Siapa sangka, niat Amira cuma mau bantu temannya nganter kopi ke ruang CEO malah jadi awal dari malam paling gila dalam hidupnya.
Amira Shalwanissa. Karyawan biasa yang terjebak lembur di kantor karena menggantikan temannya yang sakit.
Zian Ardana. CEO muda, anak pemilik perusahaan, terkenal kejam dan nggak punya hati buat karyawannya.
Malam itu, ruang kerja CEO yang biasanya sepi berubah jadi tempat paling berbahaya.
Zian jatuh pingsan. Amira panik dan menolong. Tapi demam tinggi membuat Zian kehilangan kendali.
“Lepaskan saya, bapak mau apa!”
“Shutt, apa kamu nggak bisa diam... kepalaku sakit.”
Amira melawan. Dia menendang, berlari, bersembunyi di bawah meja. Tapi bayangan Zian terus mengejarnya, dengan tawa rendah yang bikin bulu kuduk merinding.
Malam itu menjadi saksi bisu awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.
Apakah Amira bisa lolos? Atau dia benar-benar akan jadi... simpanan CEO muda itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Racuan Amira membuat hati Zian tercabik-cabik. Yah, Zian mulai ingat akan hal itu, dan jika dia terus mengingatnya bayangan ketika Amira memohon ampun. seketika merasuk dalam pikirannya.Terlebih lagi saat dia bisa melihat jelas air mata Amira menetes dari sudut matanya.
Beribu kali Zian mengutuk dirinya atas hal bodoh yang dilakukannya, kenapa harus Amira. Zian benar-benar bingung hendak bagaimana setiap kali menatap wajah gadis cantik yang menjadi incaran adiknya. Jangan ditanya sebesar apa rasa bersalah Zian, jelas sangat amat besar tentu nya.
Begitu lama termenung, hingga tanpa sadar jika Amira sudah terbangun dan kini ketakutan saat melihat nya. Entah kapan dia membuka mata tapi jelas isakan tangisannya terdengar amat pilu.
"Kumohon tenang, aku tidak akan menyakitimu" ucap Zian saraya berusaha kembali mendekat, tapi saat itu juga Amira justru berteriak. tangisan nya pecah, dia maraung bak melihat serigala. meminta bantuan. Siapa saja yang diposisi Zian jelas saja takut, terlebih lagi kala gadis itu berontak dan meraung sejadi-jadinya seraya memukul dada Zian dengan sisa tenaganya.
Tidak ada pilihan lain, Zian mendekap dan menekan tubuh Amira. Dia khawatir jika seseorang mengetahui hal ini. Zian hanya ingin berusaha melindungi diri.
Benar saja, kekhawatir Zian terjadi. Seorang orang perawat masuk demi memastikan keadaan pasien yang suara tangisannya terdengar hingga keluar. Tak ingin berakhir konyol dan mencoreng nama baik keluarga nya, Zian berfikir keras untuk menjawab pertanyaan wanita berseragam putih itu.
"Tidak apa-apa sus, istri saya lagi nahan sakit" ucap Zian sembari mengusap pelan kepala Amira yang sengaja dia tekan ke dada nya hingga tak bisa berteriak atau berontak menyampaikan pembelaan.
"Ohh begitu, baiklah saya paham pak!" konyol, apa yang barusaja Zian ucapan hingga membuat perawat itu ceng-ngegesan. Tentu saja perawatan itu memikirkan hal kotor, terlebih dia mengetahui keluhan pasien dari sang dokter.
"Yasudah saya keluar, kalau terjadi sesuatu silahkan panggil saja ya pak." Sambung perawat itu, lalu keluar begitu saja .
Zian sempat yang sempat mengulas senyum pada perawat, kini fokus kembali dengan Amira. Zian melonggarkan pelukannya hingga Amira bisa mendorong tubuhnya menjauh. Bagaimana biasa Zian sesantai itu, padahal saat ini napasnya saja membuat Amira ketakutan.
Kendati demikian, lebih baik seperti itu dan akan lebih bahaya jika apa yang terjadi sampai terungkap pihak lain. Sama-sama menyelamatkan diri, Zian berusaha berbicara baik-baik dengan Amira yang menatap nya saja tak sudi.
"Baik, tapi bicara dari sana saja... saya bisa mendengar anda."
Zian mengerti, pemuda itu mengikuti kemauan Amira dan menahan diri untuk tidak mendekat.
"Maaf."
Kalimat pertama itu yang langsung keluar dari mulut Zian, dia akui memang percuma, kata maaf takkan mungkin bisa mengubah keadaan. layaknya gelas yang sudah pecah dengan cara apapun, tidak akan dapat utuh seperti semula.
Akan tetapi, sebagai laki-laki yang sejak dulu didik untuk memuliakan perempuan, Zian tidak ingin menambah dosanya. Walaupun dari sorot mata Amira takkan mungkin memberi maaf tapi dia tetap melakukan itu.
Tak hanya kata maaf saja, Zian juga menjelaskan apa yang terjadi. Bahwa saat itu dia dalam pengaruh obat perangsang, dia tak bisa mengendalikan diri saat melihat Amira. Tak hanya itu Zian juga mengatakan siap untuk bertanggung jawab atas perbuatannya semalam. Bukan dengan sebuah uang tapi, justru Zian menawarkan sebuah pernikahan.
"Tidak, anda tidak perlu melakukan itu, pernikahan bukan untuk main-main, hanya karena rasa bersalah dan ingin tanggung jawab bapak melakukan sebuah pernikahan, lalu setelahnya bapak akan membuang saya. Saya tidak mau menjalani kehidupan seperti itu." Amira sudah bisa berfikir lebih tenang, setelah menimbangkan banyak hal dengan tegas Amira menolak tawaran bos nya. Sebenarnya Amira tak ingin membuat kesalahan yang sama seperti sang mama.
Harusnya Zian merasa senang, dengan begitu artinya dia tidak perlu bertanggung jawab, tapi Zian justru mengeraskan rahang begitu mendengar penolakan Amira mentah-mentah. Seumur hidup, ini adalah penolakan pertama nya yang dia rasakan, sungguh Zian merasa terhina.
"Pikirkan masa depanmu jangan egois, saya tahu kamu hanya hidup sendiri di ibukota ini, ibu kamu sudah meninggal. Kalau kamu sampai hamil siapa yang akan mengurusmu" celetuk Zian dengan panjang lebar, entah mengapa dia merasa tertantang dengan penolakan Amira itu.
"Saya yakin bisa, saya sudah terbiasa sendiri... kalaupun nanti saya hamil, saya.."
"Saya apa? Hm," tanya Zian menatap lekat Amira yang berusaha menghindari tatapan nya.
Amira menelan ludahnya, dia juga tidak yakin akan melakukan apa nantinya.
keven sekelas asisten buru di perkampungan yg ga tau kecangian, ceo ga bisa tau kelakuan mis yg sering menghukum amira, di kernakan amira bukan barang berharga buat zean karna itu don't care