Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Aminah melanjutkan pekerjaannya dengan tenang tanpa kebisingan keluarganya dan juga Mokondo menyebalkan seperti Fadil, tidak terasa sudah hampir 6 bulan dia menjauh dari keluarganya, dia mengirim uang seperlunya untuk tanda bakti yang memang ingin dia berikan tanpa menekan dirinya seperti dulu.
Tidak ada lagi yang merampas hasil kerja kerasnya seperti dulu, kini dia bisa menikmati gajinya sepuasnya takay takut kepada siapapun, dia juga sudah memblokir nomor keluarganya begitu juga dengan Fadil.
Halimah kini masih uring-uringan karena pengeluaran semakin membengkak tapi Aminah yang entah tinggal dimana sekarang hanya mengirim uang yang hanya 1/4 gajinya. Dulu dia sangat berjaya karena gaji Aminah full untuknya sedangkan Aminah hanya memang uang lemburan untuk dirinya sendiri kini urusan rumah sepenuhnya bergantung kepada gaji sang kepala rumah tangga dan juga uang kiriman Aminah yang tidak terlalu membantu itu.
"Lisa bantu ibu untuk merapikan rumah, kamu yah sejak tadi hanya duduk bersantai seperti itu". Bentak Halimah dengan keras.
Sejak tadi dia sudah kelelahan karena anaknya ini tidak mau membantu sama sekali dan hanya ongkang-ongkang kaki saja setelah pulang kuliah.
"Aku capek bu, aku baru kuliah, ingin istirahat lah, ibu aja deh, aku kan tidak biasa memegang sapu dan mengurus pekerjaan rumah". Jawabnya dengan tidak peduli
Halimah mengusap wajahnya dengan kasar, inilah yang dia rasakan setelah kepergian Aminah dari rumah, mulai dari uang yang kurang sampai semua pekerjaan rumah harus dia kerjakan sendiri, dulu Aminah selalu membantunya tapi kini dia sudah pergi.
Dia hanya mendengus kasar kemudian ingin pergi dari sana agar pekerjaannya cepat selesai karena pekerjaannya masih banyak didapur sana apalagi suaminya juga akan pulang kerja jadi dia harus pastikan rumah bersih karena suaminya paling tidak suka rumah kotor.
Melihat ibunya akan pergi, Lisa langsung bangkit dari tempat duduknya kemudian menatap ibunya dengan senyum anak kecil untuk meminta sesuatu.
"Aku mau beli skincare dong bu, minta uangnya!!".
Lisa menadahkan tangannya kepada sang ibu setiap kali ingin membeli sesuatu tanpa mau tahu jika ibunya ada uang atau tidak, baginya semua itu adalah kewajiban orangtua untuk membiayai anaknya apalagi sekarang dia sudah kuliah.
"Tidak ada Lisa, ibu sudah tidak punya uang, uangnya hanya untuk makan kita sampai ayah kamu gajian".
Dia membuang muka menghindari tatapan sang anak yang kini menatapnya dengan kesal tapi itu memang kenyataannya, kalau dia mementingkan uang itu untuk Lisa mereka tidak akan makan dan suaminya akan marah padanya karena tidak ada makanan.
"Ibu ini gimana sih, skincare itu sudah habis, aku tidak mau tahu pokoknya aku mau uang untuk membeli, bodoh amat apa yang dikatakan ibu sama ayah".
Lisa memandang ibunya semakin kesal, dia masih mengarahkan tangannya untuk meminta uang.
"Ibu sedang tidak ada uang, lagian kamu saja tidak mau membantu ibu, ngapain ibu mau kamu kasih kamu uang, kita harus hemat".
Dia tetap kekeh pada pendiriannya untuk tidak memberi anaknya uang, mereka harus menghemat pengeluaran karena harga bahan pokok semakin tinggi.
"Tapi bu, aku butuh uang untuk beli skincare untuk menunjang penampilan aku dikampus apalagi disana banyak orang kaya, mungkin aku bisa mendapatkan jodoh orang kaya, kan ibu bisa senang dapat menantu kaya".
Dia terus merengek kepada sang ibu agar diberikan uang karena dia harus tetap tampil cantik dan terawat, di kampus nya itu banyak orang kaya dan dia bermimpi untuk mendapatkan salah satu orang kaya itu, dia malas untuk hidup miskin seperti ini terus.
Halimah melongos kesal dan tidak memperdulikan rengekan dan amarah sang anak, dia sudah tidak ingin kena marah oleh suaminya jadi diam saja tanpa banyak bicara dan pergi dari sana.
"Ibu" Teriak Lisa dengan sangat kesal melihat ibunya pergi tanpa memberikan uang padanya.
"Aits". Ucapnya dengan kesal sambil memukul meja karena emosi.
" Ini semua karena kak Aminah yang pergi dari rumah dan tidak mau memberi kamu uang lagi, awas saja kalau ketemu".
Halimah duduk termenung didepan rumah setelah semua pekerjaannya selesai, dia baru sadar jika selama ini anak sulungnya itu begitu berbakti dan selalu membantunya sesibuk apapun dia sedangkan anaknya yang lain tidak pernah melakukannya.
Perasaan bersalah mulai merayap dalam hatinya mengingat bagaimana sikapnya kepada putri sulungnya selama ini sampai akhirnya anak itu menyerah kepadanya dan pergi meninggalkan rumah dan memblokir nomor mereka
"Kamu dimana Aminah?, sebegitu bencinya kamu pada kami sampai kamu menghilang tanpa jejak seperti itu".
Dia menghela nafasnya dengan kasar, dia baru sadar jika kelaurga mereka cukup bergantung pada Aminah.
"Ada apa bu? ". Tanya sang suami langsung duduk disebelah istrinya itu.
Halimah tersentak dan terkejut mendapati snag suami duduk disampingnya saat dirinya sedang melamun dan memikirkan sang anak sulung
Dia menoleh kearah suaminya itu kemudian menghela nafasnya dengan berat seakan ada beban berat yang menghimpitnya.
"Tidak ada apa-apa yah, ibu hanya kepikiran keberadaan Aminah, sudah 6 bukan dia pergi dari rumah tanpa kita tahu dimana dia sekarang, dia seperti ditelan bumi dan sengaja menghilangkan jejaknya dari kita, sepertinya kita memang sangat keterlaluan padanya sampai dia pergi seperti ini".
Sang suami hanya bisa menghela nafas, dia juga sadar apa yang dikatakan istrinya benar adanya, dia selalu menekankan Aminah untuk membantu orang tua untuk membiayai adik-adiknya sampai Aminah bahkan tidak bisa membeli apapun untuk dirinya sendiri
"Ibu benar, kita sangat keterlaluan padanya selama ini, sampai dia pergi dari rumah dan tidak tahu keberadaannya, entah bagaimana hidupnya sekarang".
Kedua parubayah itu akhirnya menyadari jika selama ini mereka benar pilih kasih, mereka terlalu menuntut anak sulungnya untuk berbakti dan membantu mereka tapi mereka tidak pernah memperhatikan apapun keinginan anak sulung tapi untuk anaknya yang lain mereka begitu memperhatikan adik-adiknya tanpa perduli pada sang kakak.
"Dimana kita bisa mencarinya pak, sejujurnya ibu merasa menjadi ibu yang gagal setelah Aminah pergi, ibu sadar jika ibu keterlaluan karena merampas semua gajinya dan memberikannya pada kedua adiknya padahal dia yang kerja keras".
"Sudahlah bu, biar bagaimanapun kita menyesal, dia tidak akan kembali, nanti kalau hatinya sudah lapang dia pasti akan pulang". Ucapnya dengan tidak yakin.
Lisa yang berada di balik pintu mendengar seksama perkataan kedua orangtuanya itu, amarahnya memuncak dan jengkel setengah mati pada sang kakak karena sejak kepergiannya, dia sangat sulit untuk bisa membeli barang mewah untuknya.
"Lihat saja kak Aminah jika aku bertemu dengan kakak, aku akan buat perhitungan".