Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 ~ Be strong
Sesosok wanita tinggi, cantik, dengan kulit eksotis dan wajah amerika latin nan sexy duduk di sebuah meja cafe, menunggu beberapa orang menjemputnya.
Bibir tebal dengan lipstik merah membara kaya minta di tubruk banteng edyan begitu mengkilap terkena cahaya matahari. Rambut coklat gelombang persis gulungan ombak yang cocok dipakai surfing sama kutu itu terburai sempurna menutupi punggung dengan dress bolong, yang bikin si empunya balik-balik langsung kena angin duduk.
Sebotol bir diantara ember es dibawa seorang pelayan bersama gelas sloki ke mejanya, "Nona Cameron," senyumnya ramah, ia tau namanya karena cafe ini adalah tempat setia jika seseorang ingin menemui Cameron.
"Mat! Cepet ih!" Jani memang begitu, suka heboh sendiri, bisalah! Jiwa emak-emaknya itu suka keluar dengan sendirinya kalo kepengen belanja.
Hari ini ia akan pergi ke Manhattan untuk membeli bahan-bahan kue dan makanan untuknya. Beli bahan kue aja semangatnya 45,678910. Namun sampai detik ini, Jani tak pernah meminta sesuatu yang mahal baik pada Loui, Oscar, maupun Mathew. Entah ia yang terlalu sederhana untuk meminta sesuatu yang mahal.
"Nona, jangan lupa untuk mengambil tepung gandum di distrik 9, pada madam Deborah." pesan Marriot diangguki Jani yang sudah siap dengan sepatu boot bludru coklat pemberian Oscar dan mantel bulu warna creamnya. Semakin hari perut Jani semakin terlihat buncit, dan Loui bertitah pada Oscar untuk selalu melindungi perut Jani dengan mantel-mantel tebal, kalo bisa bungkus saja wanita itu dengan burrito.
Mathew tersenyum di balik kemeja navy'nya dan bersiap mengantar Jani.
Sejenak Jani mengedarkan pandangannya, "dimana Loui dan Oscar?" pergi ngga pamit itu berasa kaya anak ayam.
"Sudah pergi sejak pagi tadi. Jika nona tidak keberatan, bisakah kita pergi sekarang? Setelah beres mengantar nona, saya masih memiliki pekerjaan lain yang tuan Lou perintahkan?" tanya Mathew.
Jani mengangguk kaku, sepertinya Mathew dan orang-orang rumah ini begitu sibuk belakangan ini, tak seperti dirinya yang kaum rebahan.
Mereka berangkat dari rumah, mengunjungi distrik 9, dimana dulu Jani pernah melewatinya saat pertama kabur dari Loui saat kejadian kelam itu terjadi.
Ban mobil berhenti sejenak di rumah seorang petani gandum bernama madam Deborah.
Ayam-ayam yang berlarian ketika mobil Mathew berhenti disana, Jani ikut turun melihat kawasan distrik 9 bagian belakang ini, mirip seperti daerah pedesaan di sebuah film dongeng, namun jika maju sedikit ke bagian depan, semuanya berubah 180 derajat, karena nyatanya bagian distrik 9 bagian depan itu seperti sarang penya mun, seperti daerah perang yang berantakan dan agak kumuh.
Deborah menatap Jani dari atas hingga bawah sementara Mathew mengambil sekarung tepung gandum berukuran 5 kg dari gudang belakang bersama suami dari madam Deborah.
Jani tersenyum ramah padanya.
"Benar yang dikatakan Marriot, jika kekasih tuan Loui adalah seorang wanita Asia...cantik, semoga Tuhan memberkatimu dan tuan Loui, serta calon bayi kalian." Ujarnya mendo'akan seraya mengusap perut Jani. Jani dibuat kebingungan namun ia tersenyum nyengir dan mengucapkan terimakasih atas do'anya.
Ingin berkata bukan, tapi buktinya ia tengah mengandung anak Loui, ingin berkata benar, nyatanya ia dan Loui tidak terikat apapun selain dari kontrak karena anak yang dikandungnya.
Di bawah langit yang masih menunjukan warna biru berselimut awan putih, Jani pamit bersama angin pagi yang ramah menyentuh kulit halusnya.
Rinjani semakin dibuat penasaran dengan sosok Loui, sosok pria angkuh, galak, judes, dan jangan lupakan ia pernah menodongkan senjata pada Jani yang itu artinya lelaki itu cukup berbahaya, namun anehnya orang di desa seperti sedang menyanjung dan menyayanginya. Apakah Loui sosok pahlawan bertopeng?
Menyadari jika sepanjang jalan tak ada ocehan dari Jani, Mathew berinisiatif buka suara, takut kalo nona'nya itu kesambet setan pohon Ek.
"Nona," panggilnya.
"Hem?" tanya Jani.
"Apakah nona lapar? Jika iya, saya bisa antar ke cafe sejenak untuk sekedar membeli cemilan," tanya Mathew, diajak ngopi biar ngga be go, begitu pikir Mathew.
"Boleh. Aku ingin memakan waffle dengan saus coklat, Mat..." memikirkan itu membuat perut Jani jadi mendadak lapar. Mathew mengangguk cepat, senang melihat akhirnya Jani bersemangat dan berseri kembali. Entah kenapa melihat kebahagiaan Jani, membawa energi baru untuk Mathew, dan itu begitu mudah, bahagianya Rinjani itu sederhana....
Mathew membelokan mobilnya memasuki cafe jalanan yang cukup laris di sekitar Manhattan, selain dari lokasinya yang strategis namun makanan disini cukup enak.
Rinjani turun dari mobil, baru sampai di depannya saja sudah tercium aroma lezat dari hazelnut, membuat Jani semakin bersemangat untuk jajan.
"Cepat Mat!"
"Tunggu sebentar nona," pintanya menyalakan remote dan mengunci mobil.
Jani berjalan cepat dan membuka pintu cafe mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dimana orang-orang sedang ngopi cantik disana.
Dari awal pintu masuk saja ia sudah bisa melihat daftar menu yang terpampang di atas kasir.
Matanya berbinar melihat menu kudapan waffle dengan berbagai aneka topping.
"Jani mau yang pake hazelnut, madu dan saus coklat!" tunjuknya diangguki Mathew. Keduanya berjalan menuju kasir dan memesan.
"Nona bisa menunggu di salah satu meja saja, biar aku yang memesan."
Jani mengangguk cepat seperti anak kecil, "jangan lupa coklat panasnya, Mat!" ujarnya diangguki Mathew. Jani kembali mengedarkan pandangan mencari meja kosong, namun alisnya mengernyit melihat 2 manusia yang ia kenal sedang duduk manis bersama seorang wanita sexy.
"Loui," gumam Jani dengan langkah yang mendekati mereka, ia semakin dibuat terkejut ketika ketiganya sudah berdiri dari duduknya dan si wanita dengan agresif dan manjanya melingkarkan lengannya di lengan Loui sambil ketawa ketiwi anjay, lebih menyebalkannya lagi Loui membiarkan itu.
"Oscar," lirih Jani, ketiganya menoleh termasuk Loui. Oscar cukup dibuat terkejut dengan kehadiran Jani disini, bukankah???? Si al! Benar juga, tadi Mathew bilang jika nona'nya itu ingin berbelanja di kawasan Manhattan seperti biasa.
Mulutnya memanggil Oscar namun pandangan Jani nyalang menatap Loui.
"Rinjani,"
"Os, apa kau mengenal wanita ini...sepertinya ia bukan dari negara ini?" tanya Cameron masih setia melingkarkan tangannya di lengan Loui, Loui hanya diam membalas tatapan Jani tanpa berkata apapun, mungkin ia tak menyangka jika Jani sampai disini dan menemukan dirinya yang sedang bersama Cameron.
"Itu, ya..aku mengenalnya. Kenalkan ini..."
"Aku bukan siapa-siapa disini, hanya kebetulan saja mengenal Oscar..." tatapnya pada Loui, sepasang mata indah Jani seolah sedang menyelami mata kelam Loui, begitupun sebaliknya.
Ada rasa berdenyut ketika melihat itu, tapi ayolah! Apa-apan kamu, Jan?!
Cameron, si wanita dengan gaun panjang dan belahan dari pa ha sampai bawah ini begitu kontras dengan dirinya yang tertutup, bahkan belahan dadha Cameron cukup bisa dipakai buat nyelipin duit biar ngga dicopet, sungguh mungkin seperti itulah selera Loui dan seperti inilah Loui di luaran.
Mathew telah membayar dan ia mencari Rinjani, "nona!" ia cukup tersentak melihat kini Rinjani sedang bersama Loui, Oscar dan Cameron, "astaga, kenapa aku bisa sampai lupa!" Mathew menepuk jidatnya, mau tak mau ia menghampiri.
"Nona," sapa Mathew dengan wajah yang gugup. Sontak saja pandangan mereka jatuh pada Mathew dengan kompak, apalagi pandangan menusuk Loui, kenapa kau bawa Rinjani kesini?!
"Mathew? Kau bersamanya?" tanya Cameron cukup dibuat terkagum tak percaya.
"Woww! Kau bersama Mathew?!" tanya Cameron pada Jani.
"Cameron, hentikan." Kini Loui berkata dingin dengan tatapan membunuh, namun rupanya gayung bersambut, Jani membalas ucapan Cameron.
"Iya. Mathew bersamaku," jawabnya kini dengan alis menukik tak mudah terpedaya dan terintimidasi lagi.
"Wanita macam apa kau, yang mengenal orang-orang seperti mereka? Apakah sepertiku?!"
*Apa maksudnya, orang-orang seperti mereka? Jani??! Seperti wanita itu*?
"Cameron cukup!!" bentak Loui membuat mereka cukup terkejut terlebih Cameron dan Jani.
"Lou, ayolah! Selera anak buahmu itu wanita asia, apakah mereka lebih nikmat?!" cibirnya menatap rendah.
"Cameron!"
Rinjani mengernyit, unbelievable! Apakah wanita ini sedang membicarakan pekerjaan jaaa lanknya? Karena jelas Rinjani tak terima jika disamakan dengannya.
Pandangan Cameron jatuh pada bagian perut Jani yang membuncit jelas karena si empunya tak mengancingkan mantel yang dipakai.
"Kau sedang mengandung?" ia tertawa sumbang. Namun di luar dugaan, Rinjani bukannya menangis, sudah cukup ia diinjak-injak di negri orang, ia malah tertawa membuat Oscar, Mathew bahkan Loui mengernyit.
"Iya, aku sedang hamil, hamil anak setan. Lalu kau siapa Loui?" tanya Jani menunjuk Loui.
Cameron meninggikan alisnya, "wow, berani sekali kau memanggil dengan namanya tanpa embel-embel tuan, kau tak tau kalau Loui..."
"Cameron!" bentak Loui menghentikan ucapan Cameron.
Ditatapnya Loui dengan manja, "aku kekasih Loui," jawab Cameron.
Dan sakit itu tak bisa lebih sakit lagi, tapi Jani tak menghiraukan perasaan yang mungkin saat ini ia menganggap itu hanya kebaperannya akibat dari masa kehamilan.
Jani mengangguk-angguk melengkungkan bibirnya, "kekasih," ia menyunggingkan senyuman miring.
"Cameron cukup! Jika kau masih mau berdebat, maka aku bisa memanggil wanita lain!" Oscar buka suara. Tanpa mau melerai, Loui justru sedang menikmati perdebatan yang dibuat Jani dan Cameron, entah kenapa ada rasa senang melihat Jani begitu, ia ingin tau seberapa tangguh seorang Rinjani, jangan hanya dengan dirinya saja ia pintar bertengkar.
"Uuuu, wanita panggilan rupanya..." cibir Jani berseru dan itu terdengar oleh Cameron.
"Hey!" tunjuk Cameron pada Jani.
"Kenapa? Apa aku salah?!"
Cameron menatap benci pada Jani, "lebih baik wanita panggilan namun rapi bermain di ranjang. Bukan sepertimu yang berakhir dengan mengandung..."
"Percuma jika hanya sebatas menjadi wanita panggilan, karena selamanya hanya akan dipakai ketika dibutuhkan, lalu dilupakan ketika tak butuh lagi...tak ada sebagian dari dirimu yang diinginkan oleh pria. Apakah bisa kubilang, telurmu itu tidak berkualitas, makanya lelaki tak mau sampai benih mereka membuahi telurmu?!" hardik Jani.
Mathew dan Oscar menyunggingkan senyuman tipisnya.
"Kau! Jangan bandingkan aku dengan dirimu! Jelas kita berbeda, dari luar saja orang sudah tau!" geram Cameron ingin meraih Jani, namun Mathew, Oscar bahkan Loui menjadi perisai terdepan.
"Cam!"
Jani kembali menyeringai, "jelas kita berbeda. Lihatlah dirimu...lalat saja bisa menyentuh kulitmu, menunjukan betapa dirimu begitu murah. Lelaki yang memanggilmu nyatanya harus menerima kenyataan, jika mereka harus rela berbagi dengan serangga! Hahahaha, mengenaskan."
Cameron dibuat melongo sementara Loui tersenyum puas padahal Jani sudah menatapnya bengis.
"Mat, kita lanjutkan acara belanja? Karena sepertinya aku akan menghabiskan uang dari lelaki kurang aj ar yang telah menghamiliku...oh ya ampun! Begitu berharganya aku!" geleng Jani tertawa sambil melengos menyambar paper bag berisi waffle yang ia pesan tadi.
Oscar tak bisa untuk tak cengengesan.
"Si alan! Dasar wanita jaaaa lankkk!" teriak Cameron, yang langsung dicengkram Loui, "hati-hati kau berbicara. Sebaiknya jaga sikapmu, aku tidak akan berada lama-lama denganmu di pesta, dan ini kali terakhirnya aku memanggilmu." Loui berjalan duluan keluar cafe, setelah Jani dan Mathew sudah memasuki mobil.
.
.
.
.
.
nih qu bantu sadarkan👊👊👊