanan tadi dan tak lupa menyertakan hari dan tanggal pengantaran.

**

"Yang, barusan aku dapat rekomendasi snack untuk acara dari temenku. Dia bilang pernah coba beli dan rasanya enak, udah gitu harganya juga nggak terlalu mahal. Ya, intinya harga murah tapi rasanya nggak murahan," ujar Zhia pada sang suami.

"Oh, ya? Di mana lokasinya?" tanya Revan.

"Aku nggak terlalu nanya detailnya, sih. Kalau nggak salah, seingatku masih seputaran kota ini. Namanya apa, ya? Kok, jadi lupa gini, sih."

Revan mengelus kepala sang istri yang terlihat kesal. "Udahlah, mending kamu minta tolong temenmu aja buat pesen. Daripada kamu bingung sendiri."

"Oh, iya, ya. Kalau gitu aku chat dia dulu biar dipesankan untuk acara minggu depan," pungkas Zhia lalu mengirimkan pesan pada temannya.

Setelah mengirimkan pesan pada temannya, Zhia lanjut mengobrol dengan sang suami yang kebetulan tidak ke kantor.

Sementara itu di lain tempat, Zidan sibuk memandangi foto sang istri yang tersimpan rapi di dalam album.

"Mas kangen, Ta. Pasti anak kita sudah lahir, ya, dan harusnya aku yang menemani kamu berjuang, tapi kenyataan malah sebaliknya. Aku nggak ada di saat kamu bertaruh nyawa untuk melahirkan buah hati kita."

Setiap saat, bahkan setiap malam Zidan selalu menangis dalam kerinduan. Doa selalu dia panjatkan untuk sang istri yang berada jauh dengannya.

"Ya Allah, permudahkanlah semua urusanku. Aku ingin berkumpul bersama istri dan anak kami. Berikan petunjukmu untuk menyelesaikan segala permasalahan yang menimpaku hingga saat ini."

......................

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah akhir pekan kembali. Deswita dan Aisyah saat ini sedang sibuk mengemas pesanan snack untuk acara ulang tahun.

Dibantu dengan satu orang karyawannya, pesanan pun selesai dikemas dengan rapi dan baik.

"Sudah semua 'kan, Syah? Nggak ada yang kurang," tanya Deswita.

"Sudah, Kak. Bonusnya juga udah dikemas sendiri," jawab Aisyah.

"Oke, aku panggil Deni dulu buat antar pesanannya. Tolong kamu siapkan nota yang udah aku tulis tadi di meja, biar dia bawa sekalian."

Kali ini, Deswita menyewa mobil milik Ujang untuk mengantar pesanan. Karena lokasinya ada di kota, juga untuk menjaga kondisi snack tetap dalam keadaan baik sampai ke tangan pelanggan.

Usai pesanan diantarkan, Deswita kembali ke meja kerjanya sambil menggendong Dhara. Dia lantas meletakkan Dhara di box bayi agar bisa bekerja sekaligus memantau sang buah hati yang sedang aktif-aktifnya bergerak.

Tepat pukul 11 siang, Deni sudah kembali dari rumah pelanggan.

"Sudah, Den?" tanya Aisyah yang kebetulan baru dari dalam rumah seraya membawa nampan berisi bolu kukus.

"Sudah, Mbak. Mbak Tata ada nggak?"

"Ada di dalam, masuk aja."

Deni mengekor di belakang Aisyah yang masuk toko untuk bertemu Deswita.

"Mbak Tata," panggil Deni.

"Iya, Den. Ada apa?" tanya Deswita.

"Tadi pas nganter pesanan, orang yang pesan mau ketemu sama Mbak Tata langsung. Katanya, sih, pengen jadi langganan tetap dan bisa direkomendasikan ke orang terdekatnya."

"Aduh, gimana, ya? Masalahnya 'kan aku nggak mungkin bepergian jauh apalagi bawa bayi yang baru umur sebulan."

"Masalah itu lebih baik Mbak Tata ngomong langsung saja dengan yang bersangkutan. Kebetulan tadi dikasih nomor ponselnya. Jadi, semisal Mbak Tata nggak bisa ke sana, beliau bisa ke sini," ujar Deni.

"Oh, iya. Makasih, ya, nanti aku hubungi orangnya."

"Sama-sama, Mbak. Kalau gitu saya pamit lanjut antar pesanan yang lain."

"Iya."

Setelah Deni pergi, Deswita mengetikkan nomor ponsel pelanggan tadi ke ponselnya. Lalu, dia mengirimkan pesan dan mencantumkan nama usahanya.

Tak berselang lama, pesan yang dikirim langsung mendapat balasan.

Iya, Mbak. Saya ingin sekali bertemu dengan Anda, apakah bisa?

Deswita pun lekas mengetikkan balasan. Sebenarnya bisa, tapi saya tidak bisa bepergian jauh karena punya bayi.

Baru saja meletakkan ponselnya, satu pesan masuk dari pelanggan tersebut.

Tidak apa-apa, kalau begitu biar saya saja yang ke tempat Anda. Kirimkan saja lokasinya, jika tak ada halangan lusa saya ke sana.

Deswita pun mengiyakan lalu mengirimkan alamat rumahnya. Usai berbalas pesan dengan pelanggan tadi, dia menitipkan toko pada Aisyah karena sudah waktunya Dhara tidur siang.

Di dalam kamar, Deswita menemani Dhara tidur sambil memutar sholawat di ponselnya agar tidur sang putri nyenyak. Dan tak sadar, dia pun ikut terlelap bersama Dhara.

Kumandang azan dhuhur membangunkan Deswita yang ikut tidur bersama Dhara.

"Astaghfirullah, malah ketiduran, sih."

Deswita segera beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu kemudian melaksanakan salat dhuhur.

1
Nani Te'ne
suka
YuWie
baguss
Nurlaila Hasan
/Good/
Dewi Dama
terimkasih thoorrr...cerita nya bagus...tamat dgn bagus juga...
Lin
alurnya gk berbelit ceritanya simpel
Tri Lestari Endah
thor , ini ceritanya sudah tamatkah
menggantung ???
Velza: belum, Kak
In Syaa Allah, besok mulai up lagi 🙏
total 1 replies
Noordiana Diana
lanjutkan
Santi
senang banget semoga mertua nya sadar
Santi
cerita yang menarik lanjutkan
Yusniar Hutauruk
mana lanjutannya kak....
Nur Halima
Luar biasa
Najah Bisyir
mana lanjutannya lama amat
Fatma Kodja
bodohnya Tante Riana karena tidak mengetahui niat busuk yang dari Silvia yang ingin menghancurkan Zidan dan juga keluarga Tante Riana
Mah Ihsan
lanjut ceritanya kaka
Velza: In Syaa Allah, Kak 🤗
total 1 replies
dayu okayani
kapan update lagi,, ceritanya seru
Velza: In Syaa Allah nanti, ya, Kak ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!