NovelToon NovelToon
Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Raja Kiamat dengan Perlengkapan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:30.7k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.

Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3: Gudang Terakhir

Om Hartono mencium bau uang yang hilang.

Hendry mencium bau dunia yang sebentar lagi membusuk.

Pagi berikutnya, ia tidak langsung datang ke kantor seperti perintah Om Hartono. Ia mandi, mengganti kemeja, lalu duduk di ruang kerja villa dengan tiga layar menyala di depannya. Satu layar berisi rekening operasional Wijaya Group. Satu layar berisi daftar pemasok dari Jakarta sampai Karawang. Satu layar lagi berisi hitungan mundur.

28 hari.

Jam 3 sore.

Dunia berakhir.

Ponselnya sudah menerima tujuh panggilan tak terjawab dari sekretaris kantor pusat. Dua dari staf keuangan. Satu dari nomor pribadi Om Hartono.

Hendry menyesap kopi hitam tanpa gula.

"Belum waktunya," gumamnya.

Jika ia datang terlalu cepat, Hartono akan menguncinya di ruang rapat dengan pertanyaan, lalu membekukan akses rekening sebelum target utama selesai. Jika ia menghilang terlalu lama, kecurigaan berubah menjadi tindakan.

Maka ia memilih jalan ketiga.

Memberi jawaban kecil. Mengambil sumber daya besar.

Ia mengirim pesan singkat ke sekretaris kantor pusat.

Saya sedang cek gudang lapangan. Siang saya datang.

Setelah itu, Hendry menyalakan Fortuner hitam dan kembali keluar.

Tiga hari berikutnya berjalan seperti pisau yang diputar tanpa suara.

Hari pertama, Hendry menyapu sisa stok beras dari Tanah Abang, Cipinang, dan beberapa gudang swasta yang biasa menyuplai supermarket besar. Ia tidak lagi membeli dua ribu ton dengan wajah hati-hati. Ia datang dengan kontrak pendek, DP cepat, dan alasan yang makin rapi.

"Wijaya Group sedang mengamankan stok komoditas sebelum kenaikan harga."

"Kami punya kontrak distribusi luar pulau."

"Gudang penerima tidak perlu Bapak urus."

"Kalau stok Bapak bisa keluar hari ini, saya bayar lebih tinggi."

Kalimat terakhir selalu paling ampuh.

Para pemilik gudang yang kemarin masih menatapnya seperti orang gila kini saling menelepon. Kabar menyebar cepat di antara pedagang besar: ada tuan muda Wijaya Group yang membeli beras seperti orang membeli gorengan.

Sebagian curiga. Sebagian takut harga memang akan naik. Sebagian lagi hanya melihat uang.

Uang membuat manusia menutup mata dengan sukarela.

Di gudang Cipinang, seorang pemasok tua memegang kalkulator dengan tangan gemetar.

"Pak Hendry, ini angka terlalu besar. Kalau Bapak batal, saya bisa hancur."

"Saya tidak batal."

"Tapi untuk apa stok sebanyak ini?"

Hendry menatap barisan karung di belakang pria itu. Di kehidupan sebelumnya, gudang seperti ini pernah diserbu massa kelaparan. Orang-orang merobek karung dengan pisau, meninju anak kecil, memukul perempuan tua, lalu mati diinjak zombie yang tertarik oleh suara ribut.

"Untuk memastikan saya tidak hancur saat orang lain baru sadar mereka terlambat," kata Hendry.

Pemasok tua itu tidak mengerti.

Ia hanya mengerti transfer masuk.

Malamnya, ketika gudang ditinggalkan dengan alasan "tim Wijaya akan bongkar diam-diam", Hendry menelan puluhan ribu ton beras ke dalam Ruang Dimensi.

Tekanan di pelipisnya kembali muncul, lebih berat dari sebelumnya. Setiap kali riak ruang terbuka, karung-karung putih masuk seperti ombak yang ditarik ke laut hitam. Ruang itu bergetar, melawan, lalu melebar.

Lima puluh meter kubik menjadi tujuh puluh.

Tujuh puluh menjadi seratus.

Hendry bersandar ke tiang beton, napasnya sedikit kasar. Tubuh mudanya belum terbiasa dengan beban penggunaan berulang, tetapi matanya justru makin terang.

Ruang Dimensi lapar.

Dan ia punya seluruh kota untuk disuapkan.

Hari kedua, ia bergerak ke cold storage Bekasi, Tangerang, dan Bogor. Daging sapi tambahan masuk berton-ton. Daging ayam beku tersusun dalam karton-karton besar. Seafood dari gudang ekspor ditarik masuk sebelum sempat menyentuh truk pengiriman.

Seorang manajer cold storage di Tangerang sempat menghalangi dengan wajah panik.

"Pak, stok ini sudah dipesan pihak lain. Kalau kami alihkan, kontrak kami bermasalah."

Hendry membuka tablet, mengetik angka tambahan, lalu memutarnya ke arah pria itu.

"Ini biaya penalti kontrak mereka. Ini margin tambahan untuk gudang Anda. Ini pembayaran penuh untuk stok yang saya ambil."

Manajer itu memandang angka di layar.

Mulutnya terbuka, lalu tertutup.

"Saya perlu bicara dengan direktur."

"Silakan. Saya tunggu lima menit."

Tiga menit kemudian, direktur yang tidak pernah turun ke lantai gudang menelepon sendiri dan berkata dengan suara sangat sopan, "Pak Hendry, barang bisa Bapak ambil malam ini."

Begitulah dunia lama bekerja.

Selama uang cukup besar, aturan bisa dipindahkan dari satu meja ke meja lain.

Tiga puluh hari lagi, uang kertas akan menjadi bahan bakar kompor.

Hendry menukarnya sebelum terlambat.

Siang hari kedua, Om Hartono tidak lagi sabar.

Saat Hendry keluar dari cold storage di Bekasi, dua mobil hitam berhenti di depan gerbang. Seorang sopir turun lebih dulu, lalu pintu belakang terbuka.

Hartono Wijaya keluar dengan batik mahal, jam emas, dan wajah seorang pria yang terbiasa membuat orang lain menunduk sebelum ia bicara.

"Hendry."

Hendry memasukkan tablet ke dalam tas, lalu berjalan mendekat.

"Om."

Hartono menatap gerbang cold storage di belakangnya. "Om minta kamu datang ke kantor."

"Saya sedang menyelesaikan pembelian."

"Pembelian?" Hartono tertawa pendek. Tidak hangat. "Kamu menghabiskan puluhan miliar dalam dua hari, memindahkan stok pangan dari beberapa gudang, dan membuat staf keuangan panik. Ini bukan pembelian. Ini kekacauan."

Dua pria berbadan besar berdiri di belakang Hartono. Bukan satpam kantor. Preman bersetelan rapi. Di kehidupan sebelumnya, Hendry pernah melihat salah satu dari mereka menjaga pintu saat Kevin memaksa Hendry menandatangani surat pelepasan akses rekening.

Ternyata anjing lama sudah dipakai sejak sekarang.

Hendry menundukkan kepala sedikit, cukup sopan untuk seorang keponakan.

"Saya paham Om khawatir."

"Khawatir?" Hartono melangkah mendekat. Suaranya tetap pelan, tetapi ujungnya tajam. "Ayahmu meninggalkan saham dan nama baik. Kamu mau mempertaruhkan semuanya untuk spekulasi beras dan daging?"

Nama ayahnya masuk ke udara seperti umpan busuk.

Rahang Hendry mengeras satu detik.

Hanya satu detik.

Lalu wajahnya kembali tenang.

"Justru karena itu saya bergerak cepat. Laporan inflasi pangan sudah naik. Kontrak luar pulau bisa memberi margin tinggi sebelum akhir bulan. Kalau kita lambat, pesaing ambil stok duluan."

"Om belum melihat kontraknya."

"Saya kirim ringkasannya malam ini."

"Om bisa bekukan akses rekening kamu sekarang."

Hendry menatap mata Hartono.

Di kehidupan sebelumnya, kalimat seperti itu cukup membuatnya panik. Saat itu ia masih percaya rekening, saham, kantor, dan nama keluarga adalah tali keselamatan.

Sekarang, semua itu hanya jam pasir.

Pasirnya tinggal dua puluh delapan hari.

"Bisa," kata Hendry. "Tapi kalau Om bekukan hari ini, semua DP yang sudah keluar akan jadi sengketa. Pemasok bisa menuntut pembatalan sepihak. Nama Wijaya Group yang kena. Direksi juga akan bertanya kenapa Om menghentikan transaksi yang sudah berjalan tanpa audit internal."

Mata Hartono menyipit.

Untuk pertama kalinya, ia melihat Hendry bukan sebagai anak muda boros, tetapi sebagai orang yang tahu di mana menaruh pisau.

Hendry melanjutkan dengan nada tetap hormat, "Beri saya tiga hari. Setelah itu, semua dokumen saya serahkan. Kalau Om masih merasa ini salah, Om boleh bawa ke rapat direksi."

Tiga hari.

Hartono tidak tahu bahwa dalam tiga hari, hal terpenting sudah selesai.

Hartono menatapnya lama. Kedua preman di belakangnya tidak bergerak.

Akhirnya paman itu tersenyum tipis.

"Kamu mulai pintar bicara, Hendry."

"Saya belajar dari keluarga."

Senyum Hartono menghilang.

Kalimat itu sopan.

Terlalu sopan sampai terdengar seperti tamparan.

"Tiga hari," kata Hartono. "Jangan buat Om menyesal memberi ruang."

"Terima kasih, Om."

Hartono masuk kembali ke mobil. Sebelum pintu tertutup, ia berkata, "Dan jangan lupa, Kevin ingin bertemu kamu. Dia khawatir."

Hendry menunduk sedikit.

Mobil itu pergi.

Begitu suara mesinnya menjauh, Hendry mengangkat kepala. Matanya dingin.

Khawatir?

Kevin hanya khawatir mangsanya belajar menggigit.

Hari ketiga menjadi hari paling gila.

Hendry tidak lagi peduli apakah pemasok menganggapnya aneh. Ia sudah mendapatkan tiga hari yang ia butuhkan. Ia menyapu stok beras terakhir sampai angka di daftar mencapai 80.000 ton. Ia menutup kontrak daging sapi tambahan hingga total 5000 ton. Daging ayam mencapai 3000 ton. Seafood mencapai 2000 ton.

Setelah pangan utama terkunci, ia berpindah ke barang yang menentukan hidup mati setelah bulan pertama.

Genset diesel 20 unit.

Tangki solar dan jerigen bahan bakar puluhan ribu liter.

Antibiotik, obat demam, pereda nyeri, cairan infus, alkohol medis, povidone iodine, masker, sarung tangan, perban, alat jahit luka, dan disinfektan beberapa ton dari distributor farmasi yang mengira Wijaya Group sedang menyiapkan proyek klinik darurat.

Alat potong besi, kapak, linggis, tali tambang, terpal, tenda, jas hujan, sepatu boots, baterai, senter, power bank, radio komunikasi, filter air, kompor portable, tabung gas, paku, kawat, gembok, dan lembaran baja ringan dari toko bangunan besar.

Tidak ada senjata api.

Hendry tidak membuang waktu mencari barang yang di Indonesia sulit didapat secara legal. Senjata akan datang nanti, dari gudang Polri yang runtuh, pos TNI yang kosong, atau tangan orang bodoh yang mati terlalu cepat.

Yang ia butuhkan sekarang adalah hidup lebih lama dari mereka.

Ruang Dimensi terus melebar.

Seratus dua puluh meter kubik.

Seratus lima puluh.

Dua ratus.

Ketika angka itu stabil, Hendry berdiri di sebuah gudang kosong di pinggir Bogor dengan tangan menempel pada dinding beton dingin. Keringat membasahi punggung kemejanya. Kepalanya sakit seperti dipukul dari dalam, tetapi senyumnya muncul juga.

Dua ratus meter kubik active volume.

Di dalamnya, waktu mati total.

Untuk memastikan, Hendry mengambil satu potong daging sapi yang ia masukkan sejak hari pertama. Permukaannya masih keras dingin, warna merahnya tetap segar, tidak ada lendir, tidak ada bau busuk.

Tiga hari di luar.

Nol detik di dalam.

Ia memasukkan daging itu kembali.

"Sempurna."

Malam hari ketiga, Hendry pulang ke Cluster Pondok Indah dengan tubuh yang terasa hampir kosong, tetapi hati yang lebih tenang daripada kapan pun dalam dua belas tahun terakhir.

Di ruang kerja, ia membuka laptop dan menyusun daftar akhir.

Beras: 80.000 ton.

Daging sapi: 5000 ton.

Daging ayam: 3000 ton.

Seafood: 2000 ton.

Minyak goreng, garam, gula, bumbu, susu, kopi, teh, Indomie: stok besar.

Genset diesel: 20 unit.

Bahan bakar: puluhan ribu liter.

Obat dan perlengkapan medis: beberapa ton.

Alat bangunan, tenda, terpal, filter air, radio, baterai, perlengkapan survival: terkunci.

Total dana yang keluar: hampir seratus miliar Rupiah.

Di dunia lama, angka itu cukup untuk membuat Om Hartono marah.

Di dunia baru, angka itu murah.

Terlalu murah.

Hendry menutup dokumen, lalu membuka Ruang Dimensi dalam kesadarannya. Gunung beras berdiri seperti tembok putih. Daging beku tersusun seperti benteng. Kotak obat, genset, bahan bakar, alat-alat, semuanya diam dalam gelap.

Jika orang lain melihatnya, mereka akan mengira itu gudang.

Hendry tahu itu bukan gudang.

Itu adalah takhta.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

Kevin Wijaya.

Hen, Om bilang lu ada kelakuan aneh. Kita perlu ngobrol. Besok makan siang bareng ya?

Hendry menatap pesan itu lama.

Lalu ia tertawa pelan.

Di kehidupan sebelumnya, Kevin datang dengan senyum yang sama, suara yang sama, perhatian palsu yang sama. Di balik senyum itu ada surat, preman, dan pintu yang dikunci dari luar.

Kali ini, Hendry sudah punya 80.000 ton beras di punggungnya dan tiga puluh hari pengetahuan di kepalanya.

Ia mengetik balasan.

Boleh. Kirim tempatnya.

Pesan terkirim.

Hendry meletakkan ponsel di meja, mematikan lampu ruang kerja, lalu menatap pantulan dirinya di kaca jendela.

Di luar sana, keluarga Wijaya mulai bergerak.

Bagus.

Predator tidak takut mangsa mendekat.

1
umar aryo
novel yg bagus Thor, buat yg baca juga ikutan mikir... spt novel dokter Dewa... ini penulis bkn org biasa
umar aryo
makin kesini buat berpikir makin bingung, tp jujur ini novel yg bagus bgt
muhadsa
yang kristal level 6 saja sudah diserap dan aman saja kok,masa iya yang level 5 malah gak mampu../NosePick//NosePick/
muhadsa
anak buahnya dinaikin juga dong levelnya..
muhadsa
bunuh..gak ada tahanan perang..
muhadsa
namanya pada aneh aneh..ada suara,hujan,nasi..😄😄
muhadsa
anggotanya gak dinaikin juga levelnya..?
muhadsa
naik level juga cuma memperluas ruang dimensi,bukan untuk bertarung..
muhadsa
saya juga berpikiran gitu..kenapa namanya nasi..
muhadsa
terus kemampuan MC kita gak ada yang lain selain ruang dimensi ya..?
PonsParadiso
melati kok ga ada? kemana?
PonsParadiso
bagus thooor... tapi kok ga beli air siiih
PonsParadiso
air mana air.
Luthfi Afifzaidan
bagus apa santoso thor?
muhadsa: bagus santoso
total 1 replies
Hadi Hadi
lanjut 👍👍
Hadi Hadi
up 👍👍
Amiera Syaqilla
hi author🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!