NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebiasaan baru

"Saya tidak punya waktu, tuan."

"Lalu sekarang?"

"Saya sedang menikmati waktu libur saya."

"Ah, begitu ya."

Raut kecewa yang Nolan perlihatkan tak mengubah keputusan Hana.

Perempuan itu masih sangat jelas mengingat bagaimana kurang ajarnya pria ini padanya. Walaupun dibayar dengan uang, ia masih tak rela tubuhnya digerayangi tanpa seizinnya.

"Kau sepertinya terganggu dengan kehadiranku."

"Saya bersyukur anda menyadarinya Tuan." Nolan begitu tertohok dengan ucapan Hana yang tenang namun menusuk.

"Baiklah, aku senang bisa bertemu denganmu lagi dan akan sering bertemu denganmu. Kita berada di lantai yang sama." Nolan mengerling nakal sebelum beranjak pergi.

Hana menatap pria tersebut masuk ke mobil yang dibukakan oleh seorang bodyguard.

"Aku harap kita tidak bertemu lagi, Tuan Nolan." Gumam Hana sebelum menyesap kopi yang masih mengepulkan asap.

Dering ponsel menyadarkan lamunannya, ia menjawab telepon tersebut.

"Halo, Sa."

"Kau di mana?"

"Cafe di dekat apartemen."

"Aku ke sana, tunggu aku."

"Ya."

Telepon terputus begitu Hana membagikan lokasinya.

Salsa mengetahui bahwa dirinya sudah pindah ke apartemen milik majikannya.

Awalnya Salsa mengomel karena jarak kostnya ke gedung hunian Hana yang baru semakin jauh dan tak bebas ia kunjungi seperti saat Hana tinggal di kost. Mereka harus membuat janji di luar apartemen jika ingin bertemu.

Sosok yang ditunggu Hana menampakkan diri di pintu Cafe, ia terlihat celingukan mencari Hana hingga melihat lambaian tangan yang membuat langkahnya mendekat menghampiri dimana sahabatnya duduk.

"Kau tidak pesan minum?"

"Tidak. Aku hanya sebentar."

"Ada apa?"

"Sebentar lagi aku akan bertemu dengan pelangganku."

"Lalu kenapa kemari? Kau tidak akan terlambat?"

"Tentu tidak. Kami akan bertemu di sini, aku sudah mengirimkan lokasiku padanya."

"Oh, begitu."

"Apa kau betah bekerja di sana?"

"Apa itu penting saat aku butuh uang banyak?"

Salsa terkekeh pelan. Untuk yang sekian kalinya ia menanyakan hal yang sama, tentu dengan jawaban yang sama pula.

"Mungkin aku tak bisa bertemu denganmu beberapa waktu."

"Kenapa?" Hana mengernyitkan kening.

"Aku akan menemani tamuku bepergian dalam waktu yang lama."

"Wow, apa bayarannya sepadan?"

"Ya! Aku tak akan menerima jika itu merugikan diriku."

"Baguslah. Hati-hati di sana, Sa. Jaga kesehatanmu."

"Tentu, kau juga. Aku akan membawakanmu oleh-oleh ketika aku kembali nanti."

"Bawa dirimu pulang dengan selamat tanpa kurang apapun, itu cukup, Sa." Salsa sontak tersenyum manis, ia sangat menyayangi sahabatnya yang baik hati ini.

"Kau juga jaga kesehatanmu, jangan terlalu bekerja keras. Kau harus hidup santai sembari membayar hutangmu. Kalau kau perlu uang aku akan meminjamkan beberapa uangku. Aku sudah punya pegangan sekarang, Na."

"Terima kasih, Sa."

Ponsel milik Salsa berdering, perempuan yang semakin cantik dan terawat itu mengangkatnya dan berbicara beberapa kata dan menutup telepon.

"Oke, aku harus pergi sekarang."

"Ya, hati-hati di jalan, Sa. Hubungi aku jika kau punya waktu luang." Mereka saling berpelukan sebelum berpisah.

"Ya, baik-baiklah di sini."

Hana melepas kepergian Salsa yang berlari kecil menuju sebuah mobil mewah yang berhenti di tepi jalan.

"Kuharap kau memilih jalan yang benar untuk masa depanmu, Sa." Gumam Hana ketika melihat mobil yang dinaiki Salsa melaju meninggalkan area tersebut.

Hana terkejut begitu ia masuk ke apartemen melihat Luca yang mengenakan pakaian santai sedang menonton tv. Ia pikir pria tersebut memiliki jadwal pekerjaan.

"Anda ingin sesuatu, tuan?"

"Tidak ada." Tangannya mengisyaratkan untuk pergi, Hana berlalu masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian. Namun, ketukan pintu membuatnya mengurungkan niatnya dan membuka pintu.

"Ikut aku." Luca berbalik dan melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, Hana mengikuti dari belakang.

Pria tersebut duduk di tepi ranjang sembari menatap Hana yang berdiri di depannya.

"Ada apa, Tuan?"

"Aku akan pergi beberapa hari."

"Ya, Tuan."

"Kau akan sendiri di sini."

"Saya mengerti."

"Jika ada orang yang datang, jangan buka pintunya."

"Baik, tuan."

"Ruby akan datang untuk mengawasimu."

"Baik, tuan."

Luca tak mengatakan apapun untuk waktu yang lama, Hana melirik ke arah majikannya yang sangat berbeda dari penampilan dibanding saat berada di kantor. Seperti orang yang berbeda.

"Kau harus berhati-hati ketika keluar. Aku tak ingin ada yang mengetahui hunianku ini."

"Baik, tuan."

"Dan, jauhi orang itu."

Hana terdiam sesaat, ia mencerna ucapan Luca siapa yang dimaksud dengan "orang itu?"

"Ya, tuan?"

"Orang yang kau temui di cafe tadi."

Hana tertegun mendengarnya, apa selama ini Luca mengawasi gerak-geriknya?

"Itu sahabat saya, tuan."

"Pria brengsek itu, jauhi dia." Hana mengerti orang yang dimaksud Luca adalah Nolan.

"Baik, tuan."

"Aku tahu kau sudah menikmati malam yang panas dengannya." Luca melipat kedua tangannya di dada, manik tajamnya menatap Hana yang berdiri di depannya.

Apanya yang malam panas?

"Kau tak perlu menggodanya lagi."

"Saya tidak seperti itu."

"Kau cukup mengakui itu."

"Benar atau tidak, itu tak ada hubungannya dengan Tuan."

"Tentu ada. Aku tak ingin orang yang bekerja padaku memiliki kebiasaan yang menjijikan."

Hana enggan membalas ucapan Luca, ia sedang malas berdebat.

"Kau tak membela diri?"

"Itu hanya membuat kita berdebat, tuan."

"Kau menganggapku keras kepala?"

Kau sadar akan hal itu wahai pria Latin!

"Saya tak perlu mengakui itu benar atau salah. Di mata anda saya seperti yang anda pikirkan."

Luca berdecak pelan. Ia suka ketika Hana mendebat dirinya dibanding menuruti semua ucapannya seolah-olah ia mengakui tuduhannya adalah benar.

"Kemari." Hana melangkah maju menghampiri Luca.

Pria itu mengenggam jemari Hana yang membuat gadis itu terkejut, namun usapan lembut di punggung tangannya membuatnya nyaman.

"Kau jaga diri baik-baik di sini. Jika ada apa-apa hubungi Ruby. Dia ada di unit sebelah."

"Baik, Tuan."

Hana sedikit bingung dengan sikap Luca yang seperti meninggalkan seorang anak kecil di rumah.

Dirinya sudah membayangkan pasti akan sangat sepi sendirian di ruangan yang besar ini.

"Kau tak ingin mengatakan sesuatu untukku?"

Hana menatap Luca bingung.

"Hati-hati di jalan, Tuan. Jaga kesehatan anda."

Senyum terbit di bibir Luca, sangat jarang Hana melihat senyuman itu menghiasi wajah majikannya.

"Pergilah, buatkan aku makanan. Aku tunggu di ruang tv."

"Baik, tuan." Hana segera berbalik begitu jemarinya dilepaskan oleh Luca. Ia menuruni tangga menuju dapur untuk membuat makanan.

Luca segera mandi dan berganti pakaian lalu turun ke bawah. Di meja yang terdapat di ruang tv Hana sedang menyusun beberapa piring berisi makanan dan segelas jus.

"Makanannya sudah siap, tuan."

Luca hanya mengangguk, tatapannya terpaku pada ponsel di tangannya. Hana segera berbalik menuju dapur untuk membereskan bekas ia memasak.

"Hana." Panggilan Luca membuatnya bergegas menghampiri majikannya.

"Ya, tuan?"

"Kau siapkan keperluanku di koper untuk lima hari."

"Baik, tuan."

Hana menaiki tangga menuju kamar Luca, ia mengeluarkan koper besar di rak bawah yang ada di walk in closet dan mengambil beberapa potong pakaian beserta aksesories lalu ia lipat dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper.

Tak butuh waktu lama, ia selesai menyiapkan keperluan tuannya.

"Apa sudah semua?"

Luca datang menghampiri Hana yang sedang mengunci koper.

"Sudah semua, tuan. Sesuai dengan yang anda minta."

"Bagus. Kau tidak lupa memasukkan kondom ke dalam koper, kan?" Hana melupakan hal itu, ia kembali membuka koper dan mengambil beberapa kotak kondom lalu menyimpannya di dalam koper.

Luca tersenyum miring melihat hal tersebut.

"Kau sudah semakin terbiasa dengan itu."

"Ya, tuan?" Hana tak mengerti dengan ucapan Luca.

Pria itu hanya mengangkat bahu, ia keluar dari walk in closet dan duduk di sofa menyalakan laptop yang ia pangku.

Hana keluar sembari menarik koper dan meletakkannya di dekat pintu kamar.

"Ada lagi, tuan?"

"Duduk di situ." Luca menunjuk sofa single yang ada di depannya, Hana menurut diam.

Hana mulai terbiasa dengan kebiasaan Luca yang selalu minta ditemani olehnya ketika melakukan pekerjaan di kantor ataupun di rumah.

Pukul 10 malam Luca akhirnya selesai dengan pekerjaannya, ia melirik Hana yang tertidur di sofa.

Posisi tubuhnya yang sedikit meringkuk membuat Luca menggendong dan memindahkannya ke atas ranjang lalu menyelimuti hingga batas dada.

Tubuh kecil itu menggeliat pelan seperti mencari posisi yang nyaman.

Luca diam-diam mengecup pipi Hana usai menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah cantiknya.

Saat tidur, Hana terlihat seperti bocah kecil yang tenang. Ia sungguh miris ketika mencari tahu tentang perempuan ini, sedari kecil tak pernah merasakan hangatnya kasih sayang dari seorang ayah.

Beruntung ibunya masih menyayanginya hingga ajal menjemput.

Dekapan hangat membuat Hana semakin nyenyak meraih mimpi hingga pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!