NovelToon NovelToon
Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Membawa Bayi Kembar Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena cantik

Hidup Anaya tidak pernah beruntung, sejak kecil ia selalu di jauhi teman-temannya, dirundung, di abaikan keluarganya. kekacauan hidup itu malah disempurnakan saat dia di jual kepada seorang CEO dingin dan dinyatakan hamil setelah melakukan malam panas bersama sang CEO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hamil

Satu bulan berlalu

Sudah satu bulan berlalu sejak ia memutuskan meninggalkan dari kota kelahirannya.

Farah menjalani kehidupannya dengan tenang di desa itu. Penduduk desa juga sangat baik padanya.

Farah menyewa salah satu rumah disana, tidak besar tidak kecil juga. Ia juga sudah bekerja sebagai karyawan toko kue buk Salma.

"Fa, kamu sakit?" tanya Lastri teman kerjanya.

Farah menoleh ke arahnya, "Sedikit pusing, tapi gapapa kok." kata Farah Tersenyum.

Namun keadaan terlihat sangat mengkhawatirkan membuat Lastri kasihan.

"Kamu yakin gapapa? Tapi muka mu itu pucat sekali. Bagaimana kalau kamu pulang saja istirahat." ujarnya.

cepat-cepat Farah menolak, "Tidak perlu Las, ini juga udah mendingan kok. Tadi juga sudah minum obat."

Namun tiba-tiba rasa mual itu kembali menyerangnya. Ia langsung berlari ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya.

Hoek Hoek

"Fa, kamu kenapa?" tanya Lastri berlari mengikutinya.

Farah tak menjawab ia terus memuntahkan isi perutnya.

Lastri memijat tengkuknya pelan, "Fa, kita kerumah sakit ya." ajak Lastri.

Farah menggeleng lemah, "Ngak las, Aku cuma masuk angin aja kok. Ini gapapa." tolak Farah.

Lastri menghela nafas panjang, "Dari tadi juga kamu bilang gapapa, tapi lihatlah wajahmu itu semakin pucat." geramnya. "Kamu sudah kaya orang hamil saja,"

Deg!

Jantung Farah berdetak kencang mendengar kata 'Hamil'

Ia mengingat kapan terakhir datang bulan. Dan baru menyadari bahwa dia telat datang bulan untuk bulan ini.

Lastri Melihat Farah termenung pun bertanya, "Heh kenapa kamu melamun?"

"Astaga... Jangan bilang kamu memikirkan Ucapan ku tadi? Aku cuma bercanda kok. Lagian ngak mungkin kamu hamil suami aja ngak punya mana bisa hamil."

Farah menoleh ke arahnya dan tersenyum tipis, "Mungkin saja," Gumamya dalam hati.

Lastri membawanya duduk, lalu mengambil kan air hangat untuknya. "Minum dulu biar perut kamu hangat."

Farah tersenyum, "Terimakasih ya,"

"Kamu pulang aja ya istirahat. Nanti aku bilang sama Bu bos kalau kamu sakit."

"Terimakasih ya las, kalau gitu aku pulang dulu. Maaf merepotkan mu."

~

Dalam perjalanan pulang, farah singgah sebentar di apotek untuk membeli tes kehamilan.

Sesampainya di rumah, tangan ini gemetar saat membuka kemasannya.

Farah mencoba, menunggu dengan napas tertahan dan keringat dingin yang membasahi telapak tangan.

"Semoga hasilnya negatif dan aku tidak hamil." pikir nya dalam hati, berusaha menenangkan diri meski hati sudah diliputi ketakutan yang mencekam.

Beberapa menit terasa seperti selamanya sebelum Farah memberanikan diri menatap hasilnya.

Jantungnya berdetak begitu kencang, hampir melampaui irama biasa.

Deg!

Dua garis merah itu jelas di sana, menandakan ia memang hamil. Malam kelam itu telah menumbuhkan kehidupan baru dalam rahimnya.

"Aku hamil? Ini benar?" Farah menggenggam tespek dengan tangan bergetar, sulit percaya pada apa yang ia lihat.

Air matanya mengalir tanpa henti, seolah semua kepastian sekaligus ketakutan dalam hidup ini menumpuk menjadi satu.

Tubuhnya tak kuat lagi, dan ia jatuh terduduk lemah di lantai, membiarkan perasaan ini meluap tanpa kendali.

"Ini tidak mungkin," Ia menatap nanar tespek itu.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Farah menatap perutnya yang masih rata, tangannya perlahan mengusap dengan penuh keharuan.

"Apa yang akan ibu lakukan untukmu nanti, nak? Bahkan kehidupan ibu masih seperti ini?" batinnya bergumul antara harap dan gelisah.

Baru saja ia mulai merasakan sejenak ketenangan dalam hidup ini, namun sepertinya takdir belum mengizinkan nya menikmati kebahagiaan itu terlalu lama.

Hati ini bertanya-tanya, apakah ia cukup kuat menjalani semua ini sendirian? Ada haru yang menyelinap di antara rasa takut, karena ia tahu, kehidupannya akan berubah selamanya saat dia hadir nanti.

Farah ingin memberikan yang terbaik, tapi… aku belum siap sepenuhnya. Bagaimana aku harus memulai? Apa lagi ia hidup pas-pasan.

Farah menarik nafas dalam-dalam, "Kamu sudah hadir dalam rahim ibu. Dan ibu akan merawat mu dengan baik. ibu tidak janji tapi ibu akan mengusahakan agar kamu tumbuh dalam kebahagiaan."

~

Di mansion Jackson

Ia baru saja selesai berkutat dengan tumpukan berkas di meja nya.

ia menyandarkan tubuhnya di kursi merenggangkan otot-ototnya.

Tiba-tiba ia bayangan gadis itu muncul di benaknya. Ia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.

"Bagaimana? Apa sudah ada perkembangan?" tanyanya saat panggilan itu tersambung.

"Belum bos," Jawab seseorang diseberang sana.

"Mencari seorang gadis saja kalian tidak becus?! Apa kalian sudah bosan hidup?"

"M—maaf bos... kami sudah mencari ke semua tempat tapi kamu belum berhasil menemukan gadis itu." Jawab mereka ketakutan.

"Aku tidak mau tahu temukan dia secepatnya."

"Baik bos,"

Jackson mematikan panggilan itu. Ia kembali menyandarkan kepalanya dan memijat pelipisnya yang berdenyut.

Selama dua bulan ini ia tak berhenti mencari keberadaan Farah namun tak ada yang berhasil menemukan keberadaan nya. Gadis itu seolah hilang di telan bumi.

Selama itu pula hidupnya tak tenang. Disaat matanya terpejam bayangan gadis itu selalu muncul menghantuinya.

Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini, yang pasti ia harus menemukan gadis itu segera.

~

Hari-hari berlalu...

Farah menjalani kehamilan ini dengan penuh keikhlasan, meskipun terkadang ada rasa cemas yang menyelinap diam-diam.

Tapi senyuman selalu terpancar di bibirnya, seolah janin yang bergerak dalam rahimnya memberi harapan baru, tujuan hidup yang dulu samar kini mulai terlihat jelas.

Beberapa hari terakhir, rasa mual yang mengganggu perlahan hilang, membuatnya bisa bernapas lega dan menjalani hari dengan lebih tenang.

Senyum Farah rupanya menarik perhatian Lastri. Ia menyenggol bahunya sambil tersenyum jahil, "Kayaknya ada yang lagi bahagia nih."

Farah menoleh padanya, mencoba menyembunyikan perasaan, tapi gagal.

"Masa sih? Kelihatan banget ya?" tanyanya sambil tertawa kecil.

Lastri malah menegur, "Kelihatan banget, tuh, sampai gigi kamu kering."

Farah membalas candaannya dengan ringan. "Apa sih yang bikin aku se bahagia ini? Ya nggak ada, cuma lagi menjalani hidup saja."

Lastri mengerutkan dahi, "Ck, ya emang nya selama ini nggak dijalani?" gerutunya.

Farah tertawa pelan, hati berbisik, "Selama ini aku berjalan tanpa arah, tapi kali ini berbeda. Aku benar-benar ingin hidup, untuk dia, untuk kami."

"Ya, aku memang menjalani, tapi kali ini berbeda." sahut Farah

1
Ma Em
Mungkin itu emang cicit ibu .
Ma Em
Angkasa anak baik dan berjanji akan melindungi ibu dan adiknya .
Ma Em
Semoga Farah selalu bahagia bersama sikembar dan usaha kue nya semakin sukses , Jackson sdh tiga tahun tdk bisa menemukan anak2 nya biar saja Jackson merasakan penyesalannya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!