Novel ini menceritakan tentang sebuah pencarian pemeran utama wanita yang sesungguhnya di dalam kisah ini.
Akankah kisah ini menjadi milik Kirana, wanita cantik dan baik hati dari keluarga biasa yang kehadirannya di tolak mentah-mentah oleh keluarga Theo, pria yang begitu mencintai Kirana.
Ataukah menjadi milik Anya, wanita yang tak kalah cantiknya pilihan keluarga Theo.
Ceritanya menjadi rumit saat Theo di pertemukan dengan wanita yang mirip dengan almarhum Anya di saat dia sudah bahagia bersama Kirana dan buah hati mereka.
Setelah tiga tahun Anya meninggal. Pertemuan Theo dengan wanita itu membuat semua yang awalnya baik-baik saja menjadi berantakan. Terlebih keadaan wanita itu yang membuat Theo merasa ada yang salah dari tewasnya Anya.
Apa yang terjadi sebenarnya??
Apa yang Theo lewatkan selama tiga tahun ini??
Lalu bagaimana nasib Kirana dan rumah tangganya saat di guncang badai??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Anya
"Kau yakin tidak tau sama sekali alasan Anya atau kau memang pura-pura nggak tau??" Zaky terlihat kesal dan muak dengan Theo.
"Maksud mu??"
"Kau pikir sendiri!!" Zaky mendelik tajam pada Theo. Jika dulu dia tak berani, maka sekarang Theo bukanlah atasannya lagi, jadi untuk apa dia takut.
"Jadi benar kalau Anya mencintaiku??" Lirih Theo, pertanyaannya itu lebih kepada dirinya sendiri.
"Kau pikir, Anya akan melakukan semua ini kalau dia tidak mencintai mu?? Biarpun Anya tidak pernah terbuka tentang perasaannya, tapi aku sudah tau sejak dulu. Sejak kalian masih bertunangan" Zaky terlihat nenggebu-gebu.
"Enggak, nggak mungkin" Theo menggeleng merasa tak percaya.
"Tapi semua itu juga tidak ada artinya lagi. Kau juga sudah punya anak dan istri. Jadi kalau kau merasa hutang budi sama Anya, cukup bilang terimakasih saja sama dia. Tidak perlu tanya alasan Anya melakukan ini semua. Itu justru membuat Anya semakin merasa terbebani"
"Tapi aku tidak bisa diam aja setelah aku tau semuanya Zak" Theo tidak malu ketika Zaky melihat air matanya.
"Terus apa mau mu?? Ingat anak dan istri mu di rumah. Kau sudah bahagia kan sama mereka??"
Theo terdiam mendengar ucapan Zaky yang mengingatkannya tentang kehidupan bahagia yang ia jalani selama tiga tahun ini.
Tapi seketika dia teringat dengan istri dan anaknya di rumah. Dia sadar tengah mengabaikan mereka berdua.
"Tapi setidaknya kalau Anya mau operasi, itu bisa mengurangi sedikit rasa bersalah ku Zak"
Ada benarnya juga perkataan Theo menurut Zaky. Sudah berbagai macam cara Zaky lakukan untuk membujuk Anya, tapi wanita itu tetap kekeh pada pendiriannya.
"Ya sudah, coba bujuk Anya. Tapi aku mohon padamu, tolong jangan tekan Anya. Kau sudah tau perasaan Anya gimana padamu. Pura-pura tidak tau akan lebih baik daripada kau semakin menyakiti hatinya"
Meski permintaan Zaky itu terdengar sederhana, namun rasanya begitu berat untuk Theo. Tapi dengan sangat terpaksa, Theo mengangguk menyetujui permintaan Zaky.
Setelah itu keduanya sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Zaky merasa kehadiran Theo saat ini malah menjadi bencana untuk Anya.
Entah mengapa, perasaannya mengatakan jika pertemuan mereka itu akan menyebabkan badai di kemudian hari.
Terlebih saat ini Theo selalu ada di sekitar Anya, padahal Theo sudah ada Kirana di sisinya. Apa yang akan terjadi jika Kirana tau Theo dalam keadaan terombang-ambing seperti saat ini.
Tapi Zaky sendiri tak memungkiri jika dirinya ada di posisi Theo, pasti dia juga akan terguncang. Di sisi lain, ada istri juga anak yang selama ini menemani mereka. Di lain sisi, ada wanita yang ternyata sejak dulu mencintainya hingga rela mengorbankan seluruh hidupnya.
Pasti yang akan di lakukan Theo saat ini akan terasa serba salah. Dia sendiri pasti bingung kalau harus memutuskan sesuatu yang belum sepenuhnya terjawab.
Theo memilih menyingkir meninggalkan Zaky, dia ingin melihat keadaan Anya di kamarnya. Mungkin dengan menurunkan egonya, dia bisa membujuk Anya untuk segera melakukan operasi pada matanya.
Kalau Anya bisa melihat lagi, mungkin Theo bisa lebih lega dan juga tidak terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
Theo berdiri di samping ranjang Anya dengan keuda tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Dipandangnya wajah Ayu yang terlihat begitu damai itu.
Rasanya hangat menyerangnya saat dia bisa melihat Anya lagi. Theo ingin sekali menyebut perasaan itu sebagai rindu, tapi dia takut salah menafsirkannya.
Dia masih ada dalam fase antara percaya dan tidak percaya dengan semua ini.
Bulu mata lentik milik Anya mulai bergerak, membuat Theo sadar dari lamunannya.
"Anya, kamu sudah bangun??" Theo bersimpuh di sisi ranjang Anya. Suaranya juga terdengar beda di telinga Anya.
"K-kenapa Kakak masih di sini??" Anya ingin duduk bersandar ke belakang dan merasakan tangan Theo bergerak membantunya, tapi Anya langsung mencegahnya.
"Aku bisa sendiri Kak. Terimakasih"
Anya memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Dia ingat apa yang terjadi kepadanya sampai akhirnya dia terbangun di tempat tidur seperti itu.
"Mau minum?? Kata dokter kamu harus minum obat"
"Nanti aja Kak, aku bisa sendiri"
Theo agak kesal dengan penolakan Anya, itu namun dia tetap berusaha mengendalikan dirinya. Dia tidak mau kalau Anya sampai syok lagi gara-gara dirinya.
Theo memperhatikan Anya dengan lekat. Wajah itu tampak sedikit pucat. Dia tidak tau kalau bentakannya tadi bisa membuat tak sadarkan diri.
"Anya, maaf untuk sikapku tadi ya??" Sesal Theo.
"Nggak papa Kak" Anya masih berusaha mengukir senyum tipis di wajah pucatnya itu.
"Emm, gimana kabar kamu selama ini??"
Theo sudah memutuskan untuk tidak mengungkit alasan Anya lagi karena dia sudah tau jawabannya.
Meski sekarang Theo tak bisa melihat apapun di mata Anya selain tatapan amat kosong itu, tapi dulu Theo tak menyadari cinta di mata Anya padahal mata itu selalu berbinar ketika menatapnya.
Hingga kepergian Anya selama tiga tahun pun, senyum juga sorot mata Anya yang penuh ketulusan itu sering kali terbayang di setiap Theo memejamkan mata.
"Baik Kak, Kakak bisa lihat sendiri kan??"
Tanpa bisa Anya lihat, Theo mengeluarkan senyum mirisnya.
Bagaimana keadaan seperti itu bisa di sebut baik. Bahkan Anya saat ini lebih pantas di sebut memprihatinkan.
"Kamu betah tinggal di sini??"
"Hemm, suasananya tenang. Nggak kaya di Jakarta. Nyaman dan seperti berada di kampung halaman sendiri" Kali ini Anya terlihat senang menceritakan keadaan tempat tinggalnya itu.
Jika dulu hanya wajah penuh senyum yang menyebalkan menurut Theo, sekarang dalam satu hari Theo bisa melihat wajah Anya berubah-ubah beberapa kali. Cukup mengejutkan untuk pertama kali setelah mengenal Anya.
Padahal dulu saat Theo memperkenalkan Kirana kepadanya, Anya tetap tidak menunjukkan perubahan mimik wajahnya.
"Kakak sampai kapan ada di Jogja??"
"Kenapa?? Kayaknya kamu nggak suka banget aku ada di sini?? Pingin aku cepat pergi dari sini ya??"
"B-bukan begitu maksudku Kak" Anya tampak gugup dengan candaan Theo tadi.
"Resort yang aku kerjakan di sini sedang ada sedikit masalah. Jadi aku ada di sini sampai masalah itu selesai. Kamu mau ikut ke sana lihat resortnya??"
Sedetik kemudian Theo menyadari ucapannya itu, apalagi melihat wajah Anya yang tampak tersenyum kecut.
"Maaf Anya" Bagaimana mungkin Theo akan menunjukkan resort baru miliknya sedangkan Anya saja tidak bisa melihat.
"Nggak papa kok Kak"
"Anya ak...." Ucapan Theo terhenti saat ponsel Theo berbunyi.
"Aku angkat telepon sebentar" Ucap Theo berdiri agak menjauh dari Anya.
"Halo sayang??"
Panggilan sayang itu terdengar jelas di telinga Anya, hingga Anya bisa menebak siapa yang sedang menghubungi Theo.
"......"
"Apa!!! Iya, aku ke pulang ke Jakarta sekarang juga!!" Dari suaranya, Theo terlihat sangatlah panik.
"Anya" Theo kembali mendekat pada Anya.
"Ada apa Kak??"
"Azka masuk rumah sakit, aku harus pergi sekarang"
"Astaghfirullah, kenapa bisa Kak??" Anya ikut cemas meski Anya belum bernah bertemu darah daging dari mantan tunangannya itu.
"Aku juga tidak tau"
"Ya sudah, kamu cepat pulang sekarang. Kirana dan Azka pasti sangat membutuhkan mu"
Deg...
Dada Theo justru terasa sesak saat ini. Benar kata Anya jika istri dan Anaknya sedang membutuhkan dirinya saat ini. Tapi Anya... bagaimana dengan wanita di depannya ini.
"Maaf Anya, aku harus pergi. Kamu baik-baik di sini ya??" Theo mengusap kepala Anya sebentar sebelum melangkah pergi.
Sudah dua kali Theo melakukan itu sebelum pergi meninggalkan Anya.
"Baik-baik saja??" Tanya Anya entah pada siapa karena sekarang Theo juga sudah pergi dari kamarnya.
"Dari dulu aku juga selalu baik-baik saja Kak" Gumam Anya dengan senyum tipisnya. Dimana hanya dia yang tau apa arti senyuman itu.