Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!
Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman.
Camilla berdecak kesal sebelum ia berkata, "Ibu kelamaan! Tinggal ngomong aja hukumannya apa!". Camilla mendekapkan tangannya di dadanya.
Bu Etty, Caitlin, dan Justin terbelalak, tidak percaya dengan perkataan yang baru saja dikatakan Camilla. Bu Etty itu guru killer di sekolah ini! Tidak ada yang berani dengannya! Tapi, anak ini?! Jika ada yang mendengar perkataan Camilla barusan, pasti semua akan menertawakan Bu Etty, karena akhirnya ada yang berani pada dirinya.
Bu Etty sangat geram mendengar perkataan Camilla. Ia menyatukan alisnya, tatapan matanya sangat tajam menatap Camilla, "Lari di lapangan 20 putaran! Justin, kau awasi anak ini! Jika dia berani istirahat, tambahkan 2 putaran lagi!" Ketus Bu Etty dengan nada tinggi.
Camilla hanya memutar bola matanya malas. "Hukuman macam apa ini?" Berlari ya? Camilla juaranya! Berlari 50 putaran lapangan sekolahnya aja bisa! Hello!!! Leader mafia bukan orang lemah!!!
"Hukuman apa itu?! Mudah sekali!" Ketus Camilla kesal. Ketiga orang yang ada di ruangan BK selain Camilla membulatkan matanya tak percaya.
Termasuk Caitlin, telinganya juga tersentak mendengar perkataan Camilla, "WHAT! Hukuman kayak gitu dibilang mudah? Kalau gue sih udah pingsan itu! Apalagi wajah gue baru aja perawatan!"
Bu Etty semakin geram pada Camilla, "Kalau begitu. Setelah berlari, bersihkan lapangan itu. Pasti banyak daun kering berguguran di sana!" Kata Bu Etty penuh penekanan. Ia menarik salah satu sudut bibirnya, tersenyum sinis.
Kali ini giliran Camilla yang membulatkan matanya, "HAH?! HUKUMAN APAAN ITU! Itu kan tugasnya petugas kebersihan, kenapa jadi gue yang kerjain?! Apa-apaan nih! Leader mafia disamain dengan petugas kebersihan!"
Mau tidak mau, Camilla harus menurutinya. Ia tak mau terlihat lemah. Tapi, harga dirinya bisa turun jika musuh-musuh mafianya melihat Queen of Black Devil menjadi seorang petugas kebersihan. Mereka pasti akan menertawakan Camilla.
***
Saat murid-murid sudah masuk ke dalam kelas dan memulai pelajarannya, Camilla dan Justin berjalan ke lapangan. Ini putaran pertama Camilla berlari memutari lapangan. Camilla berlari sangat cepat, membuat Justin yang memperhatikannya menjadi pusing. Tapi ia terus memperhatikan Camilla, lebih tepatnya mengawasinya.
Justin mengalihkan pandangannya saat melihat sesuatu dari tubuh Camilla yang berayun-ayun. Tidak ada yang tau jika pipi Justin memerah. Ia laki-laki normal.
Pikiran Justin sudah kemana-mana. Justin mengusap wajahnya kasar, "Astaga!" Untuk mengalihkan perhatian itu, Justin mengambil earphone dan ponselnya dari saku celananya.
Sebelum memasangkan earphone di telinganya, Camilla segera merebutnya dan menggunakannya. Tak lupa ia juga mengambil ponsel milik Justin.
"Hei!" Justin sangat kesal dengan Camilla yang tiba-tiba menyautnya tanpa izin. Ingin mengejar, tapi Camilla sudah berlari cukup jauh.
Sementara Camilla mendengarkan musik dari ponsel milik Justin. Meski ponsel Justin di password, tapi Camilla bisa memutar lagunya pada layar kunci. Camilla menggerak-gerakkan mulutnya, ia tahu lagu yang sedang didengarnya itu, meski tidak terlalu suka dengan lagunya. Ia lebih suka mendengar suara orang berteriak kesakitan saat Camilla menyiksanya brutal.
Dua putaran lagi, Camilla akan menyelesaikan hukumannya. Justin berjalan ke kantin untuk membeli dua botol minum kopi dingin. Ia membawa dua botol itu kembali ke lapangan. Dilihatnya Camilla masih saja berlari dengan sangat cepat, "Apa cewek itu tidak punya rasa capek?"
Camilla menghentikan langkahnya tepat di depan Justin. Hukumannya sudah selesai. Mukanya merah, dahinya dipenuhi keringat. Hingga airnya menetes sampai ke pipi dan lehernya. Tetapi napasnya beraturan, seperti tidak capek saja. Untung sejak awal tadi Camilla sudah menguncir rambutnya.
Justin yang melihatnya pun memejamkan matanya, pikirannya kembali ke mana-mana lagi. Kemudian ia membuka matanya saat merasa ada yang menyaut salah satu botol minuman di tangannya. Ia menyatukan alisnya pada Camilla yang sedang meneguk minuman itu.
"Lo gak punya sopan santun?" Ketus Justin kesal.
Camilla meneguk minuman itu sampai habis, "Hmm." Camilla menutup botol minuman itu, lalu melemparkannya pada tempat sampah yang jaraknya sekitar 8 meter di depannya. Justin yang melihatnya cukup heran, 20 putaran mengelilingi lapangan bisa, sekarang lemparan botolnya masuk pada tempat sampah yang jaraknya jauh.
"Ck. Gak berterimakasih lagi!" Kata Justin semakin kesal. Camilla hanya mengangguk dan menatap datar Justin dengan aura dinginnya.
"Ngapain ngeliatin doang? Sana bersihin lapangan!" Justin menarik salah satu bibirnya. Sementara Camilla menyatukan alisnya tidak suka, "Ck! What the.."
Camilla mengalihkan pandangannya ke parkiran. Tatapannya tertuju pada sebuah benda di pojokan parkiran yang tidak jauh dari keberadaannya. Camilla menarik salah satu bibirnya, ia mengambil sapu lidi dan mendekati benda itu.
Skateboard, benda kesukaan Camilla sejak SMP. Ia sangat mahir menggunakannya, diajari oleh dua kakak kembarnya. Camilla mengambil benda itu dan menaikinya.
Camilla memutari lapangan sekolah sambil menyapu bersih tempat itu. Akan lebih mudah kan? Daripada kita harus capek-capek berjalan memutari lapangan. Justin yang melihat itu pun hanya melongo tak percaya.
Akhirnya, lapangan menjadi bersih, tidak ada daun kering lagi di situ. Camilla memarkirkan skateboard itu di parkiran, di tempat semula. Justin masih tak bergeming, ia terus menatap Camilla yang semakin membuatnya terheran-heran.
Camilla melangkahkan kakinya menuju Justin untuk mengembalikan ponsel dan earphone milik Justin. Setelah mengembalikan, Camilla menuju ke kelasnya untuk mengambil ponsel dan tasnya.
"Kamu dari mana?" Tanya seorang guru yang kala itu sedang mengajar. Camilla hanya diam melewatinya, Alan dan Arlan yang melihatnya pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Camilla mengambil tasnya, dinyalakannya ponsel miliknya. Ada sebuah pesan masuk beberapa detik yang lalu. Camilla membacanya.
Welly Si Asisten Genit
Hai gaiss! Kembali lagi dengan gue yang gantengnya kebangetan!!!
Queen Black Devil
To the point aja woi 😒
Welly Si Asisten Genit
Hehe :v Anak buahnya Red Dragon menyerang markas, Queen. Tapi semuanya udah disekap di ruang penyiksaan.
Camilla yang membacanya pun berdecak kesal. Padahal ingin sekali ia mencari ketenangan dengan rebahan di rumah, tapi malah ada musuh yang bermain api.
Queen Black Devil
Persiapkan para malfionso utama, kita serang markas Red Dragon sekarang.
Camilla langsung mematikan ponselnya, pesan yang baru saja Welly kirim tidak dibacanya. Welly, asistennya Camilla di Black Devil, lebih tepatnya tangan kanannya. Welly seumuran dengan Camilla, hanya saja setelah lulus SMA, Welly lebih sering ke markas atau ke perusahaan miliknya.
Camilla langsung memakai tasnya lalu segera berlari ke luar kelas menuju parkiran. Ia tak menghiraukan gurunya yang memanggilnya berkali-kali itu. Saat sedang berlari, seseorang menarik tangannya, menghentikan langkahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like, komen, favorit, VOTE!
---Rara Tania
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃