NovelToon NovelToon
DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

DENDAM MEMBAWA PETAKA DI DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Iblis / Balas Dendam
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hasri Ani

Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.

Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.

Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.

Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SETELAH MENINGGALNYA SERUNI

Kabar meninggalnya seruni yang bun-uh diri dengan cara m3mb4kar diri, terdengar santer di seluruh warga kampung.

"Jaka! Hebat kamu. Bisa membuatnya m4ti tanpa meninggalkan jejak." Parmi yang baru menikahi duda anak satu itu makin kesenangan.

"Iya dong, Embak. Mana bayaran kita."

"Tenang. Nih! Aku bayar kontan." Parmi mengeluarkan 4 lembaran uang merah, yang masing-masing mendapatkan selembar.

Jaka tersenyum lalu menerimanya. "Wah, nyesel saya dulu nggak nikahi Embak Parmi saja, uangnya banyak banget ternyata." Seloroh Jaka geleng-gelang kepala.

Parmi makin tersenyum lebar. "Makanya, jangan ngeremehin janda anak 2." Tegas Parmi menyombongkan diri. Padahal uang yang ia dapat semua dari Sulis. Dan dia hanya mengupah keempatnya, hanya beberapa lembar saja. Parmi tersenyum licik.

"Ya sudah! Saya pulang dulu. Inget ya, kalian harus tutup mulut. Kalau tidak mau kita sama-sama terkena musibah."

Parmi melenggang pergi.

Warga pun makin gencar membuat gossip sambil memakan rujak di bawah pohon.

"Katanya istrinya Ustad, gitu aja udah bun-uh diri ya?"

"Halah...! Maklum, yang jadi Imam nya Ustad gadungan."

"Hahaha! Iya panteslah, iman nya nggak setabil."

"Embak-Embak, beruntung ya, suami-suami kita walau bukan Ustad, tapi mereka orang yang baik, jujur, dan setia."

"Iya. Suamiku Mas Karim, sumpah! Sayangnya luar biasa sama keluarga." Ucap Desi bangga.

"Nih, nih! Embak-Embak lihat, saya baru di belikan kalun emas 5 gram sama bandulnya." Sambung Desi lagi, sambil menunjukan kalung barunya. Semua Ibu-Ibu pun mencebik tak suka.

"Halah... gitu aja sok! Saya nih, di beliin baju baru. Mahal loh ini baju saya." Ujar Karti istri dari Prapto.

"Baju doang. Haha..., harganya masih mahalan emas dong." Desi melengos dengan gaya yang angkuh.

Mbok paijah ikut nimbrung. Kaget melihat mereka yang pada pamer. Ya ampun, cuma di beliin begituan?

Padahal kan Emba Sulis ngasihnya banyak banget. Ah jadi nggak enak mau pamer. Mending Diem aja, takut aku di curigai nanti. Saya kan janda pengangguran. Duh.. kapan punya suami lagi kayak Parmi, yang mendapatkan duda tampan. Batin Paijah sambil nyomot irisan mangga.

Parmi yang bertujuan pulang, terhenti sejenak melihat Ibu-Ibu yang sedang pamer. Dia pun akhirnya ikutan nimbrung buat pamer suami baru juga.

"Eh! Ada Parmi. Wah, penganten baru, gimana suami

nya, Par? Hebat nggak." Sindir Karti. Yang sebenarnya dia iri, karena Parmi mendapatkan duda idaman para wanita.

Parmi pun ikut duduk. "Ya hebat dong. Goy4ng4nnya

juga dasyat! Nggak nyesel aku menikah dengan, mas Seno."

Parmi melirik sinis ke pada Karti.

Karti mencebik tidak suka.

Semua pun lanjut ngerumpi hanya untuk membahas tentang Seruni dan pamer harta dan pendamping.

"Aduh, udah sore. Aku pulang dulu, kasian suamiku

pasti kangen banget sama aku." Seloroh Parmi lalu bangkit pergi.

"Si parmi, tiba-tiba banyak duit, dari mana duitnya ya? Perasaan dia cuma buruh di sawahnya juragan Anwar."

"iya! Royal banget. Apa aja di beli, terus di pamerin ke kita."

"jangan-jangan pesugihan."

"Astaga. Hati-hati kalau begitu Bu-Ibu." Rumpian pun di bubarkan oleh adzan magrib yang berkumandang.

Azka dari kejauhan mengamati mereka. Kalian jahat sekali sama Ayah dan Bundaku. Huhu... Ayah...! Bunda...!

Azka terus menyusuri rumahnya yang telah menjadi puing-puing hitam, dan sebagian telah menjadi abu.

Dia duduk di bawah pohon di mana biasanya saat keluarganya masih lengkap, mereka selalu bersenda gurau di bawah pohon tersebut, sambil mengamati abu yang berterbangan oleh angin sore.

Tiba-tiba angin dingin menyapa kukitnya. Azka

mendadak merasa ketakutan.

"Bunda!" Lirihnya merasa ada sosok di dekatnya, namun saat ia cari tidak ada siapa-siapa di sekelilingnya. Dia pun kembali menatap puing-puing rumahnya kembali.

Setalah puas menangis di sana, dia pun pergi ke alun-alun, yang mana tempat itu mulai sepi, karena hari yang mulai sore.

"Ayah! Apa Ayah juga terbang di bawa angin? Azka kesepian Ayah. Azka pengen ikut Ayah, dan bunda. Tapi Azka juga pengen balas orang-orang yang jahat sama Ayah dan Bunda." Azka menangis tersedu.

Setelah puas, Azka pun kembali berjalan menuju hutan lagi. Baginya, hutan adalah tempat teraman buatnya saat ini. Baginya, manusialah yang perlu ia takuti dari pada binatang di hutan.

***

Di rumah yang sangat megah, terlihat Sulis yang sedang berbincang dengan keluarganya.

"Perut mu sudah mulai membuncit, Lis. Bapak jodohkan kamu dengan Rohmat saja ya. Pemuda itu terlihat baik dan sopan." Ujar Anwar.

"Nggak mau ah, Pak. Rohmat itu kan culun juga jelek, Pak. Malu aku kalau jalan dengannya." Kilah Sulis kesal.

"Kita sudah tidak bisa memilih, Sulis. Kamu hamil! Mana ada lelaki yang mau sama perempuan hamil. Sudah nurut saja sama Bapak dan Ibu. Besok kamu ijab khabul sama Rohmat. Ibu dan Bapak, nggak terima alasan lagi." Saedah yang sifatnya sangat keras pun tidak mau lagi ada bantahan dari anaknya.

dia pun masuk kamar di ikuti suaminya, Anwar.

Nikah sama lelaki culun! Ih, sebel banget! Lagian ini anaknya siapa sih?! Begini nih, kalau terlalu mabuk, sampe berhubungan badan sama 3 orang, di hayu aja.

Uhhh... pusing! Ya udahlah, kan niatnya cuma biar anak ini ada bapaknya saja. Batin Sulis kesal.

Di dalam kamar, Anwar berusaha menasehati istrinya.

"Wong sama anak gadis itu yang pelan suaranya, Bu.

Anak kita Sulis, itu perempuan, hatinya mudah sedih."

"Habis, kesel Ibu, Pak! Sulis itu polos banget jadi anak! Di rayu sama Ustad gadungan aja mau. Sekarang, sudah hamil! Jadi bingung kan? Untung saja kita ini orang kaya, orang terpandang! Kalau saja kita miskin, pasti kita habis pak, di caci maki sama warga sekampung!"

"Yo wes, Bu. Nasi sudah menjadi bubur. Toh ada si Rohmat, dia bersedia menikahi anak kita untuk menghilangkan aib keluarga kita."

Keduanya mengehela napas dalam, lalu bersiap tidur.

***

Di perjalanan menuju hutan, Azka pun bertemu dengan teman-teman bermainnya dulu.

"Ih...! Ada Azka si anak Ustad cabul! Lari-lari! Kata Mamak aku, jangan dekat-dekat sama dia, nanti kita terkena sial!"

"Huh...! Anak sial..! Anak sial...!" Olok-olok dari para teman-teman nya.

Azka hanya diam segera berlari meninggalkan desa itu. Namun nggak sengaja dia menabrak seseorang.

BRUUK!!!

Azka bangkit. "Maaf, Pak. Nggak sengaja." Ucapnya dengan kepala tertunduk.

"Loh, adek! Di cariin, ibu kira kemana, nak. Adik kamu kayaknya kangen sama kamu, dia dia nayain Abang nya terus lo. Pulang sama ibu ya, Nak?" Ucap Ibu Rahma lembut.

"Ini anaknya, Bu! Ini kan bapak juga pernah liat dia

sholat di mushola kita." Ujar Pak Ardi.

Azka yang tau mereka pun langsung ambil langkah seribu.

Maaf Ibu, Bapak. Tolong jaga Wardah saja. Azka tidak mau semakin menyulitkan kalian. Wardah lebih membutuhkan kalian.

"Larinya cepet banget! Kemana dia tadi ya?" Pak Ardi mengatur deru napasnya.

"Kasian! Walau orang tuanya yang nggak beres. Tapi mereka kan cuma anak-anak ya, Pak. Nggak bersalah. Saya heran dengan warga kampung ini. Kok mereka bisa setega itu menelantarkan anak-anak yang tidak berdosa."

"Sudahlah, Bu. Ayo kita pulang, kasian Wardah nanti nangis di tinggal sama Mbok Suti. Si anak lelaki itu pasti kembali kalau dia rindu adiknya suatu saat."

"Iya, ya Pak. Ya udah ayo, Pak!"

Rahma dan Ardi yang sehabis menghadiri hajatan di kampung itu pun segera pulang karena hari sudah mulai senja.

***

Sesampainya di pohon besar tempat Azka melepas lelah, dia pun duduk termenung.

Tiba-tiba, suara aneh kembali terdengar.

Azka... Azka...! Kamu harus balas mereka Azka! Balas...! Balas lebih keji! Hihihi..!!!

Azka tersentak. "Siapa kamu!" Azka menepuk wajahnya, takut hanya mimpi lagi. Namun, kali ini nyata.

Pipinya terasa sakit saat di tepuk.

Aku akan membuatmu sakti! Hihi....! Sakti...!

"Siapa kamu! Jangan takuti Azka! Siapa kamu!" Teriak Azka sambil terus menelisik keadaan di sekitar, namun tak jua mendapatkan si pemilik suara.

Namun, saat dia berbalik badan, tubuh besar hitam dengan mata berwarna merah nyalang menatap ke arah Azka, gigi-gigi runcing, kuku yang hitam dan panjang, seakan hendak menerkam tubuh kecil Azka.

"AGGGHHHH!!!" Teriak Azka ketakutan segera berlari.

"Jangan! Jangan makan Azka! Azka orang baik! Tolong...! Tolong...!" Teriak Azka sambil berlarian.

Namun, Azka merasa tubuhnya hanya jalan di tempat. Dia pun menangis menjerit-jerit.

Mau kemana... Azka...! Sini ikut Ayah! Aku Ayahmu... hihihi....hahaha...!

Sosok itu terus menertawai Azka.

"Tolong...! Huhu... Tolong...!" Azka menoleh ternyata tangan hitam dengan kuku-kukunya yang panjang itu berada di pundaknya. Seketika Azka pun tergeletak pingsan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!