Seorang pria di dalam kamarnya sedang duduk dihadapan komputer yang tengah menampilkan sebuah permainan games yang sedang trending di dunia modern
Namun sebuah cahaya kejut yang membuat pria itu terkejut dan buta dalam beberapa saat namun pada saat dia membuka kedua kelopak matanya dia terkejut melihat dirinya berada di sebuah kamar mewah dan elegan
Betapa terkejutnya dia mendapati dirinya telah memasuki tubuh seorang karakter antagonis yang paling dia benci sendiri.
Apalagi karakter antagonis tersebut memiliki takdir yaitu akan mati suatu saat nanti membuat pria yang telah memasuki tubuh Antagonis tersebut berusaha mencari cara untuk tidak mendapatkan rute kematiannya
(BAB 1-20 Arc Keluarga Vardl dan kota Ards)
(BAB 21-42 Arc Akademi Arkana)
Note : Novel ini terinspirasi dari novel Become Villain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regan Fauzan Nugroho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Chapter 1 [Training]
Seorang pemuda berusia 16 tahun berambut hitam tengah berlari di tengah hutan dengan wajah panik serta sekujur tubuhnya terdapat luka gigitan serta luka goresan.
Pemuda tersebut terhenti saat melihat jalan buntu berupa bukit lalu dia membalikkan badan melihat puluhan mata merah menyala menatap ke dirinya.
Puluhan Mata merah menyala keluar dari kegelapan menampakan dirinya yang ternyata adalah monster serigala berjumlah puluhan.
Pemuda tersebut bukannya semakin panik dia malah tersenyum senang menatap puluhan monster serigala yang tampak lapar menatap ke dirinya.
"Setidaknya gadis itu bisa selamat" Ucap pemuda tersebut dengan nada penuh pasrah.
Puluhan serigala segera menerkam kearah pemuda tersebut membuat pemuda tersebut memejamkan mata nya.
WOSH
Ombak air dengan skala menengah entah darimana menerjang puluhan monster serigala sampai terpental ke beberapa pohon sampai beberapa pohon tumbang.
Percikan air mengenai wajah pemuda tersebut membuat pemuda membuka kedua matanya dan betapa terkejutnya dia melihat puluhan serigala tumbang serta beberapa pohon juga tumbang.
Disaat itu juga seorang pria berambut biru dengan kedua iris mata biru laut membawa tongkat sihir setinggi dadanya serta memakai topi sihir dan memakai pakaian akademi.
"Nak ,apakah kamu baik baik saja?" Ucap pria tersebut menatap kearah pemuda yang tampak masih terdiam tengah mencerna situasi.
Pemuda tersebut menoleh kearah pria tersebut dengan tanda tanya di pikirannya.
"A-anda siapa?" Ucap pemuda tersebut terbata bata.
"Perkenalkan Nama ku adalah Henzi Naguto, seorang guru Akademi Arkana serta penyihir kerajaan Astoda" Ucap Pria tersebut yang bernama Henzi dengan senyuman di wajahnya.
Pemuda tersebut terpana mendengar seseorang dari akademi Arkan dari ibukota dan hanya menjawabnya dengan mengagukan kepalanya.
Henzi tampak menatap kearah pemuda tersebut namun wajahnya seketika berubah.
'Bocah ini..... ,Tidak hanya berani tapi dia nekad sekali menyelamatkan gadis yang bukan siapa siapanya' Pikir Henzi melihat luka luka pemuda tersebut dengan seksama.
"Nak, namamu siapa?" Ucap Henzi.
"K-kisuke Arata" Ucap Pemuda terkejut disaat dia tiba tiba di tanya oleh pria di hadapannya.
"Arata ,lebih baik kita pergi keluar dari hutan ini" Ucap Henzi mendekati Pemuda yang bernama Arata yang tengah jatuh berlutut.
Henzi memberi potion life tingkat tinggi kepada Arata membuat luka luka di tubuhnya mulai pulih secara perlahan.
Henzi membopong Arata untuk keluar dari hutan tersebut ,ditengah perjalanan keluar hutan.
"Bolehkah aku memanggilmu Arata?" Tanya Henzi.
"Tentu saja boleh" Ucap Arata tersenyum.
"Arata, Apakah kamu memiliki mimpi?" Tanya Henzi.
"Hahaha ,kenapa Tuan Henzi tiba tiba menanyakan itu?" Ucap Arata tertawa canggung.
"Maafkan saya" Ucap Henzi yang tampak menyadari kesalahannya dalam menanyakan sesuatu dengan tiba tiba.
Arata mendengarnya terdiam sejenak ,Henzi melihat Arata terdiam unjuk bicara lagi.
"Arata ,kenapa kamu menyelamatkan gadis yang notabenenya adalah orang tidak kau kenal? Padahal kamu bisa saja membiarkan dia di kejar dan dimakan oleh sekelompok monster serigala" Ucap Henzi.
"Ucapan anda terdengar mengerikan tuan Henzi" Ucap Arata tampak sedikit ngeri mendengar ucapan Henzi.
"Tidak itu maksudku ,tapi aku hanya memberitahu opsi yang sangat wajar jika kamu memilihnya dalam situasi ini" Ucap Henzi menggelengkan kepalanya.
Arata mendengarnya hanya diam ,bagaimana tidak? Opsi yang di katakan oleh Henzi terdengar cukup kejam namun wajar karena bukan urusannya apalagi bukan keluarga sendiri untuk apa ikut campur tapi untuk kasus ini Arata seperti bergerak sendiri sesuai hatinya.
"Bagaimana cara mengatakannya ya..." Ucap Arata menggaruk pipinya membuat Henzi semakin penasaran.
"Hati saya entah kenapa bergerak sendiri saat melihat seseorang dalam bahaya" Ucap Arata dengan nada rendah.
"Tapi bukannya membantu malah merepotkan yang orang lain seperti anda ,betapa lemahnya saya" Ucap Arata menggertakan giginya.
"Aku mengerti perasaan mu itu ,Arata..." Ucap Henzi terputus sesaat.
"Tapi aku bisa melihat kelebihan dari mu jika dibandingkan yang lain" Ucap Henzi membuat Arata bingung.
"Kelebihan?" Ucap Arata dengan tanda tanya di kepalanya dan Henzi menjawabnya dengan mengagukan kepalanya.
"Ya ,yaitu hatimu ,hati yang mudah bergerak untuk menyelamatkan saat melihat orang lain sedang bahaya adalah hati seorang kesatria sejati" Ucap Henzi.
"Dan juga kamu masih bisa bertambah kuat karena itu kamu pun bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa orang dengan kekuatan mu itu" Lanjut Henzi tersenyum sambil melirik Arata yang tengah dia gendong.
Kedua pupil mata Arata seketika membesar mendengar bahwa dirinya bisa menyelamatkan nyawa orang lain lebih banyak lagi.
"B-bagaimana caranya?" Ucap Arata terbata bata.
"Dibawah bimbingan ku kamu akan bisa menguasai teknik bela diri dan cara untuk menggunakan pedang" Ucap Henzi.
"T-tapi tuan saya memiliki mana sihir sama sekali di dal tubuh saya" Ucap Arata terkejut dan hampir putus harapan mendengarnya.
"Tenang saja ,kamu memiliki mana sihir namun ada yang menghambat pengaliran mana sihir yang berada di dalam tubuhmu , aku bisa mengatasinya" Ucap Henzi.
"Benarkah!?" Ucap Arata senang mendengar.
"Ya ,tapi kamu harus melewati beberapa latihan keras terlebih dahulu untuk bisa memaksimalkan mana sihir mu itu ,apakah kamu siap?" Ucap Henzi.
"Ya! Saya akan berusaha baik untuk melewati latihan anda!" Ucap Arata dengan nada lantang.
"Bagus , pertama-tama kamu harus pulih terlebih dahulu walaupun luka sudah mulai pulih tapi stamina mu pasti terkuras habis" Timpan Henzi tersenyum.
Mereka berdua telah sampai pemungkinan desa dengan beberapa orang yang khawatir dengan Arata yang telah di kejar puluhan monster namun mereka lega melihat Arata selamat.
...Disisi Lain...
Rey sedang melihat langit biru yang di hiasi puluhan bintang lewat jendela, perasaan Rey tiba tiba menjadi jelek.
"Apa ini?" Rey dengan wajah sedikit cemas.
Mengingat banyak hal yang harus dia lakukan membuatnya pusing bahkan membuat nya dia sedikit cemas bahkan sampai perasan aneh
Rey menghirup udara dingin lalu mengeluarkannya secara perlahan, dia melihat keatas langit lewat jendela
"Tidak, ini hanya perasan ku saja" Rey menggelengkan kepalanya.
"Apa pun yang terjadi aku pasti akan mengubah takdirku" ucap Rey mengeratkan kepalan tangan.
'Benar aku sudah mempersiapkan semuanya, grade , kemampuan sihir di atas rata rata, menguasai bela diri sifat negatif yang hampir sama dengan Rey di game, tapi hanya satu saja yang tidak bisa kulakukan.' Pikir Rey.
Benar hal yang dia tidak bisa lakukan adalah membuat Lisa membenci dirinya, malah sebaliknya.
Rey juga bisa melihat tanda tanda skill unique Lisa yang akan bangkit.
'Sepertinya aku harus lebih cepat membuatnya membenciku sebelum skill unique nya bangkit' Pikir Rey.
Skill Unique Lisa bernama True Love, skill yang bisa memberikan buff terhadap orang yang dicintainya berupa power sihir.
True Love juga menandakan bahwa pengguna tersebut sangat cinta mati terhadap orang yang diberi buff tersebut atau bisa disebut orang cintai.
Jika itu sudah bangkit maka kekuatan karakter utama yaitu Arata akan berkurang, Arata juga kuat karena para heroin nya dan kekuatan yang paling konyol yaitu kekuatan teman(Nakama).
END
suffering villain: MC gamer