Xaviena Avanzi seorang petarung bebas di Mexico tidak pernah tau siapa orang tua kandungnya.
Hidup seorang diri membuat Xaviena hanya peduli dengan dirinya saja. Tidak pernah berusaha mengetahui dunia luar, dan hanya fokus pada pekerjaannya sebagai petarung. Xaviena tertidur panjang karena diracuni oleh seorang pria yang tidak terima dikalahkan oleh gadis itu.
Saat membuka mata, dia terkejut karna terbangun di tubuh seorang wanita asal Spanyol yang sudah menikah. Bukan pernikahan yang bahagia tapi pernikahan yang hanya membawa kesakitan dan penolakan untuk sang wanita. Xaviera bertekat untuk membalas semua kesakitan dan perbuatan suaminya.
Bagaimana jika jiwa Xaviena, si petarung bebas yang bodoh amat, masuk ke dalam tubuh Xaviera, si istri yang sangat mencintai suaminya?
Dan apa yang terjadi pada tubuh Xaviena? ikuti kisah mereka.
Ayo mampir, dijamin ga bikin bosen!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter twenty
Mansion Vargas pagi itu benar-benar menjelma menjadi pusat perhatian. Sejak fajar menyingsing, sirine mobil pengawal berkali-kali terdengar di halaman depan, menyambut kedatangan para tamu penting dari kalangan pebisnis hingga petinggi kelas atas. Aula belakang yang megah kini sudah dipenuhi hamparan bunga mawar putih dan dekorasi kristal yang berkilauan di bawah sinar matahari pagi.
Di lantai dua, kamar utama masih tampak tenang, meskipun gorden putihnya sudah dibuka setengah.
Xaviera baru saja selesai memakai gaun satin berwarna navy blue yang anggun, kontras dengan kulit putih bersihnya. Saat ia sedang berdiri di depan cermin besar untuk memasang anting-antingnya, sepasang lengan kokoh tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
Xaviero, yang sudah tampak sangat gagah dengan setelan jas hitam formal dan kemeja putih, menyurukkan wajahnya di perpotongan leher Xaviera. Ia menghirup dalam-dalam aroma manis tubuh istrinya, mengabaikan fakta bahwa mereka harus segera turun ke bawah.
"Xavi, ih, geli..." Xaviera tertawa kecil, mencoba memalingkan wajahnya saat kecupan-kecupan singkat Xaviero mulai merayap dari leher menuju rahangnya.
"Nanti jasmu kusut lagi. Kita harus turun, ini sudah waktunya."
"Biarkan saja kusut," gumam Xaviero dengan suara rendahnya yang serak. Ia membalikkan tubuh Xaviera dalam dekapannya, menatap dalam mata biru istrinya dengan sepasang netra hijau intens miliknya.
"Kamu cantik sekali hari ini, Sayang. Rasanya aku ingin membatalkan kehadiran kita di bawah dan menguncimu di kamar ini seharian saja."
Xaviera mencubit pelan lengan suaminya, meski sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan senyuman manis.
"Jangan mengada-ada, Tuan Posesif. Pengantinnya itu adik kita. Kalau kita tidak muncul, Dominic dan Xena bisa mengamuk."
Xaviero terkekeh berat, suara seksinya bergetar halus di dada. Alih-alih melepaskannya, ia justru menunduk dan mengklaim bibir Xaviera dalam ciuman pagi yang dalam, hangat, dan menuntut kepemilikan. Xaviera memejamkan mata, melingkarkan lengannya di leher kokoh suaminya, membalas lumatan intim itu dengan sisa-sisa napasnya yang mulai memburu. Rasa nyaman dan debaran yang selalu sama setiap kali berada di pelukan Xaviero membuat Xaviera sempat melupakan keriuhan di lantai bawah.
Saat akhirnya ciuman itu terurai dengan perlahan, Xaviero mengusap lembut bibir bawah istrinya yang sedikit basah dengan ibu jarinya, lalu memberikan satu kecupan singkat lagi di kening Xaviera sebelum menggandeng tangan lentik itu erat-erat.
"Ayo turun, sebelum Xander berteriak lagi di depan pintu." Di lantai satu, suasananya benar-benar riuh dan sibuk.
Dominic berdiri di dekat altar dengan setelan tuksedo putih yang membuatnya terlihat sangat tampan sekaligus berwibawa, meskipun ketegangan tidak bisa disembunyikan dari wajah tegasnya. Di sampingnya, Victor Vargas dan Xavientro Costa sedang menyapa beberapa kolega besar, memancarkan aura pemimpin yang sangat kuat.
Di dekat area suvenir, Clara tampak sangat anggun dengan gaun pengiringnya. Di belakangnya, Riccardo berdiri tegak seperti perisai hidup, namun matanya sama sekali tidak beralih dari Clara.
Saat Clara kesulitan merapikan bagian belakang gaunnya, Riccardo dengan sigap mendekat dan membantunya dengan gerakan yang sangat hati-hati.
"Terima kasih, Riccardo," bisik Clara sambil tersenyum manis.
"Sama-sama, Sayang. Hari ini kamu luar biasa cantik," balas Riccardo dengan senyum lebarnya yang tulus, membuat Clara langsung merona dan memalingkan wajahnya karena malu dilihat oleh Jesslyn dan Ruby yang sedang lewat.
Sementara itu, di sudut aula yang agak sepi, Gabrielle alias Elle duduk di kursi bar sambil memperhatikan air mancur cokelat dengan mata bulatnya yang berbinar takjub. Jovanovic, dengan setelan jas hitamnya yang dingin, berdiri di samping gadis itu, bertindak seperti pelindung pribadi.
"Kak Jovan, lihat! Cokelatnya mengalir terus, tidak habis-habis," bisik Elle polos, menunjuk ke arah air mancur. Jovanovic menurunkan sedikit pandangannya, menatap wajah bersih Elle. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka. Ia mengambil sepotong stroberi, mencelupkannya ke aliran cokelat, lalu menyodorkannya ke depan mulut Elle. "Mau coba?"
Elle mengangguk antusias dan langsung menerima suapan itu dengan riang. "Enak sekali! Terima kasih, Kak Jovan!" Jovanovic hanya mengangguk kecil, diam-diam menyimpan rasa hangat di dadanya melihat kebahagiaan sederhana gadis di sampingnya itu.
Tak jauh dari sana, Xander sedang memeriksa interkom keamanan di dekat pilar besar saat Axelian berjalan melewatinya. Axelian hari ini terlihat sangat berbeda. gaun satin berwarna pastel membuat kesan tomboinya sedikit memudar dan memancarkan aura gadis muda yang cantik. Astaga dia hampir lupa kalau gadis pecicilan ini seorang model terkenal.
Xander sempat terpaku selama beberapa detik, menatap Axelian dari ujung kepala sampai kaki tanpa berkedip.
Axelian yang menyadari tatapan itu langsung berkacak pinggang, mencoba menutupi kegugupannya dengan gaya ketusnya yang biasa. "Apa lihat-lihat? "Tumben tidak jelek. lumayanlah," gumam Xander datar dengan suara kulkas berjalannya.
"Dih, dasar kaku! Bilang saja aku cantik apa susahnya sih!" omel Axelian kesal, lalu berjalan pergi menghentakkan kakinya. Namun, di balik pilar, Axelian memegangi pipinya yang mendadak terasa luar biasa panas, sementara Xander diam-diam menatap punggung gadis itu pergi dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
Acara sakral pun dimulai dengan khidmat begitu Xaviena melangkah anggun menyusuri altar didampingi oleh sang Papa, Victor. Janji suci diucapkan oleh Dominic dan Xena dengan lantang, menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang sah diiringi tepuk tangan meriah dan haru dari seluruh keluarga besar.
Di barisan kursi paling depan, Xaviero tidak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Xaviera sedikit pun. Ia membawa tangan istrinya naik, lalu mengecup punggung tangan Xaviera berkali-kali di tengah riuhnya pesta, menyalurkan rasa cinta dan komitmen yang sama besarnya.
Begitu pesta resepsi dimulai dan para tamu mulai membaur, Xaviero diam-diam menarik pinggang Xaviera, membimbing istrinya menjauh dari kerumunan menuju sudut balkon aula belakang yang lebih sepi dan temaram.
Angin malam berhembus lembut, memainkan beberapa helai rambut Xaviera. Xaviero mengungkung tubuh istrinya di pembatas balkon, menatap dalam mata biru Xaviera yang memantulkan cahaya lampu pesta.
"Lelah, hm?" tanya Xaviero lembut, jemarinya merayap naik membelai pipi hangat istrinya.
Xaviera menggeleng pelan, menyandarkan kedua tangannya di dada bidang Xaviero.
"Tidak lelah. Aku hanya bahagia melihat Xena dan Dominic akhirnya bersatu. Semua orang di mansion ini perlahan mulai menemukan kebahagiaannya masing-masing, Xavi."
Xaviero tersenyum sangat tulus, merunduk sedikit hingga jarak wajah mereka nyaris tidak ada. "Dan kebahagiaanku yang paling besar adalah bersamamu di sini, Xaviera
Costa."
Mendengar nama belakang suaminya yang tersemat di namanya, jantung Xaviera berdegup kencang. Ia berjinjit sedikit, menyatukan bibir mereka dalam ciuman malam yang manis, pekat, dan penuh dengan rasa syukur yang mendalam di tengah riuhnya suara musik pesta pernikahan di balik pintu kaca balkon.
badassss🤣👍
duuuh kalo liat cara kerja mafia ,,
ngeri2 sedaaap🤭🤭🤭🤭
ayooooo qta lihaat masa2 Xander bucin ke axel 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
sayang byk2 ,, 🫰🫰🫰🫰🫰
mafia juga manusia kn ,, bisa sakit ,, bisa manja ,, bisa Nangis juga ,, 🤭🤭🤭🤭 ,,
semoga kalian selalu bahagia ,, 😁😁
lanjuuuut kak ,,