NovelToon NovelToon
WITH YOU

WITH YOU

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.7
Nama Author: Mira Indriani

"Lo mau sampai kapan hura-hura seperti ini tanpa tujuan hidup yang jelas?"

"Nanti kalau ada yang serius sama gue. Lo sendiri kapan mau nentuin masa depan lo. Nyari suami kek!"

"Gue masih gini-gini aja, Za. Gue nunggu suami yaitu orang yang tepat bisa bertanggung jawab sama gue dan ada waktu buat keluarga."

"Kalau seandainya lo udah nikah terus suami lo punya masa lalu yang buruk gimana?"

"Gue terima. Karena bukan kuasa kita untuk menghakimi masa lalu orang lain. Setiap orang punya masa lalu yang buruk. Mereka punya potensi untuk jadi lebih baik lagi. Hidup itu bukan dari dilihat dari masa lalunya, akan tetapi dilihat dari masa yang sekarang ketika ia berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ."

Reza menatap perempuan yang berdiri dibelakangnya. Di usia yang sudah terbilang dewasa dia justru lebih sering senang-senang dengan beberapa perempuan. Kecuali perempuan yang sedang bersamanya kini. Bukan munafik, ia hanya ingin menjaga adik almarhum sahabatnya itu. Untuk jatuh cinta, rasanya dia tidak akan pernah jatuh cinta pada perempuan itu. Sebab ia akan merasa bahwa Semesta tidak adil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KESEDIHAN

Dua tahun sudah semenjak kejadian di mana ia bertemu di makam Rania. Hingga kini sudah tidak ada lagi bunga yang ada di sana. Bahkan makan Fandi dan juga mertuanya sudah tidak di rawat lagi. Reza benar-benar kehilangan sekarang.

 

 

Makam Rania yang tidak terawat itu menandakan bahwa Fania tidak pernah datang lagi. Pernikahannya dengan Nesya menghasilkan anak laki-laki yang bahkan hingga kini Reza tidak pernah bersimpati sedikit saja terhadap anaknya. Justru waktunya lebih banyak mengunjungi makam Rania.

 

 

"Ini ulang tahun sekaligus kepergian kamu, Rania. Maafin Papa yang baru bisa kunjungi kamu sekarang sayang," ucapnya lirih. Ia menaruh sepatu kecil yang sangat lucu di atas makam Rania. Bahkan dua tahun lalu ia menemukan kaos kaki yang dirajut di atas makam Rania. Dan itu membuat Reza hingga kini merasa terpukul. Penyesalannya sudah menyia-nyiakan Rania dan juga Fania yang membekas hingga saat ini.

 

 

"Rania bisa maafin, Papa?" ucapnya pelan sambil mencabut rumput yang sudah mulai tumbuh liar di atas makam itu. "Mama sudah lama ya nggak kunjungi Rania. Mama apa kabar ya sayang? Papa kangen sama Mama," ucapnya.

 

 

Gemercik air mulai berjatuhan. Tepat dua tahun sudah Rania pergi dan itu karena perbuatannya sendiri. Reza bangun dari tempat duduknya. "Sayang, Papa pergi ya. Besok Papa bakalan sering-sering kunjungi Rania ke sini. Semoga Papa juga bisa ketemu Mama di sini bisa sayang sama Rania sama-sama."

 

 

Reza berlari saat hujan sudah mulai turun di sana. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dengan keadaan basah kuyup. Setibanya di rumah, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan membersihkan diri di sana. Semenjak ia tahu anaknya meninggal. Ia selalu saja mengabaikan Nesya dan putranya. Seolah kedua orang itu tidak pernah ada di hidupnya.

 

 

"Kamu mandi dulu, Za! Kenapa pulang basah-basahan gini sih?"

 

 

"Nggak apa-apa. Ohya nanti malam aku nginap di rumah, Mama. Kamu di sini ya!"

 

 

"Iya, Za."

 

 

Ia bergegas membersihkan dirinya dan langsung mengganti pakaiannya. Hingga malam hari ia masih duduk di balkon menyaksikan langit kota Jakarta yang sedang turun hujan sangat lebat. Rumah yang ditempatinya kini dengan Nesya adalah rumah yang di tempatinya bersama dengan Fania dulu. Tetapi ia tidak pernah menggunakan satu kamar. Bahkan tidak pernah ada orang yang ia biarkan untuk masuk ke dalam kamar itu. Sekalipun itu adalah Nesya. Kamar itu merupakan kamar yang ditempatinya dulu bersama dengan Fania. Canda tawa itu selalu teringat saat ia masuk ke sana.

 

 

Saat hujan berhenti. Reza langsung berpamitan kepada Nesya.

 

 

"Za, bisa kan sekali saja kamu itu lirik anak kamu? Apa yang buat kamu berubah begitu cepat? Dua tahun kamu seperti ini, Za. Seolah anak kamu itu nggak pernah ada,"

 

 

"Sya, aku capek. Please,"

 

 

"Sekali saja, Za. Cium dia sebagaimana orang tua menyayangi anaknya,"

 

 

Reza menggeleng."Aku pamit."

 

 

Ia benar-benar tidak melakukan perintah Nesya. Ia sama sekali tidak memiliki ikatan sedikit pun pada anak laki-lakinnya. Yang ada hanyalah rasa cintanya yang terlalu besar terhadap Rania. Meski bayi itu tidak pernah di lihatnya. Tetapi entah mengapa cintanya kepada almarhummah Rania begitu kuat.

 

 

Setibanya di rumah orang tuanya. Ia menemukan kedua orang tuanya sedang berbincang di ruang tamu dan juga Shita.

 

 

"Reza, tumben? Lho kamu sendirian? Nesya mana?"

 

 

"Di rumah. Aku pengin nginap sendirian, Ma."

 

 

"Kamu kenapa? Za, Mama perhatikan rumah tangga kamu sama Nesya nggak baik-baik saja, penyebabnya apa sayang?"

 

 

"Baik-baik saja Ma. Mungkin memang Reza lagi nggak mood sama dia,"

 

 

"Maksud kamu?"

 

 

"Entahlah, Ma."

 

 

"Ingat kamu sudah memilih dia, itu artinya kamu menerima dia dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Dan lagi, kamu sering beli baju bayi perempuan, itu untuk apa?"

 

 

"Untuk Rania, Ma."

 

 

"Za, ingat! Rania itu udah nggak ada, lihat satu lemari full kamu beliin untuk dia, kamu sudah gila?"

 

 

"Iya bahkan aku merasa sudah gila semenjak tahu bahwa anak aku meninggal gara-gara aku,"

 

 

"Ikhlasin, Za. Rania sudah nggak ada, kamu mau sampai kapan seperti ini? Lihat kamar kosong itu, kamu sudah hias dengan khas anak perempuan, boneka. Semua mainan dan pakaian semuanya baru-baru. Itu kamu berikan untuk siapa?"

 

 

"Aku bilang itu untuk Rania, Ma." Reza membentak Mamanya. Ia tidak suka siapa pun yang mengusik dirinya tentang isi kamar Rania ia sangat membencinya. Bahkan begitu banyak boneka di kamar yang satu itu. Baju-baju anak kecil dan gaun pesta anak kecil yang ada di sana membuat Reza benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya.

 

 

"Reza mau sampai kapan seperti ini? Bagaimana kalau Nesya tahu kamu seperti ini karena Rania?"

 

 

"Apa peduliku terhadap Nesya, Ma. Bahkan walaupun dia tahu tentang kamar itu aku tidak peduli. Dan lagi, ini ulang tahun Rania yang kedua Ma. Aku harap kalian jangan pernah lupa terhadap gadis kecilku, itu."

 

 

*****

 

 

Tiga bulan lalu, semenjak Fania menerima lamaran Raka untuk menikahinya. Kini mereka telah hidup layaknya suami istri pada umumnya. Raka yang selalu saja mengomeli dirinya karena terlalu banyak aktivitas membuat Fania bersyukur karena memiliki suami yang sangat perhatian dengannya. Pria itu telah berhasil meyakinkan dirinya tentang pernikahan lagi.

 

 

Fania sedang memasak makan malam untuk Raka yang saat itu belum pulang bekerja. meski awalnya ia sangat ragu tentang pernikahan. Tetapi tidak dengan Raka yang terus saja membuktikan cintanya.

 

 

"Masak apa, hm?" tiba-tiba Fania terkejut dengan kedatangan Raka yang memeluknya dari belakang dan mencium lehernya.

 

 

"Makan malam buat, kamu,"

 

 

"Sudah nggak muntah-muntah lagi sekarang?"

 

 

"Jarang. Pengin di elus Papanya kali,"

 

 

"Hey, anak Papa nggak boleh buat Mama sakit ya." Ucap Raka sembari mengelus perut Fania.

 

 

Kini Fania telah hamil kembali. Bahkan mertuanya yang sangat over protective terharap kehamilannya selalu saja heboh dengan gerak-gerik Fania. Walaupun pada awalnya Fania sempat bersedih karena sulit mendapatkan restu dari orang tua Raka. Tetapi kini keduanya telah resmi menjadi suami istri. Dan usia kandungan Fania sudah menginjak usia minggu ke-5.

 

 

"Jangan capek-capek ya. Kasihan adiknya, nanti,"

 

 

"Iya, sayang."

 

 

Sesekali Fania menggeleng karena tingkah Raka yang bahkan tak bisa jauh darinya semenjak tahu dirinya tengah hamil. Bahkan ia juga kesulitan karena Raka selalu mengidam hal yang aneh-aneh.

 

 

"Mas, ini sudah selesai. Sana kamu mandi dulu!"

 

 

"Hadap sini dulu sayang!"

 

 

Fania berbalik saat itu juga. Dan Raka mencium bibirnya dengan sangat mesra dan terakhir mencium perut datarnya. "Baik-baik di sana sayang. Papa mandi dulu, nanti makan bareng, oke!"

 

 

Fania mengelus kepala Raka yang tengah berbicara dengan perutnya. Sungguh kali ini ia sangat bersyukur telah mendapatkan suami yang sangat menjaga janinnya. Bahkan saat itu Raka juga yang menjaga Adinda Rania. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Dan ia sangat sulit untuk menerima seseorang lagi karena tidak ingin kesalahan yang sama terulang lagi. Tetapi saat memberikan Raka untuk membuktikan. Pria itu sungguh membuktikan ucapannya, Raka mencintai calon buah hatinya. Dan apa pun yang diinginkan oleh Fania, maka dia akan langsung pergi.

 

 

Seusai makan malam. Mereka duduk di ruang tamu sambil membaca buku-buku tentang kehamilan. Bayangkan betapa bahagianya Raka hingga membeli buku tersebut untuk Fania. Bahkan dia juga membaca buku tentang suami siaga hingga istri melahirkan.

 

 

"Fania, semoga anaknya cewek ya,"

 

 

"Memangnya kamu pengin punya anak, cewek?"

 

 

"Iya. Biar cantik kayak kamu,"

 

 

"Bisa aja kamu, Mas."

 

 

"Pokoknya jangan banyak gerak. Kalau ada apa-apa ada asisten, besok ke rumah Mama,"

 

 

"Tadi Mama datang, aku di marahi kerjain ini itu. Aku belanja keperluan dapur. Waktu masukin bahan-bahan ke kulkas, Mama marah,"

 

 

"Dia bilang apa?"

 

 

"Fan, Fan. Kamu itu lagi hamil muda, nggak boleh kerjain yang ini, nggak boleh kerjain yang itu," ucapnya menceritakan Raka tentang sikap mertuanya yang membuatnya merasa sangat bersyukur.

 

 

"Lain kali nggak usah kerja. Kamu mau apa aku penuhi, sayang. Ingat ada hasil cinta kita di perut kamu," Fania memejamkan matanya sesaat setelah Raka mencium keningnya.

 

 

"Terima kasih ya. Ternyata aku manjur juga,"

 

 

"Apanya?"

 

 

"Hamilin kamu. Baru nikah beberapa bulan kamu udah isi, hohoho aku hebat kan?"

 

 

Pletak

 

 

Raka menggosok kepalanya yang dijitak oleh Fania.

 

 

"Sayang, sakit tahu nggak,"

 

 

"Anak kamu yang mau, Mas,"

 

 

"Oh, oke. Papa nggak apa-apa sayang. Mama memang sedikit galak akhir-akhir ini. Semoga kamu nggak galak kayak Mama nanti ya,"

 

 

"Rakaaaa,"

 

 

"Nggak boleh panggil nama. Biasakan diri panggil, Papa."

 

 

"Nggak,"

 

 

"Ngambek nih,"

 

 

"Ngambek aja, Mas. Aku nggak peduli," Fania melihat kedua tangannya sambil memanyunkan bibirnya.

 

 

Cup

 

 

Fania membelalakan matanya saat Raka mencium bibirnya. "Sayang nggak boleh begitu. Suami pengin ini harus di turuti, selama itu baik,"

 

 

"Iya sayang. Tapi nanti kalau dia sudah lahir baru deh panggilannya berubah. Sekarang aku panggilnya Mas aja ya?"

 

 

"Iya,"

 

 

Fania langsung beranjak dari duduknya dan langsung duduk dipangkuan Raka. Saat itu juga tengkuknya ditarik oleh Raka dan suaminya itu mencium lehernya begitu lama. Fania berusaha melepaskan, tetapi Raka semakin memperdalam ciumannya. Fania ingin memberontak, tetapi takut jika Raka tersinggung. Ia yakin kali ini ciuman Raka akan menimbulkan bekas karena ia merasakan ciuman itu begitu dalam.

 

 

"Mas,"

 

 

"Kamu cuman milik aku, Fania,"

 

 

"Hmmm."

 

 

"Ayo masuk kamar, kita tidur. Istirahat yang baik,"

 

 

Fania mengangguk dan langsung ke kamar. Mereka berdua bergantian ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Saat itu Fania langsung menyingkap rambutnya dan benar saja bahwa Raka meninggalkan bekas di lehernya. Raka yang sedikit berbicara membuatnya merasa ada yang berbeda dari suaminya.

 

 

Fania kembali ke kamar dan langsung berbaring di samping Raka. Ia memeluk Raka saat itu juga suaminya memeluknya begitu erat.

 

 

"Mas, sebenarnya kamu kenapa?"

 

 

"Kenapa gimana?" tanya Raka balik.

 

 

"Selama ini kamu nggak pernah ninggalin bekas. Kenapa sekarang kamu ninggalin, kamu ada masalah?"

 

 

"Kamu marah? Nggak suka kalau aku ninggalin bekas ciuman di leher kamu?"

 

 

"Bukan gitu. Tapi aku khawatir, kamu ada masalah?"

 

 

"Nggak sayang. Aku cuman nggak mau nyakitin dia. Aku khawatir aja, sayang,"

 

 

"Maksudnya?"

 

 

"Dokter bilang harus dikurangi buat kunjungi adik. Jadi sebagai gantinya cium kamu, nggak marah kan?"

 

 

"Mas, kamu pengin ngelakuin itu?"

 

 

"Iya,"

 

 

"Kenapa di tahan?"

 

 

"Aku sudah bilang aku nggak mau dia kenapa-kenapa. Jadi nggak apa-apa,"

 

 

"Siapa bilang nggak boleh? Boleh, asal pelan,"

 

 

"Masa sih?"

 

 

"Iya. Memangnya kamu tanya sama siapa?"

 

 

"Ardi. Dia bawahan aku, dia sudah punya anak dua. Terus aku cerita kalau kamu hamil, terus dia bilang kalau dokter nggak ngebolehin,"

 

 

"Kamu tuh ya. Mau aja di akalin sama teman kamu sendiri. Boleh kok, asal pelan, kamu harus bisa kontrol diri biar nggak nyakitin dia,"

 

 

"Aku janji nggak bakal nyakitin. Aku janji bakalan pelan dan lembut."

 

 

Fania terengah-engah mengambil napas panjang saat itu juga ia merasa sangat lelah karena melayani Raka seperti biasanya. Semenjak dua minggu lalu Raka telah berpuasa dan tidak menyentuhnya sama sekali karena memikirkan kondisi janinnya.

 

 

"Mas,"

 

 

"Hmmm, kenapa nggak tidur?"

 

 

"Peluk!"

 

 

"Ya sudah nggak usah banyak gerak. Ayo tidur, sayang!"

 

 

Fania terlelap dalam dekapan Raka. Menikah dengan Raka memang tidak buruk. Meski memiliki masa lalu yang sangat buruk. Setidaknya ia merasakan kasih sayang yang sebenarnya.pria itu sungguh baik. Selama ini ia selalu menjadi bahan perbincangan saat bekerja di kantor Reza karena Raka yang terkenal seringkali mempermainkan hati perempuan. Tetapi semenjak menikah. Kabar mengenai perempuan-perempuan yang dekat dengan suaminya hilang bagai ditelan bumi. Tidak ada lagi kabar miring yang dapat mengganggu rumah tangganya.

 

 

Namun semenjak ia diajak pergi oleh Raka lebih jauh dari Reza. Bahkan ia tidak pernah mengunjungi makam anaknya. Karena ia sudah tahu bahwa beberapa kali ia menemukan Reza di sana. Ia tidak ingin lagi bertemu dengan pria itu. Karena hatinya sudah terlanjur sakit dan Raka melarangnya keluar sendirian.

 

 

Raka telah mengajaknya pulang ke Lombok. Fania akan menurutinya nanti, saat semuanya sudah baik-baik saja. Yaitu janinnya aman untuk diajak pergi sangat jauh. Ia takut kelelahan. Ia juga sangat rindu untuk pulang ke rumah lamanya.

 

 

"Ayo tidur, jangan mikirin apa-apa lagi. Ada aku yang bakalan tetap sama kamu." Ia langsung memeluk Raka saat itu juga dan terlelap.

 

 

 

 

 

 

 

 

1
Meiliani Pelangi
gombal banget ngomong Cinta
Meiliani Pelangi
Reza yang menciptakan masalah di rumah tangga mereka!
Meiliani Pelangi
sebenarnya Reza itu lembut dan sayang pada Fania, tetap mengakui fFania itu istrinya tapi mengapa Reza belum bisa mencintai fania thor?
Meiliani Pelangi
semangat upnya thor!
Marshanda Pratama
anja7
Salma Cheng
fania udah tau Reza punya wanita lain ngapen juga masih ttp mau terima pernikahan ....berlapang dada jha fan ...itu resiko kamu harus terima
Salma Cheng: insysAllah siap
total 2 replies
Salma Cheng
jjr bukan GK rela Reza nikah sama fania , namun apa fania G'akan sakit ato menderita hidupnya setelah nikah ,,, kasian fania
aku cuman ingin Reza sadar Thor
Riska syah widya
numpang lewat..
Megantara H: Boleh mampir di ceritaku kakak💜💜
"Aku memilihmu"
Klik langsung profileku ya... 😉
total 1 replies
Yusneli Usman
kalian akan mendapatkan balasan atas apa yg telah kalian lakukan berbahagia di atas derita seorang istri yg sangat baik hati dan penurut...
Megantara H: Boleh mampir di ceritaku kakak💜💜
"Aku memilihmu"
Klik langsung profileku ya... 😉
total 1 replies
Yusneli Usman
Emang enak hidup kayak gitu.....dulu fania menjadi istri yg baik dan penurut ..baru nikah tak sampai 1 thn dah ngotot punya anak...hello broooo...bangun dr dunia khayal yg lu ciptakan sendiri....sebel kali aku liat jantan beginian...🙄🙄😏😏😏😏😏😏😏
Megantara H: Boleh mampir di ceritaku kakak💜💜
"Aku memilihmu"
Klik langsung profileku ya... 😉
total 1 replies
Gahara Rara
begitu berat beban mu fania
Megantara H: Boleh mampir di ceritaku kakak💜💜
"Aku memilihmu"
Klik langsung profileku ya... 😉
total 1 replies
Syuhidah Ida
kereeen..suka deh ama devan..
Megantara H: Boleh mampir di ceritaku kakak💜💜
"Aku memilihmu"
Klik langsung profileku ya... 😉
total 1 replies
Kemal Chandra
thor ini cerita hiatus atw mo d lanjut udah lama g up udah hampir setaun y..
Nurul Hidayati
adelina egois ky bpk aslinya
Megantara H: Boleh mampir di ceritaku kakak💜💜
"Aku memilihmu"
Klik langsung profileku ya... 😉
total 1 replies
Ica Snow Kim
BAGUS DEH FANIA & RAKA AKHIRNYA NIKAH JUGA 🙂,

FANIA LAGI HAMIL ANAKNYA RAKA 🙂,


FANIA & RAKA SEMOGA BAHAGIA TERUS 🙂
Ica Snow Kim
REZA GILA, DORONG FANIA YG LAGI HAMIL, BERDARAH BUKANNYA DI TOLONGIN MALAH DI TINGGALKAN PERGI 😡🤬😡🤬😡🤬,

SEMOGA REZA CEPAT DAPAT KARMA 🤬🤬🤬🤬🤬
Ica Snow Kim
FANIA HAMIL, TAPI DI CERAI REZA 😓
Ica Snow Kim
REZA & FANIA BELAH DUREN JUGA ☺️
Ica Snow Kim
REZA BERENGSEK, NESYA DI TIDURI, INGIN FANIA JUGA 🤬😡
Ica Snow Kim
UNTUNG REZA MABUK JADI DEH CERITA SAMA FANIA YG DI SANGKA FANDI, SOAL KEBENARAN RAKA YG MENGHAMILI NABILA PACAR FANDI 😓
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!