"Bantu aku, maka aku akan mengingat kebaikan mu ini!" Ujar seorang pria yang menodongkan sebuah senjata ke perut Laela.
Mata Laela tentu saja membelalak lebar.
"Ba... baik!" jawab Laela gugup.
Apa jadinya jika perjalanan liburan sekolah Laela malah membuatnya bertemu dengan seorang bos mafia yang baru saja terluka dan melarikan diri dari para pembunuh bayaran yang mengincar nyawanya?
Setelah menolong pria itu, bagaimanakah cara pria itu membalas kebaikan yang ia janjikan pada Laela?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Dua hari kemudian, Abdul Kodir dan Almira sudah sampai di rumah nenek Zubaidah. Ringgo yang jalannya masih agak aneh karena sudah satu minggu lebih memakai celana yang membuat jalannya lebih membuka jarak antara dua kakinya membuatnya jadi berjalan seperti itu terus meski sebenarnya sudah tak pakai celana khusus itu lagi.
Melihat sang adik yang turun dari mobil dan berjalan ke pintu utama dengan cara seperti itu. Sontak saja Laela tertawa terbahak-bahak.
Laela yang sudah memeluk ayah dan ibunya kemudian berlari menghampiri Ringgo.
"Oh astaga, ini pinguin bongsor dari mana?" ejek Laela seperti biasanya pada Ringgo.
Saat wajah Ringgo jadi cemberut. Laela malah semakin terkekeh. Tidak sampai seperti itu saja. Laela bahkan mengikuti gaya Ringgo berjalan dari samping Ringgo. Membuat anak laki-laki berusia delapan tahun itu menjulurkan lidahnya dan langsung berlari ke arah ayahnya.
"Huh, dasar tante-tante aneh!" balas Ringgo mengatai Laela lalu bersembunyi di balik tubuh sang ayah.
Wajah Laela yang tertawa mendadak langsung cemberut dan meletakkan kedua tangannya di pinggang nya.
"Heh, dasar bongsor. Ku cubit anu mu biar tahu rasa ya!" pekik Laela yang tak terima Ringgo mengatainya dengan sebutan tante-tante aneh.
Akhirnya kejar-kejaran antara Ringgo dan Laela pun tidak terelakkan. Laela yang memang sudah rindu pada adiknya itu langsung menggelitik pinggang dan perut Ringgo, hingga anak laki-laki berusia delapan tahun yang badannya sudah mirip anak kelas 3 SMP itu sampai tidur dan berguling di lantai karena Laela tak kunjung menghentikan aksi jahilnya pada sanga adik.
"Ibu, ayah... tolong. Tante-tante aneh ini akan membuatku pingsan!" teriak Ringgo meminta pertolongan pada sang ayah dan sang ibu.
"Laela, hentikan! kamu bisa bikin adikmu tidak doyan makan nanti!" seru Almira yang meminta Laela untuk berhenti dari jauh.
Almira bicara dari pintu, di dekat sang suami dan ibu mertuanya.
Tatapan mata Zubaidah mendadak jadi tajam ke arah menantunya itu. Membuat Almira menyadari kesalahannya, dia langsung menghampiri Laela dan Ringgo.
Laela makin terkekeh saja mendengar ibunya berkata seperti itu, sambil menghentikan aksinya dia berdiri dan membersihkan bajunya yang baru saja ikut berguling-guling di lantai bersama Ringgo.
"Tidak doyan makan darimana nya? badannya saja lebih besar dariku! ha ha ha!" Laela berkata dengan suara lepas. Dia juga tertawa sangat lepas. Hanya dengan Ringgo dia benar-benar bisa bertingkah seperti anak kecil lagi.
Almira lalu membantu Ringgo untuk bangun, tubuh bongsor Ringgo memang menyulitkan nya untuk bangun sendiri dengan cepat.
"Dasar Tante-tante aneh!" ucap Ringgo lagi.
"Ringgo sudah. Kenapa tidak bisa panggil kakak, kenapa selalu memanggil kakakmu dengan sebutan Tante?" tanya Almira.
"Lihat dia Bu, dia itu sudah sangat tua. Kakak temanku tidak ada yang setua tante itu!" jawab Ringgo sambil menjulurkan lidah ke arah Laela untuk kembali mengejek kakaknya itu.
"Ku kempesin kamu ya!" gertak Laela.
Abdul Kodir hanya geleng-geleng kepala, sementara nenek Zubaidah malah terhibur sebenarnya dengan pertengkaran dan saling ejek antara Laela dan Ringgo itu.
Jarak usia yang lumayan jauh antara Ringgo dan Laela yang terpaut sebelas tahun lebih memang membuat Ringgo pertama kali bisa mengenali Laela, sudah memanggilnya dengan sebutan Tante. Dan itu terbiasa sampai sekarang, di tambah lagi tidak ada kakak dari teman-teman sekolah dan teman bermain Ringgo yang selisih umurnya terlalu jauh, paling hanya dua atau tiga tahun saja. membuat Ringgo makin meyakinkan dirinya kalau memang seharusnya dia memanggil Laela itu Tante.
Semuanya akhirnya masuk ke dalam karena memang harus sudah semakin petang. Sementara tanpa sepengetahuan keluarga itu ada seseorang yang mengawasi mereka dengan sebuah kamera DSLR yang mampu membidik objek dari jarak yang sangat jauh dengan begitu jelas sedang merekam apa yang terjadi pada Laela.
Di sebuah daerah yang sangat asri, di sebuah villa yang lumayan besar, dengan bangunan berlantai dua di dekat sebuah peternakan kuda yang sangat luas dan besar. Seorang pria dengan rambut rambut halus di sekitar rahang dan bawah dagunya, dan kumis tipis yang menambah kesan macho di wajahnya sedang melihat ke layar laptop yang sejak tadi menyala.
Ekspresi wajahnya kadang takjub, kadang mengernyitkan keningnya dan kadang senyum senyum sedikit dengan pandangan mata terfokus pada layar monitor laptopnya.
Dia adalah Kabir, dia menemani sang ibu menghabiskan waktu kebebasannya selama satu bulan dari kediaman Maaz Adnan. Sebenarnya bukan Maaz Adnan yang di takuti atau lebih tepatnya menjadi ke khawatiran dari Kabir. Melainkan orang yang menjadi atasan dari Maaz Adnan yang merupakan ketua dari kelompok Silver Shadow.
Berurusan dengan Maaz Adnan bukan hal yang sulit bagi Kabir yang sudah tahu seluk beluk luar dan dalam kediaman Maaz Adnan dan semua struktur organisasi miliknya. Namun Adzkan Mumtaz, Kabir belum punya kekuatan untuk bisa setara dengannya. Maka dari itu, pelan-pelan Kabir sedang mengumpulkan kekuatan agar bisa lepas sepenuhnya dari Silver Shadow dan membawa ibunya pergi jauh di kehidupan yang damai seperti impian sang ibu.
Itu dulu adalah satu-satunya impian Kabir. Namun sejak bertemu dengan Laela, Kabir juga ingin menjadikan Laela bagian dari mimpinya itu. Meski sangat tidak mudah pastinya. Tidak akan ada orang tua yang akan setuju kalau putri tercinta mereka menjalin hubungan dengan seorang gangster. Itu dulu yang di alami oleh Zahra, hingga Adzkan Mumtaz menghabisi semua anggota keluarga Zahra, hanya menyisakan sang adik yang di ampuni nyawanya oleh Adzkan Mumtaz setelah Zahra setuju mengabdi seumur hidup pada Maaz Adnan.
Namun sang adik yang terlanjur membenci Zahra karena di anggap sebagai penyebab kehancuran keluarganya malah pergi meninggalkan Zahra saat dirinya tengah hamil Kabir saat itu. Sampai sekarang Zahra tak tahu adiknya itu dimana.
Kabir menyentuh layar monitor laptopnya setelah dia menekan tombol pause. Wajah Laela yang sedang tertawa membuat tangan Kabir perlahan menyentuh layar monitor itu.
Tiba-tiba sebuah sentuhan tangan di bahu Kabir membuat Kabir menoleh ke arah sentuhan tangan itu sambil tersenyum karena Kabir tahu, itu pasti ibunya.
*Siapa dia
Zahra bertanya dengan bahasa isyarat pada Kabir. Kabir menuntun ibunya untuk duduk di sampingnya dan melihat ke layar laptopnya.
"Namanya Laela, ibu dia adalah calon menantu mu!" jawab Kabir sambil tersenyum.
Melihat senyum Kabir, Zahra sebenarnya sangat senang. Namun ada kecemasan dalam hatinya.
*Dia sangat muda
Tanya Zahra lagi.
"Iya Bu, dia memang baru lulus SMA" jawab Kabir.
*Orang tuanya dari blok C juga
Setelah pertanyaan itu, Kabir terdiam. Dia menundukkan kepalanya.
"Tidak Bu, dia dari luar kota. Dan malam ini dia akan bertunangan!" terang Kabir dengan suara pelan dan terdengar sedih.
Zahra terkejut, namun dia langsung menepuk bahu anaknya dengan lembut mencoba memberikan Kabir semangat dan dukungan.
'Dari kota lain saja sudah mustahil orang tuanya akan memberi restu, apalagi dia sudah punya tunangan. Kabir, kenapa kisah cintamu serumit ini? tapi ibu yakin, kalau cintamu tulus, pasti akan ada jalan, nak!' batin Zahra berdoa untuk putra semata wayangnya dalam hatinya.
***
Bersambung...
thanks ya atas karyanya
Mampir Thor 🙋
terimakasih author
👍👍👍👍👍👍