Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siasat Robin
Beberapa hari setelah transaksi sukses di pelabuhan, nama Selena mulai bergaung di kalangan anak buah Valen.Di ruang markas, para pria berotot yang biasanya menatapnya dengan sinis kini berdiri lebih sopan saat ia lewat. Beberapa bahkan menundukkan kepala.
“Selamat malam, Ratu.”
“Queen Selena…”
Selena sempat terdiam mendengarnya. Hatinya bergetar, bukan karena bangga semata, tapi karena beban besar yang datang bersama sebutan itu.
Valen, yang berdiri di sampingnya, hanya melirik sekilas dengan senyum samar. “Lihat? Mereka sudah tahu siapa yang layak mereka hormati. Sekarang tinggal kau… apakah bisa membuat hormat itu berubah jadi loyalitas.”
Selena menatap Valen, lalu mengangguk tegas. “Aku akan buktikan.”
☘️☘️☘️☘️
Di sisi lain.
Di sebuah ruangan remang di kota seberang, Robin mendengarkan laporan anak buahnya, tentang anak dari mantan kaki tangannya itu, yang katanya kini sudah mulai siap berperang melawannya.
"Bos dengar kabar, Selana sekarang sudah dinobatkan menjadi Quen, oleh Valen," ucap anak buah Robin.
"Hah! Quen? Bocah hijau, baru bisa belajar menembak sudah dapat mahkota, bisa apa dia," seringai Robin dengan tatapan mengejek.
"Tapi katanya dia, merupakan gadis yang sangat tanggap dan cepat menguasai," sahut anak buahnya itu.
Robin mulai mengetatkan giginya ada amarah yang membakar hatinya mendengar anak dari mantan kaki tangannya itu nampak ada perubahan. "Kurang ajar, anak pengkhianat itu tidak boleh lebih hebat."
"Nah maka dari itu Tuan, kita harus segera bertindak," sahut anak buahnya.
Ia menyulut cerutu, asap pekat mengepul di udara. “Kalau Valen punya ratu… maka yang harus kita lakukan jelas: patahkan sayapnya sebelum ia benar-benar bisa terbang. Hantam gadis itu, dan Valen akan runtuh bersama kebanggaannya.”
Anak buahnya menunduk dalam-dalam, menunggu instruksi.
“Bos… cara kita? Langsung serang?”
Robin tertawa rendah, matanya berkilat penuh intrik. “Bukan dengan peluru. Kalau kita bunuh dia, Valen akan membalas habis-habisan. Aku ingin lihat Selena runtuh bukan karena mati, tapi karena dihantam dari dalam, dari orang-orang yang seharusnya melindungi dia. Kita kotori nama baiknya, kita adu domba pasukannya, dan saat waktunya tiba… Valen akan sadar bahwa ratunya hanyalah pion rapuh.”
Ia meneguk minumannya, lalu menambahkan,
“Mulai sebarkan bisikan. Bayar informan di lingkaran Valen, buat Selena terlihat seperti pengkhianat. Kalau dia kehilangan kepercayaan anak buahnya… saat itu aku akan datang memberi pukulan terakhir.”
☘️☘️☘️☘️
Malam itu Selena sedang berlatih menembak lagi. Beberapa anak buah berdiri di belakang, kali ini bukan untuk menertawakan—tapi memberi semangat.
“Tepat di jantung, Queen!”
“Bidikannya makin stabil. Hebat!”
Selena menurunkan pistol, peluh mengalir di wajahnya, tapi sorot matanya tajam. Ia menatap target yang kini penuh lubang peluru.
Namun tiba-tiba, salah satu anak buah Valen datang terburu-buru, wajahnya pucat.
“Don! Ada kabar buruk. Pihak dari Robin sudah mendengar kalau Nona Selena sudah di nobatkan menjadi Queen," ucap anak buahnya itu.
Suasana seketika membeku. Semua mata beralih ke Selena, Valen melangkah maju, wajahnya kelam tapi sorot matanya membara. Ia menatap Selena lama, lalu menoleh ke anak buahnya.
“Dengar baik-baik. Mulai malam ini, siapa pun yang mencoba menyentuh Sel .... Queen kalian, berarti menantang aku langsung. Dan aku akan pastikan mereka tidak akan hidup lama.”
Selena menggenggam pistol di tangannya lebih erat. Ia sadar, menjadi Queen Mafia bukan hanya soal dihormati, tapi juga diburu, bahkan musuh diluaran sana begitu banyak yang mengincar, entah itu dengan cara kasar maupun halus.
Gadis itu mulai membulatkan tekadnya. Dan untuk pertama kalinya, ia berbisik pada dirinya sendiri dengan suara mantap. “Kalau dunia ingin menjatuhkanku… maka biarkan mereka datang. Aku tidak akan mundur.”
☘️☘️☘️☘️
Ruangan gelap di bawah tanah itu dipenuhi asap rokok dan aroma alkohol. Robin duduk di kursi kulit hitam, kakinya terangkat ke atas meja, cerutunya masih menyala separuh. Tatapan tajamnya menyapu wajah para anak buah yang berdiri berderet di hadapannya.
“Dengar baik-baik,” ucapnya datar namun beracun. “Valen pikir dia tak tersentuh, padahal dia sudah mulai lengah. Dan gadis itu… Selena. Dia baru saja belajar pegang pistol, tapi anak-anak jalanan sudah memanggilnya Queen.” Robin menyeringai tipis, lalu menepukkan tangannya ke meja.
“Mulai malam ini, kita mainkan bidak kita.”
Seorang pria berbadan kekar, Raga, maju setapak. “Perintahmu, Bos?”
Robin menunduk sejenak, lalu menatap tajam. “Pertama, sebar orang-orang kita di sekitar wilayah bar milik Valen. Jangan bergerak terbuka. Aku ingin tahu jadwal keluar-masuk Selena. Siapa yang menemani, jam berapa dia pergi latihan, kapan dia sendirian. Semua catat.”
“Siap, Bos.”
“Yang kedua,” lanjut Robin sambil menghembuskan asap. “Kita serang bukan dengan peluru dulu, tapi dengan informasi. Buat gosip, katakan Selena hanya boneka, hanya pemuas ego Valen, bukan ratu. Biarkan kabar itu berputar di telinga mafia-mafia kecil. Kalau dia kehilangan hormat, separuh mahkotanya sudah hancur.”
Beberapa anak buah tertawa kecil, tapi Robin langsung mendesis. “Diam. Ini bukan lelucon. Gadis itu punya karisma alami, justru itu yang berbahaya. Jangan remehkan.”
Robin kemudian menoleh ke kanan, ke arah pria muda bernama Genta. “Kau menyusup ke lingkaran pelayan Valen. Cari celah, cari siapa yang bisa dibeli. Pelayan paling remeh pun bisa jadi mata-mata berharga. Kalau perlu, pakai uang… atau ancaman.” Genta mengangguk cepat, wajahnya tegang.
Robin memadamkan cerutunya di asbak, lalu berdiri perlahan. “Dan terakhir…” suaranya berat, penuh tekanan. “Kalau aku sudah yakin kelemahannya, kita culik Selena. Bukan untuk membunuh, setidaknya belum. Kita buat dia merasa rapuh, merasa Valen tak bisa melindunginya. Itulah cara menghancurkan seorang ratu sebelum ia benar-benar berkuasa.”
Ruangan mendadak hening. Anak buah Robin menunduk hormat, menyerap setiap kata yang ia ucapkan. Aura dingin dan kejam memenuhi ruangan, seolah perintah barusan adalah sebuah vonis yang sudah tak bisa ditarik kembali.
“Sekarang keluar. Bergerak seperti bayangan. Jangan biarkan Valen mencium gerakan kita,” Robin menutup dengan senyum sinis.
“Permainan baru saja dimulai.”
Seringai Robin terukir diwajahnya dengan sedikit senyum tipis penuh kelicikan.
Bersambung ...
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf