Damon terbangun dari mimpi buruknya.
Ia seperti mendapatkan ilham.
Ibaratnya, Damon bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata dalam mimpinya.
Semua terjadi setelah ia tak sengaja menabrak batu nisan kuno di area Sungai Qinghe.
Apakah benar Damon bisa melihat sesuatu?
Mari ikuti kisah Damon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Menjadi Cenayang Dadakan
Damon terkesiap dingin ketika tandu terbang berputar-putar cepat, tirainya tersibak dan memperlihatkan wajah seseorang di dalamnya.
"Tu-tunggu..." ucapnya bereaksi saat dia melihat wajah seorang anak laki-laki bersandar tak sadarkan diri di dalam tandu.
Damon segera melesat kilat ke arah tandu itu, tanpa ia sadari, Damon menggunakan kekuatan saktinya.
Semua orang tercengang ketika melihat Damon bergerak secepat hitungan detik.
"Woahhh..." seru mereka takjub.
Damon mengerahkan kekuatan prisma miliknya untuk menghentikan laju tandu yang berputar-putar sendirinya.
Sontak saja, tindakannya memancing reaksi dari semua orang yang ada di sekitar tandu, mereka sigap membantu Damon untuk menghentikan laju putaran tandu yang tiba-tiba bergerak misterius.
"DUAK... DUK... DUAK..."
"Ayo, cepat-cepat kita hentikan laju tandu, kalian pegang kuat-kuat tandu agar berhenti berputar !" teriak salah satu orang berpakaian aneh sembari berusaha memegang tandu.
"Kau yang disana, cepat pegangi tandu!" teriak lain-nya.
"Siap...!!!" sahut orang-orang di dekat tandu lalu bergerak cepat menahan laju tandu supaya berhenti bergerak-gerak.
Damon segera meraih tubuh anak laki-laki yang ada di dalam tandu, menariknya keluar dari sana.
"Sreeet..." Damon menjauhkan anak laki-laki itu dari tandu dan menyelamatkannya.
"BLAAAARRR...!!!" Tandu meledak keras hingga hancur berkeping-keping. Semua orang di dekatnya terpental jatuh ke tanah.
Damon berusaha melindungi anak laki-laki yang baru dia selamatkan dari ledakan keras yang berasal dari tandu.
Di sisi lain, Tangki Mazu tampak kebingungan, dia berusaha membantu orang-orang yang bersamanya. Ia bergerak kesana kemari untuk memeriksa orang-orang yang terluka oleh ledakan tandu.
"Kalian baik-baik saja..." tanyanya panik.
"Ya, kami baik-baik saja, Tangki Mazu." sahut sebagian orang yang terbaring di tanah.
"Syukurlah kalian semua selamat..." kata Tangki Mazu merasa lega. "Bagaimana dengan anak itu?"
Tangki Mazu segera berbalik badan, menoleh ke arah sekeliling, mencari-cari keberadaan anak laki-laki yang tadi di dalam tandu.
Pandangan matanya tertuju pada Damon yang bersama dengan anak laki-laki itu.
"Tu-tuan muda... Jung Liang.... !!! " panggil Tangki Mazu segera mendekat. "Syukurlah dia selamat..."
Ia berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Damon dan seorang anak laki-laki, sembari menanyakan keadaan anak itu.
"Ba-bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia baik-baik saja, aku sangat mencemaskannya." kata Tangki Mazu panik.
"Kenapa dengan anak ini? " kata Damon balik bertanya. Ia menatap serius kepada anak laki-laki di delapan nya.
"Dia mengalami musibah sejak dia pulang dari kegiatan bimbingan belajar nya. Jatuh tak sadarkan diri selama berminggu-minggu lamanya." sahut Tangki Mazu.
"Tubuhnya sangat dingin bahkan wajahnya pucat membiru, aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada anak laki-laki ini." kata Damon lalu memeriksa kondisi anak itu.
"Jangan sentuh dia, berikan tuan muda padaku." perintah Tangki Mazu sembari mengulurkan kedua tangannya ke depan.
"Kenapa?" tanya Damon. "Aku ingin membantu anak laki-laki ini, biarkan aku menyelamatkan nya."
"Tapi kau kan hanya karyawan Cafe, tidak berkemampuan apa-apa untuk menyelamatkannya. Bagaimana caramu ingin membantu tuan muda Juang Liang?" tanya Tangki Mazu.
"Kita bawa ke rumah nya..." sahut Damon. "Atau kita bawa dia ke rumah sakit."
"Keluarga tuan muda Juang Liang telah membawanya ke rumah sakit bahkan mereka memanggil dokter-dokter ahli ke rumah tuan muda namun tidak ada hasilnya." kata Tangki Mazu.
"Memangnya dia sakit apa sampai dokter pun tidak sanggup menyembuhkan nya ?" tanya Damon dengan alis terangkat naik.
"Begini ceritanya... " sahut Tangki Mazu sembari mendekati Damon lalu ia membisikkan sesuatu di telinga Damon.
Damon serius mendengarkan penjelasan Tangki Mazu.
"Kerasukan?" tanya Damon.
Tangki Mazu menganggukkan kepalanya, dia menatap serius pada Damon.
"Ya, benar." sahut Tangki Mazu.
"Kerasukan apa?" tanya Damon.
Tangki Mazu menoleh ke kanan dan kiri bergantian, memastikan situasi di sekitar mereka.
"Lebih baik kita bicarakan hal ini di Klenteng Birokrasi Surga." sahut Tangki Mazu berbisik pelan.
"Bukannya kalian dari sana?" tanya Damon.
"Tidak... Kami baru saja dari kediaman tuan muda Juang Liang, dan sekarang ini, kami sedang menuju perjalanan ke Klenteng birokrasi Surga." sahut Tangki Mazu.
"Berapa jaraknya buat kita sampai ke Klenteng Birokrasi Surga?" tanya Damon.
"Kira-kira ada tiga ribuan meter lagi untuk sampai ke Klenteng Birokrasi Surga." sahut Tangki Mazu.
"Bagaimana kalau kita cari tempat lainnya, untuk tiba ke Klenteng Birokrasi Surga butuh waktu lama kesana." kata Damon.
"Tapi... dimana? Kita tidak melihat tempat lain di sekitaran sini..." kata Tangki Mazu.
"Kita mampir saja ke tempat ku." Damon menawarkan apartemennya.
Sejenak Tangki Mazu terdiam, seperti berpikir serius. Lalu dia menoleh kepada orang-orang yang mengiringinya.
"Bagaimana menurut kalian ?" tanya nya.
"Kami ikut Tangki Mazu saja mana baiknya, terpenting kita segera menyelamatkan tuan muda Juang Liang secepatnya. " sahut dua orang berpakaian aneh.
Tangki Mazu kembali berpikir, lama dia terdiam dengan kepala menunduk.
"Mmm... Baiklah, kita ke tempat mu saja, Damon..." kata Tangki Mazu setuju.
"Kalau begitu kita pergi sekarang juga daripada kesorean, kita berangkat sekarang saja." kata Damon.
"Baiklah, kita pergi sekarang." kata Tangki Mazu. Ia segera memerintahkan pada orang-orang disekitarnya untuk membawa anak laki-laki yang tak sadarkan diri itu. "Ayo, angkat tuan muda Juang Liang!"
Damon memimpin di depan rombongan sedangkan Tangki Mazu memulai ritualnya, dia merapalkan doa-doa suci dari kitab kuning tua yang ada di tangannya dan berjalan mengikuti langkah kaki Damon.
Iring-iringan orang berbaju aneh menggotong tubuh anak laki-laki bernama Juang Liang, sambil mengikuti langkah kaki Tangki Mazu yang memimpin doa.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju apartemen dimana Damon tinggal sekarang ini.
Letak apartemen Damon tidak terlalu jauh jaraknya daripada jarak ke Klenteng Birokrasi Surga, meski tempatnya berada di area makam tapi cukup dekat jika ditempuh dari area Qinghe.
Ketika iring-iringan orang berbaju aneh tiba di sekitaran area makam menuju apartemen dimana Damon tinggal sekarang ini, langkah kaki mereka tiba-tiba terhenti.
Suara genderang ditabuh tidak terdengar lagi gemuruh nya bahkan suara teriakan lantang dari orang bertopi kerucut juga tidak kedengaran lagi gemanya.
Orang bertopi kerucut biasa teriak lantang.
"Huat... Ah...!!!"
Damon penasaran, lantas dia menoleh ke arah belakang, pikirannya dipenuhi tanda tanya.
"Kenapa tidak ada suara lagi?" pikir Damon.
Saat Damon memalingkan muka ke belakang, ia melihat rombongan orang-orang berbaju aneh telah menghilang, lenyap tak berjejak sama sekali, mereka meninggalkan Tangki Mazu hanya dengan anak laki-laki yang tak sadarkan diri dan tergeletak di pinggiran sebuah makam kuno.
"Ya, ampun... Apa yang terjadi pada semuanya???" tanya Damon sembari mengerutkan keningnya ketika dia melihat rombongan orang-orang telah pergi.
Damon melirik tajam kepada Tangki Mazu, dilihatnya jari-jari Tangki dari Klenteng Birokrasi Surga itu gemetaran saat memegangi buku kitab kuning tua, dan bibirnya membiru pucat.
"Kenapa denganmu, Tangki?" tanya Damon. "Kamu baik-baik saja?"
Tangki Mazu hanya membisu, tapi kedua bola matanya bergerak naik ke atas dan berubah putih, sedangkan bibirnya bergetar.
"Tangki Mazu... Anda baik-baik saja..." kata Damon dari tempatnya berdiri.
"A-aku... Aku tidak apa-apa, ta-tapi... tapi kedua kakiku sulit aku gerakkan, mungkin aku akan jatuh pingsan setelah ini..." ucap Tangki Mazu dengan tubuh gemetaran akut.
"Jangan takut, kita akan baik-baik saja selama tidak mengusik ketentraman penghuni makam ini... " kata Damon lalu melirik ke arah anak laki-laki yang tergeletak di pinggir makam.
Damon menarik nafas panjang, ia mendongak ke atas sambil menghela nafas pelan.
"Biarkan aku saja yang menggendong Juang Liang, anda tidak usah melakukan apa-apa, lanjutkan saja tugas Tangki Mazu dan kita segera menuju apartemen." kata Damon.
Damon menghampiri Juang Liang lalu menggendong nya di punggung belakang. Dan berjalan ke depan.
Ketika langkah kakinya sudah agak jauh melangkah maju, Damon memutuskan untuk menoleh ke arah belakang. Ia penasaran karena tidak mendengar lagi suara Tangki Mazu merapalkan doa-doa suci. Dan Damon juga tidak menemukan tanda akan hadirnya Tangki Mazu didekatnya.
Damon segera mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling makam, alangkah terkejutnya Damon saat dia melihat tubuh Tangki Mazu tergeletak pingsan yang posisinya agak jauh dari tempat Damon berdiri saat ini.