Diumurnya yang ke 27 tahun, Afra belum terpikir untuk menikah apalagi dengan kondisi ekonomi keluarganya yang serba kekurangan. Hingga suatu hari disaat Afra mengikuti pengajian bersama sahabatnya tiba-tiba sebuah lamaran datang pada Afra dari seorang pria yang tidak ia kenal.
Bagaimana kisah selanjutnya?
Apa Afra akan menolak atau mernerima lamaran pria tersebut?
Siapa pria yang melamar Afra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Afra dan Kak Hira pun berjalan menuju taman, dimana area tambak berada paling ujung dan sedikit tinggi, ketika mereka sampai di taman ternyata cukup ramai sehingga memerlukan waktu untuk mencari keberadaan Icha.
"Dimana ya Icha ini," ucap Kak Hira.
"Tamannya luas ya Kak," ucap Afra.
"Tamannya memang luas, rencananya nanti temboknya bakal di robohkan terus tamannya juga bakal di perluas kesamping gitu," ucap Kak Hira.
'Padahal kayak gini aja udah luas apalagi kalau di perluas, tambah seberapa luas ya taman ini,'
"Ning Hira, Ning Afra," panggil salah satu santriwati.
"Putri," ucap Kak Hira.
"Ning Hira kesini pasti lagi nyari Ning Icha ya," ucap Putri.
"Iya, kamu tau dimana Icha?" tanya Kak Hira.
"Tay, Ning. Mari saya antarkan Ning Hira sama Ning Afra ke tempat Icha," ucap Putri.
Afra dan Kak Hira pun mengikuti langkah Putri hingga sampailah mereka ke sebuah kolam ikan yang cukup besar dimana ternyata kolam tersebut sedang panen, banyak santri yang datang untuk menangkap ikan yang menang sengaja di besarkan di kolam tersebut.
"Masyaallah, ramainya Kak," ucap Afra.
"Memang kayak gini kalau kolamnya dikuras pasti banyak santri yang ambil ikannya terus nanti mereka buat makan bareng gitu," ucap Kak Hira.
"Oh gitu ya Kak, tapi Icha mana ya Kak?" tanya Afra.
"Nah itu Kakak juga gak tau Icha nya mana," ucap Kak Hira.
Ketika mereka melihat para santri yang tengah mengambil ikan-ikan di kolam renang tiba-tiba Afra dikejutkan dengan kedatangan Icha dari belakangnya lalu menarik tangan Afra ke kolam tersebut hingga mau tidak mau Afra mengikuti tarikan mungil itu.
"Bunda ayo cari ikannya sebelum habis diambil," ucap Icha.
"Icha, pelan-pelan ya awas nanti jatuh," ucap Afra.
Namun, Icha tidak menanggapinya dan terus saja menarik tangan Afra hingga akhirnya mereka sampai di tepi kolam ikan tersebut, "Ayo bunda masuk ke kolam," ajak Icha.
"Bunda disini aja, Bunda gak masuk ke kolam," ucap Afra.
"Kenapa?" tanya Icha.
"Nanti bunda kotor," ucap Afra.
"Gapapa Bunda, nanti Bunda kan bisa mandi. Ayo Bunda," ucap Icha.
"Icha gak boleh paksa Bunda ya, kalau Bunda gak mau artinya Icha harus apa coba?" tanya Kak Hira.
"Menghormati keputusan Bunda," ucap Icha dengan lemah.
"Pinter," ucap Kak Hira.
Afra tentu saja merasa tidak enak karena menolak ajak Icha hingga membuat Icha sedih, "Kamu gak usah pikirkan Icha, dia lagi drama," bisik Kak Hira.
"Tapi kok Afra kasihan ya Kak," bisik Afra.
"Jangan kasihan, nanti Icha kesenengan," jawab Kak Hira.
"Gapapa deh Kak, Afra gak tega lihatnya," ucap Afra lalu menghampiri Icha.
"Yasudah ayo kita cari ikannya sebelum habis," ucap Afra dan benar saja apa yang dikatakan Kak Hira jika Icha langsung senang mendengar apa yang dikatakan Afra.
"Beneran ya Bunda, ayo Bunda," ucap Icha.
Afra dan Icha pun masuk ke dalam kolam ikan yang paling pojok dimana kolam tersebut tidak banyak orang, setelah cukup lama mereka mencari ikan mereka pun kelelahan karena mereka tidak mendapatkan ikan sama sekali.
"Kok gak ada ya," ucap Afra.
"Bunda capek, kita ke Umi aja yuk. Gapapa deh gak dapat ikan," ucap Icha yang terlihat jelas jika ia kepanasan.
Afra pun mengikuti kemauan Icha, baru saja Afra berbalik badan, ia dikejutkan dengan keberadaan Faiz yang sudah ada di belakangnya.
"Astaghfirullah Ning Afra, Ning Icha," ucap Faiz yang tak habis pikir dengan kedua perempuan di hadapannya yang sudah kotor itu.
"Umi," panggil Icha yang takut melihat amukan Faiz.
Melihat Icha yang kabur menghampiri Kak Hira membuat Afra bingung, apa ia harus menghampiri Kak Hira juga atau tetap berdiri disana.
"Kenapa masuk ke kolam?" tanya Faiz dan Afra setia menunduk.
Namun, detik berikutnya bukannya marah, Faiz justru tersenyum hingga membuat para santri yang ada disana pun melihatnya tersenyum padahal Faiz termasuk pria yang jarang tersenyum.
"Yasudah, sekarang ayo pulang. Udah mulai siang juga," ucap Faiz dan diangguki Afra.
"Dijawab Ning Afra," bisik Faiz.
"Iya Mas," jawab Afra.
"Kok nunduk terus sih, emang di bawah ada apa? padahal lebih enakan lihat aku loh daripada lihat bawah," ucap Faiz.
Sontak, Afra pun mendongak menatap wajah tampan sang suami lalu Afra melihat sekelilingnya ternyata masih banyak santri disana dan tentunya mereka melihat bagaimana interaksi antara dirinya dan juga sang suami.
"Yasudah ayo balik," ucap Afra lalu keluar dari kolam.
"Kak Hira gak balik?" tanya Afra ketika melihat Kak Hira dan Icha masih di taman.
"Kamu balik duluan aja, Kakak masih mau disini," ucap Kak Hira.
"Kalau gitu kita balik duluan Kak, assalamualaikum," pamit Faiz.
"Waalaikumsalam," jawab Kak Hira.
Faiz dan Afra pun berjalan keluar taman untuk pulang, "Astaghfirullah, sampai kotor gitu gamisnya," ucap Faiz yang berada di belakang Afra.
"Tadi Icha ngajak aku masuk ke kolam buat nyari ikan, aku udah nolak, tapi aku gak tega lihat wajah Icha, Mas.Icha kayak mau nangis gitu makanya aku iyain aja," ucap Afra.
"Lain kali gak boleh kayak gitu, kamu harus mulai mencoba buat nolak apa yang orang lain mau," ucap Faiz.
"Iya, Mas," jawab Afra.
Ketika mereka sampai di depan rumah tiba-tiba saja Faiz menggendong Afra masuk ke dalam rumah, tentu saja banyak para santri dan juga para pekerja yang melihat hal itu.
"Masyaallah, Gus Faiz kelihatan banget ya bucinnya," ucap Wulan.
"Iya, aku iri banget lihatnya. Aku juga mau yang modelannya kayak Gus Faiz," ucap Rina.
"Astaghfirullah, kalian ini ya. Gak boleh kayak gitu," peringat Septi.
"Astaghfirullah, tapi jujur emang bener kok aku iri. Meksipun gitu, aku bahagia lihatnya soalnya menurutku Ning Afra sama Gus Faiz cocok, apalagi kan Ning Afra kelihatan kalem banget," ucap Wulan.
"Kalian penasaran gak sih gimana Gus Faiz bisa menikah dengan Ning afra?" tanya Septi.
"Kenapa memangnya?" tanya Wulan.
"Ya gapapa, bukannya Gus Faiz itu akan menikah dengan Ning Zahra ya bahkan semua santri juga tau gitu, tapi kok tiba-tiba Gus Faiz menikah dengan Ning Afra. Apalagi menurutku latar belakang keluarganya Ning Afra ini gak jelas, apa jangan-jangan ada sesuatu di balik pernikahan Gus Faiz dan Ning Afra," ucap Septi.
"Kataku nih ya, kamu terlalu banyak nonton drama deh Sep," ucap Rina.
"Kurang-kurangin ya," ucap Wulan.
"Kalian gak percaya, kalau gitu aku bakal cari tau. Aku yakin pasti ada sesuatu, kenapa Gus Faiz menikah dengan Ning Afra," gumam Septi yang kekeh dengan pendiriannya.
.
.
.
Bersambung.....
mantaaaabh
lanjut ka elaaaa 👍🏻🌹🌹
semangaaaaaaats 💪🏻💪🏻🌹🌹
dasar cocote Ra pada ada akhlaknya
lanjut ka elaaaaa 👍🏻🌹🌹🌹
semangaaaaaats 💪🏻💪🏻
senewen q jadinya
lanjut ka elaaaaaaa
semangaaaaaats 💪🏻💪🏻