Nama saya Yuda, Saya siswa SMA tahun ke 2. Kehidupan sekolah saya tidak ada yang istimewa. Tetapi ada seseorang yang sangat saya sukai dari tahun pertama sekolah, saya mengejar cintanya selama 2 tahun, namun tidak mendapatkan respon dan berujung penolakan yang menyakitkan. Sampai suatu saat saya mulai membuka mata saya, berapa banyak waktu yang saya buang sia-sia hanya untuk wanita yang tidak mencintai saya. Namun ini hanya permulaan dari cerita tahun ke 2 saya di sekolah. Dimana saya akhirnya memilih untuk melangkah maju dan berhenti membuang waktu, saya memutuskan untuk berhenti mengejar cintanya dan menjalin hubungan pertemanan dengan teman-teman lainnya. Berusaha mengupgrade diri dan mencoba membuka hati untuk orang baru walau rasa trauma dari orang lama masih membekas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dame Dha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 Hadiah Untuk Permulaan
-Sudut pandang Andini-
Sepanjang jalan saat aku pulang, aku benar-benar tidak bisa melupakan apa yang terjadi. Sekarang aku sudah bisa tenang, semua berkat kak Siva. Lain waktu kalau ada kesempatan aku ingin membalas kebaikannya padaku.
-Sudut pandang Siva-
Pulang dari acara tubuhku sangat lelah, aku mengganti pakain dan langsung berbaring di atas tempat tidur. Setelah itu aku tidak tau lagi apa yang terjadi. Aku tertidur pulas.
Saat aku bangun dari tidurku, jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Aku kesiangan, tapi karena hari ini hari minggu aku tidak perlu khawatir.
Aku segera masuk ke kamar mandi, setelah mandi aku sarapan dan olahraga ringan di halaman rumah. Saat aku sedang olahraga di halaman ruma tiba-tiba ada yang memanggilku.
"Siva, kamu ngapain kok belum siap-siap" ucap seseorang dari balik pagar depan rumahku
Itu adalah Yuda. Aku bingung, apa yang dia lakukan disini.
"Yuda, kamu ngapain kesini?" tanyaku pada Yuda
"Loh, kamu lupa ya?. Bukannya kita hari ini mau jalan-jalan" jawab Yuda
Aku sempat tidak menyadarinya tapi setelah itu aku baru ingat, Minggu lalu saat Yuda memintaku untuk tampil di acara tadi malam, kalau penampilan ku sukses Yuda harus mengajakku jalan-jalan.
Ternyata dia serius dengan hal itu, padahal aku hanya setengah bercanda.
"Hehe maaf aku lupa, yaudah masuk aja dulu. Aku mau siap-siap dulu" ucapku sambil membuka pagar rumahku dan mempersilahkan Yuda masuk
Aku masuk ke rumah dan aku ke kamar mandi karena tubuhku penuh dengan keringat. Setelah semuanya sudah siap aku keluar dari rumah untuk menemui Yuda yang menunggu diruang tamu.
"Jadi hari ini kamu mau ngajak aku kemana?" tanyaku pada Siva
"Kemana lagi kalau bukan ke bazzar, di sana ada tempat yang pasti kamu suka" ucap Yuda dengan penuh keyakinan.
Sepertinya Yuda tidak main-main, dia sudah mempersiapkan semuanya agar bisa membuatku senang.
Kami langsung berangkat menuju bazzar.
-Sudut pandang Citra-
Hari ini aku tidak ada kegiatan apa-apa. Aku hanya rebahan di kamar tidurku sambil menonton film kesukaan ku.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari grub yang beranggotakan aku, Jessi, Yuda dan Darius. Itu pesan dari Darius. Dia mengajak kami bertiga untuk keluar untuk menonton film di bioskop.
"Hari ini ada yang kosong ga, ada film bagus dibioskop" isi pesan dari chat Darius
Jessi membalas kalau dia tidak ada kegiatan, tapi dia hanya akan ikut kalau yang lain juga ikut. Aku membalas kalau aku juga tidak ada kegiatan.
Dari pada berdiam dirumah lebih baik menghabiskan waktu dengan teman-temanku.
Tapi Yuda tidak bisa ikut, dia bilang dia sudah aja janji dengan Siva.
Darius membalas Yuda dengan sedikit bercanda.
"Owh gitu, jadi hari ini aku akan dikelilingi dua gadis" isi pesan dari chat Darius
Jessi juga membalas pesan Darius.
"Yah. Jangan ganggu Yuda karena dia sedang dalam proses move on dari Yuki" isi pesan dari chat Jessi
"Pake di ingetin lagi" isi pesan dari chat Yuda
"Artinya cuma Yuda yang ga ikut kan, oke kita gas setengah jam lagi" isi pesan dari chat Darius
Aku bersiap-siap untuk berangkat ke bioskop.
-Sudut pandan Yuki-
Aku hari ini di ajak oleh Mai untuk pergi ke bazzar, dia bilang ada buku yang ingin dia cari, dan dia juga mengajak Andini.
Mai dan Andini adalah murid paling cerdas di kelas kami. Tidak ada ruginya berteman dengan mereka, apalagi aku juga mengincar ranking saat ujian semester pertama nanti.
Dua kali berturut-turut Mai dan Andini selalu mengalahkanku. Aku hanya bisa meraih posisi 3. Walaupun tidak buruk tapi aku yang ambisius tentu saja akan berusaha mencapai puncak.
Peringkat ranking 5 besar terakhir.
Mai. 9,2 poin
Andini. 9,1 poin
Yuki. 8,7 poin
Citra. 8,6 poin
Raphtalia. 8,5 poin
Walau pun peringkat 3 tapi selisih nilaiku sangat jauh dari Mai dan Andini.
Aku besiap-siap untuk pergi.
~Sudut pandang Siva-
Kami sampai di tempat bazzar. Yuda mengarahkanku ke satu tempat yang katanya pasti aku suka..
"Jadi kita sekarang kemana?" tanyaku pada Yuda
"Kita kesana, ikuti saja aku" jawab Yuda
Aku berjalan mengikuti yuda. Dia menuntunku ke lokasi yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya.
Di sini banyak sekali yang menjual barang-barang antik dan aneh.
Ini lebih mirip pasar loak dari pada bazzar. Di ujung jalan aku melihat sebuah toko.
Kami sampai ditempat yang seluruhnya tertutup tirai. Yuda lebih dulu masuk.
"Kita sudah sampai, ayo masuk" ucap Yuda sambil menyingkap tirai dari toko itu
Aku masuk dan tempat itu di penuhi barang-barang jadul. Tapi sebuah rak mencuri perhatianku.
"Apa ini?. Kaset-kaset lawas dan semuanya original, kamu tau tempat ini dari mana Yuda?" tanyaku dengan Antusias dan bersemangat.
"Tentu saja dari paman Juna, ini tempat orang tua berkumpul jadi hanya brocker bawah tanah saja yang tau" jawab Yuda
"Tapi ini semua langka dan original, pasti mahal" ucapku pada Yuda
"Tenang. Ga mungkin aku ajak kamu kesini kalau aku ga bawa uang" jawab Yuda
"Jadi aku boleh pilih yang mana aja, serius kan?" tanyaku pada Yuda
"Serius lah, aku mau kesana dulu, ada barang yang ingin aku beli juga, kamu pilih saja yang kamu suka" ucap Yuda sembari berjalan meninggalkanku
Yuda pergi ke sisi lain tempat ini, aku melihat-lihat kaset mana yang aku pilih. Aku bingung harus ambil yang mana karena semuanya sangat menarik.
Sementara aku belum selesai memilih, Yuda kembali dan membawa sebuah tas bingkisan.
"Lama banget, tinggal pilih satu aja susah?" ucap Yuda padaku
"Aduh aku bingung. Menurut mu lebih baik ini atau yang ini" tanyaku pada Yuda
"Kok jadi aku yang disuruh memilih" jawab Yuda
"Ahh ya udah aku beli dua-duanya saja, satu ini aku bayar sendiri" ucapku sambil mengeluarkan dompet dari saku celanaku.
Aku mengambil dua kaset yang ku pilih dan ku serahkan ke pemilik toko untuk di bungkus.
"Yuda, apa isi tas itu, kamu beli apa?" tanyaku pada Yuda tentang barang yang dia beli
"Ini buku" jawab Yuda
"Buku?. Aku boleh liat ga?" tanyaku
"Boleh aja" jawab Yuda
Buku itu berisi tentang teory alam semesta dan misteri ruang angkasa yang terbit pada tahun 1990.
"Sejak kapan kamu baca buku-buku kaya gini" tanyaku pada Yuda
"Ini bukan buat aku" jawab Yuda
"Owhh...hmmm.." ucapku sambil tersenyum pada Yuda
"Apaan?" tanya Yuda
"Ga papa, selamat berjuang" jawabku sambil menepuk bahunya.
Tebakanku pasti tidak salah, buku itu pasti untuk Andini, dia adalah penggila teori konspirasi dan sangat suka dengan segala yang berbubungan dengan antariksa dan benda langit.
Rupanya kali ini Yuda sudah tau apa yang harus dia lakukan. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini.
-Sudut pandang Yuda-
Aku membeli sebuah buku lawas tentang teori dan misteri alam semesta, buku ini akan ku berikan pada Andini sebagai hadiah.
Sebelum ini aku sudah mencari informasi tentang Andini, apa yang menjadi kesukaan Andini, dan termasuk tanggal ulang tahunnya.
Walaupun sudah lewat hampir 1 bulan tapi tidak ada salahnya memberikan hadiah padanya. Ini sebagai langkah awal kalau aku ingin lebih akrab dengannya.
Aku sudah pikirkan hampir sepanjang malam, rencananya besok aku akan berikan ini pada Andini saat pulang sekolah. Tenang saja, Andini pasti senang. Aku harus yakin.
Selesai membeli barang, aku ingin mengajak Siva untuk nonton ke bioskop.
"Bagaimana kalau kita nonton" tanya Yuda
"Boleh, kita udah kaya kencan beneran aja" ucapku sambil menggoda Yuda
"Lihat kan, aku bukan laki-laki payah kan" jawab Yuda dengan penuh keyakinan
"Iya iya....makasih" jawabku
"Hah.. kalak cuma begini sih bukan apa-apa" ucap Yuda dengan penuh keyakinan
~Sudut pandang Siva~
Aku sampai detik ini masih tidak habis pikir apa yang dipikirkan Yuki saat menolak perasaan Yuda. Padahal aku yakin dia sendiri sebenarnya juga menyukai Yuda. Tapi semua sudah terjadi.
-Terima kasih sudah membaca cerita saya. Untuk ilustrasi karakter cerita ini bisa di cek Trending akun-
Jika ada kritik dan saran silahkan DM saya dan jangan sungkan-sungkan :D