Laki-laki muda yang menikah karena perjodohan dengan wanita yang tak ia kenali dan wanita yang sedang sakit akibat kecelakaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yushang-manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
"Gus, baju gantinya sudah saya siapkan di sini yah..., saya izin keluar sebentar boleh?" izinnya sedikit mengeraskan suara nya karena Fatih masih di kamar mandi. Tak lama pintu kamar mandi terbuka Fatih keluar dengan handuk yang melilit pinggang nya. Khaulah menoleh ke arah suaminya.
"Aakhhhh. Gus...., tutup gak!" teriaknya. Membuat Fatih terkekeh, lucu sekali istrinya ini. Pikir Fatih. "Gus! Kok ketawa?" khaulah masih menutup matanya dengan tangannya. Dengan jahil Fatih mendekati khaulah, menggoda istrinya menjadi hobinya sekarang. Aroma maskulin menusuk indra penciuman nya membuat khaulah melangkah mundur mencoba menghindar dari Fatih. Namun usahanya nihil karena Fatih terus mendekat hingga hembusan napasnya bisa dirasakan oleh khaulah. Karena tidak kehati-hatian nya khaulah hampir saja terjatuh beruntungnya Fatih segera menangkapnya. Membuat jarak yang tipis diantara keduanya. Fatih tersenyum menggoda. Khaulah menelan ludahnya kasar melihat tatapan Fatih seolah ingin memakannya.
"Gus....." panik khaulah saat Fatih semakin mempersempit jarak tubuh keduanya. Khaulah menutup matanya saat Fatih mendekatkan wajahnya. "Saya mau ambil baju, lain kali hati-hati, maaf sudah membuat mu takut. Buka mata kamu, saya sudah pakai baju." khaulah dengan perlahan membuka matanya, dan benar saja Fatih sudah memakai baju yang sudah ia siapkan.

Fatih melangkah menjauh untuk manaruh handuk basah nya ke tempat jemuran. Rambutnya ia sisir menggunakan tangannya, membuat ketampanannya bertambah. Khaulah menatap kagum suaminya, fisiknya begitu perfect.
"Tadi kamu izin mau keluar kemana hm?" tanya Fatih sambil merapihkan Baju yang sudah di lipat oleh istrinya. Tidak ada jawaban dari istrinya membuat Fatih menghentikan aktivitasnya. "Sayangg... saya tanya kok gak di jawab hm?"
"Ah, iya, maaf Gus..., saya izin mau ke depan dulu ketemu Yasmine boleh?"
"Kalau saya tidak mengizinkan gimana?"
"Yah tidak apa-apa, saya tidak akan pergi."
Fatih menghampiri khaulah lalu mengusap kepala istrinya. "Ya sudah saya izinkan, tapi jangan lama-lama. Karena nanti saya sesak napas."
Khaulah yang polos mengerjabkan matanya beberapa kali. "Kenapa gitu Gus?"
Fatih tak menjawab pertanyaan khaulah namun ia berkata. "Biasanya saya marah jika ada orang yang memanggil saya dengan sebutan itu, tetapi ketika kamu yang memanggil saya dengan sebutan itu saya tidak merasa marah sedikitpun, aneh."
"Jadi, Gus lebih suka dipanggil apa sama saya?" tanya khaulah.
"Apa saja asal, jangan itu, saya... kurang suka." jujurnya
"Hm apa yah...." khaulah berfikir keras untuk memilih panggilan yang pas untuk suaminya. Sementara Fatih tersenyum penuh makna, dirinya berhasil menahan khaulah untuk tidak pergi dari kamar. "Mas aja kali yah?"
"Apa? Coba kamu ulangi, saya tidak mendengar nya." bohongnya.
"Mas..." panggil khaulah dengan malu-malu. Fatih tidak bisa lagi menahan senyumnya. "Apa sayang...?" tanyanya membuat khaulah tersipu malu, Fatih berhasil mengobrak-abrik perasaan nya.
"Sudah ah, saya mau temuin Yasmine dulu." khaulah melangkah pergi dari tempatnya untuk keluar dari kamar, menyembunyikan rasa salting nya. Membuat Fatih gemas dengan tingkah istrinya yang lucu kalau lagi salting. Saat keluar kamar khaulah berpapasan dengan fatemah yang baru saja keluar dari dapur.
"Kamu kenapa? Kok kaya buru-buru gitu hm?" tanya fatemah.
"Ah, umi, darimana?" tanyanya asbun, khaulah merutuki dirinya yang asal tanya saja padahal ia tahu jika uminya baru saja keluar dari dapur. Fatemah tertawa dan berkata. "Pertanyaan nya gak harus umi jawab kan?" khaulah mengangguk. "Kamu mau kemana? Sudah malam. Tidak istirahat?"
Saat khaulah akan menjawab pintu kamar yang terbuka mengalihkan perhatian nya. Fatih keluar dari kamarnya dan melihat keberadaan istri dan ibu mertuanya didepan pintu kamar.
"Malam al." sapa fatemah.
"Malam Umi." Fatih membalas sapaan ibu mertuanya, lalu pandangannya beralih pada istrinya yang berada tepat disampingnya. "Kamu tidak jadi bertemu Yasmine?" tanya nya pada khaulah.
"Ja-jadi kok ini mau keluar."
"Kamu mau kemana al?" tanya fatemah saat melihat tangan Fatih yang membawa laptop.
"Umi saya izin untuk pakai perpustakaan sebentar boleh? saya ada janji dengan amar."
"Boleh, pakai saja al, tapi kuncinya ada di petugas keamanan santri. Nanti umi bilang deh yah."
"Tidak usah umi, ini kuncinya ada di saya, kebetulan tadi saya ketemu salah satu petugas keamanan namanya.. Bai..bai."
"Baihaqi?" tanya fatemah lantas Fatih mengangguk membenarkan. "Iyah Baihaqi umi."
"Yasudah, kalian berangkat bareng saja sana. Nanti keburu larut malam."
"Pamit yah umi, assalamu'alaikum." pamit khaulah mendahului suaminya.
"Terimakasih umi, assalamu'alaikum." Fatih menyusul istrinya yang sudah keluar rumah duluan. "Istriku tunggu saya.."
"Iyah saya tungguin jangan lari-lari mas."
Yasmine menyusul khaulah yang sudah tak jauh dari pandangannya namun saat ia hendak melangkah sedikit lagi ia melihat kedua sejoli itu sedang bermesraan.
"Nyesel gue nyusulin nih orang. Udah bener tadi gue duduk aja disana." gerutunya.
khaulah melihat keberadaan Yasmine yang tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. "Yasmine! Sini." pintanya.
Yasmine menurut ia mendekat ke tempat khaulah dan Fatih berdiri. "Hai, pengantin baru. Sorry ganggu malam per-" mulutnya dibekap oleh khaulah dengan tangannya.
"Mas, saya ngobrol dulu yah sama Yasmine."
"Iyah, saya juga. Assalamu'alaikum." dengan sengaja Fatih memperlihatkan keromantisan nya dengan mencium kening istrinya dihadapan Yasmine. Kemudian Fatih berjalan menjauh dari tempat istrinya melangkah pergi menuju perpustakaan yang letaknya ada disebelah masjid.
Yasmine memutar bole matanya jengah melihat kebucinan saudaranya yang terus dipamerkan didepannya. "Yuk sal, disana aja deh ngobrol nya."
"Ayok."