NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Kamar depan lantai dua ternyata memang kosong, tetapi bukan berarti siap ditempati.

Begitu pintu dibuka, aroma pengharum ruangan yang terlalu manis menyambut hidung Alya. Seprai baru sudah dipasang, lemari dilap, tirai diganti warna krem. Semua terlihat rapi. Terlalu rapi.

Alya berdiri di ambang pintu, memandang sekeliling.

Di kehidupan lalu, ia tidak pernah masuk kamar ini. Dinda menangis semalaman hanya karena Baskara sempat mengatakan mungkin kamar depan cocok untuk Alya. Keesokan harinya, seluruh rumah memutuskan Alya lebih nyaman di belakang.

Sekarang, karena Raka bicara, kamar itu menjadi miliknya hanya dalam lima menit.

Ternyata aturan rumah Wiratama tidak sekeras yang mereka katakan. Aturan itu hanya keras untuk orang yang mereka anggap bisa ditekan.

Mbak Sari, kepala ART, berdiri di samping pintu dengan wajah kaku.

"Non Alya, kalau ada yang kurang, bilang saja."

Non.

Di rumah ini, Dinda dipanggil Non Dinda dengan suara manis. Untuk Alya, panggilan yang sama terdengar seperti kewajiban.

Alya mengangguk. "Terima kasih, Mbak."

Mbak Sari tampak terkejut karena Alya tidak bersikap sombong. Ia buru-buru menunduk lalu pergi.

Rafi masuk setelah memastikan koridor kosong. Ia menaruh tas Alya di atas kursi, lalu memeriksa sudut ruangan. Lampu, rak, meja, belakang lukisan.

"Ada kamera?" tanya Alya.

"Belum terlihat."

"Belum?"

Rafi mengangkat satu vas bunga dari meja kecil. Di bawahnya ada perangkat kecil seukuran kancing.

Alya tertawa pendek. "Cepat sekali mereka menyambutku."

Rafi mematikan alat itu tanpa merusaknya, lalu memasukkannya ke kantong plastik kecil.

"Mau langsung dibuang?"

"Jangan." Alya duduk di tepi ranjang. "Biarkan mereka berpikir alatnya masih bekerja. Besok kita isi dengan suara yang mereka ingin dengar."

Rafi menatapnya lama. "Kamu menikmati ini?"

"Tidak." Alya melepas gelang dari Eyang Laras, mengusap permukaan peraknya. "Aku hanya tidak mau mati kedua kalinya karena terlalu sopan."

Rafi tidak menjawab.

Ada ketukan di pintu.

"Kak Alya?"

Suara Dinda.

Alya memberi isyarat pada Rafi untuk berdiri di sisi yang tidak terlihat dari pintu. Lalu ia membuka.

Dinda berdiri dengan piyama sutra berwarna lembut. Matanya masih merah, tetapi wajahnya sudah dirapikan. Di tangannya ada nampan kecil berisi susu hangat.

"Aku boleh masuk?"

"Ada apa?"

Dinda menggigit bibir. "Aku mau minta maaf soal kamar tadi. Aku tidak tahu Mama menyiapkan kamar belakang. Kalau aku tahu, aku pasti melarang."

Alya memiringkan kepala. "Benarkah?"

"Tentu." Dinda menatapnya dengan mata basah. "Aku tahu Kak Alya mungkin merasa aku mengambil semuanya. Tapi aku tidak pernah minta berada di posisi ini. Aku juga takut Kakak pulang lalu membenciku."

Dialog yang bagus.

Jika ada orang ketiga mendengar, Dinda akan terdengar sebagai gadis malang yang terjebak situasi.

Alya membuka pintu lebih lebar. "Masuklah."

Dinda melangkah masuk, matanya cepat menyapu kamar. Ia berhenti sejenak pada tas Alya yang sederhana, lalu pada Rafi yang berdiri dekat jendela.

"Kak, dia..."

"Rafi. Dia ikut dari rumah Eyang."

Dinda tersenyum canggung. "Oh. Aku kira kamar perempuan tidak boleh dimasuki laki-laki."

Alya duduk kembali. "Di rumah ini aturan seperti itu penting?"

Dinda terdiam sesaat. Ia cepat mengubah senyum. "Bukan begitu. Aku cuma takut nanti orang salah paham. Keluarga kita cukup dikenal. Kalau ada gosip..."

"Kalau begitu jangan sebarkan."

Wajah Dinda membeku.

Alya mengambil gelas susu dari nampan, tetapi tidak meminumnya. "Terima kasih."

Dinda duduk di kursi kecil dekat meja. "Kak Alya marah padaku?"

"Aku baru tiba. Belum ada alasan."

"Tapi sikap Kakak tadi di meja makan..." Dinda menunduk. "Aku merasa Kakak sengaja membuat Mama terlihat jahat."

Alya menatap susu di tangannya. "Tante Maya yang menyiapkan kamar belakang. Aku hanya bertanya."

"Kakak tahu Mama sensitif."

"Aku juga sensitif kalau ditempatkan dekat gudang."

Dinda menggenggam lututnya. Air mata muncul lagi. "Kak, jangan bicara seperti itu. Aku sungguh ingin kita akur. Aku sudah lama membayangkan punya kakak perempuan."

"Kamu sudah punya Mas Raka."

"Itu berbeda."

"Memang." Alya tersenyum. "Karena aku pulang membawa masalah untukmu."

Dinda mengangkat wajah, kali ini tidak sempat menyembunyikan keterkejutan.

Alya melanjutkan dengan suara lembut, "Aku bercanda. Kenapa wajahmu begitu?"

Dinda memaksa tertawa. "Kakak lucu juga."

Rafi yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, "Sudah malam. Alya harus istirahat."

Dinda menoleh. "Aku bicara dengan kakakku."

"Dan aku menjaga orang yang harus istirahat."

Nada Rafi tidak tinggi, tetapi Dinda tampak seperti ditampar. Ia berdiri sambil membawa nampan kosong.

"Baik. Kak Alya istirahat saja. Besok Mama mau ajak Kakak ke butik. Katanya ada acara keluarga beberapa hari lagi."

"Acara apa?"

Dinda tersenyum lebih manis. "Mungkin Papa belum bilang. Keluarga Santoso akan datang."

Susu hangat di tangan Alya hampir tidak bergerak.

Santoso.

Kevin.

Dinda memperhatikan wajah Alya, mencari reaksi. "Kakak belum tahu? Dulu keluarga kita dan keluarga Santoso punya pembicaraan lama. Papa bilang setelah Kakak pulang, semuanya bisa dibicarakan lagi."

Dia datang bukan untuk meminta maaf.

Dia datang untuk melempar umpan.

Alya mengangguk. "Begitu."

"Kakak tidak penasaran?"

"Besok juga tahu."

Dinda kecewa. Ia mungkin berharap Alya panik, bertanya, atau marah. Namun Alya hanya meletakkan susu di meja.

"Selamat malam, Dinda."

"Selamat malam, Kak."

Pintu tertutup.

Rafi mengambil gelas susu, menciumnya sebentar. "Ada obat tidur ringan."

Alya tersenyum dingin. "Malam pertama, kamera dan susu. Keluarga ini rajin sekali."

"Aku buang?"

"Tidak." Alya berdiri, membuka lemari, lalu mengeluarkan kantong kecil dari tasnya. Ia meneteskan sedikit cairan bening ke susu itu. "Kita kirim kembali."

Rafi menatapnya. "Untuk siapa?"

"Untuk orang yang paling ingin aku tidur nyenyak."

Beberapa menit kemudian, Alya keluar kamar dengan gelas susu di tangan. Rafi mengikuti dari jarak beberapa langkah.

Koridor lantai dua sepi. Namun dari bawah terdengar suara Maya berbicara pelan dengan Baskara.

"Anak itu tidak sesederhana kelihatannya," kata Maya.

Baskara menjawab, "Dia baru datang. Jangan membuat masalah."

"Aku tidak membuat masalah. Tapi kamu lihat sendiri tadi. Raka langsung membelanya."

"Raka memang selalu lembut."

"Lembut? Dia menentangku di depan anak itu."

Alya berhenti di tangga, mendengarkan.

Maya melanjutkan, "Kalau dia memengaruhi Raka, posisi Dinda bagaimana?"

Baskara terdengar lelah. "Dinda tetap anak kita."

"Tapi bukan darahmu."

Keheningan jatuh.

Alya tersenyum tanpa suara.

Ternyata Maya juga takut mengucapkan kebenaran itu.

Ia turun beberapa anak tangga. "Papa?"

Maya dan Baskara langsung menoleh. Wajah Maya berubah cepat menjadi lembut.

"Alya? Kenapa belum tidur?"

Alya mengangkat gelas susu. "Dinda tadi membawakan susu. Aku tidak biasa minum susu malam-malam. Tante mau?"

Maya menatap gelas itu.

Sedetik.

Dua detik.

Kalau ia menolak, ia akan tampak aneh. Kalau ia menerima, ia harus meminum sesuatu yang ia tahu sudah diberi obat.

Alya menunggu dengan wajah polos.

Baskara berkata, "Maya, minum saja. Anak ini sudah baik membawakan."

Jari Maya menegang. Ia menerima gelas itu, tersenyum pada Alya, lalu meneguk sedikit.

"Terima kasih, Nak."

"Sama-sama, Tante."

Alya berbalik naik.

Rafi menahan tawa ketika mereka kembali ke kamar.

"Kamu kejam."

"Tidak." Alya menutup pintu. "Aku hanya mengembalikan barang ke pemiliknya."

Malam itu, rumah Wiratama akhirnya tenang.

Namun pukul tiga pagi, terdengar suara panik dari kamar utama.

Maya tidak bisa bangun untuk rapat video penting dengan keluarga Santoso.

Dan ketika Baskara memanggil dokter keluarga, Alya berdiri di balik pintu kamarnya, mendengar semuanya dengan wajah tanpa rasa bersalah.

Permainan baru dimulai.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!