Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.
***
Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Kesepakatan
"Kok bengong?" tanya Baskara saat Aira hanya terdiam membeku di tempatnya.
Aira membuang napas kasar. Ia mengusap wajahnya, lalu menerima salam dari Baskara.
"Sorry, suasananya lagi nggak mendukung. Gue, eh, maksudnya aku lagi butuh waktu untuk mencerna kejadian hari ini," ucap Aira dengan bergetar.
"Saya ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa Om Hendra, semoga Om Hendra segera pulih. Kayaknya saya datang di saat yang nggak tepat. Awalnya, tadi saya memang sengaja mau ketemu kamu untuk bahas soal kita. Kamu sudah dengar,kan, soal rencana orang tua kita?" tanya Baskara langsung pada pokok pembicaraan.
Aira menatap tak percaya, tapi ia juga tidak menyalahkan Baskara. Menurutnya, masalah ini memang harus segera dibicarakan secepatnya.
"Bicara di kantin aja gimana?" pinta Aira.
Baskara pun mengangguk setuju. Ia berjalan di samping Aira.
"Saya kopi americano tanpa gula. Kamu apa, Aira?"
"Cokelat panas."
Kini mereka berdua duduk dalam satu meja yang sama di sebuah restoran donat yang ada di kantin rumah sakit.
Aira menatap kepulan asap dari minumannya itu, begitu pula dengan Baskara. Keduanya saling diam seolah semua kata yang hendak mereka utarakan terhenti dan hanya bergumul di dalam hati.
"Jujur saja, saya nggak setuju dengan perjodohan ini."
Aira mendongak. Ia menatap Baskara yang sedang serius juga menatapnya. Aira sedikit bernapas lega. Perasaan Baskara sepertinya sudah mewakili perasaannya.
"Tapi, saya nggak bisa menolaknya," lanjut Baskara kemudian.
Aira menatap lesu. Harapannya untuk membatalkan perjodohan sepertinya tidak akan mungkin.
"Saya datang untuk membicarakan ini, Aira. Saya sudah memikirkan berkali-kali soal keputusan saya. Karena, saya juga tahu, kamu juga tidak setuju dengan perjodohan ini,kan?"
Aira pun segera mengangguk. "Tapi, aku nggak kepikiran buat nikah, Bas," ucap Aira lirih.
Baskara mengangguk tegas. Seolah ia paham betul situasi Aira karena memang tidak jauh beda dengan dirinya.
"Paling tidak kita punya kesamaan, Aira. Kita sama-sama tidak menginginkan perjodohan dan pernikahan ini, tapi ... coba pikirkan lagi, papa saya dan papa kamu sudah lama bersahabat. Mereka punya janji untuk tetap menjalin hubungan dan ingin mempererat hubungan dengan perjodohan ini. Pikirkanlah jika kita sama-sama menolak, apakah hubungan mereka tetap akan terjalin baik seperti sebelumnya.
"Jujur, hal yang belum dapat saya wujudkan hanyalah menikah. Saya memang belum memikirkan ke arah sana, tapi setelah permintaan papa saya, saya jadi berpikir, sepertinya saya harus mulai berpikir ke arah pernikahan. Saya hanya tidak ingin mengecewakan kedua orang tua saya, makanya saya setuju.
"Tentunya, saya tidak boleh egois karena pernikahan tidak hanya melibatkan satu orang saja, tapi dua individu. Saya merasa perlu segera membahas masalah ini dengan kamu. Saya ingin dengar pendapatmu, Aira."
Aira terdiam sejenak. Ia bahkan belum memikirkan apapun soal perjodohan ini. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir.
"Aku nggak tahu. Aku nggak bisa juga dengan cepat memutuskan, aku butuh waktu untuk berpikir," ucap Aira seraya mengusap air matanya.
Baskara menyeruput kopi americanonya, lalu kembali menatap tajam.
"Saya akan tunggu keputusan kamu, Aira. Masalah ini tidak seharusnya dipikirkan dengan perasaan, tapi lebih pada logika. Saya yakin kamu juga nggak mau mengecewakan orang tua kamu, kan."
"Iya, tapi nggak nikah juga, Bas."
Baskara membuang napas kasar. Ia menatap sekeliling. Ia sedikit terkejut karena Aira lagi-lagi kembali menangis. Kali ini Baskara hanya diam. Ia menunggu sampai Aira selesai menumpahkan perasaannya.
Aira mengusap air matanya. Ia masih terisak seperti anak kecil saat mulai meminum cokelat pesanannya.
"Jujur, aku nggak siap nikah, Bas."
Baskara mengangguk paham. "Sama. Saya juga. Saya memutuskan untuk menerima perjodohan ini semata-mata hanya karena aku sangat menghormati kedua orang tuaku. Mereka memutuskan perjodohan ini tentu sudah memiliki banyak pertimbangan dan saya percaya pertimbangan mereka baik. Buktinya, calon istri saya seorang dokter."
Aira mendongak menatap Baskara. Ada senyum yang sangat tipis terukir di bibirnya. Wajahnya juga tampak sangat pasrah. Mungkin pemuda itu frustrasi juga seperti Aira, hanya saja ia memilih lebih memakai logika, bukan perasaan.
Aira menangkup wajah dengan kedua tangannya. Ia tidak sanggup berpikir jernih, tapi kehadiran Baskara memaksanya untuk dapat berpikir jernih.
"Kalau aku setuju menerima perjodohan ini, apa yang aku dapatkan?" tanya Aira.
Baskara menahan napas sejenak. Ia sama sekali tidak menyangka ada tawar menawar dalam obrolannya dengan Aira.
"Saya nggak bisa kasih banyak selain jaminan bahwa nggak akan ada yang berubah setelah kita menikah, selain status. Sekarang, keputusannya ada di tangan kamu, Aira."
Aira diam sejenak. Ia sedikit gelisah, tapi tak lama tangannya terulur.
"Aku setuju."
Baskara mengangguk dan menyambut uluran tangan dari Aira.
"Sekarang, boleh aku ketemu Om Hendra?"
"Harus izin dokter jaganya dulu."
"Nggak masalah. Aku yang izin."
Aira mengangguk. Ia pun berjalan bersampingan dengan Baskara. Ia mengajak Baskara untuk bertemu dengan Rahma sebelum akhirnya pemuda itu meminta izin pada dokter jaga ICU untuk bertemu dengan Hendra sebentar.
Hendra tersenyum haru saat melihat Baskara menemuinya. Pemuda itu berdiri tegap memperkenalkan diri pada Hendra.
"Perkenalkan, Om Hendra, saya Baskara putra Gunawan Wirayudha. Saya sudah mendengar permintaan orang tua saya untuk menjodohkan saya dengan Aira, putri Om. Saya datang ke sini untuk menyampaikan langsung pada Om Hendra kalau saya setuju dengan perjodohan ini.
"Saya juga sudah bertemu dengan Aira dan membicarakan masalah ini. Kami sepakat dan setuju dengan rencana perjodohan ini, Om. Sekarang, Om Hendra fokus pada pemulihan. Mulai detik ini, saya janji akan menggantikan tugas Om untuk menjaga Aira," ucap Baskara tegas.
Hendra tersenyum bahagia. Ia bahkan sampai meneteskan air mata dan menggenggam tangan Baskara.
"Terima kasih, Nak ... terima kasih," ucap Hendra disela-sela isak tangisnya.
Sementara itu, Aira menatap punggung Baskara dan ikut menangis.
"Makasih, ya, kamu udah bikin papa lega," ucap Aira saat mengantar Baskara di koridor rumah sakit.
Baskara mengangguk.
"Aku pulang dulu. Masalah pengajuan nanti biar aku yang urus. Nanti aku minta nomer ponsel kamu aja buat chat syarat-syarat pengajuan dan berkas yang harus kamu siapkan."
Baskara mengulurkan ponselnya dan membiarkan Aira menulis sendiri nomor ponselnya. Setelah itu, ia berjalan pergi meninggalkan Aira.
Nggak pernah terbayang kalau gue bakal nikah sama tentara. Untungnya, Baskara nggak semenyeramkan yang gue bayangin, batin Aira.
_____________________