Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?
Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.
Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.
Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?
Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Maira
"Aku tidak pernah merasa melakukannya, Sayang. Percayalah! Aku selalu menjaga hatiku dan juga diriku untukmu. Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu, Maira. Percayalah, Sayang! Lihatlah mataku, apa ada kebohongan disana?" Agam mencoba meraih tangan istrinya dan menatap wanita yang paling dicintainya. Ia ingin Maira melihat kedalam matanya dan memastikan bahwa apa yang telah dikatakannya adalah benar.
Jika bibir tak bisa dipercayai, tentu lewat tatapan mata akan terungkap segalanya.
Agam merasa frustasi, semua yang terjadi bukan atas kehendaknya, ia hanya minum sedikit tapi kenapa semua jadi seperti ini? Minum pun juga bukan karena kemauannya, tapi itu adalah tuntutan. Dia tidak mungkin menolak bos nya, kan?
Apa ini disebut pembenaran?
Tidak!
Ini adalah kenyataannya.
Kenapa semua jadi seperti ini? Ini tidak benar, aku tidak mungkin menggauli Sita. Aku tidak pernah menginginkannya meski aku digoda sekalipun. Tapi kenapa ini bisa terjadi? gumamnya dalam hati.
Agam sudah sangat bingung sekarang.
"Jangan sentuh aku, Mas!" Suara Maira meninggi, ia menepis tangan suaminya. Tangan yang sudah menjamah tubuh wanita lain selain dirinya. Maira tidak ingin tangan itu menyentuhnya.
Tangan itu, sudah bergerilya di tubuh wanita lain. Tangan itu sudah kotor.
Batin Maira begitu perih.
"Sayang, percayalah padaku. Ini semua diluar kendali kesadaran ku. Maira, lihatlah aku! Sekali saja, tatap lah mataku!" pinta Agam memelas, matanya sayu, menyimpan kesedihan yang begitu mendalam. Ia sudah sangat-sangat frustasi dengan apa yang terjadi. Susah payah ia berusaha mengingat apa yang tidak ia ingat malam itu, dan hari ini ia ditunjukkan hal itu. Hal yang ingin dia ingat.
Bisakah kejadian itu dihapus?
Maira tertegun, wajahnya begitu kacau, matanya merah dan mulai bengkak. Tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya bisa diam. Perlahan ia merasa apa yang dikatakan suaminya memang benar, Agam melakukan hal itu di luar kesadarannya. Tapi tetap saja, hatinya sakit sekali melihatnya. Terasa tidak bisa menerimanya.
Tidak bisa menerima jika tubuh yang biasa dipeluknya itu memeluk wanita lain, bahkan lebih dari itu. Tubuh itu sudah menyatu dengan tubuh lain selain dirinya. Jijik rasanya.
"Sayang, tolong katakan sesuatu untukku! Jangan membuatku takut, Maira!" ujar Agam khawatir melihat istrinya hanya diam dan menatap kosong. Maira-nya sangat kacau, ia takut sekali. Sangat takut, ia bisa meninggalkan atau kehilangan apapun. Tapi tidak untuk kehilangan Maira dan kepercayaannya.
Agam meraih tangan Maira yang duduk bersimpuh dilantai. Menciuminya dan mencoba meyakinkannya.
Maira masih terdiam, ia tidak merasakan apa yang Agam lakukan. Semuanya menjadi hampa, yang dalam waktu singkat juga berubah menjadi sesak sekali di dalam hatinya.
"Maira, kumohon percayalah padaku! Sekali ini saja, aku berjanji seumur hidupku aku akan membuktikan kepercayaan ini. Percayalah, Sayang! Aku tidak sadar telah melakukan hal itu, Maira." Tak kuasa menahan rasa takut kehilangan di dalam dirinya, Agam secara tidak sadar telah menitikkan buliran bening dari matanya.
Ingin sekali Agam memutar waktu kembali, lebih baik ia diam dan tidak datang ke acara itu. Lebih baik dia menolak ajakan bos nya dan kehilangan pekerjaannya dari pada semuanya menjadi begini.
Ia menyesal sekali, hanya gara-gara minuman itu hidupnya terancam hancur saat ini. Maira-nya marah, Maira-nya kecewa, tidak ada yang lebih buruk dari ini. Bagaimana jika Maira tidak mau memaafkannya? Bagaimana kalau Maira menginginkan untuk pergi?
Tidak! Tidak boleh, dia tidak sadar saat melakukan hal itu. Bagaimana dia harus menerima hukuman pahit atas sesuatu yang tidak sengaja terjadi? Ia bahkan tidak mengingat apapun, ia juga tidak menginginkan Sita sedikitpun. Bagaimana ia bisa dikatakan bersalah?
Tidak! Maira harus memaafkannya. Maira orang yang dewasa, dia pasti akan memaafkannya. Ya, hanya butuh waktu saja.
Agam terus bergelut dengan pikiran dan asumsinya pribadi. Ia merasa ini bukanlah mutlak kesalahannya. Dia sadar dia telah salah karena ia meminum minuman yang sudah jelas dilarang. Tapi untuk perbuatan selanjutnya, ia benar-benar tidak sadar.
"Tinggalkan aku sendiri, Mas!" pinta Maira dengan lirih tanpa menatap suaminya sedikitpun. Pandangannya kosong menatap depan. Ia menyingkirkan tangan Agam yang masih menggenggamnya. Tanpa tenaga dan juga tidak ada hasrat kehidupan dimatanya.
"Tidak, Sayang! Aku tidak akan meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini. Aku akan menemanimu, kau harus percaya padaku!" Agam bersikeras.
"Tinggalkan aku, Mas! Atau aku saja yang pergi dari kamar ini?" Maira meninggikan suaranya dan masih tanpa menoleh pada suaminya. Ia sudah tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Maira tidak ingin melihat suaminya.
"Baiklah, Sayang. Baiklah biar aku saja yang pergi. Kau tetap disini saja. Tapi sekali lagi kumohon percayalah padaku, Maira! Cintaku sejak dulu hingga sekarang dan masa yang akan datang hanyalah untukmu. Hanya milikmu, Maira. Kau juga tau hal itu. Tolong percaya padaku." Agam membelai rambut istrinya lalu berdiri dengan berat hati.
Bahu Maira kembali berguncang, air matanya kembali tumpah sesaat setelah suaminya pergi meninggalkan kamar.
Kenapa harus seperti ini, Mas? Hatiku sakit sekali meskipun hal itu kau lakukan tanpa sengaja dan diluar kesadaran serta kemauan mu. Tapi apa yang kulihat dengan mataku di dalam rekaman itu tidak bisa ku lupakan seumur hidupku.
Bagaimana dengan nasib Sita? Sita gadis yang baik yang mungkin bisa memaafkan perbuatan mu, tapi bagaimana ia akan menghadapi masa depannya dengan tubuh yang sudah tidak lagi suci. Bagaimana ia akan menjelaskan pada suaminya jika suaminya mempertanyakan hal itu nanti?
Lalu untuk kita, mungkinkah aku bisa bertahan dengan bayang-bayang perbuatan mu itu? Aku pun juga sangat mencintaimu, Mas. Tapi hati ini sudah sangat sakit rasanya melihat perbuatan mu yang menjijikkan itu.
Maira menyeka air matanya dan bangkit dari tempatnya. Kepalanya terasa pusing sekali karena terlalu banyak berpikir dan menangis. Ia ingin berbaring di tempat tidurnya.
Ia bimbang dan juga gundah. Bertahun-tahun ia menjalin kasih dengan Agam, hingga akhirnya saling memiliki satu sama lain. Berjuang dari sejak SMA hingga hari ini, saling mendukung dan juga menguatkan satu sama lain. Ketika hampir sebagian banyak mimpi telah mereka raih, haruskah semuanya berakhir seperti ini?
Tidak! Hati Maira tidak bisa membuang Agam dari lubuk terdalam disana. Terlalu banyak hal indah yang sudah terjadi dan terpatri menjadi kenangan manis didalam sana. Masa remaja penuh kasih yang indah, masa perjuangan yang penuh suka dan duka. Semua mereka lewati bersama. Cinta keduanya begitu besar. Cinta ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Mas Agam ....
Maira menarik selimutnya dan membenamkan dirinya disana. Semakin sakit rasanya saat mengingat kenangan indah penuh warna yang telah mewarnai perjalanan cinta keduanya.
gw intip koq gk ad🙃