GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer
Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.
Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.
Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 "Kemanusiaan"
Chapter 19
Tim 05 melesat di antara reruntuhan, mengejar Cataclysm bertipe Lizard dengan kelas Archangles. Pigeon mengangkat lengannya, rudal meluncur dengan dentuman keras, namun hanya menghantam tanah kosong karena makhluk itu bergerak terlalu cepat. Dari kejauhan, visor Sniper mode Sparrow turun menutupi visor utamanya, menyalakan senapannya, rentetan peluru menghujani target, tapi tubuh bersisik itu berkelit lincah, seakan mengejek. Stork melompat tinggi, tombak terhunus siap menusuk, namun sekali lagi Cataclysm itu lolos, gesit seperti belut. Tepat saat makhluk itu bersiap melarikan diri dengan berlari, cahaya kilau Bird of Paradise melesat dari atas, mencengkeram ekornya dengan kekuatan dahsyat, lalu melemparkan tubuh raksasa itu ke udara. Dalam sekejap, cakar tajamnya menembus sisik keras, langsung menghantam Core. Dentuman ledakan energi memecah keheningan, dan tubuh Cataclysm itu hancur seketika misi berakhir.
Di dalam kokpit, wajah Shin pucat pasi, tangannya menggenggam tuas kendali sambil meringis menahan sakit. Keringat dingin menetes di pelipisnya, tubuhnya bergetar halus. “Shin? Kamu tidak apa-apa?” suara Belial terdengar panik, nada khawatirnya jauh berbeda dari biasanya. Shin hanya mengangguk lemah, berusaha menutupi rasa sakit yang menusuk nusuk tubuhnya. Namun sesampainya di Home, tubuh Shin tak lagi bisa menahan beban itu, ia jatuh tersungkur, napasnya memburu, demam tinggi membuat kulitnya panas. Belial, yang biasanya dingin dan arogan, kini tampak berbeda, tatapannya gelisah, tangannya berulang kali menyentuh kening Shin seolah ingin memastikan keadaan. Untuk pertama kalinya, kekhawatiran yang nyata tergambar jelas di wajahnya.
Namun Shin memaksakan diri untuk berdiri, menahan tubuhnya yang gemetar. Senyum tipis ia paksakan di wajah pucatnya, seolah ingin meyakinkan semuanya bahwa tidak ada yang salah. “kau tidak perlu khawatir… aku baik-baik saja,” ucapnya lirih namun tegas. Kata-kata itu justru membuat hati Belial dan Sua semakin gelisah. Mereka bisa melihat jelas bagaimana langkah Shin goyah, bagaimana cahaya di matanya meredup, tetapi keduanya memilih diam, menahan kecemasan dalam hati. Mereka tahu, jika mereka menunjukkan kekhawatiran berlebihan, itu hanya akan membebani Shin lebih jauh dan Shin sendiri, meski rapuh, tetap ingin berdiri sebagai sosok yang kuat di mata mereka.
Misi demi misi mereka jalankan, dan setiap kali kembali, Shin selalu berakhir di kamar mandi dengan muntah darah. Tanduk di dahinya tumbuh semakin cepat, seolah tak bisa lagi disembunyikan. Lei menatapnya dengan mata penuh kegelisahan, namun rasa khawatir itu perlahan berubah menjadi kekesalan yang menyesakkan. Setiap pulang misi, Shin sakit, lalu bangkit lagi, lalu sakit lagi. Lingkaran itu terus berulang hingga Lei merasa tak sanggup lagi hanya menjadi penonton. Suatu malam, ia menyeret Shin untuk berbincang. “Shin… kenapa kau jadi seperti ini? Kau bukan Shin yang aku kenal,” ucap Lei dengan suara bergetar. “aku tidak apa—” kata Shin terputus saat tamparan keras mendarat di pipinya. “jangan bodoh! Aku ini saudaramu!” teriak Lei dengan emosi yang akhirnya pecah, air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Shin terdiam, hatinya terguncang lebih oleh tangisan saudaranya daripada rasa sakit yang mendera tubuhnya. Malam itu, di antara amarah dan air mata, ikatan mereka terasa semakin nyata. Lei, Sua, dan Shin bukan sekadar rekan, mereka adalah saudara yang terikat oleh rasa peduli yang lebih dalam dari darah.
Mata Lei terbelalak ngeri, khawatir, dan tak percaya ketika melihat jelas sepasang tanduk mulai tumbuh di dahi Shin. Tangannya sempat gemetar, namun ia berusaha menahan rasa takutnya. “Shin… apa ini karena Belial..” tanyanya dengan suara tegas, meski nadanya dipenuhi kewaspadaan. Shin hanya tersenyum tipis, seakan ingin menenangkan, “jangan khawatir… aku akan baik-baik saja.” Jawaban itu membuat dada Lei semakin sesak. “kumohon… jaga jarak dengannya… ini demi dirimu sendiri…” ucapnya, nada khawatir bercampur putus asa. Namun Shin menunduk sebentar, lalu dengan lirih yang penuh keyakinan ia menjawab, “aku… mencintainya… cinta… adalah sesuatu yang baru aku pelajari…” Lei terdiam, menatap Shin dengan campuran marah dan takut. “cinta berarti rasa ingin memiliki… berarti mengorbankan sesuatu… apa kau rela mengorbankan kemanusiaanmu itu??” suara Lei pecah, tajam sekaligus bergetar, membuat suasana hening.
Dahulu, saat masih di Birdcage, Shin adalah anak dengan pemikiran kritis yang tak biasa. Sering kali ia duduk di tepi jendela, menatap keluar jendela dengan mata penuh tanya. “kenapa kita dilahirkan? Siapa yang menciptakan kita… dan kenapa dunia memilih kita?” gumam Shin kecil lirih, pertanyaan yang terlalu dalam untuk usianya. Rasa ingin tahunya tak pernah padam, membuatnya berbeda dari anak-anak lain. Namun justru karena pemikirannya yang kritis, mata The Hawk selalu mengawasinya, diam-diam meneliti, mencatat setiap kata dan gerakannya, seakan Shin kecil menyimpan sesuatu yang bisa menjadi ancaman sekaligus harapan.
Dimasa kini, tim 05 menjalankan misi seperti biasa namun untuk sementara Belial dan Shin tidak menggunakan Bird of paradise dan berada di Gear masing masing. Belial terlhat sedih namun ia berusaha mengerti kondisi Shin yang sedang sakit.
Di Highlanders pemimpin petinggi The Hawk Kougen menatap sebuah prastasi Manuskrip. "Lebensskript.. sudah ratusan tahun..." gumamnya. lalu datang salah satu petinggi The Hawk, Sarah. "half Second Catastrophie.. mengakibatkan semua ini terjadi.." ucapnya dengan dingin. "cepat atau lambat.. Second Catastrophie harus disempurnakan.."