Elsa Pervis merupakan anak satu-satunya dari kelurga Pervis, kelurga yang sangat terkenal akan kekayaannya, serta sifat kerja kerasnya, membuat Duke Pervis ayah dari Elsa menjadi mudah terkenal.
Hidup serba berkecukupan memang lah menjadi kebahagiaan bagi banyak orang termasuk dengan Elsa, dimana semua kebutuhan yang kau inginkan akan mudah didapatkan.
Namun itu semua tidak lah bertahan lama, kebahagian yang dulu sangat mudah Elsa dapatkan seketika sirna, saat kecelakaan kereta kuda yang dulu dia alami membuat kedua orang tuanya meninggal.
Meninggalnya kedua orang tuanya, membuat Elsa seketika menjadi gadis yang tidak berguna, dimana saat itu lebih banyak orang yang menyukai harta keluarganya dibandingkan orang yang ingin merawatnya.
Di kehidupan kedua ini Elsa akan bertekad, untuk membuat kelurga pamannya menjadi hancur, setelah dirinya mengetahui meninggalnya kedua orang tuanya ada hubungannya dengan pamannya saat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zarina Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Menuju H-4 acara pesta dansa, Dawis yang saat itu belum mendapatkan kerja sama dari Count Elbert masih berisih keras, menyakitkan Count Elbert bahwa putra yang saat ini yang dia anggap mati sebenarnya masih hidup.
"Apa anda masih tidak mau bekerja sama dengan saya?" tanya Dawis.
Dawis berjalan mendekati Ran yang masih terdiam ditempat, pikirnya masih kosong saat melihat bahwa putranya masih hidup.
"Jika benar itu putra ku, lantas siapa yang ku kubur?" gumam Ran.
"Dia merupakan korban dari bangkitnya sihir terlarang ini, makanya saat anda melihat anak itu, anda akan melihat bahwa anak itu adalah putra anda, sedangkan anak anda sendiri akan, anda liat sebagai orang lain."
Ran langsung terduduk mendengar penjelasan dari Dawis, jadi selama ini orang yang terus dia siksa setahun yang lalu adalah putranya sendiri.
"Apa anda bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi anak anda? Diasingkan, dibedakan, bahkan di usir oleh ayahnya sendiri, Apa anda tau selama ini kehidupan putra anda seperti apa?"
Ran langsung terduduk di atas tanah, dia merasa bahwa dirinya begitu bodoh, yang dengan gampangnya bisa tertipu dengan sihir hitam ini.
"Lantas, apa kau tau siapa pelaku dari ini semua?" tanya Ran.
"Bukankah ini sudah jelas, tanpa saya jawab pun anda sudah tau siapa pelaku dari ini semua," balas Dawis.
Ran langsung terdiam matanya terbuka lebar menatap batu kerikil yang ada dihadapannya, mengetahui siapa pelaku dari ini semua membuat mata Ran langsung terbuka lebar, tangannya terkepal kuat meremas batu kerikil yang ada pada jangkauannya.
"Tidak bisa ku maafkan," lirihnya.
Dawis menatap tajam ke arah Ran, "Jadi Tuan Count apakah anda mau berkerja sama dengan saya, untuk melenyapkan pasukan Ratu?" tanya Dawis.
Ran kembali duduk dengan sempurna, dirinya langsung berdiri ke hadapan Dawis.
"Pangeran..."
Buk
Ran menundukkan kepalanya dengan satu kaki menyentuh tanah untuk menahan tubuhnya.
"Dengan sepenuh hati, jiwa dan raga, saya Count Elbert akan bersedia melindungi anda dari serangan para musuh mana pun, yang akan mengancam nyawa anda."
Dawis langsung tersenyum mendengar ucapan dari Ran, dengan begitu pelan salah satu telapak tangan Dawis menyentuh kepala Ran yang masih menundukkan kepalanya.
"Saya Pangeran pertama Oktavia sangat bersedia menerima anda Cont Elbert sebagai pengikut ku yang setia."
Setelah Dawis serta Ran menerima sumpah setia satu sama lain, Ran kembali berdiri dihadapan Dawis.
"Jadi apa rencana anda sekarang?" tanya Ran langsung.
"Akan banyak rencana yang harus kita rancang, namun sebelum itu sebaiknya anda berbaikan dulu dengan putra anda."
...~*~...
Di lain sisi, Elsa terduduk disamping Noah dengan Bima yang ikut duduk disampingnya, terlihat sekali diwajah Noah bahwa dia saat ini begitu marah bercampur rasa sedih, Elsa tau jauh didalam hati Noah pasti terbekas rasa sayangnnya terhadap ayahnya Count Elbert.
"Apa kau tau nak, ayahmu bersikap kasar pada mu, bukan asli dari dirinya, dia hanya sedang terpengaruh oleh ilmu sihir yang membuat ayahmu, tidak bisa mengenali anaknya," ucap Elsa dengan pelan
"Mau itu ilmu sihir atau bukan, aku sudah terlanjur benci dengan orang itu!" ketus Noah.
Elsa menatap sedih wajah Noah begitu juga dengan Bima, angin yang begitu kencang menyapu wajah mereka, Elsa manarik nafas kasar, Elsa tau bagimana rasanya jadi Noah dimana usia yang harusnya mendapatkan kasih sayang lebih dari orangtuanya harus merasakan kepahitan yang dibuat oleh ayahnya sendiri.
"Diabaikan itu memang menyakitkan, begitu juga dengan dibedakan, Noah ayah mu itu tidak bersalah, yang harus kau salahkan itu orang yang sudah buat ayahmu seperti ini."
Elsa tersenyum sambil mengelus kepala Noah dengan lembut, "kau beruntung Noah walau ayah mu pernah berbuat kasar, tapi dia masih mau meminta maaf pada dirimu, dia sadar bahwa selama ini dia hanya dipermainkan oleh ilmu sihir yang dikirim oleh seseorang."
Noah hanya diam mendengar ucapan dari Elsa, Bima memengang tangan Noah dengan pelan bermaksud untuk membuat diri Noah menjadi lebih tenang, "paman itu orang baik ka," jawab Bima.
"Kau tau apa?"
"Aku memang tidak tau banyak, tapi coba kakak bayangkan hal yang paling meyengkan bersama ayah kakak."
"Hal paling menyenangkan?" tanya Noah, Bima langsung mengaggukan kepalanya.
Seketika Noah langsung teringat akan masa-masa dimana ayahnya pernah mengajarinya ilmu pedang, lalu membawanya jalan mengelilingi desa menggunakan kuda kesayangan ayahnya, membayangkan masa itu membuat mata Noah menjadi berkaca-kaca, masa itu adalah masa yang paling indah dalam hidupnya.
"Noah... Ayah mu itu orang baik, dia begitu karena terkena ilmu sihir saja, seharusnya orang yang kau benci itu bukan ayah mu, melainkan orang yang telah memberi ilmu sihir itu pada ayah mu," ucap Elsa dengan lembut.
"Jika itu memang bukan salah ayah, lalu siapa yang harus aku benci?" tanya Noah.
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti
jd sebel aq,bodohnya ga kerulungan