NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 3

Ibu menepuk kaki Kinan gemas sebelum melesat kembali ke luar kamar.

Kinan menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar dengan pandangan pasrah. Menolak perintah Ibu di hari penentuan seperti ini jelas bukan strategi yang efisien karena hanya akan memicu omelan yang lebih panjang. Dengan berat hati, Kinan menurunkan kakinya dari kasur, melangkah gontai menuju kamar mandi dengan langkah kaki yang diseret.

Sesuai dengan prinsip hidupnya, Kinan menolak untuk berdandan heboh. Dia sengaja memilih riasan wajah seminimal mungkin, hanya pelembap, sedikit bedak tabur, dan lip cream berwarna merah muda. Rambut hitamnya yang panjang hanya disisir rapi dan dibiarkan tergerai.

"Biar nanti pas acara selesai, bersihin mukanya gampang. Gak perlu pakai tiga lapis micellar water. Hemat kapas, hemat tenaga," gumam Kinan puas sambil menatap pantulan dirinya di cermin.

Meskipun riasannya sangat minimalis, kulit putih dan mata bulat Kinan justru memancarkan kecantikan alami yang segar. Sesuatu yang membuat Ibunya menggerutu saat Kinan turun ke ruang tamu, namun tidak bisa memprotes lebih jauh karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore tepat.

**

Suara deru mobil mewah yang memasuki pekarangan rumah membuat suasana di dalam ruangan mendadak tegang. Ayah Kinan yang sejak tadi duduk tenang sambil membaca koran langsung berdiri rapi, sementara Ibu sibuk membetulkan letak jilbabnya dengan gugup.

Pintu depan dibuka, memunculkan sosok Tante Mira dan suaminya, Om Hendra. Mereka berdua langsung disambut pelukan hangat dari orang tua Kinan. Namun, ada satu pemandangan yang langsung tertangkap oleh radar Kinan, Kursi di samping Tante Mira kosong. Sang calon suami tidak ada di sana.

"Duh, Rina, maaf banget ya," ucap Tante Mira setelah mereka semua duduk di ruang tamu. Wajahnya tampak tidak enak hati. "Arga tadi sebenarnya sudah jalan bareng kami. Tapi di tengah jalan, ada masalah darurat di kantor startup-nya. Salah satu server aplikasi mereka down, jadi dia harus melipir sebentar ke kafe terdekat buat memimpin rapat darurat lewat Zoom dengan tim IT-nya. nanti secepatnya dia akan langsung menyusul ke sini.."

Ibu Kinan langsung tersenyum maklum. "Ah, gak apa-apa, Jeng. Namanya juga anak muda sukses, CEO sibuk, kami sangat mengerti."

Sementara para orang tua sibuk berbasa-basi dan saling melempar pujian, Kinan duduk tegak di sofa tunggal dengan posisi formalitas yang sangat menyiksa punggungnya. Kepalanya mulai menghitung mundur.

Sudah tiga puluh menit berlalu, pikir Kinan dalam hati. Duduk tegak seperti ini benar-benar sangat melelahkan. Ditambah lagi harus memasang senyum palsu ramah lingkungan ini. Rasanya tubuhku tidak akan kuat bertahan lebih lama lagi jika pria bernama Arga itu tidak datang dalam lima belas menit.

Tepat ketika pikiran Kinan mulai melantur membayangkan keempukan kasurnya, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati pintu masuk.

Sesosok pria berusia dua puluh delapan tahun melangkah masuk ke dalam rumah.

Kinan menahan napasnya sejenak. Karena aura Workaholic yang memancar dari tubuh pria itu. Meskipun harus diakui, garis rahangnya yang tegas, hidung mancung, dan potongan rambut undercut yang rapi membuatnya terlihat seperti model majalah bisnis.

Arga memakai kemeja formal berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga sebatas siku. Tangan kirinya memegang sebuah iPad yang layarnya masih menyala menampilkan grafik, sementara tangan kanannya memegang ponsel yang masih terhubung dengan earphone nirkabel di telinganya. Matanya yang tajam bergerak dengan cepat.

Melihat cara Arga bergerak yang serbacepat, Kinan merasakan sendi-sendinya mendadak linu. "Ini orang terbuat dari apa sih? Baru lihat dia jalan saja, energi fisikku rasanya langsung tersedot habis," batin Kinan ngeri.

"Pagi...eh, sore, Om, Tante. Maaf saya terlambat," suara Arga terdengar sangat to the point. Dia langsung menyalami orang tua Kinan dengan takzim.

"Gak apa-apa, Nak Arga. Ayo silakan duduk, perkenalkan ini Kinan," sahut Ayah Kinan sambil menunjuk ke arah anak perempuannya.

Arga mengalihkan pandangannya, menatap langsung ke arah Kinan yang duduk di seberangnya. Untuk sesaat, dua pasang mata dengan filosofi hidup yang saling bertolak belakang itu bertemu. Arga menilai Kinan dari atas sampai bawah dengan tatapan perhitungan seorang CEO. Di mata Arga, Kinan tampak seperti gadis yang manis, namun pembawaannya yang terlalu santai, gerakannya yang lambat saat membetulkan duduk, dan tatapan matanya yang mengantuk menandakan bahwa gadis ini tidak memiliki ambisi atau target dalam hidupnya.

"Arga," ucap pria itu singkat sambil menganggukkan kepala, tanpa mengulurkan tangan.

"Kinan," jawab Kinan dengan suara seadanya, mengangguk dengan sudut kemiringan kepala yang paling minimal.

Setelah sesi perkenalan yang canggung itu, obrolan keluarga inti dimulai. Tante Mira dan Ibu Kinan dengan cepat mendominasi percakapan, mulai membahas tanggal baik, konsep pernikahan yang elegan, hingga masalah rumah yang akan mereka tempati nanti. Sepanjang obrolan, Arga beberapa kali masih sempat melirik iPad di sebelahnya, membalas pesan penting dengan ketikan jari yang sangat cepat.

"Nah, karena urusan dasar sudah selesai kita bahas, bagaimana kalau Arga sama Kinan mengobrol berdua dulu di teras depan? Biar lebih saling mengenal," usul Tante Mira dengan senyum menggoda.

Ibu Kinan langsung menyenggol lengan Kinan. "Iya, gih. Temani Arga ngobrol di luar."

Kinan menghela napas, lalu berdiri dari sofa dengan keanggunan yang dipaksakan. Arga juga ikut berdiri, mematikan layar iPad-nya, dan melangkah mendahului Kinan menuju teras rumah yang sejuk.

**

Suasana teras sore itu cukup tenang. Angin sepoi-sepoi bertiup seperti mengejek Kinan yang harus terjebak dalam situasi canggung ini. Arga berdiri bersandar pada pagar pembatas teras, melipat tangannya di dada, sementara Kinan memilih duduk bersandar di kursi rotan.

Arga menatap Kinan, lalu melihat jam tangan digital di pergelangan tangan kirinya. "Saya punya waktu tepat lima belas menit sebelum harus membalas email investor dari Amerika," ucap Arga membuka percakapan.

Kinan berkedip lambat. "Baguslah. Lebih cepat selesai jauh lebih baik juga untukku."

Arga sedikit terkejut mendengar jawaban Kinan, namun dia segera menguasai dirinya.

"Oke, mari kita buat ini menjadi efektif," kata Arga, mengambil ponselnya dan membuka sebuah aplikasi. "Saya setuju dengan pernikahan ini karena ibu saya terus-menerus mengganggu fokus kerja saya dengan urusan perjodohan. Menikah denganmu akan menyelesaikan masalah itu, sehingga saya bisa kembali fokus membesarkan perusahaan saya tanpa gangguan."

Kinan menaikkan sebelah alisnya. "Alasan yang sangat logis. Baik, saya juga setuju, dan sepertinya kita punya misi yang sama. Menikah demi ketenangan masing-masing."

Arga mengangguk, "Sempurna. Ini timeline yang saya buat di Google Calendar," Arga menunjukkan layar ponselnya ke depan wajah Kinan. Di sana, sudah ada rentetan jadwal berwarna balok-balok biru yang sangat rapi. "Akad nikah akan dilaksanakan satu bulan dari sekarang, hari Sabtu jam delapan pagi tepat. Resepsi akan berlangsung hingga jam sebelas sampai jam satu siang. Setelah itu, jam tiga sore saya ada jadwal penerbangan ke Singapura untuk urusan bisnis selama tiga hari."

Kinan menatap rentetan jadwal di layar ponsel Arga dengan perasaan ngeri. Gila, pikir Kinan. Hari pernikahan saja dijadikan seperti jadwal peluncuran produk baru. Orang ini manusia atau benar-benar robot bernyawa.

1
Alyaaa_Lryyy.
apa sih danu kepo amat sama yang udh nikah😒😒
Alyaaa_Lryyy.
cemburu nih cerita nya si argaa🤭
Alyaaa_Lryyy.
danu lo ganggu banget sih😭😒
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!