PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3 Rumah yang Dijawab Oleh Doa
Beberapa minggu setelah itu, kehidupanku perlahan kembali berjalan seperti biasa. Aku kembali bersekolah, bermain bersama teman-teman, dan menjalani hari-hari seperti anak kecil pada umumnya. Meskipun begitu, ada satu kebiasaan yang selalu kulakukan setiap pulang sekolah. Aku sering berjalan-jalan di sekitar lingkungan sekolah sebelum pulang ke rumah.
Di seberang sekolahku berdiri sebuah rumah yang selalu menarik perhatianku. Rumah itu tampak begitu teduh dan asri. Halamannya dipenuhi bunga-bunga yang tumbuh dengan rapi, seolah setiap sudutnya dirawat dengan penuh kasih sayang. Di tengah halaman terdapat sebuah kolam ikan dengan air yang begitu jernih, tempat ikan-ikan berenang tenang di bawah rindangnya pepohonan.
Hampir setiap sore aku berdiri di balik pagar rumah itu sambil memperhatikan suasana di dalamnya. Aku sering melihat seorang ibu menyiram bunga dengan wajah yang tenang, sementara tidak jauh darinya seorang bapak merawat tanaman dan sesekali memperhatikan kolam ikan. Mereka berbincang dengan penuh kehangatan, lalu saling tersenyum. Entah mengapa, setiap kali melihat pemandangan itu, hatiku selalu merasa damai.
Rumah itu tampak begitu nyaman. Bukan karena bangunannya yang indah, tetapi karena kehangatan yang terpancar dari orang-orang yang tinggal di dalamnya. Dalam hati kecilku, aku selalu berdoa.
"Ya Allah... semoga suatu hari nanti Hitas bisa tinggal di rumah itu."
Aku mengucapkan doa itu tanpa pernah menyangka bahwa Allah sedang menyiapkan jawaban dengan cara yang tidak pernah kubayangkan.
Beberapa minggu kemudian, Nenek memanggilku bersama kakakku.
"Hitas, ayo ikut Nenek."
Tanpa banyak bertanya, kami mengikuti langkah beliau menyusuri jalan kampung. Semakin jauh kami berjalan, semakin terasa bahwa jalan yang kami lewati sangat familiar. Hingga akhirnya langkah kami berhenti tepat di depan rumah yang selama ini hanya bisa kupandangi dari balik pagar sekolah.
Aku terdiam beberapa saat. Rumah itu kini benar-benar berada di hadapanku.
Dengan perasaan campur aduk aku melangkah memasuki halaman. Dari dekat, rumah itu terlihat jauh lebih indah daripada yang selama ini kulihat. Udara di sekitarnya terasa sejuk, aroma bunga memenuhi halaman, sementara suara gemericik air dari kolam ikan membuat suasana terasa begitu damai.
Pemilik rumah menyambut kami dengan senyum hangat dan mempersilakan kami masuk. Di atas meja telah tersedia berbagai macam makanan dan kue. Aku dan kakakku yang masih kecil langsung menikmati hidangan itu dengan perasaan senang.
Setelah beberapa saat, aku menoleh kepada Nenek.
"Nek, ini rumah siapa?"
Nenek tersenyum lembut.
"Ini rumah adik Nenek.
Barulah aku mengetahui bahwa rumah itu adalah milik adik kandung Nenek, yaitu Pak Inanta.
Menjelang sore, Nenek menyuruhku dan kakakku mandi di rumah itu. Awalnya kami merasa malu karena belum terbiasa berada di tempat tersebut. Kami hanya saling berpandangan sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi. Ketika melewati dapur, mataku tertuju kepada seorang perempuan berambut panjang yang sedang memasak. Dapur itu terlihat sangat bersih dengan nuansa merah muda yang membuat suasananya terasa hangat. Perempuan itu menoleh ke arah kami lalu memberikan senyum yang begitu ramah. Senyum sederhana itu perlahan menghilangkan rasa canggung yang sejak tadi kurasakan.
Setelah selesai mandi, kami berpamitan dan pulang bersama Nenek. Namun beberapa hari kemudian, beliau kembali mengajak kami datang ke rumah itu. Kali ini suasananya terasa berbeda. Nenek berbincang cukup lama dengan Pak Inanta dan istrinya, sementara aku dan kakakku hanya duduk diam mendengarkan meskipun tidak memahami isi pembicaraan mereka.
Tidak lama kemudian, perempuan yang tinggal di rumah itu menatap kami dengan penuh kasih sayang.
"Kalau kalian berdua bersedia, tinggallah bersama kami."
Aku hanya saling berpandangan dengan kakakku. Kami masih terlalu kecil untuk memahami maksud dari perkataan itu. Yang kami rasakan hanyalah kehangatan dari orang-orang yang menerima kami dengan begitu tulus.
Setelah itu, Nenek mulai menceritakan sebuah mimpi yang pernah beliau alami. Dalam mimpi tersebut, beliau melihat dua bilah pisau, satu berada di bawah kolong rumah dan satu lagi berada di dalam rumah. Ibuku datang dan meminta agar kedua bilah pisau itu diantarkan kepada Pak Inanta.
Saat itu aku belum memahami arti cerita tersebut. Bertahun-tahun kemudian aku baru mengetahui bahwa menurut keyakinan Nenek, dua bilah pisau itu bukanlah sekadar benda, melainkan lambang diriku dan kakakku. Karena itulah beliau merasa bahwa kami harus diantarkan kepada Pak Inanta dan keluarganya.
Aku tidak tahu apakah mimpi itu memiliki makna khusus atau hanya menjadi keyakinan yang hidup dalam keluargaku. Namun, ada satu hal yang sangat kuingat hingga sekarang.
Rumah yang selama ini hanya bisa kupandangi dari balik pagar sekolah perlahan menjadi bagian dari kehidupanku.
Dan tanpa kusadari, langkah kecilku memasuki rumah itu menjadi awal dari sebuah kisah baru, kisah yang perlahan mengajarkanku arti keluarga, kasih sayang, dan rumah yang sesungguhnya.
...***...