NovelToon NovelToon
Ikrar Cinta Rumi

Ikrar Cinta Rumi

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: picisan imut

Ketika dua gadis yang berbeda golongan mengagumi ku, membuatku bimbang untuk memilih salah satunya dari mereka.

dan saat hati ku mulai condong pada salah satu dari mereka, perbedaan lah yang menahan ku.

haruskah aku mengikuti alur yang di setujui dari sebagian besar pihak yang mendukung ku.

lalu?

bagaimana bisa aku memilih, karena pasti akan ada yang terluka setelahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mengunjungi bibi Maryam

Setelah memenangkan hati Rahma, Ustadz Irsyad kembali keluar.

Terpancar wajah lebih cerah di sana, ketika Rahma menghampiri anak-anak mereka yang sudah berkumpul di meja makan.

Terdengar pula rengekan kecil Ziya yang tengah berada dalam gendongan Nuha, sementara Faqih sibuk membenarkan kain panjang yang dibuat untuk menggendong Ziya, membuat simpul yang kuat di bagian punggung istrinya.

Di sana Rumi pun beranjak dari tempat duduk, lalu menghampiri Umma Rahma yang tengah turut menenangkan Ziya.

"Bawa saja dulu keluar, mungkin dia panas Nuha." Titah Rahma.

"Iya Umma," jawab Nuha, yang langsung berjalan keluar, setelah meminta Faqih makan lebih dulu.

"Rumi, sudah pulang?" Tanya Umma Rahma pada anak laki-lakinya yang langsung mencium pipi Ummanya itu.

"Sudah Umma," jawabnya dengan tatapan sendu. Rasanya, melihat sang ibu dengan kondisi seperti ini benar-benar membuat hatinya terpukul. Belum lagi dengan keluhan Rahma yang tadi ia dengar. Benar-benar membuatnya khawatir jika kondisi psikis ibunya tidak baik. Hal itu bisa mempengaruhi kondisi kesehatan raganya juga.

"Sudah... Yuk makan dulu." Ajak Ustadz Irsyad pada Semua yang di sana. "Faqih, ayo makan." Ajak Ustadz Irsyad Kemudian, Karena dia masih berdiri di dekat meja makan itu.

"Iya Bi... Faqih menunggu Nuha saja. Maaf permisi sebentar ya Umma, Abi." Ucap Faqih yang masih mendengar suara tangis anaknya, dimana sepertinya tangis itu semakin kencang terdengar.

serta langsung di iyakan oleh semua yang ada di sana, lalu mereka pun melanjutkan makan malam itu.

–––

Di tempat yang berbeda, Sebuah taksi online baru saja tiba di salah satu pelataran rumah.

Di kawasan kelapa gading, kompleks perumahan yang tak mewah namun tertata dengan rapi. Dengan pagar-pagar rumah yang tidak terlalu tinggi.

Debora, gadis itu turun dari dalam taksi tersebut lalu menghampiri wanita berhijab yang sudah menantinya di depan pintu pagar, dengan senyum tersungging di bibirnya.

"Assalamualaikum."

"Alaikumsalam." Jawab beliau, yang tak lain adalah bibi Maryam.

"Tante..." Debby menghampiri, lalu mengecup punggung tangan bibinya lembut.

"Akhirnya datang juga. Kirain nggak jadi kesini."

"Jadi lah. Hehehe." Cengengesan.

"Ya sudah masuk yuk, kamu sudah makan?"

"Belum."

"Nah kebetulan, Tante masak... Yuk makan." Ajak bibi Maryam seraya melingkari lengannya di pundak Debby. baru setelahnya mereka pun melangkah bersama, masuk ke dalam rumah.

Setelah meletakkan tas ke dalam kamar yang sudah di siapkan? Debora kembali menghampiri bibinya dan duduk di kursi makan.

Ia menatap tidak tega kearah bibi Maryam yang harus tinggal sendirian sekarang. Setelah perpisahannya dengan pria bernama Akhri itu, lebih-lebih dia tidak memiliki anak, dan di kucilkan dari keluarga pula. Jadi benar-benar sebatang kara.

"Yuk makan, kamu mau makan yang mana?" Tanya bibi Maryam, menawarkan.

"Itu sayurnya keliatan enak." Debby menunjuk ke arah sayur Nangka yang di masak menggunakan santan kental, berwarna kuning dan terdapat merah dari cabai mera di sana.

"Ini gulai nangka. Makanan kesukaan om Akhri. Kamu juga pasti suka. Tante jadi bisa masak makanan Padang loh sekarang," Jawab Bibi Maryam terkekeh.

"Iya Tante." Debby tersenyum kecut, di saat seperti ini? Kekehan yang ia tangkap bukanlah sebuah candaan, namun cara bibi menunjukkan kerinduannya kepada sang mantan suami.

Di sana, Debby masih memperhatikan. Tangan putih bersih bibinya sedang menciduk nasi dari wadahnya. Lalu meletakkan itu ke piring Debora.

"Ini mau?" Bibi Maryam menawarkan ayam goreng dengan parutan lengkuas yang di goreng bersamaan, sebagai taburannya.

"Iya. Tapi Debby mau ambil sendiri saja, sama itu sambal hijaunya." Jawab Debora, dia pun meraih sendok lalu mengambil satu potong ayam di bagian paha atas dan meletakkan di atas nasi yang sudah tersiram kuah gulai nangka. "ayo Tante juga makan."

"Iya." Bibi Maryam tersenyum. dan setelah semua tersaji di atas piring mereka masing-masing. Keduanya pun mulai menyantap dengan lahap makanan tersebut.

"Enak Tante, benar-benar seperti masakan yang ada di warung makan Padang." Puji Debora.

"Hehe, iya. Om Akhri yang mengajarkan Tante."

"Tante? Maaf ya... Debby boleh bertanya?"

"Boleh..." Bibi Maryam menutup sendok dan garpunya, lalu melipat kedua tangannya di atas meja, mengambil sikap sempurna.

"Itu, bibi sedari tadi menyebut-nyebut nama om Akhri terus. Biasanya, jika kita habis bercerai? Pasti akan membencinya kan? Apalagi, om Akhri sudah?" Debby ragu.

"Apa? Sudah menikah lagi?" Tersenyum.

"Iya... Maaf ya Tante."

"Tidak apa... Mungkin karena masih ada cinta di sini." Bibi Maryam menunjukkan kearah dadanya sendiri.

"Cinta? Tante masih mencintai orang yang sudah berpoligami, bahkan rela melepaskan Tante yang sudah mau ikut berpindah keyakinan, sampai di benci keluarganya?"

Merry terkekeh. "Kamu salah faham, om Akhri tidak pernah sejahat itu."

"Lantas apa? Nyatanya seperti itu kan? Om Akhri tidak bisa bertahan karena Tante tidak bisa memberikan keturunan, lalu beliau poligami,dan akhirnya Tante menyerah setelahnya memutuskan untuk berpisah. lihat? Om Akhri tidak berjuang sedikit pun demi mempertahankan Tante, 'kan?"

"Tante memang tidak kuat, dan akhirnya memutuskan untuk berpisah. Tapi Tante tidak pernah merasa di buang oleh om Akhri karena kondisi Tante ini. Dan Om masih berhubungan baik dengan Tante, kok."

"Tapi sama saja itu jahat Tante." Kedua mata Debora berkaca-kaca. Dia pun pasti tidak akan sanggup jika ada di posisi bibinya itu.

Bahkan jika itu Rumi sekali pun, dia tidak akan rela di abaikan dan di tinggal begitu saja hanya karena tidak bisa memberikannya anak.

"Tidak jahat Debby... Kamu salah Faham." Bibi Merry meraih tangan Debora menggenggamnya. "Karena yang meminta beliau menikah lagi adalah Tante sendiri. Om Akhri selalu nolak, bahkan kami hampir setiap hari berdebat kecil karena ini. Tapi, beliau punya tanggung jawab sebagai anak tunggal, jika Tante tidak bisa memberikan keturunan? Maka tante tidak bisa egois, karena Om Akhri harus memiliki penerus keluaganya. Apa lagi om Akhri adalah anak seorang pemimpin pondok pesantren, dia harus memiliki keturunan."

"Tapi apa tidak bisa, kalau harus adopsi anak?"

"Anak kandung, dengan anak Adopsi itu berbeda. Lagi pula, semua sudah terjadi. Dan sekarang om Akhri sudah punya anak dari istri mudanya... Tante bahagia kok, walaupun akhirnya Tante mundur, karena tidak kuat melihat kebahagiaan Om Akhri dengan istri mudanya itu. Dan itu manusiawi Debby." Maryam terkekeh, namun matanya berkaca-kaca saat mengingat momen bahagia keluaga kyai Marzuki, ayah dari Akhir yang sedang tertawa bersama kerabatnya menyambut kehadiran cucu pertama dari pemimpin pondok pesantren tersebut, sama halnya dengan Akhri yang masih mengusap-usap bagian kepala istri mudanya di atas bed rumah sakit, setelah menjalani operasi sesar beberapa jam sebelumnya.

sementara dirinya hanya duduk sendiri, di kursi pojok ruangan, seperti orang asing. Menyunggingkan senyum, dengan perasaan campur aduk antara bahagia sekaligus terluka. Namun dia hanya diam saja, menatap kearah wajah sang suami yang sama sekali tak membalas tatapannya sedari tadi.

Karena beliau masih fokus memperhatikan istri mudanya, tanpa sadar bahwa ada hati lain, yang butuh di kuatkan juga di sana.

1
Sopi Yani
sangat luar biasa
falea sezi
lebih suka yg terbuka tuh rumi gpp Safa qm. bakal dpt jdoh lain
top markotop deh pokoke
Bunda ammar🥰🥰
padahal udh yg ke 3x baca cerita abi irsyad nuha jyga rumi tp ga tau kenapa pas di bab ini selalu ga tahan air mata😭😭😭
Momo Bulbul
bagus banget ceritanya
solihin 78
Masya Allah,😭😭😭😭😭😭
solihin 78
😭😭😭😭😭😭😭😭
solihin 78
hehehehee ustadz Rumi ustadz Rumi ya
solihin 78
subhanallah
solihin 78
😭😭😭😭😭😭😭😭
solihin 78
benar bi
solihin 78
luar biasa Abi Irsyad
M. Namikaze
saya baca sampai akhir novel Maryam (Cinta berselindung Risau) dan akhirnya mengerti kenapa Umma Isti tidak dijodohkan dg Ust Irsyad sebab "Menantunya Ummi Isti itu tantenya Debby, Otomatis Debby jadi cucu keponakan Ummi Isti, klo Ummi Isti jodoh sama Ust Irsyad manggil Debby nya anak apa cucu?"
M. Namikaze
cma umma Rahma yg berani ngomelin Ustadz
M. Namikaze
senjata terakhir "perintah suami"
M. Namikaze
ibnu adiknya Ilyas bukan thor? lumayan jauh klo iya, dr cileungsi ke harapan indah
M. Namikaze
yang saya tahu (saya lupa nama ulama nya) " Rasul saw. pernah bersabda, " Aku tidak akan pernah lupa, tetapi Allah memberiku lupa supaya menjadi sunnah.""
M. Namikaze
anakku perempuan semua, ntar klo ada yg ngelamar mau ku tanya begini kira kira harus bayar royalti ke author gak?
M. Namikaze
klo orang biasa yg sayang istri jujur malah jadi sakit hati banget klo sampai istri bicara begini, gak tahu klo ustadz....
...sus@nt!
hai rumi ...
dulu di novel nya Nuha aku sempet komen kalau ada novel tentang dirimu pasti aku baca , tapi karena ada hal yang terjadi akhirnya
baru sempat baca sekarang ...
maaf ya nggak menepati janji... ☺️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!