"Kau begitu angkuh dan dingin, tapi aku menyukaimu."
Sebuah kisah cinta antara gadis yang merupakan pengawal dan seorang pria pewaris tunggal generasi ketiga perusahaan terbesar di Asia, Edzardians Group.
Siapa sangka Selita akan tergila-gila dengan Alvaro Edzard yang dijulukinya sebagai iblis tampan yang juga ternyata merupakan pria angkuh, kasar dan arogan!
Apakah Alvaro yang dingin itu akan membalas cinta Selita? Ataukah dia memiliki gadis di masa lalunya yang akan menjadi penghalang bagi Selita untuk mendapatkan hati Alvaro?
Penasaran? Kuyyy mampir ✨
©Copyright by Stivani, April 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stivani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : Tidak Biasanya
(10 menit lalu, sebelum insiden memalukan)
Setelah mengantar Letisya, Al kembali menjalankan aktivitasnya sebagai presdir Edzardians Group di kantornya. Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan karena mendengar suara perempuan yang menggerutu di balik pintu itu. Beberapa saat kemudian seringai senyuman terbentuk di pipinya tanpa disadari Al.
Dia menarik gagang pintu itu, dan mendapati Selita yang sedang duduk bersantai, memejamkan kedua matanya sambil mengangkat kedua kakinya di atas meja. Dia memperhatikan gadis itu dengan seksama.
Bisa-bisanya gadis ini mengatakannya dengan santai! Kenapa aku yang gugup! Apa yang harus aku lakukan untuk membangunkannya. Ahhh sial!
Pria itu menjadi salah tingkah untuk membangunkan Selita yang tidak tertidur itu, dan hanya memejamkan mata di sofa. Al mendengarkan semua pengakuan Selita, untuk itulah dia menjadi gugup.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara yang tiba-tiba menyambar entah dari mana.
"Suami masa depanku!" jawab Seli reflek.
***
Selita tidak bisa tidur karena memikirkan insiden memalukan yang terjadi di dalam ruangan bosnya.
"Ahhhh, memalukan! Kenapa aku bisa berkata seperti itu!" mengguling-gulingkan badannya di atas kasur.
"Apa Tuan mendengar semua yang aku katakan! Tidak mungkin. Kalau dia mendengarkan semuanya, kenapa dia tidak memberitahuku saat aku bertanya. Tapi mana mungkin juga Tuan akan mengatakan kalau dia mendengar pengakuanku!"
Selita kembali memukul kepalanya dengan bantal guling. Pipinya memerah karena menahan malu akibat pengakuannya. "Jangan pikirkan Selita! Yakin saja kalau Tuan Al tidak mendengarkan pengakuanmu. Kalau pun Tuan mendengarkannya secara tidak sengaja paling tidak dia akan berpikir itu hanyalah sebuah omong kosong," meyakinkan dirinya.
Gadis itu berusaha meyakinkan dirinya kalau Al tidak mendengarkan ucapannya. Dia pun terlelap dari tidurnya.
Sedangkan Al di dalam ruang kerjanya, masih mengerjakan sejumlah dokumen yang masih tersusun rapi di atas meja kerjanya. Dia membuat seluruh persiapan untuk perjalanan bisnis selama tiga hari di kota Q.
"Apa benar yang di katakan gadis bodoh itu?" melepas pena yang dipegangnya. "Apa itu sebuah pengakuan? Ahhh bodoh! kenapa aku akhir-akhir ini selalu memikirkan gadis itu. Padahal wanita yang selama ini menganggu pikiranku sudah kembali padaku, namun Selita..." mengacak-acak rambutnya sehingga berantakan. "Jangan pikirkan Al! dan tetaplah fokus, yang kau dengar itu hanyalah sebuah omong kosong belaka!" melanjutkan pekerjaannya.
Di sisi lain Al mencoba meyakinkan dirinya bahwa pengakuan Selita, adalah sebuah omong kosong. Namun dia tidak dapat membohongi perasaannya bahwa dia, belakangan ini selalu kawatir dan memikirkan gadis itu.
***
Selita membereskan pakaiannya untuk dipakai selama tiga hari dalam perjalanan bisnisnya bersama Al. Dia bahkan sudah tidak sabar bertemu dengan bos dinginnya, namun hatinya masih malu akibat mengingat insiden memalukan itu.
"Jangan sampai Tuan membahas peristiwa kemarin! Tapi tidak mungkin, Tuan orangnya tidak seperti itu! Meskipun badai telah mengamuk di depannya, toh ekspresinya masih tetap datar dan dingin."
Gadis itu bergegas menjemput bosnya sambil menarik koper miliknya. Seperti biasanya dengan wajah ceria, diiringi dengan siulan kecil dibibirnya, Seli melangkahkan kaki dan memulai aktivitasnya.
"Tuan, apa aku boleh masuk?" ucap Seli dari balik pintu.
Tidak biasanya gadis itu bertanya dulu sebelum masuk ruanganku. Batin Al.
"Masuklah!"
Seli membuka pintu itu dan melemparkan senyuman lebar di wajah Al. Pria itu menjadi heran dengan tingkah Selita.
"Apa Tuan sudah siap?"
"Hmm," merapikan dasinya. "Tidak biasanya kau bersikap seperti ini."
"Kenapa Tuan?"
"Apa yang membuatmu sangat senang pagi ini?"
"Ehmm, aku hanya bersemangat untuk menjalankan aktivitasku Tuan," tersenyum dan menyelipkan anak rambutnya di sebelah telinga.
Al menatap wajah Seli yang memerah.
Tuan, aku sangat bersemangat karena aku bisa bersamamu selama tiga hari. Haha. Batin Seli.
"Ayo berangkat," ucap Al.
Seli terpukau dengan pemandangan yang dilihat di depan matanya. Lagi-lagi Al memancarkan aura yang sangat mengagumkan. Tubuh yang kekar dibaluti setelan jas berwarna hitam, memiliki kaki yang jenjang, ditambah dengan wajahnya yang super tampan, membuat para wanita yang meliriknya bisa sampai mimisan.
"Kenapa bengong! Ayo berangkat." Al menyadarkan Selita dari lamunannya.
"I...iya tuan."
Mereka berdua berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pintu utama. Seli memperhatikan pria yang berjalan di depannya yang tidak membawa tas berisi pakaian.
"Tuan, kenapa Tuan tidak membawa tas? Bukannya kita akan tinggal selama tiga hari?" tanya Seli penasaran.
Al tidak menjawab pertanyaan Seli. Seorang wanita paruh baya, yang adalah sekretaris Julian, telah berdiri di depan pintu utama.
"Tuan, sesuai dengan permintaan Tuan," menunjuk koper di sebelahnya.
"Suruh gadis ini memasukan ke dalam bagasi."
Vera mempersiapkan segala keperluan Al, mulai dari pakaian sampai kepada bagian-bagian yang terkecil.
Seli membelalakan matanya dan mulai berpikir.
Apa sekeretaris Vera yang menyiapkan semua pakaiannya? memangnya Tuan tidak malu, menyuruh perempuan membereskan pakaian dalamnya, hihihi. Batin Seli.
Seli hendak mengangkat kopernya dan meletakkan di dalam bagasi mobil. Namun langkahnya terhenti ketika Al memandangi kedua kopernya lekat.
"Tuan,,, kenapa?"
"Apa kau mau liburan! Kenapa banyak sekali bawaanmu?"
Seli menggaruk lehernya dan tidak menjawab pertanyaan Al. Pria itu menarik nafasnya panjang dan mengehembuskannya dengan kasar.
"Ayo berangkat!"
"Ba...baik Tuan."
Ada-ada saja yang di lakukan gadis ini! memangnya dia mau liburan apa? Batin Al.
"Tuan muda," mengejar Al yang sudah masuk ke dalam mobil.
Al memandang Vera yang berjalan ke arahnya.
"Saya kira Tuan membutuhkan ini," menjulurkan sebuah bekal.
"Trima kasih Bibi," ucap Al.
Vera membuatkan bekal untuk Alvaro. Dia memberikan perhatiannya sebagai seorang Ibu kepada Al semenjak kedua orang tua Al meninggal.
Hati-hati Tuan, jangan sampai sakit. Batin Vera.
Selita memperhatikan tingkah Vera. Wanita paruh baya itu sangat perduli dengan bosnya. Mulai dari menyiapkan segala keperluannya sampai membuatkan bekal untuk Al. Dia merasa heran karena tugas seorang sekeretaris adalah menangani sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan atau berkaitan dengan Tuan besar, Julian Edzard.
"Tuan..."
"Hmm."
Apa aku harus bertanya? Tapi bagaimana kalau aku mengganggu ketenangan Tuan?
Seli menyadari akan kekepoannya itu bisa mendatangkan emosi dari bos dinginnya. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Al memandangi Seli di spion dengan tatapan aneh.
"Apa lagi yang ingin kau tanyakan?"
Kini bos dinginnya yang mulai penasaran dengan pertanyaan Seli dan kembali bertanya kepada gadis itu.
"Tidak jadi Tuan." Seli menahan bibirnya untuk tidak bersuara.
Apa yang sebenarnya mau dikatakan gadis kepo ini! bikin penasaran aja! Batin Al
Al merasa kaku dengan suasana baru yang tercipta di dalam mobil. Biasanya dia akan mendengarkan terus celoteh Seli yang selalu bertanya omong-kosong. Kali ini tidak seperti biasanya. Seli berhasil menahan bibirnya untuk tidak bersuara, mengganggu ketenangan Tuannya. Meskipun rasa ingin tahunya sangat membumbung.
Bersambung...