Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Jack membiarkan Reni menjawab pertanyaan ibunya, Jack bisa melihat bagaimana gugup nya Reni. Jack tidak ingin membantu menjelaskan karena dia pun tidak tau apa-apa tentang Randi dan Mariam. Biarkan itu menjadi tanggung jawab Reni sendiri
"Tante... Reni boleh ngomong sebentar, Hum... tapi nggak di sini" Jawab Reni
Ibu Jack mengangguk lalu menunjuk ruang tengah.
"Sebenarnya Mariam itu istri kak Randi juga, dia istri kedua tapi Reni mohon tante jangan ngomong ke Dewi ya "
"Istri kedua ? Kok bisa? Kenapa emangnya Ren?" Tanya ibu Jack.
"Apakah kakak ipar mu Dewi nggak tau tentang Randi dan Mariam?" Tiba-tiba suara Ayah Jack membuat Reni kaget.
"Hum... Belum om, kami belum berani mengatakan itu " Jawab Reni
"Kenapa nggak berani kasih tau?" Tanya ayah Jack lagi
"Kak Rani rasa belum saatnya " Jawab Reni menunduk. Karena sebelum jawabannya bukan itu. Mereka tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Randi dan mereka sendiri tidak mau kalau sampai Dewi minta pisah sama Randi. Mereka masih butuh Dewi.
Dewi yang saat itu ingin keluar minum, mendengar pembicaraan mereka.
"Mereka pikir saya nggak, kalau selama ini saya cuman di jadikan sapi perah. Hanya demi anak-anak dan Ayah saja saya harus rela di perlakukan seperti itu, tapi itu dulu. Sekarang nggak lagi" Dewi membatin, seketika langsung hilang rasa hausnya. Dewi menutup pintu kamarnya perlahan lahan.
Sementara itu "Jack.... bagaimana menurut kamu ?"Tanya ayah Jack, Kening Reni berkerut dalam mendengar kata kata calon ayah mertuanya yang bertanya pada Jack.
"Loh kok saya Ayah?"
"Hehehe.... Ya gimana kalau kamu yang di posisi calon kakak ipar mu, punya dua istri?" Tanya Ayah Jack dengan tertawa terbahak bahak.
"Hus ayah.... Apa apaan sih " Ibu Jack memukul lengan suaminya.
" Ya ayah kan cuman bertanya Bu"
Mendengar itu Reni tiba-tiba gemetar seluruh tubuhnya, Ya... Bagaimana kalau Jack yang melakukan itu padanya. Jemari tangan Reni bertautan. Jack bisa melihat Reni gugup.
"Ya tergantung permasalahannya apa Yah.... Alasan apa kak Randi menikah lagi itu hanya Reni dan keluarganya yang tau. Apalagi yang menjadi istri kedua kak Randi adalah adik tiri kak Dewi sendiri" Jawab Jack tersenyum pada Reni.
"Reni yakin Jack nggak bakalan seperti itu, karena saya tau. Saya baik baik saja"
"Oh baiklah " Jawaban ibu Jack terlihat tidak iklas dengan jawabannya.
"Emang Kakak iparmu itu nggak baik ya Ren? Tanya ayah Jack
"Ayah...udah ah "
"Om tante... Reni mohon ini menjadi rahasia kita, karena kak Randi mau dia sendiri yang menjelaskan pada Dewi" Ujar Reni, kedua orang tua Jack saling tatap. Mereka mendengar sendiri Reni tidak memanggil Dewi dengan kata kakak.
"Apakah mereka memang nggak menghargai Dewi sama sekali? saya baru bicara dengannya saja sudah bisa menilai dia wanita yang baik " Ibu Jack membatin
Jack hanya mengangkat bahu " Ya udah, saya mau tidur dulu.. Ngantuk banget. Bye sayang" Jack berlalu pergi masuk ke dalam kamarnya.
Dia tau Reni ingin mengajak tidur bersama malam ini, bagi mereka berdua melakukan hubungan sex sudah menjadi hal yang biasa. Namum sejak Jack mengatakan rasa sukanya pada Dewi. Jack tidak pernah menanggapi ajakan Reni yang mengajaknya tidur bersama.
Sementara di kamar yang ditempati Randi, Rani sedang gelisah karena ponsel Johan tidak bisa di hubungi dari awal berangkat ke kampung halaman orang tua Jack hingga malam ini.
Ini pertama kalinya ponsel Johan tidak aktif dalam waktu yang sangat lama jika sedang di luar rumah.
Pukul dua pagi, Johan mengirimkan pesan pada Rani.
"Sayang, saya minta maaf.. ponsel saya ketinggalan di rumah. Lagi di cash. saya baru aja pulang sayang. Hari ini mesin rusak berat ... Sayang, saya tidur dulu ya. saya ngantuk sekali. Bye sayang "
Rani yang belum tidur sama sekali, dengan cepat membaca pesan dari suaminya.
"Ya udah... Kamu istirahat aja ya.. maaf tadi udah kepikiran yang nggak nggak Jo"
Masih centang satu " dia pasti kelelahan sekali " Batin Rani
Di sana apakah Johan tidur? Tidak sama sekali, Johan dan Celine baru saja selesai dengan aktivitas panas mereka.
*
Pagi pagi sekali Dewi sudah membantu ibu ibu yang memasak di dapur. Ibu Jack yang melihat Dewi di dapur akhirnya ikut membantu juga.
"Nak... hari ini sebelum kita pulang, saya dan suami saya mau ke tempat wisata yang ada di kota ini. Apakah kamu mau ikut? Anak anak juga boleh ikut " Kata ibu Jack pada Dewi.
"Boleh tante, anak anak pasti suka sekali "
"Ya udah kita masaknya cepet ya "
"Baiklah tante "
Ibu Jack dan Dewi sibuk dengan memasak di dapur, sementara Randi sibuk membujuk istri muda nya lagi yang sedang merajut kembali.
Randi ingin agar Mariam bisa menahan diri untuk bersikap biasa biasa saja, Tapi Mariam tidak mau.
Rani juga terlihat bola balik di depan pintu kamar dengan ponsel di tangannya
"Ada apa kak? Kakak terlihat gelisah sekali ? " Tanya Randi yang ingin ke ruang tengah setelah selesai membujuk istri mudanya..
Rani melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Pesan yang dikirimnya semalam masih centang satu.
Pikiran pikiran aneh yang semalam sudah hilang dari pikirannya sekarang kembali lagi. Dan memang ada yang aneh. Johan bukanlah pria yang terlambat bangun, Jika ponselnya tidak aktif itu mungkin karena tidak sempat mengisi daya.
"Ponsel kakak mu nggak aktif dari awal kita ke sini, semalam sempat aktif sebentar tapi sampai sekarang nggak aktif lagi" Terang Rani
Randi diam menatap kakaknya" Mungkin kak Johan lagi memperbaiki mesin kak"
"Oh iya mungkin aja dek " Sahut Rani menyembunyikan keraguan nya pada penjelasan Randi
Sementara di ruang makan " Ren... kami mau ke tempat pariwisata di kota ini. Kamu mau ikut nggak? ", tanya ibu Jack
"Hum.. Reni nggak ikut deh tante, mau belanja ke supermarket baru itu Tante..."
"Oh ya udah, Nak Randi, Rani gimana ?" Tanya ibu Jack lagi.
"Saya mau antar kak Rani sama Mariam ke supermarket di depan itu tante" Randi yang menjawab, karena tadi pagi. Mariam sudah mengatakan ingin ke supermarket itu bersama Rani tapi harus di antar oleh Randi.
"Ya udah.. Nak Dewi, Kasih tau anakmu ya supaya bersiap-siap. Selesai makan kita berangkat" Terang ibu Jack lagi.
"Saya sama kakak udah siap Oma " Arumi yang sudah menjawab. Terdengar tawa dari ayah dan ibu Jack.
"Baiklah, kalau gitu.. om sama tante jalan dulu ya " Rani, Randi,Reni dan Mariam mengangguk.
"Hati hati ya tante" Kata Reni
Sementara di luar Jack sudah menunggu dalam mobil bersama Yan dan Arumi. Jack sudah menyembunyikan kunci mobil yang lain. Entah apa yang Jack pikirkan dengan menyembunyikan kunci mobil yang lainnya.
"Setidaknya bisa dekat sama kak Dewi walaupun harus bersama mereka" batin Jack
"Sayang, kamu mau ke mana?" Tanya Randi yang melihat Dewi berjalan ke luar menuju parkiran
"Oh ini... saya juga di ajak jalan jalan sama tante Wijaya ke tempat wisata itu kak "
"Kamu mau pergi sayang?" Tanya Randi lagi
"Ya... " Dewi mengangguk
"Kok nggak bilang dulu, terus gimana sama makan siang saya ?" Randi sengaja, dia tidak ingin Dewi curiga kalau dia akan pergi bersama Mariam. Randi juga belum tau kalau Jack yang akan mengantar orangtuanya.
"Kan ada Mariam, kakak bisa minta tolong Mariam masak makanan kesukaan kakak. Seperti yang Mariam masak di rumah waktu itu. Dek..... tolong ya, masakin untuk kak Randi"
Mariam yang tidak siap dengan kata kata Dewi, terlihat sangat gugup.
"Eeh..eh iya kak"
"Makasih dek, anggap aja lagi masak untuk suami sendiri " Dewi tersenyum dan berlalu pergi.
Mereka ber empat hanya diam dengan mulut terbuka mendengar kata kata Dewi.
"Kak Dewi ngomong apa tadi sayang?" tanya Mariam ingin lebih yakin dengan kata kakaknya
"Anggap aja lagi masak untuk suami sendiri " Rani yang menjawab
Bunyi bel mobil terdengar keluar dari rumah ini
Sementara itu.......
"Jack kok nggak keluar dari kamarnya ya ?" Tanya Reni lebih pada dirinya sendiri
"Bukannya Jack juga ikut, dia yang mengantar mereka ke tempat pariwisata itu " Lagi lagi Rani yang menjawab
"Apa......?" Seruan Reni mengagetkan Mariam dan Rani. Dan membuat Randi mematung diam.
"Kenapa kaget gitu dek ?" Tanya Rani pada Reni.
"Saya mau ajak kak Jack berbelanja juga kak bareng kakak Rani " Jawab Reni
"Nggak.. nggak... Dewi nggak boleh ikut kesana kalau ada Jack " Kata Randi tiba-tiba. Kening Mariam berkerut dalam.
"Loh emangnya kenapa sayang?" Tanya Mariam
"Oh nggak ada, cuma nggak suka aja " Randi tidak ingin mereka menertawakan dirinya kalau sampai mereka tau dia cemburu dengan perhatian Jack kepada Dewi.
"Dek.... Ayo kita susul mereka ke tempat itu " Ujar Randi pada Reni sedikit berbisik.
"Ok kak... Ntar saya ambil kunci mobil dulu " Reni kembali ke depan dan tak lama kemudian.
"Kunci mobilnya nggak ada kak"
"Kok bisa ? terus gimana dong, Ah sial, ngapain juga Dewi ikut ke sana ?" Kata Randi dengan suara keras.
Rani menatap adiknya dengan alis menukik tajam
"Dek.... Kamu cemburu ya Dewi ke sana sama Jack?" Tanya Rani
Reni dan Mariam ikut menatap Randi yang kebingungan sendiri.
.
.
.
.
Bersambung....
Hallo readers kesayangan ku, udah up lagi ya..
jangan lupa tinggalkan jejak dan bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 5 nya juga. ☺️☺️
sudahlah miskin belagu pulak tuh