Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 18
Sinar bulan menjadi pencahayaan yang bisa diterima Eva ketika bangun, sedikit rasa berat di kepalanya masih sedikit dia rasakan ketika bangun.
Kamarnya cukup remang karena hanya mengandalkan pencahayaan dari sinar bulan, Eva melihat ke jendela yang juga belum di tutup sejak pagi tadi dia buka, sepertinya para pelayan tidak masuk ke kamarnya selama dua tidur.
Eva menoleh, tangan nya tergenggam erat oleh Felix yang terlelap di kursi di samping ranjangnya. wajah yang datar dan sinis kini terlihat damai dalam tidur, entah karena suasana yang terlihat bagus atau Felix memang terlihat begitu menawan ketika tertidur.
Eva melihat ke dalam genggaman tangannya ada sebuah kalung. Dia ingat kalau itu kalung yang selalu di pakai Felix, kenapa ada di genggamannya.
Eva sekilas melihat ke jendela, bulan yang kini bersinar cukup terang dari biasanya.
"kau sudah membaik?", Eva menoleh.
Felix bangun dan duduk dengan tegak, wajahnya masih terlihat khas bangun tidur wibawanya sedikit luntur jika seperti itu, Eva hampir tertawa melihat wajah lucu yang jarang bisa dia lihat itu.
"sudah, jika kau ingin pergi juga tidak apa", Eva berusaha tetap anggun menanggapi Felix.
Bukannya pergi Felix kembali ke posisi nya tadi dan menutup mata, membuat Eva sedikit kaget sekaligus heran.
"lehermu akan kaku jika tidur seperti itu yang mulia", Eva menatap Felix.
pria itu tidak merespon, dia tetap di posisi dan mulai tidur tanpa peduli pendapat Eva sebagai pemilik kamar.
Eva menghela nafas, dia beranjak dari ranjang untuk berganti pakaian. Bau matahari dan keringat yang tidak cocok untuk kamarnya yang harum khas Ilos.
Hanya setengah jam Eva selesai berganti sekaligus berendam, dia masih melihat Felix di samping ranjang dengan posisi yang sama masih terlelap.
Eva menghela nafas, menuju meja rias untuk menyisir rambutnya yang masih kusut dan sedikit merapihkannya.
Baru kali ini dia merasakan rasa sakit itu, jika di ingat lagi pemilik asli tubuhnya itu juga belum pernah mengalami sakit seperti itu, dan beberapa cuplikan memori yang dia lihat itu apa.
"Pergi", Eva menoleh.
Felix sedikit bergerak, tapi tidak bangun dari posisinya, Eva mendekat dan melihat kerutan kening Felix. Keringat dingin muncul di keningnya, suhu kamarnya memang sedikit berbeda tapi apa itu berpengaruh pada tidurnya seorang tiran.
Felix bergumam tidak jelas, kerutan keningnya semakin banyak. Entah mimpi apa yang dia dapat yang pasti bukan mimpi yang menyenangkan.
Eva menghela nafas, hatinya sudah tidak tahan lagi. Dia menggerakkan jari, seketika Felix terangkat dan terbaring lembut di ranjangnya. Eva duduk di ranjang bagian kiri, mengelus kepala Felix dan sedikit bersenandung.
Jujur eva tidak tau apakah hal itu akan membuat Felix bisa tenang tidur atau tidak, karena belum tentu mimpi yang di dapat Felix bukan karma dia membantai keluarga sendiri kan.tapi nyatanya kerutan di kening dan keringat dingin Felix hilang perlahan, membuat Eva sedikit tenang.
Angin malam menyusup dari balik tirai yang belum dia tutup rapat, Eva jatuh tertidur dengan posisi tangan masih ada di kepala Felix, sedetik kemudian mata merah Felix terbuka. Dia merasa aneh, seharusnya dia merasakan punggung yang membungkuk karena dia tidur dengan posisi duduk.
Dia mendongak, melihat Eva yang tertidur di sampingnya dengan posisi bersandar kepala ranjang, tangan mungilnya masih di kepala Felix mengirim perasaan luar biasa bagi felix sendiri.
Dengan perlahan bangun,membenarkan posisi tidur Eva dan tidak lupa menyelimutinya dengan benar. Tangan Felix terulur hendak mengelus pipi Eva tertahan sebentar, dia hanya tersenyum tipis menarik uluran tangannya dan segera keluar dari kamar Eva.
felix melihat velysa di lorong terlihat cemas dengan kondisi Eva, bahkan pelayan itu tidak sadar Felix menghampiri nya.
"besok siapkan sarapan dengan baik untuk putri mahkota", velysa tersentak kaget.
"baik yang mulia", Felix bergegas pergi meninggalkannya.
Velysa menatap punggung Felix, jujur orang yang paling dia takutkan adalah sosok Felix.
Awal dia menjadi pelayan kerajaan tidak banyak orang tau kalau velysa memiliki sebuah anugrah yang langkah.
Velysa bisa merasakan aura sihir dari setiap orang. velysa baru tau setiap orang memiliki energi sihir, tapi lebih cenderung lemah dan hampir hilang. Terlebih dia banyak merasakan di tubuh kaisar dan pangeran Flery yang punya energi sihir yang lemah, jadi tidak bisa di pakai.
Lain dengan Felix, velysa sudah ketakutan melihat energi sihir Felix yang amat gelap dan membunuh.Memang Felix punya berkah aura yang berbeda dengan energi sihirnya, hanya saja energi sihir Felix sangat gelap hingga terasa sangat kosong dan menyesatkan.
Setiap kali, velysa berusaha menghindar dari Felix agar tidak merasakan efek energi sihir yang begitu gelap, tapi sejak Eva hadir energi Felix perlahan seperti di murnikan.
Velysa heran karena dia tidak bisa merasakan energi sihir milik Eva, dia terkesan seperti manusia biasa baginya. Tapi kehadiran Eva cukup berpengaruh untuk energi sihir Felix yang kelam.
Felix melangkah kembali ke istana putra mahkota, dia ingat masih banyak laporan yang harus di cek lagi. Terlebih dia harus menyelesaikan malam ini atau esok dia tidak akan bisa punya waktu untuk Eva.
Felix menoleh melihat sosok di balik bayangan istana putri mahkota, dia tersenyum sinis karena sekelebat melihat sosok yang tidak asing lagi bagi Felix.
"kau masih belum menyerah juga ya", gumam Felix.
Flery mengendap-endap menuju jendela kamar Eva, dia tau kebiasaan Eva yang kadang selalu membuka jendela karena butuh udara asli.
Dia dengar kalau Eva sempat pingsan dibawa oleh Felix ke istana putri mahkota, dia ingat Eva gadis yang kuat tidak mungkin pingsan kalau dia tidak banyak pikiran atau dilayani dengan benar.
"apa pendapat permaisuri jika tau putra mengendap-endap ke istana putri mahkota?", tubuh Flery kaku di tempat.
Felix tersenyum miring di belakang Flery, tingkah Flery murni terlihat olehnya.
"siapa yang mengendap-endap?, aku_ aku hanya jalan-jalan sampai sini", Flery sedikit berkeringat dingin.
Felix ingin tertawa melihat kegugupan Flery, baru kali ini melihat ketenangan seperti rubah dan trik licik ularnya hilang. Bertingkah gugup membuat Felix ingin sekali mengejek adiknya itu.
Flery bergegas menjauh dari Felix, niatnya untuk mengunjungi Eva harus dia tunda. Dia akan kesulitan kalau Felix tau hubungan asli mereka berdua, karena bisa saja Felix mencoba membongkar rahasia nya pada Eva.
Felix memandang punggung Flery yang semakin menjauh, dia teringat momen dulu Flery masih sangat menggemaskan di matanya.
Kalau bukan keinginan permaisuri, hubungan kakak beradik mereka masih baik-baik saja kan.
...****************...