NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ABG Tua yang Narsis

 Kini, Nafisa berada di dalam ruang pertemuan bersama klien yang ingin memesan gaun khusus untuk acara pernikahan mereka.

Nafisa memperhatikan penjelasan pasangan tersebut dengan saksama. Sesekali, ia mengangguk sambil mencatat beberapa hal penting di buku catatannya, mulai dari warna gaun, tema pernikahan, hingga aksesori yang ingin mereka gunakan.

“Jadi, kami ingin gaunnya bernuansa putih gading, tetapi tetap terlihat elegan dan tidak terlalu banyak hiasan,” jelas sang calon pengantin wanita.

.

 Dewangga yang juga berada di ruangan itu tak mampu mengalihkan pandangan dari sosok Nafisa yang tengah serius mendengar penjelasan dari klien.

Tanpa sadar, kedua sudut bibir Dewangga terangkat.

“Pak.”

Dewangga masih terpaku pada pemandangan di hadapannya hingga suara itu kembali terdengar.

“Pak Dewangga.”

Ia tersentak, lalu menoleh ke arah sumber suara. Kalendra yang kini menatapnya dengan ekspresi heran.

“Kamu ini bikin kaget saja,” tegur Dewangga dengan berbisik.

“Maaf, Pak.” Kalendra menggaruk tengkuknya. “Dari tadi saya panggil, tapi Bapak malah melamun terus.”

Dewangga membenarkan posisi duduknya, berusaha menyembunyikan senyum yang masih tersisa di wajahnya.

“Saya sedang melihat indahnya ciptaan Allah, Kal. Saking indahnya, saya sampai lupa bagaimana caranya berkedip.”

“Oh, begitu.” Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum jahil. “Ternyata Bapak masih normal, rupanya.”

Tatapan Dewangga menajam ke arah asisten yang terlihat sedang menahan tawa.

“Memangnya selama ini saya kelihatan seperti jeruk makan jeruk?”

“B-bukan begitu, Pak!” Kalendra buru-buru menggeleng. “Hanya saja, usia Bapak sudah tiga puluh tahun, tetapi belum juga menikah. Saya sampai mengira Bapak memang tidak tertarik dengan perempuan.”

Dewangga mengembuskan napas panjang. Ia mengusap wajahnya sekilas, seolah sudah kehabisan kesabaran menghadapi komentar asistennya.

“Dasar kamu!”

Namun, setelah Kalendra kembali diam, pandangannya perlahan beralih ke arah Nafisa.

Wanita itu masih sibuk berbicara dengan kliennya, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi ada sepasang mata yang terus memperhatikannya.

Dewangga tersenyum tipis.

‘Wajar saja aku belum menikah sampai sekarang. Orang, jodohnya saja masih berada di tangan yang salah.’

Ia terkekeh pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi.

‘Pantas semua orang, termasuk asistennya sendiri, menganggapnya bujang lapuk. Mereka tidak tahu saja bagaimana sebenarnya.’

“Kalau begitu, desainnya akan kami usahakan bersama tim untuk segera kami kirimkan kepada Anda.”

Dewangga kembali memperhatikan wanita itu yang kini masih tak sadar.

. . .

Diskusi yang berlangsung di ruang pertemuan akhirnya selesai. Klien yang beberapa menit lalu berdiskusi dengan Nafisa pun sudah meninggalkan ruangan setelah berpamitan.

Dewangga yang sejak tadi berada di ruangan untuk memperhatikan cara kerja Nafisa pun akhirnya bangkit dari kursinya. Ia merapikan jas yang dikenakannya, lalu berjalan menghampiri Nafisa yang masih sibuk membereskan kertas-kertas di atas meja.

Kedua tangannya masuk ke saku celana. Sesampainya di dekat wanita itu, ia tidak langsung membuka suara. Pandangannya justru beralih kepada Kalendra dan beberapa karyawan yang masih berada di sekitar mereka.

Dewangga menggerakkan matanya, memberikan kode agar mereka meninggalkan ruangan.

“Ayo segera kerjakan tugas,” ucap Kalendra yang mengajak karyawa untuk pergi.

Kini, hanya ada dirinya dan Nafisa di dalam ruangan.

Dewangga mengalihkan pandangan kepada wanita berjilbab itu.

“Naf.”

Tangan Nafisa berhenti sejenak. Ia mengangkat wajah, lalu mengembuskan napas pendek begitu mendapati atasannya berdiri di samping meja.

“Apa lagi, Pak? Mau mengatai saya botol Yakult?”

Dewangga terdiam. ‘Astaga, wanita ini. Sentimen sekali.’

Ia hampir tertawa, tetapi buru-buru menahannya.

“Siapa juga yang mau mengatai kamu botol Yakult?” sahutnya, berusaha terdengar tenang. “Kalau kamu merasa begitu, ya, alhamdulillah.”

Nafisa mendengus, lalu membuang muka.

Dewangga memperhatikan tingkahnya dengan sudut bibir yang perlahan terangkat. Entah mengapa, semakin wanita itu menunjukkan kekesalannya, semakin sulit pula ia menahan keinginan untuk menggodanya.

Namun, ia segera mengingat tujuan awalnya menghampiri Nafisa.

“Nanti pulang kantor temani saya.”

Nafisa menoleh kembali. Alisnya terangkat, menunjukkan kebingungan.

“Ke mana?”

Dewangga yang semula hendak menjawab spontan justru kehilangan kata-kata ketika melihat wajah wanita itu dari dekat.

“Ke hatimu—”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutnya.‘Sial!’

Dewangga langsung berdeham, berusaha menyelamatkan harga dirinya sendiri.

“Bu-bukan! Maksud saya, ke rumah sakit.”

“Siapa yang sakit, Pak?” tanya Nafisa.

“Oma saya.” Dewangga berdeham sekali lagi. “Pokoknya, pulang kantor kamu harus ikut saya.”

Nafisa mengernyitkan kening. Bukannya langsung menyetujui, wanita itu malah kembali membereskan dokumen di hadapannya.

“Tapi saya masih harus kerja keras, Pak. Kalau tidak, saya tidak akan dapat bonus. Nanti Bapak malah ngomong macam-macam lagi tentang saya.”

Dewangga mengerutkan kening. “Memangnya kapan saya—”

“Lagi pula, saya tahu akal bulus Bapak. Bapak pasti sengaja mencari-cari kesalahan saya, kan? Supaya nanti bisa ceramah panjang lebar seperti biasanya.”

Dewangga terdiam.

Ia menatap Nafisa beberapa saat.

 Bahkan melihat mata indah wanita itu menatap ke arahnya dengan jarak pandang yang terlalu dekat. Kini berhasil membuat jantungnya  berdegup lebih cepat.

‘Astaga, kenapa jadi begini?’

Ia berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, Nafisa justru mengernyitkan kening.

“Suara apa itu? Seperti suara petir. Apa mau hujan?” tanyanya.

Dewangga mengangkat alis.

“Padahal di luar cerah,” lanjut Nafisa menatap kearah luar jendela kaca.

Dewangga masih tetap diam, apalagi mata wanita itu kembali menatap ke arahnya lalu netranya turun perlahan, membuat Dewangga mengikuti arah tatapan wanita itu yang ternyata mengarah ke dadanya.

Dewangga mengangkat telunjuk, lalu mendorong dahi wanita itu pelan agar wajahnya menjauh.

“Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Bilang saja kamu ingin memeluk saya karena saya ganteng.”

Nafisa langsung mendecih. Suara itu terdengar begitu jelas di telinganya hingga Dewangga sempat tertegun.

“Bapak kegeeran sekali! Siapa juga yang mau memeluk Bapak yang narsis?”

Setelah melontarkan protesnya, Nafisa mundur beberapa langkah hingga jarak di antara mereka kembali terasa aman.

Dewangga mengembuskan napas pelan.

“Selamat,” gumamnya tanpa sadar.

Nafisa mengerutkan kening. “Siapa?”

Mata Dewangga seketika membelalak.

“Sa-salah dengar!” Ia segera berdeham, lalu memalingkan wajah. “Sudah, saya harus kembali ke ruangan. Kamu selesaikan desainnya. Ingat, besok kamu harus berkoordinasi dengan saya. Jangan sampai lupa!”

Nafisa melipat kedua tangan di depan dada.

“Saya tahu tugas saya sebagai kepala tim, Pak.”

Dewangga menahan senyum. Ia menggeleng kecil, kemudian berjalan melewati wanita itu dengan langkah santai.

Namun, baru beberapa langkah, ia teringat sesuatu. Saat hampir mencapai pintu, ia menghentikan langkah dan menoleh ke belakang.

Nafisa sudah kembali sibuk merapikan dokumen, seolah percakapan mereka tadi tidak pernah terjadi.

“Jangan lupa, tunggu saya di lobi nanti. Kalau kamu sampai pulang duluan, saya jemput kamu ke rumah.”

Tangan Nafisa berhenti bergerak. Ia mengangkat wajah dengan tatapan penuh kecurigaan.

“Memangnya Bapak tahu rumah baru saya?”

Dewangga menyelipkan kedua tangan ke saku celana, lalu mengangkat sebelah alisnya.

“Apa yang tidak bisa saya ketahui?”

Nafisa terdiam. Mulutnya sempat terbuka, seolah ingin membantah, tetapi tak ada satu pun kalimat yang akhirnya keluar.

Melihat itu, Dewangga tak mampu menahan senyum miringnya. Ia kembali melangkah meninggalkan ruangan tersebut.

.

Kini ruangan pertemuan itu kembali sunyi setelah Dewangga meninggalkannya.

Ia mengerutkan kening, mencoba memahami tingkah atasannya yang terasa aneh.

“Kenapa hari ini Pak Dewangga aneh sekali, sih? Biasanya setiap pagi selalu saja mencari-cari kesalahanku,” gumamnya.

Nafisa menggeleng pelan, kemudian kembali mendekati meja untuk membereskan dokumen yang masih berserakan.

“Ah, mungkin faktor usia. Maklum, ABG tua.” Ia terkekeh kecil mendengar gumamannya sendiri.

Kling!

Suara notifikasi membuat Nafisa mengalihkan pandangan ke ponsel yang tergeletak di atas meja. Layarnya baru saja meredup, tetapi sebuah pesan masuk kembali menyalakannya.

Nafisa meraih ponsel tersebut. Begitu layar terbuka, ia mendapati nama ibunya tertera di bagian atas notifikasi.

Ia tidak langsung membuka pesan itu. Pandangannya hanya menyapu tulisan yang terlihat melalui pratinjau.

Ibu: Naf, kamu sudah makan?

Belum sempat meletakkan ponselnya, notifikasi kedua kembali muncul.

Ibu: Kenapa tadi kamu pergi? Gak sarapan dulu? Ibu masak makanan kesukaan kamu, loh.

Nafisa terdiam. Bayangan ibunya bersama Damar. Jemari Nafisa perlahan meremas ponselnya.

“Kalau Ibu bukan ibu kandungku, mungkin sudah kuberi pelajaran karena menjadi pelakor dalam rumah tanggaku sendiri.”

Nafisa segera mengembuskan napas panjang. Ia tidak ingin larut dalam pikirannya sendiri, terlebih masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Setelah memastikan semua barangnya sudah rapi, Nafisa menyampirkan tas ke bahu. Ia kemudian berjalan menuju pintu dan meraih gagangnya.

Namun, baru saja pintu terbuka, langkahnya terhenti.

Di hadapannya berdiri beberapa anggota Tim B. Salah satunya adalah Fiola, wanita yang sejak awal tidak pernah menyukainya.

Fiola melipat kedua tangan di depan dada. Tatapannya menyapu ke arahnya dari atas hingga bawah sebelum kedua sudut bibirnya terangkat sinis.

“Lihat, baru beberapa hari jadi kepala tim desain, sudah bisa dekatin Pak Dewangga.”

Nafisa mengembuskan napas pelan. Ia sebenarnya tidak ingin meladeni sindiran semacam itu, tetapi mendengar namanya kembali dikaitkan dengan atasannya membuatnya sedikit kesal.

“Aku enggak pernah meminta jabatan ini, Fiola,” jawabnya tenang.

“Heleh!” Fiola mendecih. “Enggak mau, tetapi tetap menerima jabatan. Munafik!”

Nafisa terdiam sesaat. Bukannya tersinggung, ia justru tersenyum tipis.

“Kalau kamu memang menginginkan jabatan kepala tim desain ini, silakan ambil.”

Fiola mengernyitkan kening, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Apa maksud lo?”

Nafisa membenarkan posisi tas di bahunya, lalu menatap Fiola dengan tenang.

“Aku akan menyerahkan jabatan kepala tim desain ini kepadamu. Tapi, ada syaratnya.”

“Apa?”

“Buktikan kalau desainmu memang lebih unggul daripada desainku.” Nafisa mengangkat dagu sedikit. “Kalau desainmu terpilih dan hasilnya memang lebih baik, aku sendiri yang akan mengajukan pergantian kepala tim.”

Wajah Fiola seketika berubah. Ia tampak terkejut selama beberapa detik, sebelum akhirnya menyunggingkan senyum penuh percaya diri.

“Gue terima tantangan lo!” serunya. “Lagian, gue sudah pernah memenangkan pemilihan desain gaun terbaik. Kali ini gue enggak akan kalah dari lo!”

Nafisa hanya tersenyum menanggapi ucapan itu.

“Kalau begitu, semangat, ya. Minggu depan desainnya sudah harus kita koordinasikan ke Pak Dewangga lalu ke klie.”

Setelah mengatakan itu, Nafisa melangkah melewati Fiola dan anggota Tim B lainnya. Ia tidak menunggu jawaban ataupun mencoba memperpanjang percakapan.

Bukan karena takut menghadapi mereka, melainkan pikirannya masih dipenuhi berbagai persoalan di rumah.

1
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!