"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-
Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.
Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.
Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.
Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.
Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.
Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Rude
...TOXICSERIES...
"Kai"
Kai yang baru saja selesai mandi tiba tiba dikejutkan dengan kehadiran ayahnya. Masih dengan pakaian kerja lengkap, Pria paruh baya itu menutup pintu kamar Kai.
"Papi baru balik kerja?" Jerome menggeleng, pria itu mengeksplor tatapannya pada kamar Kai yang dipenuhi ornamen monokrom dan beberapa poster band kesukaan Kai.
"Kai" panggil Jerome sekali lagi.
"Ada apa Pi?" Jerome berdiri tepat di depan jendela balkon kamar Kai yang langsung mengarah ke langit. Karena memang kamarnya berada di lantai 2 rumah ini.
"Besok Papi sama Jena harus pergi ngurusin perusahan cabang. Kamu sama Jeff baik baik disini ya"
Kening Kai langsung mengenyit. Lelaki 18 tahun itu mendekat kearah sang ayah.
"Berapa lama Pi?"
"Sekitar satu bulan" Kai menganggukkan kepalanya.
"Papi juga udah bilang sama Jeff?" Pria itu menggelengkan kepalanya lalu seketika bangkit dari kursi.
"Anak itu jam segini belum pulang. Lagipula papi harus balik ke kantor lagi buat ngurusin berkas berkas. Biar dia jadi urusan Jena"Ujarnya. Kai sebenarnya tak peduli, namun ia harus terlihat baik agar ayahnya tak mengusir ia dirumah ini.
"Jaga rumah dan jaga saudaramu"Jerome mengusap surai putranya sebelum beranjak pergi. Sedangkan Kai tak mengeluarkan kata saat pintu terutup rapat. Dan Jerome benar benar keluar dari sana.
Entah harus senang atau tidak. Karena ia merasa jika papinya meninggalkan mereka di rumah ini tanpa pengawasan.
Akan menjadi ide buruk.
...TOXICSERIES...
Sherra menghela nasnya pelan sambil memasukkan baju ganti untuk di bawa ke rumah sakit sore ini. Menurut suster yang turut menangani Mama, oprasi akan berakhir di jam 5 sore. Dan sekarang baru jam 4.
Masih ada 1 jam untuk Sherra bersiap siap untuk mandi dan berganti baju. Ngomong ngomong soal baju, hari ini kebetulan sekali Sherra hanya menggunakan dress dusty blue dengan bahan satin. Tanpa lengan dan kahus kembali dibalut cardigan hitam agar dapat menutupi auratnya.
Tok
Tok
Tok
Netra Sherra yang semula terfokus pada kaca langsung mengarah pada pintu rumahnya yang diketuk dari luar. Tadi ia sudah bilang pada Kai untuk tidak menjemputnya karena Sherra akan menaiki bus terakhir.
Tapi kenapa Kai kemari? Apakah dia lupa?
"Iya Kai bentar!" Pekik Sherra menggelung seluruh rambutnya keatas kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.
"Kai kan aku udah bilang, gausah jem-"
Tanpa disangka. Yang ada di depannya kini bukanlah Kai, melainkan Jeffranz Altair yang masih memakai baju seragamnya.
"Jeff-emph" Jeff langsung membekap mulut Sherra kemudian menatap kesekelilingnya sebentar sebelum akhirnya mendorong gadis itu masuk kedalam rumah.
"Jeff kamu mau ngapain? Kenapa di kunci?!!" Pekik Sherra saat lelaki itu mengunci pintu utamanya. Jeff langsung membalikkan tubuhnya seraya menatap Sherra penuh intimidasi.
"Kenapa telfon gue gak diangkat?" Kedua alis Sherra menyatu. Gadis itu menpuk pundaknya teringay sesuatu.
"Maaf, hape aku lowbat. Itu baru di cas"tunjuknya pada ponselnya yang di Charger di kamar. Jeff mendengus kemudian membuka jaket Pasbara yang membalut tubuhnya. Melihat itu, Sherra menelan ludahnya susah payah.
"K-kamu, masih 'pengen' ya?" Cicit gadis itu. Jeff menaikkan sebelah alisnya, sedikit membungkukkan tubuhnya menatap wajah gadis itu dari dekat.
"Pengen apa,hm?" Jeff meraih pinggang tanpa melepas tatapannya pada gadis itu.
"I-itu... Anu..."
"Itu apa? Yang jelas dong" Wajah Sherra memerah bak kepiting rebus membuat Jeff ingin tertawa dibuatnya. Namun lelaki itu menetralkan ekspresinya dengan berdehem sambil menempelkan tubuh mereka.
"J-Jef.... "
"Kenapa? Lo gak nyaman? Bukannya kita udah pernah lebih deket dari ini?" Tutur Jeff melihat respon Sherra yang sedikit gemetar saat kulit mereka bersentuhan.
"Jeff... Boleh aku minta keringanan?" Lelaki itu menatap Sherra keheranan.
"Seenggaknya kasih aku waktu sampai pengobatan mama selesai. Setelah itu kamu boleh melakukkannya kapanpun kamu mau" Jeff masih terdiam memandang wajah melas Sherra. Seperkian detik kemudian lelaki itu tertawa.
"Sherra.. Sherra... " Jeff menggelengkan kepalanya. "Hanya gue yang boleh memberikkan keringanan pada kesepakatan kita"
Netra hazel Sherra membola sedangkan Jeff menyeringai kearahnya.
"Jadi kamu-"
"Permintaan lo gue tolak!" Tandas Jeff tega. "Lo harus melayani gue tanpa terkecuali, siap atau tidak siap. Kapan pun dan dimana pun!" Tekan Jeff mencengkram dagu Sherra kuat.
"Ngerti, manis?"
...TOXICSERIES...
Seorang wanita berusia 45 tahun tengah berjalan dengan tubuh indahnya membelah koridor rumah sakit menuju sebuah ruangan. Wanita dengan kacamata hitam itu terus belenggak lenggok menuju seseorang. Yang lebih tepatnya adalah salah satu rekan dokternya disana.
Hingga tepat setelah 5 menit meleaati banyak orang ia sampai di salah satu ruangan yang langsung di sambut oleh seorang dokter petempuan.
"Selamat sore bu"Wanita itu membuka kacamata hitamnya.
"Boleh saya masuk?" Somter tersebut langsung mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk di sofa kecil sedangkan ia menutup pintunya sambil mengawasi sekitarnya. Takut ada yang mengetahui pertemuan mereka.
"Langsung ke intinya saja" Wanita yang masih terlihat awet muda itu membuka obrolan saat sang dokter baru saja duduk di hadapannya.
Wanita itu mengeluarkan bergepok gepok uang kemudian meletakkannya dengan kasar di meja yang menjadi batas keduanya. Sang dokter hanya bisa menatap banyaknya uang di hadapannya dengan netra berbinar bunar.
"Apa yang harus saya lakukkan?" Wanita itu menyeringai.
"Cukup buat dia mati"
...TOXICSERIES...
Sherra merapihkan dressnya yang tersingkap sambil melirik jam dinding yang tergantung. Sudah pukul setengah 7 malam, gadis itu langsung mengecek ponselnya yang ternyata sama sekali belum mendapat kabar dari rumah sakit perihal oprasi sang Mama.
Apakah ada kendala??
Dengan penampilan berantakkan ia mencoba untuk bangkit berdiri.
"Akh.... "Sherra meringis saat tubuhnya terasa remuk dan sulit digerakkan. Gadis itu rasa rasanya ingin menangis, setelah di gempur habis habisan seharian oleh orang yang sama. Ia menolehkan kepalanya pada Jeff yang masih tertidur pulas.
Ia menyentuh kaki Jeff pelan hingga membuat lelaki itu sedikit bergerak dari tidurnya lalu perlahan mulai membuka matanya.
"Anter aku kerumah sakit"pintanya. Tanpa perdebatan panjang Jeff langsung bangkit dari kasur dan mulai berjalan ke kamar mandi.
Jeff mengusap wajahnya dengan handuk yang tergantung di kamar mandi Sherra. Lelaki itu juga kembaki memasang jaketnya sambil berkaca di depan cermin yang memantulkan wajahnya dan Sherra yang masih terduduk di ujung ranjang tanpa pergerakan.
BRAK.
"Buruan!" Cetus Jeff. Sherra mengangkat wajahnya sambil menunjukkan sorot melasnya.
"Sebentar" Sherra berusaha berdiri dengan posisi kedua kakinya yang bergetar hebat dan bagian inti tubuhnya yang terasa perih. Jeff yang melihat hal itu langsung membantu Sherra dengan menyentuh pergelangan tangan gadis itu, kemudian menahan pinggangnnya.
"Sakit banget?" Sherra menoleh.
"Iya" balasnya. Jeff menghela nafas pelan sambil memapah tubuh Sherra keluar dari kamar. Dirasa terlalu lambat dan membuang buang waktu, tepat saat mereka sampai di ruang tamu. Jeff langsung menggendong tubuh Sherra membuat sang empu memekik terkejut.
"Jeff kamu ngapain???"Pekik Sherra. Jeff tak menjawab dan malah membawa gadis itu untuk memasuki mobil sedangkan ia kembali menutup pintu rumah Sherra.
"Jeff... Barang barang aku masih ada disan-"
"Gausah di bawa. Ribet!"Jawab Jeff sambil memakaikkan seltbelt pada Sherra.
"Tapi baju baju ak-"
"Blackcard gue masih ada kan?"Sherra terdiam.
"Pake, buat beli baju! Ngapain gue kasih lo duit kalau gak di pake?" Cetus lelaki itu menyalakan mesin mobilnya. Sherra tertunduk sendu.
Posisinya saat ini sangatlah mirip seorang perempuan murahan yang bisa dibeli dengan uang. Karena memang demikian. Sherra tak punya apapun kecuali tubuhnya untuk mendapat sebuah kehidupan yang layak.
"Manfaatin posisi lo. Kapan lagi lo bisa dapet duit cuman modal body doang?"
...TOXICSERIES...
"Dateng juga lo!"
Mona mematap Jojo sinis. Entahlah, ia terlanjir tak suka dengan aura rekan se gengnya itu.
"Si Zara mana?" Tanyanya menanyakan sosok sahabatnya.
Para anggota Pasbara sedang mengadakan party di club baru milik keluarga Jojo. Lelaki gondrong itu memang berasal dari keluarga sultan. Ayahnya adalah pemilik banyak club mewah dan ibunya adalah seorang desainer sekaligus sosialita. Itulah mengapa Jojo selalu memyumbamg fasilitas seperti Club, tempat karoke atau lainnya. Karena memang lelaki itu memiliki banyak bisnis keluarga.
Dan efeknya para anggota juga dapat merasakan kepuasan duniawi tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.
"Tuh di dalem. Sama Caca" Mona langsung menatap Jojo ragu.
"Caca? Emangnya si Jeff ada di dalem?" Setaunya Jeff skip datang ke acara ini karena suatu hal. Apakah lelaki itu membatalkannya?
"Enggak, dia cuman ikut gabung doang" Mona merasa ada yang tak beres.
Bagaimana tidak, Pasbara selalu mengutamakan Privasi, yang datang ke party sudah pasti anggota Pasbara asli. Bahkan tak boleh membawa orang lain sekalipun pasangan sendiri.
Bahkan Shakka yang notabenenaya adalah ketua tak pernah berani membawa kekasihnya kemari. Tapi kenapa seorang bernama Caca dengan mudah datang tanpa permasalahan dari anggota di dalam?
Mona lantas melagkahkan kakinya. Yang langsung di sambut oleh Zara dengan dress hitam tanpa lengan yang tengah duduk di samping Orion sambil memegang gelas winenya.
"Oh Hai Mon" Sapa Zara. Mona melangkah tanpa membalas sapaannya, netranya terus melirik pada Caca yang duduk di samping Bara. Dan sedikit berbincang kecil dengan lelAki berwajah tampan itu.
Zara yang Menyadari tatapan Mona seketika bangkit dari sofa tersebut. Lalu menarik Mona menjauh dari sana.
"Gue ngerasa ada yang aneh sama cewe itu" Celetuk Zara saat keduanya sudah jauh dari perkumpulan mereka. Mona menatap kearah teman temannya sebentar kemudian menanggapi Zara.
"Why?"
"Pertama, cewe itu tadi dateng sama Jojo, dan kedua beberapa hari lalu gue mergokin dia di markas, dan cewe itu punya kartu akses markas"
"What??" Mona terkejut bukan main. Tapi Zara malah memegang tangannya.
"Belum selesai disitu Mon. Kemarin Gue juga sempet liat dia keluar dari apartemen Jojo. Aneh gak sih? Dia bukannya tunangan Jeff? Tapi kenapa lebih banyak waktu sama Jojo?" Mona memegang dagunya sambil melirik kearah Caca di ujung sana yang bangkit berdiri ditarik pergi oleh Jojo keluar dari Klub.
...TOXICSERIES...