Lisa Anggraeni , seorang gadis yang tengah berjalan dengan sahabatnya setelah dari aktifitas kuliah mengalami kecelakaan saat dia tengah menunggu bus yang ada di sebrang jalan. Dia menoleh dan melihat ada motor melanu cepat membuatnya mendorong Hani. Dan membuatnya menjadi korban kecelakaan. Lisa yang mengalami luka luka sempat di bawa ke rumah sakit. Namun sayang, saat dirinya sedang di operasi, nyawanya tak bisa di selamatkan.
Lisa yang tahu dirinya mengalami kecelakaan sebelumnya mengira dia selamat, dan berada di salah satu rumah sakit.
Tapi saat dia sadar justru, dia sedang di salah satu ruangan kosong gelap dan pengap.
Namun saat dirinya berusaha mencari jalan keluar, dia justru melihat bayangan seseorang dari kaca hias kecil.
"Aaaaaa... Wajah siapa yang ada di mukaku ini!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adira_Mutiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amnesia?
Suasana hening begitu terasa di telinga Lisa saat ini. Lisa terbangun dengan kepala yang terasa berat, pandangannya kabur menatap langit-langit ruangan rawat yang sunyi. Suara detak jam di dinding seolah menggema dalam kesunyian, menambah riuh kegelisahan di dalam pikirannya.
"Bisa -bisanya gue malah berpindah raga kayak gini," gumamnya serak, bibirnya bergetar menahan kebingungan yang merambat ke seluruh tubuh.
Ia menoleh ke sekeliling, ruangan itu asing namun terasa begitu nyata. lalu Lisa menyibak selimut yang menutupi diriny, dia melihat ke arah tubuhnya kini mungil, tak seperti yang dulu. Seorang gadis SMA tingkat dua, dengan seragam yang terasa ketat dan bau parfum dari tubuh ini begitu menyengat.
"nyengat banget ini baunya,"
Jantungnya berdebar tak menentu, pikiran yang seharusnya jernih kini berputar liar tanpa arah. "Haniii... gue malah berpindah jiwa, Hani. Ini dunia yang sama apa beda dunia, Han?"
Suaranya nyaris pecah, hanya nama sahabat yang mampu keluar dari mulutnya, seolah itu satu-satunya jangkar di lautan kekacauan ini.
Lisa bangkit perlahan, tubuhnya yang kecil terasa canggung saat ia duduk di tepi ranjang rumah sakit. Matanya menatap kosong ke seluruh sudut ruangan yang penuh peralatan medis dan tirai putih yang tersibak angin. Ia merasa terperangkap di antara kenyataan dan mimpi asing, antara tubuh yang kini asing dan jiwa yang masih berontak mencari jalan pulang. Napasnya memburu, tangan gemetar menyentuh kain seragam yang terasa tak pernah dikenalnya sebelumnya.
Dalam keheningan itu, rasa takut dan bingung menggerogoti hatinya. Lisa berusaha merangkai potongan ingatan yang tersisa, ingatan yang begitu menyakitkan, berjuang menerima kenyataan bahwa dirinya kini terjebak dalam tubuh orang lain, di dunia yang tak pernah ia bayangkan. Hanya satu yang pasti, ia harus menemukan Hani, satu-satunya yang bisa ia percaya, di tengah kekacauan yang belum bisa ia mengerti.
Pintu terbuka, Lisa segera menoleh ke arah pintu. Seorang perawat dan seorang wanita paruh baya masuk bergantian. Keduanya terbelalak melihat ke arah dirinya yang sudah berdiri di dekat bangkar.
"Nona... Anda sudah sadar!!" Peliknya bahagia dan segera mendekat lalu memegang tangan nya dengan erat.
Air mata wanita itu bahkan menetes menyusuri pipi gembul wanita itu. Lisa yang melihat hatinya terenyuh sakit. Baru sekarang ada seseorang asing yang menangis dirinya begitu dalam. Dia merasakan dari genggaman tangan dan elusan di lengannya.
"Nona.. Duduk dulu. Saya panggilkan dokter untuk di periksa."
Lisa yang bingung menurut dan duduk. Tapi tangannya masih di genggam erat oleh wanita paruh baya itu.
"Maaf, anda siapa?"
Degh....
"kamu mengenal dia?" tanya dokter yang hanya mendapatkan gelengan dari Lisa.
"siapa nama kamu?"
"Lisa,"
Beberapa saat kemudian, dokter menatap Lisa dengan lekas. Dokter kembali memberikan beberapa pertanyaan yang hanya di jawab seingatnya. tidak ada satupun jawaban yang pas dari apa yang terjadi dan apa yang dia dengar.
"Saya simpulkan jika nona Rubby mengalami amnesia ringan."
"Apa dok!!" Pekik wanita paruh baya itu.
Dokter mengenal nafasnya, "semua yang di katakan nona Rubby tidak ada yang sesuai dengan yang Anda katakan, bu. Nona Rubby bahkan tak mengingat namanya sendiri. Atau nama sekolahnya."
"Ya Tuhan!! " Lirihnya, air mata kembali menitih pelan. "Apa ingatannya akan kembali?" Lanjutnya dengan tangan yang masih menggenggam jemari Lisa.
"Saya tidak tahu. Kemungkinan bisa cepat sembuh atau justru amnesia permanen dan itu akan membuat nona Rubby seperti kehilangan arah."
"apa tidak ada cara lain dok?"
"biarkan nona Ruby mengingat sendiri, karena jika di paksa. akan membuat kepalanya sakit dan bahkan tidak akan mengingat apapun."
*
*
setelah sehari di rawat, kini Lisa duduk terdiam di kursi belakang mobil, matanya menatap kosong ke luar jendela yang mulai gelap diterpa senja. Suara mesin kendaraan dan deru jalanan menjadi latar yang sunyi baginya, seolah-olah dunia di luar tak lagi berarti. Ketika punggung tangannya di sentuh bi Ning, dia menoleh sebentar ke Bi Ningrum, yang dengan lembut menyebut namanya, "Rubby." Lisa tak mengelak, justru hatinya terasa sedikit lega mendengar sapaan itu—nama baru yang di kehidupan ini dengan status baru miliknya.
"Non Rubby, mau makan apa nanti?" suara Bi Ning terdengar hangat dan penuh perhatian, menyelipkan rasa nyaman yang selama ini ia rindukan.
Lisa menoleh kembali, menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan tapi tegas, "Yang penting buat kenyang aja, Bi."
Tersenyum kecil, Bi Ning merasa bahagia. Senyum itu tak hanya untuk Rubby, tapi juga untuk harapan membuat anak majikannya ini menjadi lebih baik, bi Ning tahu bahwa luka itu bisa sembuh, dan penerimaan menjadi langkah pertama menuju kedamaian.
Di dalam hati Lisa, meski banyak yang masih tak terucap, kini ia memilih diam dan menerima—menerima apa pun yang akan terjadi selanjutnya.
"Mungkin aku harus menerima kenyataan ini.. Tapi kemana jiwa dari raga ini?"
*
*
(Langsung pake nama Rubby)
kini Rubby berdiri terpaku, matanya membesar menatap bangunan megah yang menjulang di hadapannya. Dinding-dinding bercat putih bersih, jendela kaca besar yang memantulkan sinar matahari sore, dan taman yang tertata rapi seolah tak pernah lepas dari sentuhan tangan ahli. "Ini rumahku?" suaranya bergetar, lirih tak percaya.
"Iya non, ayo masuk. Tuan sama nyonya pasti nungguin non," sahut Bi Ning dengan senyum tipis, tapi nada suaranya membuat dada Rubby terasa sesak. Nama itu, tuan dan nyonya mengusik sesuatu di hatinya, campuran antara ragu dan rasa sakit yang tak bisa dia jelaskan.
Keduanya melangkah pelan, sepatu Rubby berderak ringan di atas granit teras yang dingin. Setiap langkah seakan menembus batas antara dunia lama yang sederhana dan kehidupan baru yang penuh kemewahan ini. Saat pintu terbuka, aroma wangian mahal dan bunga segar langsung menyambutnya, sementara mata Rubby tertuju pada dekorasi mewah yang memenuhi ruang tamu, lukisan klasik, lampu gantung kristal, dan perabot berlapis emas yang membuat jiwanya berguncang.
Rubby menelan ludah, pikirannya berbisik pelan, "Rubby, anak orang kaya." Namun bisikan itu terasa asing dan berat, seperti topeng yang tiba-tiba harus ia kenakan.
Perlahan, mereka melangkah menuju ruang makan, di mana suara ramai dan gelak tawa terdengar menggema, membelah keheningan yang menyesakkan dada Rubby. Ia merasakan tatapan-tatapan hangat sekaligus penuh harap mengarah padanya, dan jantungnya berdetak cepat, antara takut dan penasaran akan kehidupan yang kini harus ia jalani.
"Rubby.. Kamu kembali nak!!!"
"Siapa mereka bi?"
semuanya terperangah mendengar jawaban, lalu menatap ke arah Bi Ning yang berdiri di samping Ruby.
"non Ruby mengalami amnesia, pak, bu."
Degh...