Sepuluh tahun pernikahan, tujuh tahun penantian panjang yang diwarnai doa dan air mata, hingga akhirnya Aira lahir sebagai keajaiban pertama bagi pasangan Nala (30 tahun) dan Arka (33 tahun).
Arka, seorang Lead Structural Engineer yang tegas, kaku, dan biasa menaklukkan proyek-proyek raksasa di lautan lepas, harus merelakan seluruh gengsinya runtuh tanpa sisa saat melangkah pulang. Kepulangannya ke rumah justru disambut kepolosan Aira (3 tahun) yang cadel dan dengan polosnya memanggil sang ayah "Om asing yang keluar dari HP".
Di saat Arka sibuk meluluhkan hati putri kecilnya dan memanjakan Nala setelah bertahun-tahun terpisah jarak, kebahagiaan mereka kembali diuji dengan kejutan indah: kehadiran calon bayi kedua mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon odee_eeeee15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ingkar janji lagi?
Hari itu adalah hari kelima berturut-turut Aira tidak melihat wajah Papanya saat terbangun dari tidur maupun saat beranjak ke peraduan.
Sejak proyek fasilitas darat di pelabuhan mengalami masalah serius pada struktur fondasinya, Arka menjelma menjadi pria paling sibuk di kantor pusat. Setiap pagi sebelum fajar menyingsing, Arka sudah berangkat. Dan setiap malam ketika jarum jam melompati angka sepuluh, barulah deru mobil SUV hitamnya terdengar memasuki garasi—di saat Aira sudah terlelap.
Satu-satunya penghubung antara Arka dan putri kecilnya hanyalah deretan pesan suara (voice note) di aplikasi WhatsApp ponsel Nala. Setiap subuh, Arka selalu merekam pesan suara berbisik:
"Aira sayang... Maafin Papa ya, Nak. Hari ini Papa harus berangkat subuh lagi. Tapi Papa janji, nanti sore Papa usahakan pulang cepat buat main gelembung sabun sama Aira..."
Pagi itu, Aira yang duduk di kasur hanya mendengarkan rekaman pesan suara itu dengan mata bulat yang redup. Bocah balita berusia tiga tahun itu tidak menangis atau meraung saat mendengar rekaman itu. Namun, diamnya Aira justru membawa suasana hening yang menekan di dalam rumah. Kekecewaan mendalam yang dipendamnya selama lima hari berturut-turut akhirnya merobohkan pertahanan fisiknya. Tubuh mungil Aira mendadak panas tinggi, matanya sayu berair, dan bibirnya pucat pasi.
Nala yang memeriksa suhu tubuh Aira dengan termometer digital langsung panik luar biasa saat melihat angka 39,2°C tertera di layar.
"Aira... kita ke rumah sakit sekarang ya, Nak!" seru Nala cemas setengah mati sambil menyapu keringat dingin di kening putrinya.
Aira cuma mengangguk lemas, bersandar pasrah di dada Mamanya. "Aila mau Papa... tapi Papa cuma ada di dalam HP..."
Melihat Aira yang makin lemas dan sempat muntah-muntah kecil, fokus Nala buyar total. Dalam pikirannya hanya ada satu hal: membawa Aira ke Unit Gawat Darurat secepatnya! Karena panik yang menggulung, Nala sampai lupa mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja rias. Nala langsung menyelimuti Aira, meminta Bi Minah buru-buru menyetop taksi online, dan melesat menuju rumah sakit.
Sementara itu, di kantor pusat, Arka justru berhasil menyelesaikan revisi perhitungan fondasi lebih cepat dari perkiraan! Pukul 14.30 WIB, Arka sudah menandatangani dokumen approval akhir.
"Pak Arka, rapat evaluasi sore nanti jadi?" tanya salah satu staf teknis.
"Saya serahkan ke Wakil Lead. Hari ini saya harus pulang," tegas Arka mantap tanpa bisa dibantah.
Hati Arka membuncah gembira. Ia ingin memberikan kejutan! Ia membayangkan betapa bahagianya Aira saat melihat Papanya sudah berdiri di pekarangan rumah pukul tiga sore, membawa sekotak es krim cokelat dan mainan gelembung sabun baru. Arka tancap gas membelah jalanan kota dengan senyum terkembang di wajah tegapnya.
Pukul 15.15 WIB, mobil SUV hitam Arka menderu memasuki garasi rumah. Pria itu melompat keluar membawa tas kerja dan bungkusan oleh-oleh dengan langkah riang.
"Aira! putri Kecil Papa! Papa pulang cepat nih!" seru Arka nyaring seraya membuka pintu depan rumah.
Keheningan menyambutnya. Tidak ada suara lari langkah kaki kecil, tidak ada celotehan riang, tidak ada sapaan hangat.
Arka mengerutkan dahi. "Nala? Bi Minah?"
Arka melangkah masuk lebih dalam. Ruang tengah kosong melompong. Kamar tidur utama terbuka dan rapi. Kamar Aira pun kosong, hanya ada boneka kelinci Aira yang tergeletak di atas kasur yang agak acak-acakan.
Seketika itu juga, perasaan dingin menjalar dari telapak kaki Arka naik ke dadanya.
"Nala! Aira! Bi Minah!" teriak Arka, suaranya mulai bergetar panik. Pria itu berlari ke dapur, lalu ke halaman belakang. Nihil. Rumah itu benar-benar sepi dan kosong.
Arka menyambar ponselnya dengan tangan gemetaran. Dipanggilnya nomor Nala.
Panggilan dialihkan ke kotak suara... HP Nala tertinggal di rumah!
Otak pimpinan teknis Arka seketika blank total. Pikiran-pikiran liar dan mengerikan langsung menghantam kepalanya. Apakah ada perampok? Apakah rumahnya kemasukan penjahat? Apakah istri dan anaknya diculik?! Pria tegap itu berdiri gemetaran di tengah ruang tamu, mencengkeram rambutnya sendiri dengan napas memburu dan pelipis bersimbah keringat dingin.
"Ya Allah... Nala... Aira... kalian di mana?!" jerit Arka frustrasi dalam keheningan rumahnya.
Arka buru-buru mencoba menelepon nomor Bi Minah. Pada dering ketiga, panggilan itu akhirnya tersambung.
"H-halo, Den Arka?" suara Bi Minah terdengar agak bising dari seberang telepon.
"BI MINAH! KALIAN DI MANA?! RUMAH KOK KOSONG?! NALA SAMA AIRA DI MANA BI?!" cecar Arka histeris, suaranya melengking tinggi menahan panik luar biasa.
"Aduh, Den... maafin Bibi sama Non Nala! Tadi pagi Neng Aira mendadak panasnya tinggi banget sampai 39 derajat lebih terus muntah-muntah. Non Nala panik banget sampai HP-nya ketinggalan di kamar! Ini Bibi sama Non Nala lagi di IGD Rumah Sakit Medika, Aira mau dimasukkan ke kamar rawat inap dan diinfus—"
Tanpa mendengarkan penjelasan Bi Minah lebih lanjut, Arka mematikan telepon. Tas kerja dan kantong oleh-olehnya merosot jatuh begitu saja ke lantai. Pria tegap itu berlari kesetanan keluar rumah, melompat ke dalam mobil, dan menginjak pedal gas dalam-dalam hingga ban mobilnya mencicit nyaring di atas aspal garasi.
Sangat wajar jika Aira begitu merindukan Papanya hingga fisiknya menyerah. Bagi anak seusianya, tiga tahun pertama kehidupan adalah masa di mana sosok orang tua diukir dalam ingatan. Dan Aira baru saja mulai merasakan hangatnya dekapan seorang Papa secara langsung—bukan sekadar suara asing dari balik pengeras suara ponsel yang sering terputus sinyal di laut lepas.
Ketika kehangatan yang baru saja ia rasakan itu mendadak menguap selama lima hari berturut-turut, dunia kecil Aira terasa goyah. Kerinduan itu bukan sekadar keinginan untuk bermain, melainkan rasa takut mendalam bahwa Papa yang baru ditemukannya akan menghilang kembali ke tengah lautan.
Langkah kaki Arka terdengar bergema keras di koridor ruang perawatan anak lantai tiga Rumah Sakit Medika. Kemeja kerjanya sudah kusut, dasinya sudah longgar dan miring, serta napasnya terengah-engah seperti orang habis berlari maraton.
Arka menyusuri lorong sampai melihat papan angka Kamar 304.
Di dalam kamar perawatan yang tenang itu, Nala sedang berdiri di samping tempat tidur pasien. Wajah Nala tampak sangat lelah dan sembab. Sementara di atas tempat tidur, tubuh mungil Aira terbaring amat lemas. Di punggung tangan kirinya, terpasang selang infus kecil yang diplester rapi.
Aira begitu lemas, bahkan untuk sekadar berbicara pun ia tak sanggup. Bocah kecil itu hanya bisa menangis sesenggukan tanpa bersuara nyaring. Pipi Mungilnya memerah padam akibat suhu tubuh yang membara, sementara kedua matanya membengkak dan sembab karena terus-menerus meneteskan air mata sejak pagi demi mencari keberadaan Papanya.
BAM!
Pintu kamar terdorong lebar. Arka berdiri di ambang pintu dengan dada naik turun memburu dan mata merah berkaca-kaca.
Nala menoleh terkejut. "Mas Arka...?"
Arka tidak memedulikan apa pun lagi. Ditatapnya selang infus dan wajah mungil Aira yang memerah basah oleh air mata. Dada pria tegap itu serasa dihantam pukulan telak yang menghancurkan seluruh pertahanannya. Air mata Arka menetes melewati pipinya yang tegas.
"Aira sayang putri papa..." panggil Arka dengan suara pecah dan gemetar hebat.
Mendengar suara yang amat dikenalnya itu, Aira yang lemas perlahan membuka matanya yang sembab. Pipi merahnya semakin basah saat air matanya kembali meleleh. Dengan sisa tenaga yang sangat terbatas, bibir mungilnya yang pucat dan gemetaran akhirnya sanggup membisikkan kata-kata yang memecah kesunyian kamar:
"Papa... Papa di mana...? Aila kangen... rindu Papa... Papa jangan pelgi jauh ya, Papa..." bisik Aira serak dan patah-patah sambil berusaha mengulurkan tangan kanannya yang tidak diinfus.
Kalimat polos itu bagaikan sembilu yang merobek dada Arka. Pria bertubuh tegap dan kekar itu melangkah cepat, langsung menjatuhkan dirinya berlutut di samping tempat tidur pasien. Arka merengkuh tubuh mungil Aira yang terasa panas ke dalam dekapannya dengan sangat hati-hati, membenamkan wajahnya di leher hangat putrinya.
"Papa di sini, Nak... Papa di sini... Maafin Papa, Aira... Papa gak akan pergi jauh lagi... Maafin Papa..." bisik Arka penuh keharuan dan penyesalan yang membuncah. Air matanya membasahi piyama rumah sakit yang dikenakan Aira.
Aira menyandarkan kepalanya yang berat di bahu kekar Arka, jemari mungilnya meremas kuat kemeja kerja Papanya. Tangisannya perlahan mereda dalam kehangatan pelukan yang selama lima hari ini selalu ia harapkan.
Nala yang berdiri di sisi lain tempat tidur mengusap air matanya, lega bercampur haru melihat ikatan batin yang begitu kuat antara suami dan putrinya.
Satu jam kemudian, setelah Aira mendapat obat penurun panas lewat aliran infus, napasnya perlahan teratur. Bocah kecil itu akhirnya tertidur lelap dalam dekapan Arka. Arka tidak mau beranjak sedikit pun dari tepi tempat tidur; ia duduk di kursi kayu dengan posisi tubuh membungkuk, memangku tangan mungil Aira yang bebas dari infus sambil terus mengusapnya lembut.
Nala melangkah mendekat, menyodorkan segelas air mineral kepada suaminya.
"Minum dulu, Mas... Muka kamu pucat banget," ujar Nala pelan.
Arka menerima gelas itu, lalu menatap Nala dengan pandangan penuh rasa bersalah yang menggunung. "sayang ... maafin Mas ya. Tadi pas Mas pulang rumah kosong, Mas pikir kalian kenapa-napa..."
Nala tersenyum tipis sambil mengelus bahu Arka. "Aku yang minta maaf, Mas. Tadi pagi Aira panasnya mendadak tinggi banget terus muntah. Aku panik setengah mati sampai HP-ku ketinggalan di atas meja rias, gak sempat ngabari kamu sama sekali..."
Arka memegang tangan istrinya erat-erat, mencium jemari Nala penuh kehangatan. "Gak apa-apa, Sayang... Yang penting kalian aman"
Malam semakin larut di dalam ruang perawatan yang tenang itu. Cahaya lampu kamar yang temaram menyinari wujud utuh keluarga kecil yang akhirnya kembali bersatu. Arka terus menyadarkan dahinya di tepi kasur, menggenggam erat jemari Aira tanpa niat melepaskannya sedikit pun. Bagi Arka, tumpukan berkas cetak biru dan segala urusan kantor tak lagi bernilai saat melihat putri kecilnya terbaring rapuh. Rasa penyesalan yang membakar dadanya berganti menjadi ketetapan hati yang utuh: tak ada lagi waktu yang boleh terbuang sia-sia. Di sisi lain tempat tidur, Nala menatap suami dan anaknya dengan helaan napas lega. Kehangatan yang sempat memudar selama lima hari terakhir kini kembali memenuhi ruangan, membalut luka kerinduan Aira dengan kedamaian yang sejati.
sekarang mama Nala ,juga ikut dramatis
mau di bilang benar tapi nggak benar juga