Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Menerima Keadaan.
Matahari pagi memasuki jendela kamar inap Gladis, gadis cantik itu seperti biasa duduk bersandar di tempat tidurnya sambil di temani Ben sarapan pagi.
"Kamu mau ayamnya!" tawar Ben ketika menyuapi Gladis sarapan pagi dengan bubur.
"Tidak mau aku tidak suka," kata Gladis singkat.
"Coba deh enak nih," kata Ben sambil menyuapi Gladis
"Selamat pagi!" sapa seorang suster menghampiri Gladis dan Ben.
"Pagi sus," balas Ben menoleh ke suster tersebut.
"Bagaimana keadaannya nona Gladis!" sapa suster itu ramah.
"Lebih baik sus," jawab Gladis ramah.
"Sudah terlihat ko anda lebih segaran sekarang, oh iya kata dokter Juna anda boleh pulang hari ini."
Ben dan Gladis pun saling menatap kaget, mereka bahagia mendengar kabar berita itu.
"Serius dok adik Gladis bisa pulang hari ini!" kata Ben tidak percaya menatap suster itu.
"Iya pa, nanti tunggu dokter Juna dulu ya."
"Baik sus terimakasih," balas Ben antusias.
"Oh iya ini obatnya jangan lupa di minum, aku permisi dulu."
"Terimakasih sus," kata Gladis singkat.
Gladis senang bukan main hari ini ia bisa pulang kerumahnya.
"David bagaimana keadaan Gladis!" tanya NY Teresa ketika sarapan pagi.
David pun terdiam mendengar pertanyaan mamanya ia tidak tau harus menjawab apa, karena gladis tidak mau bertemu dengannya.
"Baik mah," jawab David singkat sambil melanjutkan sarapannya.
"Kapan dia pulang!"
"David belum tau mah," jawab David dengan nada malas.
"Mah bagaimana jika kita jenguk saja kak Gladis," usul Devi memotong pembicaraan David dan mamanya.
"Boleh juga tuh ide bagus," sahut NY Teresa antusias.
"Tapi sesudah Devi pulang kuliah ya mah."
"Iya sayang."
"Kak David mau ikut," ajak Devi.
David yang tadinya fokus makan menjadi kaget dibuatnya, ia bingung harus bagaimana.
"Hah...." kata David tersadar akan lamunannya.
"Ih kak David bagaimana sih diajak ngobrol juga malah bengong, kak David mau ikut tidak menemui kak Gladis."
"Em tidak aku tidak ikut mau ada meeting," kata NY Teresa dan Devi pun hanya mengangguk.
DI KAMAR INAP GLADIS
Gladis sudah cantik sekali dengan dress birunya, ia sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
"Wah ada yang sudah tidak sabar untuk cepat pulang ya," sindir Juna ketika ia memasuki kamar inap Gladis.
Gladis dan Ben pun tersenyum dengan kedatangan Juna.
"Hai bagaimana keadaanmu!" sapa Juna ramah pada Gladis.
"Baik, terimakasih Juna."
"Terimakasih untuk apa," kata Juna balik tanya.
"Kamu sudah merawat aku, sekali lagi terimakasih ya."
"Sudah menjadi tugasku Dis, aku senang melihat kamu cepat pulih."
"Thanks ya bro sudah menjaga adik kesayangan gw," sambung Ben.
"Ia sama-sama jaga gladis ya jaga kesehatannya, jika bisa jangan sampai stress."
"Iya pasti," kata Ben singkat.
Drettt......dretttt......handphone David bergetar David yang sedang meeting pun tersadar akan getaran di dalam saku jas kerjanya, segera ia mengambil handphone itu terlihat tulisan Mama di layar handphone miliknya.
"Permisi," pamit David kepada seluruh karyawannya yang ada di ruangan itu sambil pergi keluar ruangan.
"Halo mah ada apa!" kata David sambil mengangkat telepon itu.
"David, mama dan Devi di rumah sakit tapi suster bilang jika Gladis sudah pulang."
David yang tadinya terlihat santai kini menjadi kaget dia buatnya.
"Apa! Pulang sejak kapan!" kata David dengan nada kaget.
"Dua jam yang lalu katanya."
"Ya sudah mah, mama dan devi sekarang lebih baik pulang saja biar nanti aku telepon Juna."
"Baiklah sampai bertemu di rumah ya," kata terakhir mamanya menutup telepon.
"Iya ma," balas David memutuskan saluran teleponnya.
*Si**al mengapa Juna tidak memberitahu jika Gladis pulang hari ini*.
Lalu dengan wajah sedikit kesal David mencoba menelepon Juna.
"Halo Vid ada apa!" sapa Juna di ujung telepon sana.
"Kenapa lo tidak memberitahu gw jika Gladis pulang hari ini," semprot David kesal terdengar di ujung telepon sana.
"Sorry bro gw lupa, gw sibuk banget," kata Juna singkat tanpa ada rasa menyesal.
"Alasan lo, kapan dia balik," semprot David dengan nada kesal.
"Ada dua jam yang lalu."
"Dua jam yang lalau dan lo tidak memberitahu gw, memangnya kondisi dia sudah baik!" kata David masih dengan nada meninggi
"Iya kondisi dia sudah baik, jadi gw suruh pulang."
"Pulang dengan siapa dia!" David terus bertanya.
"Sama siapa lagi jika bukan dengan cowok yang kemarin," kata Juna lagi
Duarr.....David kaget bukan main, dan kesal mendengarnya.
"Cari masalah sama gw lo, kenapa lo mengijinkan Gladis pulang bersama laki-laki itu," kata David masih dengan nada emosi.
"Lah terus gw harus bagaimana! Lebih aman pulang dengan dia dari pada pulang ke rumah lo."
"Kampret lo," kata terakhir David kesal sambil mengakhiri pembicaraan dengan Juna.
"Argh..." teriak David kesal sambil menggenggam kencang handphone miliknya.
DI RUMAH KELUARGA DWI HADINATA
"Kamu istirahat ya biar mbok Siti yang menyiapkan bubur dan minum buat kamu," kata Ben setelah mereka sampai di kamar Gladis.
"Iya kak," jawab Gladis sambil duduk di tempat tidur miliknya.
"Kamu jangan khawatir kakak akan menjaga kamu."
"Loh memang kak Ben pulang kapan!" tanya Gladis menatap Ben.
"Setelah bertemu dengan mama dan papa, kakak ingin bicara dengan mereka tentang perjodohan kamu."
"Kak Ben tidak usah khawatir, Gadis mau ko di jodohkan," kata Gladis sambil menatap Ben.
"Tidak bisa Gladis, kakak tidak mau kamu di jodohkan dengan laki-laki sembarangan."
"Tapi kak David itu orang baik."
"Oh ya tapi kakak tidak yakin dia laki-laki yang cocok untuk kamu."
"Kakak belum mengenal David."
"Kakak sudah bertemu dia," jawab Ben singkat sementara gladis terkejut mendengarnya.
"Apa! Kapan kakak bertemu dia!" kata Gladis kaget menatap Ben.
"Kemarin di rumah sakit, kakak tidak yakin dia cocok buat kamu," ucap Ben.
Gladis terdiam terpaku mendengar ucapan Ben, memang benar apa kata Ben jika David bukanlah laki-laki yang baik apa lagi setelah yang di lakukan kepada Gladis, entah bagaimana reaksi Ben jika tau perbuatan David kepada Gladis mungkin kemarin David sudah habis oleh Ben.
"Kamu kenapa melamun, benarkan apa kata kakak," tebak Ben menyadarkan Gladis.
"Bukan kak, bukan seperti itu. David itu lelaki yang baik hanya saja dia sedikit tegas dan serius," kata Gladis membela David.
"Kakak tidak percaya Dis, untuk kali ini izinkan kakak untuk mengetahuinya sendiri tentang dia, kamu setuju kan!" pinta Ben.
Gladis terdiam sejenak memikirkan keinginan Ben ia sungguh tidak bisa menolak keinginan kakaknya.
"Baiklah kak terserah kakak saja, tapi jika kak Ben di sini bagaimana pekerjaan kakak dan kak Diana."
Kali ini Ben terdiam sejenak ketika mendengar nama istrinya Diana.
"Kamu tidak usah khawatir pekerjaan kakak sudah ada yang mengurusnya, masalah kak Diana kamu jangan khawatir."
"Apa kakak bahagia!" kata Gladis balik tanya.
Ben menatap lekat kepada Gladis, ia tau bahwa Gladis mengetahui tentang perasaannya selama ini, pernikahannya, semuanya, Gladis dan Ben hanyalah korban ambisi dari kedua orang tuanya untuk mengembangkan bisnis orang tuanya.
"Aku tidak mau kamu seperti kakak Gladis, kamu masih punya harapan untuk bahagia dengan orang yang kamu cintai kakak harap kamu bisa menolak perjodohan ini belum terlambat Gladis, kakak akan ada si samping kamu membela kamu," jelas Ben lirih menatap Gladis.
Mata Gladis mulai berkaca-kaca mendengarnya, tapi ia tidak mau jika Ben mengetahui isi hatinya.
"Selama 2 tahun kakak harus hidup dengan wanita yang tidak kakak cintai harus tidur bersama, satu atap bersama, bertemu setiap hari tanpa rasa cinta itu sangat menyakitkan Gladis. Hari-hari kakak sangat sepi kadang kakak ingin lari dari ini semua kakak menyesal karena dulu tidak menolak perjodohan itu karena kakak takut hidup di jalanan, sekarang kakak menyesal ternyata hidup kakak sekarang lebih dari seorang pengemis yang meminta-minta untuk di cintai dan di sayangi Gladis," kata Ben degan suara lirih sambil menatap Gladis.
Mendengar cerita Ben air mata Gladis pun tumpah, ia tau perasaan Ben hancur sama seperti dirinya harus melepaskan orang yang di sayangi untuk orang tuanya, Ben pun memeluk Gladis dengan erat begitu pun sebaliknya mata Ben mulai berkaca-kaca.
"Aku minta kepadamu jangan terima perjodohan ini Gladis aku mohon, hiduplah dengan orang yang kamu sayang hiduplah dengan Fadli, dia laki-laki yang cocok untukmu, aku akan tenang jika kamu hidup dengannya janganlah kamu korbankan perasaanmu demi mama dan papa, sudah cukup aku yang menjadi korban" kata Ben sambil terus memeluk Gladis terus menangis.
"Aku tidak bisa kak. Tante Teresa sangat baik kepadaku, aku bisa merasakan sosok seorang ibu darinya. David pun sama hanya saja dia pribadi yang serius dan tegas, aku berani jamin kakak jangan khawatir Gladis bisa menerima David," kata Gladis meyakinkan Ben.
Ben melepaskan pelukan Gladis, ia melihat adik kesayangannya itu menangis, matanya sendu dan bengkak.
"Tapi bagai mana jika dia tidak bisa menerima mu."
Glek...Gladis hanya menelan ludah itu pertanyaan yang mewakili situasinya kali ini bahwa David tidak bisa menerima Gladis, tapi bagaimana pun Ben tidak boleh tau yang sebenarnya. Meskipun Ben tau jika Gladis dan David tidak saling menyukai dan mencintai, tapi Gladis tidak bisa menolak karena David sudah mengambil sesuatu yang berharga miliknya.
"Kak...cinta datang dengan sendirinya aku dan David sudah sepakat untuk mencoba saling mencintai, saling membuka hati, saling mengenal, jadi kakak tidak usah khawatir aku yakin semua akan baik-baik saja."
"Bagaimana hubunganmu dengan Fadli, apa dia sudah mengetahui akan perjodohan ini!"
Lagi-lagi Gladis terdiam mendengarnya sungguh Gladis belum siap jika Fadli tau, tapi ia tidak punya pilihan lain.
"Belum kak aku belum sempat bertemu dengannya."
"Apa kamu akan melakukannya seperti kakak dulu yang telah kakak lakukan pada Indah!" tanya Ben kepada Gladis.
Ya 2 tahun lalau Ben meninggalkan kekasihnya Indah wanita yang ia cintai semasa kuliah dulu, Indah adalah gadis biasa tapi karena dia gadis mandiri Ben sangat menyukainya. Indah yang kuliahnya karena beasiswa ayahnya seorang akunting di bank dan ibunya seorang guru membuat orangtuanya Ben tidak setuju untuk hubungan mereka.
"Jangan membuat kesalahan besar Gladis jangan sampai kesalahan apa yang dulu kakak perbuat terulang lagi kepadamu, pikirkanlah semua masa depanmu."
*M**asa depanku David kak, aku tidak bisa meninggalkan David karena David sudah mengambil semua dariku, aku tidak punya pilihan kak sungguh impian terindahku adalah menikah dan hidup bersama dengan Fadli tetapi aku tidak punya pilihan lagi ka**k*.
Kata Gladis di dalam hati sambil menatap Ben yang ada di depannya.
"Kak aku sudah memikirkan semuanya, kakak jangan khawatir."
"Lalu apa yang akan kamu bilang pada Fadli!" tanya Ben.
"Aku belum tau kak tapi aku akan segera bicara kepadanya."
"Sepertinya kakak tidak bisa memaksa keputusanmu yang sudah bulat, kakak harap kamu tidak akan menyesal dan ini menjadi keputusan terbaikmu. Kakak akan mendukung mu, kakak akan selalu berdoa agar kamu akan selalu bahagia."
"Ia kak terimakasih, aku senang kakak ada di sini aku butuh kakak saat ini," ucap Gladis dengan nada lirih.
"Kakak akan selalu ada buat kamu Dis, karena hanya kamu yang kakak punya, kamu adalah kebahagiaan kakak Dis."
Gladis kembali menangis mendengarnya Ben sangat menyayangi Gladis ia bisa menentang orangtuanya untuk kebahagiaan Gladis.
"Berjanjilah untuk selalu memberitahu kakak apa yang terjadi padamu," ucap Ben lagi.
"Iya kakak Gladis janji, kakak orang yang pertama yang akan aku beritahu."
"Jadi izinkan kakak untuk mengetahui calon suamimu Gladis, kakak ingin tau bagaiman dia apa kamu setuju."
"Iya kak aku setuju," kata Gladis sambil mengangguk.
"Oh iya, bagaimana jika kita liburan," usul Ben mengganti topik pembicaraan.
"Apa liburan!"
"Iya kita liburan beberapa hari untuk menghilangkan stress, dan mencari suasana baru untuk beberapa hari sudah lama juga kita tidak liburan bersama."
Memang benar 3 tahun lalu terakhir kali Gladis dan Ben liburan bersama itu pun hanya sebentar sebelum Ben menikah.
"Lagi pula aku juga ingin liburan sebentar ke Bali, Lombok, Raja ampat mungkin menurut kamu," Ben bertanya kepada Gladis.
"Hem...." Gadis berpikir sejenak.
"Sudah ikut aku sambil menunggu mama dan papa pulang lebih baik kita pergi liburan," ajak Ben memberi saran.
"Ya sudah aku ikut kak Ben" jawab Gladis sambil tersenyum manis.
"Begitu dong."
"Tapi kak, aku baru pulang dari rumah sakit apa boleh aku liburan."
"Kakak tanya Juna dulu ya."
Akhirnya dengan cepat Ben menelepon Juna.
"Boleh tidak apa-apa lebih bagus jika dia di ajak refreshing" kata Juna di ujung telepon ketika Ben meminta izin untuk membawa Gladis liburan.
"Tapi kesehatannya bagaimana."
"Gladis sudah sebuh tapi lo harus jaga stamina dia ya jangan sampai dai kelelahan, tidur teratur dan makan jangan sampai telat," papar Juna lagi.
"Ok siap serahin semua kepada gw," kata terakhir Ben kepada Juna.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham