Special moment dalam hidup gue itu: Pertama, Bokap gue kembali. Kedua, bersyukur karena ada Langit yang suka sama gue. -Adista Felisia
Special moment dalam hidup gue yaitu, pertama bisa meyukai Adista dan kedua bersyukur Adista juga suka sama gue. Hehehe. -Langit Alaric
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alviona27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 - Rahasia Kamar Langit
“By buruan,” ucap Langit saat melihat Adista yang masih saja memasang sepatunya. “Nanti kita telat.”
“Perduli apa kamu sama namanya telat?” Adista berdecak. “Biasanya juga biasa-biasa aja.”
Langit terkekeh. “Kan perginya sama kamu, aku harus jadi cowok baik-baik lah.”
Adista hanya mengangguk saja, mengambil tasnya dan pergi dari rumahnya. Kakeknya tidak mau keluar karena ada Langit, dan Mamanya tidak keluar dari kamarnya sejak kemarin, sejak Evan pergi tanpa mengatakan apa-apa.
“Papa kamu udah pulang, Dis?” tanya Langit.
Adista diam menatap Langit membuat Langit meringis dan berpikir: apa ucapannya salah?
“Papa belum pulang ke rumah, mungkin masih banyak kerjaan,” Adista tersenyum dan naik ke atas motor Langit.
Langit mendesah lega saat Adista tersenyum meskipun awalnya Langit merasa takut kalau ucapannya salah dan menyinggung hati Adista, Langit takut.
“Ayo buruan!” seru Adista, Langit mengangguk dan melajukan motornya.
Adista tidak heran melihat Dinda dan Mikko pagi-pagi sudah pacaran, tapi Langit berseru gila-gilaan saat melihat Dinda dan Mikko pagi-pagi sudah berduaan.
“Makanya kalo datang itu pagi-pagi,” gerutu Adista sambil menaruh bekal makannya di laci mejanya.
“Kan aku gak tahu kalo mereka pacarannya gitu amat By,” ucap Langit menaruh tasnya.
Karena Dinda yang ingin selalu berada di dekat Mikko membuat Langit dengan senang hati memberikan tempat duduknya untuk Dinda dan dia duduk di samping Adista.
Adista tidak bisa dan tidak mau ada Langit yang duduk di sampingnya karena Langit bisa membuat Adista tidak memperhatikan pelajaran dan lebih memperhatikan Langit yang tengah mengantuk atau bosan saat medengar pelajaran.
Seperti sekarang ini, pelajaran Biologi yang membosankan menurut Langit membuat Langit hampir saja tertidur kalau tidak disenggol oleh Adista. Langit hanya tersenyum dan mencoba untuk kuat medengar pelajaran Biologi dengan seksama.
Dan mata Langit tidak kuat, Langit melipat tangannya dan menaruh kepalanya disana membuat Adista tersenyum singkat.
Adista mencolek bahu cowok yang ada di depannya dan berbisik. “Lo geseran dikit ke kanan, dan bilangin temen sebangku lo geseran dikit ke kiri.”
Adista tersenyum saat semuanya telah tertutup membuat guru yang mengajar hampir tidak bisa melihat kalau Langit sedang tertidur, Adista mengelus pelan rambut Langit dan memperhatikan kembali pelajaran.
* * *
“Aku gak tahan sama pelajaran Pak Bio, bikin ngantuk,” ucap Langit setelah bel istirhat berbunyi.
“Semua pelajaran juga bikin kamu ngantuk,” ejek Adista mengeluarkan kotak bekalnya, Langit terkekeh memperhatikan Adista. “Buat kamu,” ucap Adista sambil menggeserkan kotak bekal yang dia bawa.
Langit berbinar dan mengulas senyumnya. “Asik ... dimasakin calon istri.”
Adista mendelik, menggelengkan kepalanya dan memberikan sendok kepada Langit. “Makan aja, gak usah banyak omong. Dari tadi kamu itu ngomong terus, gak capek apa?”
“Kalo ngomongnya sama kamu, aku gak bakalan capek By.”
“Makan aja.”
Langit mengangguk kemudian memakan nasi goreng yang dibawa oleh Adista, Langit mengangguk-anggukan kepalanya dan memberikan ibu jari kepada Adista sebagai tanda kalau makanan Adista ini enak, Adista hanya tersenyum.
“By, pulang nanti ke rumah aku ya,” ucap Langit sambil memberikan kotak bekal kosong kepada Adista.
Adista mengernyit. “Memangnya ada apa?”
“Bunda mau ketemu kamu aja,” Langit tersenyum. “Sama Lala juga, katanya udah lama kamu gak main kesana lagi.”
“Iya, nanti kita kesana.”
Langit tersenyum lebar dan mengacak pelan rambut Adista.
“Dis, mau ikut gak? Kami mau nonton biosop,” ajak Dinda sambil berjalan keluar dari kelas diikuti oleh Adista.
“Enggak,” Adista menggeleng. “Gue mau ke rumah Langit.”
“Yang udah ketemu sama calon mah beda,” ejek Dinda, Adista terkekeh dan melambaikan tangannya saat melihat Langit sudah duduk di motornya dan disana juga sudah ada Mikko yang menunggu Dinda.
“Yakin gak mau ikut?” ajak Dinda lagi, Adita menggeleng. "Iya deh, salam buat Tante Vivin ya.”
Adista mengangguk dan memperhatikan Dinda dan Mikko yang sudah keluar dari sekolah.
“Buruan By,” ucap Langit saat melihat Adista masih tetap diam di tempatnya sambil menatap awan.
“Kira-kira hujan ya gak, Ric?” tanya Adista khawatir. Langit mendongak dan melihat awan sedikit mendung.
“Kayaknya enggak deh, aku bakalan ngebut biar kita gak kehujanan nanti. Sekarang buruan naik.”
Adista mengangguk dan segera naik ke atas motor Langit sambil memegang tas ransel Langit.
“Kalo mau pegang disini juga gak apa-apa By,” Langit menarik tangan Adista dan menaruh di perutnya.
Adista terdiam dan juga dia tidak menolak saat Langit menaruhkan tangannya disana, Adista tersenyum simpul dan menaruh tangan sebelahnya berada di tempat yang sama, memeluk Langit.
Langit tersenyum saat melihat dari kaca spion Adista sedang menaruhkan kepalanya di tas ransel Langit dan tangan memeluk pinggang Langit.
Langit tidak bisa tidak tersenyum lebar saat ini, dan Langit sangat-sangat bahagia!
* * *
“Ayo By,” Langit menarik tangan Adista dan masuk ke dalam rumahnya. “Bunda ....”
Vivin keluar dari kamarnya dan tersenyum lebar saat melihat Adista, Adista juga ikut tersenyum, melepaskan tangannya dari genggaman Langit, Adista memeluk dan mencium punggung tangan Vivin.
“Udah lama gak main kesini, Dis,” seru Vivin, Adista terkekeh.
“Iya Tante, belum sempat main kesini, banyak tugas.”
“Bohong banget,” ejek Langit. “Paling nonton Oppanya, Bun.”
Adista mendelik saat mendengar ucapan Langit, Adista tersenyum canggung.
“Mau makan Dis?” tawar Vivin.
“Nanti aja Tan, Adis main sama Lala dulu,” ucap Adista kemudian beranjak untuk menemui Lala di kamarnya.
Adista memang sudah biasa keluar masuk kamar Lala karena sisi fangirl mereka dan Adista yang juga notabenya pacar Abangnya.
“Lala ...,” Adista masuk saat melihat Lala sedang merebahkan tubuhnya sambil menatap ponsel.
Lala langsung bangkit dan tersenyum lebar. “Baru datang Kak?”
“Iya, baru sampe.”
Adista duduk di samping Lala, dan mereka mulai membicarkan perihal Oppa dan drama Korea membuat Adista sesekali terkekeh saat Lala lagi-lagi membiacarakan orang, padahal Adista sudah sering kali memperingati Lala tapi cewek itu hanya mengiyakan dan mengatakan sesekali membicarakan orang tidak apa.
“Kak, mau masuk kamar Bang Langit?” tanya Lala.
Adista menggeleng. “Gak mau ah, nanti Langit marah.”
“Enggak bakalan marah kok, ini Kak Adis lho yang masuk, gak bakalan bisa marah deh Bang Langit,” ucap Lala meyakinkan Adista, Adista tersenyum masam. Dari mana Langit tidak bisa marah karena Adista, jelas-jelas
cowok itu sering marah hanya karena Adista membicarakan Oppanya.
Lala menarik tangan Adista untuk keluar dari kamarnya dan menuju kamar Langit. Adista menghela napasnya saat mereka sudah berada di depan pintu kamar Langit.
Lala mengetuk pintu kamar Langit. “Bang ... lo ada di dalam?”
“Iya, kenapa?” tanya Langit dari dalam kamarnya.
Adista menggeleng dan menarik tangan Lala. “Gak usah La, main di kamar kamu aja ya.”
“Percaya aja sama Lala Kak,” Lala menepuk pelan tangan Adista. “Pake baju sama celana kagak lo?”
“Ya pake lah, lo pikir gue gak pake apa-apa?”
“Yakali lo di dalam cuman pake ****** doang,” ucap Lala sambil terkekeh, Adista terkaku mendengarkan ucapan Lala.
Langit membuka pintu kamarnya dan dengan segera Lala mendorong Adista agar masuk ke dalam kamar Langit.
“Selamat bersenang-senang Abangku,” ucap Lala dan berlalu pergi.
Adista terjatuh saat Lala mendorongnya agar masuk ke dalam kamar Langit. Dengan perlahan Adista bangkit dan menepuk pelan lututnya yang terasa agak nyeri saat terjatuh tadi.
Pikiran Adista blank, mulutnya menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat sekarang. Fotonya, semuanya berada di dalam kamar Langit. Adista tidak percaya, dia memutar tubuhnya untuk memastikan kalau semuanya adalah dirinya.
“Alaric ...,” Adista menutup mulutnya tidak percaya. Dia berjalan ke arah meja belajar Langit dan melihat bingkai foto yang berada
disana, foto Langit yang memperhatikan Adista dan Adista sedang memperhatikan
Harris.
Akan ada penyesalan yang besar kalo aku tetap diam seperti ini, menatapmu dan menyukaimu diam-diam.
Adista membaca kertas kecil yang tertempel di bingkai itu yang menutup wajah Harris, Adista tidak tahu harus apa, dia membalikkan tubuhnya dan melihat Langit masih terdiam disana memperhatikan Adista dengan tatapan yang tidak diketahui oleh Adista.
“Alaric ... kamu—”
“Iya, aku tahu. Kamu pikir aku ini stalker yang mengerikan, bukan? Memasang foto kamu dimana-mana. Iya aku tahu Adis,” Langit berbisik. “Kamu pasti ilfil sama aku, kan? Aku tahu itu, karena itu aku gak mau kamu masuk ke dalam kamar aku, bahkan kamar selalu aku kunci biar semua orang gak tahu.”
“Alaric ....”
Langit mengusap wajahnya. “Aku memang stalker Adis, aku tahu aku mengerikan. Aku memang tergila-gila sama kamu. Aku akui itu, aku tahu kamu pasti benci sama aku. Aku juga tahu kamu
pasti—”
Adista mendekat dan memeluk Langit sebentar dan menggeleng. “Justru aku yang bodoh, kenapa aku harus masih suka sama Harris, padahal dengan jelas ada kamu yang selalu memperhatikan aku, dan yang tergila-gila sama aku.”
Langit terkekeh dan tersenyum lebar, dia harus mencatat tanggal kebahagiaannya hari ini. Hari ini memang hari yang sangat disukainya, Adista menerimanya.
“Kamu beneran suka aku dari satu tahun yang lalu?” tanya Adista sambil mengambil foto-foto dirinya yang menggantung di kamar Langit dan memperhatikannya.
“Iya, kamu sih gak pekaan, ngelirik cowok cuman bisa ngelirik Harris.”
Adista terkekeh. “Namanya juga suka, yang bisa dilirik cuman satu. Kayak kamu, bisanya cuman ngelirik aku,” goda Adista.
“Kamu bahkan ngikutin aku saat beli buku disini?” tanya Adista sambil memberikan foto kepada Langit, foto satu tahun yang lalu saat Adista pergi membeli novel.
“Itu Dinda yang foto, aku sih punya banyak kamera.”
“Pantes aja, Dinda selalu foto kalo pergi-pergi. Mikko juga, kan biasanya cowok itu anti banget sama kamera.”
Langit tergelak, menggeleng tidak percaya. “Tahu dari mana kamu kalo Mikko itu anti kamera? Yang ada dia minta foto terus kalo aku bawa kamera.”
“Tahu dari dia sendiri sih,” Adista terkekeh dan duduk di samping Langit.
“Sebenarnya ini gak semuanya, masih ada di kamera sama laptop, belum sempat aku cuci.”
Adista berbinar. “Mana kameranya?”
“Mau apa?” tanya Langit bingung.
“Mau lihat foto aku lah, siapa tahu ada aku yang cantik disana.”
Langit terkekeh, kemudian berdiri dan mengambil kameranya yang tersimpan di dalam lemarinya, Langit bilang kameranya harus disimpan baik-baik kalau tidak diambil Lala dan dia bakalan foto semua cowok ganteng yang ada di sekolahnya.
“Seneng banget kayaknya foto aku kalo aku lagi menghadap ke samping,” kekeh Adista karena di kamera Langit foto Adista kebanyakan memandang ke arah lain.
“Disana kamu cantik kalo kayak gitu, aku suka ngeliatnya.”
Adista hanya tersenyum simpul hingga suara ribut Lala dan masuk ke dalam kamar Langit sambil membawa ponsel membuat Adista mengernyit. Adik Langit itu memang benar-benar unik.
“Hai guys, yang tadi nanya dimana Abang gue. Sekarang dia lagi pacaran berduaan di kamar. Helloo, kalian bisa pikirin gak sih Abang gue itu orangnya gimana, dia itu beuh ....”
Adista hanya menggelengkan kepalanya saat Lala live instagram dimana followersnya adalah fans Langit.
“Halo juga Puput, ini pacar Abang gue,” Lala mengarahkan ponselnya ke arah Adista, Adista hanya tersenyum dan melambaikan tangannya. “Iya, memang cantik Kak Adis.”
“Keluar lo Lala!” teriak Langit kesal.
“Abang gue udah mulai marah guys,” kekeh Lala. “Gue mau kasih lihat nih kamar Abang gue, jangan histeris.”
Lala menyorotkan kamera ponselnya ke arah foto-foto Adista yang tertempel dan tergantung di kamar Langit.
Setelah selesai, dia mengarahkan kamera ponselnya lagi ke arahnya. “Iya guys, gue tahu Abang gue itu kayak stalker tingkah atas, semua foto Kak Adis dia ada, dari tahun kemarin.”
Lala mengatakan semua tentang Langit yang dia ketahui, Adista yang mendengarkan hanya tersenyum dan sesekali menatap Langit, dimana Langit hanya menggaruk tengkuknya malu. Astaga ... kapan lagi Adista bisa melihat Langit yang malu-malu seperti sekarang ini.
Adista yang masih memegang kameranya, mengangkatnya dan membidik objek yang ada di depannya yang masih saja tersipu malu. Cekrek.
Langit langsung mengangkat kepalanya saat suara itu terdengar. “Adis ....”
“Apa? Ganteng kamu disini,” kekeh Adista. “Ini aku minta ya.”
“Lihat guys orang yang lagi pacaran,” bisik Lala di ponselnya. “Sampai disini dulu cerita tentang Abang gue, kalo ada apa-apa lagi bakal gue kasih tahu kalian. Bye.” Dan Lala keluar dari kamar Langit.
“By, hapus,” perintah Langit, Adista mengabaikan dan tetap memotret Langit dengan kamera yang dipegangnya.
“Gak mau, kamu banyak foto aku, sedangkan aku masih bisa dihitung pake jari foto kamu,” ucap Adista.
“Kak Adis,” panggil Lala sambil membawa kamera polaroid di tangannya. “Daripada kalian ribut, mending gue fotoin, bisa gue jual ke temen gue.”
“Pelanggaran hak asasi, La,” ucap Langit sambil mendengus.
“Alah, biasanya juga lo sering jual foto lo sendiri sama gue biar gue jual ke temen gue,” ejek Lala. “Buruan deh, mau gue promosiin di instagram.”
“Udah, foto aja.”
Lala memutar bola matanya. “Lo pikir orang-orang percaya kalian itu pacaran kalo duduk aja jauhan gitu.”
“La ...,” Adista menyela. “Ini juga udah deket banget.”
“Deket dari Hongkong. Kak Adis, gue aja masih bisa duduk di tengah, mana mungkin itu dinamakan dekat.”
“Jadi lo maunya gimanya?” tanya Langit.
“Lo geseran dikit Bang,” ucap Lala. “Kak Adis diem disitu aja, biar Bang Langit yang deket.”
Langit mendekat, Adista diam mematung saat tubuh mereka bersentuhan. Sungguh, baru kali ini mereka sedekat ini. Adista sedekat dengan Langit hanya saat berada di motor.
“Udah, buruan,” ucap Langit.
“Apaan sih, kaku banget,” cibir Lala. “Kak Adis, kepalanya nyender di bahu Bang Langit, terus tangan Bang Langit di pinggang Kak Adis. Buruan.”
“Gue juga gak dibayar buat nurut sama ucapan lo,” ucap Langit tapi masih tetap menaruhkan tangannya di pinggang Adista, Lala tersenyum.
“Satu ... dua ... tiga,” Lala memotret Langit dan Adista. “Lagi, gaya yang lain.”
Adista dan Langit melakukan apa yang diucapkan oleh Lala, tapi sesekali dengan gayanya Adista melakukan tanpa disuruh membuat Langit terkekeh senang. See, hari ini adalah hari terbahagia Langit.
TBC
kalau sempat mampir baliklah ke karyaku "love miracle" dan "berani baca" tinggalkan like dan komen ya makasih
Hai kak, numpang promote nggeh 😅
Yuk mampir dikarya saya "Ainun" dan "Because of you". Update setiap hari kok 😁 like+vote+comment juga boleh kok 😂
Tankeyu 💞