Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 20
Keesokan harinya Nina, Zeyya, Raynar dan juga Haris kembali ke rumah orang tua Nina, untuk melihat barang- barang yang akan tiba, dan mulai menatanya.
Sesampainya di kampung Nina mereka memarkirkan mobil Raynar, di depan masjid, seperti kemarin.
Di perjalanan ke rumah Nina, Raynar melihat Nina yang begitu ramah dengan tetangganya, yang membuat Raynar semakin jatuh hati pada Nina.
Namun ia juga harus mengenal Nine lebih jauh lagi, karena menurutnya Nina adalah orang yang cukup susah untuk di dekati.
" nduk pesen minum nduk" ujar Haris pada Nina kala mereka melewati rumah tetangga Nina yang berjualan, semacam warung kelontong.
" Abang apa?" tanya Nina.
" Es teh, sama camilannnya jangan lupa" Jawab Haris.
" Mbak Zeyya sama pak Raynar mau minum apa?" tanya Nina pada Zeyya dan Raynar.
"Gus ikut aja Na, biar bisa milih sendiri" jawab Zeyya.
".Saya kopi saja" jawab Raynar.
" Tapi ada nya kopi seduh pak, gapapa?" tanya Nina kembali.
Raynar hanya mengagukan kepalanya kemudian ia menyusul Haris yang sudah jalan terlebih dahulu, tepat di depan rumah Orang tua Nina, ia bertemu dengan Arlo, sepupu Nina yang sedang berbincang dengan Haris.
" Ehh Ray kenalin ini Arlo, sepupu Nina" ucap Haris memperkenalkan Arlo pada Raynar.
" Udah ketemu kemarin" sahut Raynar.
" Kapan?" tanya Haris.
" Di mall bang, pas gue sama Nina cari baju " timpal Raynar.
" Kalau gitu aku berangkat kerja dulu bang, takut telat" pamit Arlo pada Haris.
" Iya hati- hati" jawab Haris.
" Mari calon adik ipar" ucap Arlo ketika melewati Raynar.
Raynar hanya diam sedangkan Haris sedikit menarik sudut bibirnya, walau tidak di sadari oleh siapapun.
Haris dan Raynar duduk di kursi depan rumah orang tua Nina, kursi panjang yang biasanya di buat untuk santai.
" Arlooooo, itu kan punya aku" Suara teriakan Nina begitu terdengar di telinga Haris dan juga Raynar.
Raynar menoleh ke arah sumber suara, dan benar saja ia melihat Nina yang sedang bertengkar dengan Arlo, Melihat kedekatan Nina dan juga Arlo, Raynar sedikit cemburu, karena yang ia tahu sepupu bukan lah mahram dan bisa menikah, walau Raynar tau Arlo sudah memeliki kekasih.
" Mereka emang suka berantem kalau ketemu, belum lagi aja ketambahan satu sepupu Nina lagi yang seumuran mereka" ujar Haris, yang tak heran lagi dengan kelakuan dua orang yang sedang bertengkar.
" Tapi bang, bukanya Nina menjaga dirinya sama yang bukan mahram ya? setau ku sepupu itu bukan mahram?" tanya Raynar.
" Hahaha, Nina enggak se alim itu Ray, dia memang menjaga diri, dia itu enggak mau di sentuh sama orang yang ia tidak dekat untuk cowok, setau gue sama teman dekat nya dia itu main tampar, pukul kayak dia sama Arlo sekarang" Jawab Haris.
" Gue kasih tau, gue emang enggak ngelarang loe buat deketin Nina, tapi loe juga jangan berekpetasi tinggi pada Nina, Adik gue enggak se sempurna yang loe lihat, dia juga banyak kurang, jadi kalau loe emang mau melangkah lebih jauh, kenali dulu Nina, jangan nantinya loe menyesal dekat dengan Nina dan loe tinggalin dia, dia sudah banyak trust issue terhadap pernikahan dan cowok" imbuh Haris.
" Iya bang, gue ngerti, gue juga enggak bakal main- main soal perasaan, loe tau sendiri gue gimana" jawab Raynar.
Tak lama truk yang mengakut segala furniture dari Kastara grup sudah datang, mereka mulai menyusun furniture di tempatnya.
Hingga Adzan dhuzur berkumandang, mereka berhenti sejenak untuk makan dan juga sholat.
" nduk tumbas maem nduk" pinta Haris pada Nina ( nduk beli makan nduk)
" dimana?" tanya Nina.
" Nasi padang aja, di dekat warung itu loh, sama sup buah sampingnya " jawab Haris.
" okey uangnya mana?" sahut Nina, sambil mengatungkan tanganya pada abangnya.
Namun saat sedang merogoh kantung, Raynar lebih dulu memberi Nina uang, seratus ribuan sepuluh lembar.
"Ehh pak Ini buat apa?" tanya Nina.
" buat beli makan lah, mau beli makan kan?" sahut Raynar.
" pakek ini aja Ray" ucap Haris.
" Udah bang, gapapa mereka kan juga tanggung jawab gue" sahut Raynar.
Haris kemudian menyuruh Nina untuk memakai uang yang di beri oleh Raynar, namun Nina hanya mengambil setengahnya.
Ia meraih tangan Raynar dan mengembalikan sisa uang yang sisa begitu banyak.
" Kebanyakan pak, ini aja mungkin sisa, nanti saya kembalikan sisanya" ucap Nina
" Mb Zeyya mau ikut enggak?" tawar Nina pada Zeyya.
" Boleh Na" jawab Zeyya yang excited.
" okey bentar aku ambil motor dulu ya" jawab Nina.
Nina kemudian masuk kedalam rumah yang berada tepat di samping rumah Orang tua Nina, tak lama ia keluar dengan motor matic berwarna merah maroon miliknya.
" Ayo mbak" teriak Nina pada Zeyya.
" bang aku pergi dulu yaa"pamit Zeyya.
Nina dan Zeyya kemudian pergi untuk membeli makan, setelah itu mereka juga sholat Dhuzur terlebih dahulu.
...****************...
Pukul tiga sore, seluruh rumah orang tua Nina sudah beres dan juga sudah bersih, bisa di tempati.
Nina dan Zeyya kini sedang beristirahat di kamar Nina yang berada di lantai dua.
" Wahh kamu ternyata kamu jualan jilbab Na?" tanya Zeyya, yang melihat dagangan Nina di kamarnya.
" hehehehe Iyaa mbak, soalnya itu dulu satu- satunya penghasilan aku, aku jaga warung ngambil uangnya kalau mau jajan aja, jadi minta modal Bang Haris dech buat kulakan" jawab Nina.
" kenapa enggak di lanjut aja Na?" tanya Zeyya.
" Mau kok mbak, sembari kerja,soalnya belum terlalu ramai, itu pun aku ngiklan seadanya, pelan- pelan aja asal pasti sih mbak" jawab Nina.
Sedangkan di bawah tampak heboh karena baru saja kedatangan yang lainnya, Kenzie dan Chessy yang langsung pergi ke rumah sepupunya.
Anin dan Malihah yang sibuk dengan belanjaannya, mereka berniat untuk memasak, anggap saja Syukuran rumah, walau yang punya rumah sedang pergi .
Anin dan Malihah memanggil sepupunya yang lain untuk membantu mereka memasak, tadi sebelum kesini mereka sudah belanja terlebih dahulu.
" Di atas ada Nina sama Zeyya, tidurin di atas aja, dari pada ke brisikan di sini" pinta Haris pada Wira yang menggendong Ellena sedang tidur.
Tak lama para sepupu Nina yang perempuan datang, untuk membantu Anin dan Malihah memasak, Raynar sedikit terkejut karena mereka begitu cepat datang untuk membantu.
" sering bang, begini?" tanya Raynar.
" apa? makan- makan? kalau makan- makan mah sering walau jarang komplit, kalau komplit sih jarang " jawab Haris.
" Kompak juga yaa bang" sahut Raynar.
" yaa gitu dech,oh yaa loe mau mandi yaa, bentar gue ambilin baju ganti gue dulu" ucap Haris kemudian menuju ke kamarnya.
Dari arah tangga ia melihat Nina tanpa menggunakan hijab, hanya dengan kaos oversize dan celana pendek sepaha.
" Cantik"