Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Kesaksian yang Membuka Jalan
Pagi menjelang dengan suasana yang masih dipenuhi ketegangan. Pria yang ditangkap semalam kini berada di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Arsen, Rangga, Ratih, dan Aluna juga datang sebagai saksi.
Aluna menggenggam tangan Ratih sejak memasuki ruang tunggu.
"Nek, Nenek tidak apa-apa?"
Ratih mengangguk pelan.
"Nenek hanya sedikit gugup."
Seumur hidupnya, Ratih tidak pernah membayangkan harus kembali berhadapan dengan orang-orang yang pernah muncul pada malam ketika Aluna dititipkan kepadanya.
Tak lama kemudian, seorang penyidik menghampiri mereka.
"Pak Arsen, tersangka bersedia memberikan keterangan. Tetapi dia hanya mau berbicara jika Bapak juga ada di dalam."
Arsen mengangguk.
"Ayo."
Di ruang pemeriksaan, pria itu duduk dengan wajah pucat. Matanya terus melihat ke arah pintu, seolah takut seseorang datang.
"Aku... aku tidak punya banyak waktu," katanya dengan suara pelan.
"Apa maksudmu?" tanya Arsen.
"Kalau bosku tahu aku tertangkap, aku pasti dibunuh."
"Siapa bosmu?"
Pria itu menarik napas panjang.
"Victor."
Nama itu membuat suasana langsung berubah tegang.
Arsen sudah menduganya, tetapi kini ia mendapat pengakuan langsung.
"Kenapa Victor mengejar Aluna?"
Pria itu menggeleng.
"Aku tidak tahu semuanya."
"Lalu apa yang kamu tahu?"
"Dulu... delapan belas tahun yang lalu, aku diperintahkan mencari seorang bayi perempuan."
Ratih memejamkan mata.
Kenangan buruk itu kembali memenuhi pikirannya.
"Apakah bayi itu Aluna?" tanya Arsen.
Pria tersebut mengangguk perlahan.
"Iya."
Aluna menahan napas.
Tangannya mulai gemetar.
"Kenapa aku dicari?"
"Aku hanya menjalankan perintah. Bos bilang bayi itu tidak boleh ditemukan oleh keluarga kandungnya."
Ruangan mendadak sunyi.
Arsen saling berpandangan dengan Rangga.
Kini semakin jelas bahwa hilangnya Aluna bukanlah sebuah kecelakaan.
Itu adalah rencana yang telah disusun sejak lama.
"Pernahkah kamu melihat orang tua kandung Aluna?" tanya Arsen lagi.
Pria itu menggeleng.
"Tidak. Saat kami tiba, bayi itu sudah dibawa pergi oleh seorang wanita."
Ratih menggenggam ujung bajunya erat.
Wanita yang dimaksud pasti orang yang menitipkan Aluna kepadanya.
Sebelum Arsen sempat mengajukan pertanyaan berikutnya, terdengar suara keributan dari luar kantor polisi.
Brak!
Seorang petugas berlari masuk.
"Pak! Ada penembak!"
Semua orang terkejut.
Arsen langsung berdiri di depan Aluna dan Ratih.
Suara tembakan kembali terdengar dari luar gedung.
Dor!
Kaca jendela ruang pemeriksaan pecah.
Peluru itu nyaris mengenai pria yang sedang memberikan kesaksian.
Untungnya, ia sempat menjatuhkan diri ke lantai.
"Semua tiarap!" teriak seorang polisi.
Situasi berubah kacau.
Beberapa petugas segera mengejar pelaku, sementara Arsen membawa Aluna dan Ratih keluar melalui pintu belakang.
Beberapa menit kemudian, keadaan mulai terkendali.
Namun, kabar buruk datang.
Penembak berhasil melarikan diri menggunakan sepeda motor.
Pria yang menjadi saksi utama selamat, tetapi bahunya terluka akibat serpihan kaca.
Di ambulans, sebelum dibawa ke rumah sakit, pria itu menarik tangan Arsen.
"Ada... ada sesuatu yang harus kamu cari."
"Apa itu?"
"Dulu... bayi itu memakai sebuah gelang emas."
Arsen teringat pada kotak besi milik Ratih.
"Apakah gelang itu memiliki lambang keluarga?" tanyanya.
Pria itu mengangguk lemah.
"Lambang... bunga lily..."
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia kehilangan kesadaran.
Arsen langsung menoleh ke arah Ratih.
"Nek, apakah di dalam kotak itu ada gelang emas?"
Ratih tampak terkejut.
"Ada."
"Selama ini Nenek menyimpannya bersama kalung."
Arsen mengepalkan tangan.
"Itu berarti gelang tersebut bisa menjadi bukti penting."
Namun, tanpa mereka sadari, dari kejauhan seseorang sedang mengawasi rumah sakit tempat saksi itu akan dirawat.
Orang itu adalah Victor.
Dengan senyum dingin, ia berkata pelan,
"Kalau satu saksi gagal dibungkam..."
"...aku akan menghabisi saksi berikutnya."
Di saat yang sama, Aluna mulai menyadari bahwa rahasia tentang dirinya bukan sekadar tentang keluarga yang hilang. Ada konspirasi besar yang telah berlangsung selama delapan belas tahun, dan kini ia berada tepat di tengah pusaran bahaya itu.