Bagaimana perasaan mu jika kekasih yang kau cintai mengaku telah menghamili gadis lain tepat sehari sebelum hari pertunangan mu?
Lisa Anastasia, seorang gadis manis yang jenaka. Harus menerima pahit nya penghianatan sang kekasih bernama Candra Adijaya. Lalu bagaimana Lisa menjalani kehidupan nya dibawah bayang-bayang sang mantan, akankah gadis manis itu bangkit dari jurang keterpurukan yang mendalam?
Follow akun IG : _lisaautmptri
(BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA)
KLIK FAVORITE, LIKE, KOMEN, VOTE!!
NOVEL INI HANYA TERBIT DI MANGATOON!!!
(Harap lapor jika menemukan kesamaan di platform lain!!)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lisaautmptri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MY SWEET LISA 20
Ujian semester telah usai, setelah berkutat dengan buku-buku tebal yang memusingkan kepala. Ditambah lagi dengan soal dan rumus yang rumit nya melebihi susunan puzzle pecah seribu. Kini Lisa hanya perlu menyelesaikan satu tugas akhir saja. Lisa mengetik tugasnya secepat mungkin, gadis itu hanya perlu menambahkan komen sana-sini. Laptop nya bertengger nyaman diatas meja pendek ditemani secangkir kopi hangat yang masih mengepul disebelahnya.
Lisa duduk diatas lantai yang dilapisi karpet berbulu dengan motif Doraemon kesukaannya. Hari ini kelas terakhirnya, dan dimulai sore hari jadi gadis itu bisa menyelesaikan tugasnya pagi hari lalu bersantai menikmati sisa pagi dengan bermalas-malasan. Lisa mengetikkan tanda titik dengan lega, akhirnya tugas nya rampung semua!
Lisa tersenyum senang, merentangkan tangannya keatas, lalu menguap lebar. Melirik jam dinding disudut ruangan ternyata masih jam sembilan pagi.
Lisa lega, karena masih punya waktu sebelum berangkat ke kampus. Gadis itu membaringkan tubuhnya ke karpet berbulu.
Merasa bosan, gadis itu melangkah menuju balkon. Lisa menghirup napas dalam-dalam, matanya menatap pada kejauhan. Dimana jejeran gedung berdiri dengan kokoh dihadapannya, bangunan yang nampak rapat hampir tak berjarak satu sama lainnya.
Pemandangan yang membosankan! Begitu pikir Lisa, dari tempat ini dia hanya bisa melihat jejeran bangunan dengan warna pucat. Dan jalan setapak yang hanya bisa dilalui pejalan kaki dan juga sepeda.
Disudut balkon, terdapat setangkai mawar didalam pot. Kurus dan kering, Lisa membatin melihat bunga mawar layu itu.
Hidup segan, mati tak mau! Batin Lisa lirih, sama seperti dirinya beberapa bulan yang lalu. Lisa bersenandung ria, senandungan pertamanya di Inggris setelah beberapa bulan.
Suara ponsel yang berdering keras membuat lamunan panjang Lisa seketika buyar, gadis itu cepat-cepat masuk kedalam dan meraih ponselnya.
Bianca.
"Halo kenapa?" Tanya Lisa tanpa basa-basi. Lisa sudah paham dengan gadis itu, jika bukan minta ditemani ke bar. Pasti memohon untuk diberi contekan tugas.
"Hari ini terakhir ngampus, gimana kalau lusa kita mudik. Kamu ke Indonesia, aku ke Singapore?" Tanya Bianca semangat, mendadak senyum diwajah Lisa memudar.
Hampir sepuluh bulan dirinya dinegara ini, jauh dari orangtua dan juga saudara. Mendadak perasaan homesick itu muncul lagi, membuat Lisa tersenyum kecut. Dirinya sudah terlalu merindukan sosok mama dan papanya.
"Hmm," Lisa menimbang-nimbang. Libur semester kali ini hampir dua bulan lamanya, jika dirinya pulang ke Indonesia, waktu dua bulan sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan. Namun jika mengingat mahalnya ongkos, harus membuat Lisa berpikir dua kali.
"Aku kaya nya belum bisa pulang Bianca, kamu tahu sendiri lah ongkos dari sini kesana berapa?"
"Terus kamu mau ngapain selama libur panjang disini, beb?" Tanya Bianca lemas, gadis itu sudah merencanakan perjalanan mudiknya yang seru bersama Lisa. Namun justru gagal begitu saja.
"Mungkin aku bisa cari kerja part-time disini," Jawab Lisa semangat. Rencana itu memang sudah ada sejak lama dalam benaknya.
"Hmm, kalau gitu aku juga nggak akan mudik liburan ini. Kita bisa kerja bareng, dan bisa liburan. Gimana?!" Seru Bianca bersemangat lagi, Lisa tertawa gemas lalu mengiyakan ucapan Bianca.
"Oke, kalau gitu sampai ketemu dikelas nanti sore. Byee!" Ucap Bianca mengakhiri sambungan telfon. Lisa menaruh ponselnya kembali, lalu merebahkan diri diatas ranjang empuk. Mungkin tidur siang beberapa saat masih sempat, pikir gadis itu riang.
* * *
Lisa dan Bianca bergegas menyusuri koridor panjang yang seperti tak berujung, setelah kelas selesai dan mengumpulkan tugas akhir gadis itu tengah mencari keberadaan Alex. Setelah menyetujui kesepakatan untuk berlibur bersama, dia gadis itu berniat mengajak Alex ikut serta.
"Tapi takut ketemu Alex, aku takut dia marah." Bianca tiba-tiba menghentikan langkah. Gadis itu memperlihatkan raut wajah murung, membuat Lisa merasa iba.
"Aku yakin Alex nggak begitu, dia cuma butuh waktu untuk mengobati hatinya. Dan kamu harus bantu dia, oke!" Lisa menepuk pundak Bianca memberi semangat.
"Kamu harus berjuang untuk cari kakak kamu, dan juga untuk cinta Alex!" Ucap Lisa menggebu-gebu. Mengepalkan tangannya diudara.
"Oke deh, aku harus semangat! Oh ya, kamu kapan dong move-on, masa nggak ada cowok sini yang bikin kamu tertarik?" Ucap Bianca tanpa berpikir, membuat wajah cerah Lisa berubah pias. Bianca langsung menyesali ucapannya, kenapa juga harus mengungkit masalah move-on?
Beruntungnya, kedatangan Alex bisa menghilangkan suasana canggung yang tadi sempat tercipta.
"Assalamualaikum," Sapa pemuda yang mengenakan setelan kemeja maroon dipadu dengan bawahan berwarna coklat. Terlihat keren namun rapi, membuat Bianca semakin terbuai jatuh dalam perasaan. Walau baru kemarin gadis itu merasakan sakitnya penolakan.
"Waalaikumsalam," Jawab kedua gadis itu tanpa semangat. Lisa masih terngiang dengan ucapan Bianca pasal move-on, sedangkan Bianca masih merasakan kecewa dihatinya.
Alex mengernyit, tidak biasanya Bianca seperti itu. Bianca yang Alex kenal, adalah gadis yang penuh semangat apalagi saat bersama dengannya.
"Kalian kenapa?" Tanya Alex heran, kedua gadis itu hanya menggeleng samar. Membuat Alex semakin berkerut kening karena bingung.
Lisa melangkah, memimpin didepan. Sedangkan Alex dan Bianca langsung mengikuti langkah gadis bertubuh tinggi langsing itu. Berjalan tanpa arah, melintasi beberapa gedung dan juga segerombolan mahasiswa. Membuat Bianca dan Alex bingung, kemana sebenarnya tujuan Lisa.
Ditambah lagi, sejak tadi Bianca hanya berjalan dalam diam. Lagi-lagi tidak sama seperti biasanya. Membuat Alex membatin bingung. Alex memutuskan untuk diam, gengsi nya yang tinggi menjulang membuatnya enggan untuk bertanya. Bukankah baru kemarin dia menolak perasaan Bianca, lalu bagaimana jadinya jika hari ini dia bertanya sok perhatian?
"Kalian kenapa sih, tadi sebelum kelas dimulai kelihatannya nggak ada apa-apa?" Tanya Alex menyerah pada rasa penasaran.
Bianca langsung menoleh, ada rasa hangat mencuat dihatinya saat Alex ternyata menyadari perubahan sikapnya.
"Nggak papa!" Tegas Bianca sembari menggeleng.
"Kalau nggak papa kenapa gitu, berubah?" Tanya Alex lagi, pria itu bahkan menolehkan wajah seutuhnya pada Bianca.
"Kamu marah sama aku?" Tambahnya lagi saat tidak mendapat respon apapun dari Bianca.
"Nggak, tuh!" Ketus Bianca. Alex memalingkan wajah, lalu angkat bahu tak peduli lagi.
"Oh, yaudah." Jawab Alex tanpa menoleh lagi, membuat kekesalan Bianca semakin menjadi-jadi.
"Dasar cowok nggak PEKA!" Teriak Bianca kesal, lalu memukul bahu Alex sekeras mungkin. Kini, mereka bertiga berada dihalaman gedung fakultas sastra.
Lisa mendadak terpaku, kenapa dirinya bisa sampai disini? Gadis itu menoleh kebelakang, melihat Bianca yang tengah memukuli lengan Alex, dan pemuda itu berdiam pasrah.
"Hei! Kenapa kita bisa sampai disini?" Tanya Lisa bingung, mengundang tatapan tajam dari Bianca dan Alex.
Lisa terkekeh lebar sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Bianca dan Alex saling pandang, seperti memiliki pemikiran yang sama kedua nya mengangguk sambil tersenyum jahat.
"Oh my gosh! Lisa is stupid!" Teriak Bianca dan Alex bersamaan, mengundang tatapan heran, dan senyum samar dari beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka.
Lisa menunduk menahan malu, gadis itu langsung berlari meninggalkan Bianca dan Alex dibelakang. Sampai digedung dekanat, Lisa baru menyadari dirinya sudah berjalan sejauh ini. Dan lagi, tempat ini... Ini adalah gedung fakultasnya Chris!
Lisa baru ingat, Chris adalah dosen di fakultas sastra Inggris. Mendadak rasa penasaran muncul dihatinya, sudah beberapa bulan kenal dengan Chris namun, sekalipun mereka tidak pernah bertemu. Dan sampai sekarang, Lisa tidak tahu seperti apa rupa-nya Chris. Yang ada dalam bayangannya masih tetap sama, Chris adalah seorang pemuda dengan tubuh pendek dan gemuk, pipi chubby, dan rambut yang botak dibagian depan. Ditambah dengan kacamata bulat dan besar membingkai matanya.
Astaga, nggak mungkin! Dia pasti tampan, pasti?! Lisa berargumen dengan pemikirannya sendiri. Berharap jika Chris sama sekali tidak mirip seperti sosok yang selama ini dibayangkannya.
🌺
🌺
🌺
Happy weekend guys, besok aku mau jalan-jalan ke pantai. Jadi up nya tunda hari senin😆
Like kalian jangan tinggal🤧
Komen juga, kalau bisa panjangin sampai 1 part😆😆
Vote WAJIB😆😆 (Aku malak vote!) 🤧
cemunguutt wkwk
biar skalipun clara ngancam bunuh diri setauku candra cuek saja karena dia benci sama clara apalgi mau tunangan ma lisa pujaan hatinya
ga seru cerita ny karakter pemainnya diubah2
sunting saja deh.