Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYARAN
Tiga minggu kemudian, setelah lembur setiap malam dan mengesampingkan orderan lain, Renata berhasil membuat kebaya dan jas sesuai keinginan Bu Dian.
"Makasih ya, Ren. Kebaya dan jas selesai satu minggu sebelum hari H. Kamu ternyata bisa diandalkan," puji Bu Dian mengamati kebaya dan jas yang hampir setara dengan kualitas butik.
"Iya, Bu."
Rasanya lelah sekali setelah tiga minggu lembur sampai terkadang jam 1 pagi demi detail kebaya dan jas yang rumit. Namun, demi Bu Dian dia berusaha juga. Ternyata usahanya membuahkan hasil.
Bu Dian mengambil dompetnya lalu mengambil beberapa lembar uang merah dan menyerahkannya pada Renata. Wanita muda itu menerimanya dengan terbelalak saat berada di mini market. Kembali dia hitung ulang lembaran uang itu.
"Bu, ini nggak salah satu juta lima ratus ribu??" tanya Renata mengucek matanya lalu melebarkan lembaran-lembaran merah itu di depan Bu Dian.
"Lho, lha berapa to sebenarnya? Itu sudah standar harga butik biasa saya langganan, kok!" beber Bu Dian.
"Bu—"
"Sudah, itu diterima saja. Coba kamu sekali-sekali jalan-jalan ke butik, lihat harga yang tertera di baju yang mereka jual. Kalau modelnya rumit malah lebih mahal lagi. Jasnya jahitannya juga rapi."
Bu Dian mendorong tangan Renata yang hendak mengembalikan uang itu kepada Bu Dian. Dia rasa uang sebesar itu pantas untuk pemula seperti Renata. Sebagai pemula, dia sudah bisa membuat kebaya dengan rapi dan enak dipakai.
"Duh, makasih, Bu."
Dilipatnya lima belas lembar uang merah itu lalu dimasukkannya ke dalam tas dengan senang.
"Lain kali aku bisa pesan dress juga ya?" ujar Bu Dian.
"I-iya, Bu."
Bu Dian keluar dari mini market membawa kantong plastik itu, meninggalkan Renata yang bersorak gembira mendapatkan uang yang cukup banyak.
"Sisil, Herman! Siang ini aku traktir makan, yuk!" ajak Renata.
"Tumben Mbak Rena ajak makan? Ulang tahun ya?" tanya Sisil yang selesai menaruh barang di gudang.
"Ih, kapan aku ngerayain ulang tahun?" tukas Renata. "Ini karena tadi aku diberi uang sama Bu Dian. Beliau kan kemarin pesan kebaya sama jas buat Mas Rendy."
"Waaah, ya mau, dong!" seru Herman dengan gaya kemayu.
"Siapa yang nggak mau traktiran?" imbuh Sisil.
"Yuk, pesen aja nih! Aku pesenin sekalian ya? Nurut aja yang penting pedes!" Renata menyodorkan ponselnya kepada Sisil untuk memesan makanan dengan online.
Herman dan Sisil mulai ribut memilih makanan yang akan mereka pesan, sementara Renata tersenyum-senyum menghitung labanya selama dua bulan ini. Tiga kebaya sebelum ini enam ratus ribu dan hari ini satu juta lima ratus ribu. Awal yang baik untuk seorang pemula. Renata ingat waktu sekolah dulu, kebaya yang dia buat selama satu setengah bulan dan dipajang di bazaar sekolah dibeli oleh orang seharga empat ratus ribu rupiah saja sudah senang minta ampun. Dia memakai uang itu untuk membelikan anak-anak panti asuhan sekedar makanan dan dimakan bersama. Sama dengan yang dia lakukan saat ini. Hanya saja, cuma Sisil dan Herman. Ah, Renata jadi rindu akan panti asuhan tempat tinggalnya dulu.
Seorang wanita membawa minuman dingin membuyarkan angan Renata.
"Eh, Kak Rena!"
Wanita di depannya pucat seketika melihat Renata. Dia pernah mendengar bahwa istri pertama suaminya itu bekerja di sebuah mini market tapi tak menyangka akan mendatangi mini market tempat di mana Renata bekerja.
"Melia?" Meski kesal, tapi Renata berusaha menyapa juga.
"Sama siapa kamu?" tanya Renata melongok ke pintu kaca. Tak ada siapapun selain sebuah mobil yang cukup bagus parkir di pinggir jalan.
"S-Sama temen."
"Oh, temen yang jualan online juga?" tanya Renata sambil scan kode barcode menggunakan price checker di mesin kasir.
"Iya, Kak."
Renata menangkap gelagat gelisah dari wajah Melia. Seringkali dia melihat ke jendela kaca, melihat dengan cemas pada mobil yang parkir.
"Empat belas ribu rupiah," ucap Renata usai melihat jumlah harga yang tertera di layar komputer.
"Ini, Kak."
Melia menyerahkan selembar uang biru ke tangan Renata lalu dengan sigap Renata memberikan sisanya.
"Makasih, Kak. Aku pergi dulu," pamit Melia terburu-buru memasuki mobil yang Renata tebak itu harganya ratusan juta rupiah.
Renata tak perduli dengan siapa wanita itu pergi. Jika itu adiknya, maka akan dia tanyai dengan rinci siapa yang ada di dalam mobil, tapi itu adalah istri kedua suaminya. Jadi dia lebih memilih cuek.
"Siapa itu, Mbak?" tanya Sisil setelah selesai memesan makanan online dan menyerahkan ponsel Renata kembali.
"Itu ... istri kedua Mas Haris," sahut Renata santai, mengambil ponselnya.
"Hah??? Kok—"
"Apa? Seksi? Iya, pinter kan Mas Haris pilihkan madu?" tukas Renata kesal melihat Sisil dan Herman tak percaya bahwa itu istri kedua Haris karena tampang wanita itu seperti artis.
"Iya sih seksi, tapi wajahnya menurutku biasa aja sih, Mbak. Cuma terawat gitu. Coba Mbak Renata mau merawat wajah ke salon kecantikan. Wuah pasti jauh lebih cantik dari wanita itu tadi. Dia mah cuma menang di body, Mbak!" ujar Sisil menilai.
"Mosok sih?" tanya Renata yang sudah tak ingin mengamati lekat wajah madunya karena sebenarnya bertemu dengan Melia saja rasanya sakit sekali dalam hatinya.
"Iyo, Mbak. Ah, ngeyel. Mbak coba ya ke salon langgananku. Murah kok Mbak, tapinada doktere jadi aman. Facial sama beli krim gitu," celoteh Sisil.
"Nih tempatnya. Besok kalo libur, Mbak Rena ke sana aja. Tuh muka udah kusem banget. Sekali-kali manjain muka, Mbak! Buat apa mikirin suami yang nggak mikirin perasaan Mbak Rena, kan?" imbuh Sisil lagi.
Renata menautkan kedua alisnya. Mencoba memikirkan apa yang dikatakan oleh Sisil. Sampai makanan yang mereka pesan datang, Renata masih ragu dan sayang uangnya untuk merawat dan memanjakan tubuhnya.
***
Malam itu Haris pulang ke rumah kontrakan. Jatahnya tidur di kontrakan.
"Ren, aku bawa makan ini. Tadi dibawakan kendurian sama temen. Angetin sana!" ujar Haris.
"Angetin aja sendiri. Aku capek banget. Tiga minggu nggak tidur cukup karena pesanan jahitan. Aku mau tidur awal!" sahut Renata langsung berbaring di atas tempat tidur di kamarnya.
Haris menggerutu. Dia sangat jengkel karena Renata sangat mudah membangkang perintahnya setelah pernikahannya. Dia menjadi istri kurang ajar menurut Haris.
"Huh, kerja sampe malam nggak ada peningkatan, buat apa!" omel Haris yang terdengar oleh Renata.
"Hih, awas kamu, Mas!" desis Renata.
Dia membiarkan pria di dapur sedang menghangatkan sayur dengan suara yang disengaja berisik mengganggu pendengaran Renata.
"Berisik banget sih!!" gerutu Renata. Dia lalu bangkit menutup pintu dan menguncinya hingga suara berisik yang ditimbulkan oleh Haris tak terdengar jelas lagi.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano