Inilah adalah jilid kedua untuk novel SULTAN UDIN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN
Layla dan Naya saling berpandangan satu sama lain. Kode Layla agar Naya diam membuat adik sepupu Udin itu tidak berkutik.
Ia tahu Layla pasti mengetahui sesuatu, sejak Layla menyentuh si Ibu , sikap nya jadi berubah.
Ibu anak itu terlihat sibuk dengan ponsel nya, sesekali dia menelpon seseorang.
Tak lama kemudian, Seorang Dokter keluar. Ia mencari keluarga korban. Si Ibu cepat bangun, ia menangis lagi.
" Iya Dok, saya Ibunya... Bagaimana dengan anak saya Dok? Dia baik-baik saja kan? Tidak cedera? atau patah tulang? Atau dia tidak bisa diselamatkan? " Ibu itu nyerocos tanpa jeda.
" Tenang Bu tenang,,,, Alhamdulillah anak Ibu tidak apa-apa, hanya gegar otak ringan saja. Tapi barusan dia sudah siuman kok, hanya saja kami memberinya obat penenang untuk mengurangi rasa sakitnya " Dokter menjelaskan.
Naya dan Layla tersenyum lega mendengar berita itu, tapi tidak dengan si Ibu. Dia nampak kaget serta kecewa.
" Hanya itu Dok? "
" Iya Bu"
Dari sini Naya jadi sedikit mengerti, kenapa Layla berubah sikap kepada Ibu itu?
Setelah Dokter mohon diri, si Ibu menghampiri Naya dan Layla .
" Jangan senang dulu ya, pokoknya kalian harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada anakku" Ia mengeluarkan ancaman.
Naya jadi kesel, ingin ia balas ancaman Ibu itu, tapi Layla menahan lengan nya.
Setelah diatasi oleh tim Dokter, si Korban kecelakaan dipindahkan ke ruang perawatan. Naya meminta kamar VIP dan dia membayar lunas saat itu juga.
Si Ibu melirik Naya dengan tatapan penuh arti, sepertinya dia memikirkan sesuatu yang lain.
" Nay "
Tiba-tiba Udin datang, setelah membaca pesan singkat dari Naya , ia segera pergi ke rumah sakit.
Naya senang melihat Udin, secara naluriah ia berlari memeluk Udin.
" Aku takut Mas " Dalam pelukan itu Naya menumpahkan perasaan nya. Ia menangis!
" Jangan takut, ada aku disini" Balas Udin sembari mengusap punggung Naya , mendengar degup jantung pria yang disukai nya, Naya jadi lega. Irama detak jantung itu seperti melodi yang sangat indah.
KHEM KHEM
Layla berdehem, menyentak Naya dari buaian keindahan. Ia segera merenggangkan pelukannya, wajahnya bersemu kemerahan.
Si Ibu memperhatikan Udin sampai tak berkedip, ia bertanya dalam hati, siapakah pemuda tampan ini?
" Apa yang terjadi? " Tanya Udin kemudian.
" Kami tidak sengaja menabrak anak Ibu itu" Layla menjawab" Tapi,,, " Layla mengalihkan perhatiannya kepada si Ibu, perempuan yang ditaksir berumur tiga puluh tahunan itu refleks membuang muka. Ia salah tingkah karena kepergok memperhatikan si Udin.
Udin seperti mengerti situasi nya, ia memberi kode untuk pergi dari tempat itu. Naya dan Layla pun manut, mereka menepi ke taman yang berada di tengah-tengah area rumah sakit.
" Menurut penerawangan ku, Ibu itu sengaja mendorong anaknya ke jalan agar ditabrak oleh kita "
Naya terbelalak kaget mendengar penjelasan Layla .
" Masa sih? " Ia tidak percaya jika ada seorang Ibu yang tega melakukannya.
" Aku juga lihat, dia kerap kali memukul anak itu hanya karena perkara kecil"
Naya geleng-geleng kepala, padahal tadi si Ibu terlihat sangat sedih dan tidak ingin anaknya kenapa-napa.
" Dia Ibu kandung, atau ibu tiri sih ? " Gumam Naya .
" Sepertinya Ibu tiri" jawab Layla , Naya terperangah sampai mulut nya menganga.
" Kalau begitu, kita harus menolong anak itu" Udin memberikan saran atas tanggapannya mengenai kasus ini.
Layla mengangguk setuju, begitu pula dengan Naya .
" Ayo kita kesana " ajak Udin seraya melangkah mendahului, Naya dan Layla mengekor di belakang.
Ketika mereka tiba, rupanya si Ibu sedang berada di dalam ruangan bersama seorang pria paruh baya.
Perempuan itu menangis dengan keluhan tak jelas dalam pelukan pria itu. Sepertinya pria itu adalah Ayah dari si anak. Terlihat ia begitu tulus membelai rambut si anak.
" Permisi" Sapa Udin di ikuti oleh dua gadis pendamping nya.
" Oh iya, silahkan masuk" Pria itu menjawab ramah.
" Dia sayang yang nabrak putri kita " Tunjuk perempuan itu ke arah Naya dan Layla . Pria itu mengikuti arah tudingan istrinya. Tapi tidak mengatakan apapun.
" Maafkan atas keteledoran kami Om " Layla membungkukkan badannya sebagai tanda permohonan maaf.
" Semua masalah tidak akan selesai hanya dengan kata maaf" Celutuk perempuan itu ketus.
" Jadi Tante mau apa lagi dari kami? Bukankah saya sudah melunasi semua biaya pengobatan untuk anak ini" Naya sudah tidak bisa menahan diri untuk bersuara, karena makhluk jenis seperti perempuan itu, jika didiamkan akan semakin menjadi.
Ayah si anak nampak kaget, ia menoleh ke arah sang istri.
" A.. I iya itu setelah aku mengancam mu akan mengikuti jalur hukum" Perempuan itu nampak gugup, sepasang matanya bergerak liar seperti orang yang panik.
Naya tersenyum kecut.
" Ohya? Kalau begitu ayo kita tempuh jalur hukum. Saya tahu jika di TKP pasti ada CCTV jalan atau di depan toko, saya akan mencari bukti jika sebenarnya anak itu bukan ditabrak dengan sengaja oleh kami. Tapi anak itu dido rong oleh Tante sendiri, iya kan ?! "
Wajah perempuan itu langsung mengeras, matanya melebar dan kekhawatiran jelas terlihat.
" Tolong jelaskan ini Ma " Pinta si pria, Membuat perempuan itu semakin kalut. Lidahnya kelu tak bisa menjawab apapun.
Udin mengangkat telepon nya seolah-olah tengah menelfon seseorang.
" Iya Pak, kami mau melaporkan kasus kecelakaan yang menimpa seorang anak... "
Belum selesai Udin bicara, tetiba ponsel nya diram pas secara paksa oleh perempuan itu.
Tapi bukan nya senang , justru perempuan itu semakin panik karena sebenarnya Udin tidak melakukan panggilan telepon.
" Hem? Panik ya " sindir Naya ,
" Eng eng enggak kok" Jawab perempuan itu berusaha rileks, tapi wajah pucat nya tak mampu ia selindungi.
" Jadi benar kamu sengaja mendo rong Sisi?" Pria itu sudah tidak bisa tinggal diam lagi, jika menyangkut nyawa putri semata wayangnya.
Perempuan itu tetap mengelak, ia menggelengkan kepalanya cepat.
" Sayang, jangan percaya omongan mereka. Mereka hanya ingin menutupi kejaha tannya" Ia berdalih.
Namun pria itu tidak percaya sama sekali, karena kejanggalan sudah terlihat jelas.
" Jika memang benar begitu, tidak mungkin dia memprioritaskan kesehatan Sisi dengan perawatan terbaik. Dan kamu, tadi sangat jelas mengatakan jika kamu yang sudah melakukan semua ini untuk Sisi "
Perempuan itu semakin terpojok, satu demi satu kebohongannya terkuak.
Kebenarannya adalah, memang si Ibu tiri ini dengan sengaja mendo rong Sisi agar ditabrak oleh mobil yang ditumpanginya Naya dan Layla .
Karena jika Sisi meninggal, maka dia lah satu-satunya orang yang akan mewarisi harta kekayaan Ayah Sisi.
Sementara suaminya yang sudah sakit-sakitan itu memang disengaja selalu diberi racun agar ma ti secara perlahan.
Ayah Sisi tanpa pikir panjang langsung melaporkan hal ini kepada kepolisian, sehingga perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya digelandang ke Mapolres untuk ditindaklanjuti.
Perempuan itu berteriak histeris mengatakan jika dia tidak bersalah, dan terus merayu kepada suaminya untuk tidak memasukkan dia ke dalam penjara.
Tapi Ayah Sisi telah mati rasa, ia tidak ingin kejadian buruk menimpa putri nya lagi.
" Terimakasih " Ungkap Ayah Sisi kepada Naya , Layla dan Udin.
" Sama-sama Om " Balas Layla senang, akhirnya kebenaran bisa terungkap.