Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Acara Keluarga Bima
Update guys
Jangan lupa Vote Ranking, Komen dan Jempolnya ya (👍)
Selamat membaca
***
Suasana malam hari memang cukup ramai di rumah Bima, memang acara perayaan ulang tahun Mommy Luna yang genap 47 tahun. Meski umur sudah tua tapi wajah masih terlihat masih cantik dan awet muda. Bima masih berada dalam kamarnya untuk mempersiapkan diri dan memakai pakaian casual yang nyaman sembari menunggu ketiga sahabatnya datang. Ia mendapat pesan mereka berada dalam perjalanan kemari.
Bima menuruni anak tangga sudah melihat Kakek Galang dan Daddy-nya berada duduk di sofa. Yang lainnya seperti Om, Tante, dan sepupunya sudah berada di halaman belakang. Yang tidak hadir jelas keluarga Mommy-nya yang berada di Jerman namun mereka tidak pernah absen untuk memberi selamat dan hadiah, dan Papa Abdul dan Mama Sarah berada di luar negeri, karena Tasya baru saja menyabet gelar S3 nya di Harvard, Amerika.
Galang dan Reza menyadari kedatangan Bima dan menyambutnya dengan senang.
"Hai, cucu ganteng, Kakek, kemarilah." seru Galang yang sudah tua menyuruh Bima untuk duduk gabung di sebelahnya.
"Hai Kek… " Sapa Bima duduk di sebelah Galang dan tidak lupa. "Hai Daddy… "
Keduanya mengangguk tersenyum.
"Bagaimana masa kerja kamu saat ini, Bi?"
"Lancar dan baik, Kek. Daddy masih mengawasi Bima kok." kata Bima sekilas menoleh pada Reza.
"Baguslah… Cucu Kakek sudah besar menjadi seorang pria yang hebat. Kakek berharap kamu akan menjadi pemimpin SJC lebih baik dari Kakek dan Daddy kamu." tukas Galang. Bima adalah pewaris utama SJC yang dimana segala urusan perusahaan di serah terimakan padanya.
"Bima akan berusaha keras untuk menjadi pemimpin yang baik dan bisa membuat SJC selalu menjadi yang di depan." tekan Bima berharap yang sama dengan Kakeknya.
"Kakek percaya hal itu." kata Galang sejenak. "Apa ada seseorang yang kamu sukai sekarang?" timpal Galang ingin tahu.
Bima berusaha tenang, sedangkan Galang dan Reza masih setia menunggu jawabanya.
"Uhm ada... tapi Bima masih belum pasti dengan perasaan Bima." kata Bima entah ada atau tidak akan wanita yang di maksud Bima. Untuk saat ini Bima tidak punya teman wanita dekat.
"Benarkah, siapa?" tanya Galang dan Reza bersamaan. Posisi duduk Reza yang tadinya menyandar sekarang berubah mencondong ke depan.
Bima tersenyum membuat keduanya mengerut alisnya.
"Kalian berdua, kepo sekali, kalau memang sudah tau jawabannya Bima kasih tau kok." ucap Bima.
"Langsung lamar saja, Jangan tunda-tunda. Daddy pengen punya cucu." seru Reza ngebet.
"Kakek juga pengen punya cicit, nanti Kakek bantu lamarannya, iya kan Za!"
"Iya, Yah. Bisa diatur."
Bima menghela nafas. Salah bicara malah membuat panjang urusannya.
"Alhamdulillah, cucu ganteng Kakek, normal." sahut Galang.
"Aku normal, Kek."
Mentang-mentang tidak punya pacar yang di bawa mereka sampai beranggapan Bima berbelok mereka tidak salah berpikir seperti itu. Yang salah Bima yang masih belum bergerak mencari.
"Tapi belum lihat kamu gandeng cewek ke acara keluarga. Kai saja sudah pernah meski masa pacaran mereka hanya bertahan seminggu."
"Kai saja yang buaya darat."
Reza terkekeh geli melihat Bima begitu tidak suka dengan Kaivano yang memang Reza akui anaknya itu sangat playboy namun dalam urusan belajar Kaivano tetap mengutamakannya.
"Makanya belajar dari Kai." cetus Reza pada Bima masih menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Yang ada aku jadi bahan ledekan Kai nanti, gak mau, tanpa aku minta cewek juga nyamperin." ucapnya sombong.
"Ya, Bima sang Idol, fansnya mengalahkan artis Indonesia. Dan menyaingi artis Korea." kata Reza membuat Bima ingin tertawa, terlalu berlebihan.
Sedang asyik dengan acara obrolan mereka Luna datang menghampiri.
"Kok masih pada di sini, ayo gabung, mereka sudah menunggu."
"Okay!"
Mereka ikut bergabung, acara malam ini adalah acara ulang tahun Luna. Tadinya mereka sudah membuat kejutan jauh-jauh hari ingin merayakan disebuah hotel, namun kejutan sudah tercium oleh Luna. Dan malah mengancam tidak akan hadir ke tempat acara. Wanita paruh baya itu memang dikenal sangat sederhana tidak mau segala sesuatu yang berlebihan. Lebih baik uangnya di donasikan pada orang yang membutuhkan. Itu yang membuat mereka mencintai Luna. Bidadari cantik dari langit.
***
Suasana malam menjadi lebih indah saat Daddy-nya naik panggung kecil memegang gitar. Memang Bima tidak pernah pungkiri kalau Daddy-nya memang super duper romantis. Sekarang saja dia sedang memetikkan gitar dengan jari-jari lentiknya dan bernyanyi. Lagu Christina Perri, A thousand Year menjadi lagu pamungkas. Semua keluarga terhanyut dalam lagu apalagi Mommy-nya terlihat terharu dengan apa yang dilakukan suaminya. Meski sudah tidak muda lagi, tapi mereka khalayak anak muda kasmaran.
Time has brought your heart to me, I have loved you for a thousand years.
I'll love you for a thousand more.
Daddy-nya selesai menyanyikan lagu suara tepuk tangan dan sorak suara bergemuruh. Bima melihat Mommy-nya menghampiri Daddy-nya dan memeluk saling mendekap, ada rasa iri akan hubungan dua orangtuanya yang tampak bahagia meski selalu ada masalah dalam rumah tangga tapi mereka selalu bisa mengatasinya dengan baik tanpa ada masalah.
Bima terharu begitu pun yang lain. Apa cinta yang di perlihatkan kedua orangtuanya memang begitu indah, beda dengannya cinta yang tidak pernah ia dapatkan dan hanya sebentar tapi sakitnya sangat dalam sampai samudra hatinya.
Ternyata mencintainya adalah sebuah kesalahan, jujur ada rasa penyesalan dimana ia menyatakan cintanya pada wanita itu. Tahu begitu cinta dalam diam saja. Mungkin saat ini Bima sudah mempunyai kekasih atau keluarga kecil kalau tidak ada efek samping dari wanita itu. Menyebut namanya saja sekarang enggan Bima lakukan.
"Kamu pasti iri kan, Bi." suara dari arah belakang tubuhnya membuat Bima menoleh. Ternyata Arvind. Ketiga sahabatnya baru datang dengan membawa sebuah jinjingan.
"Sialan. Kenapa kalian baru datang, hah?" sontak Bima pada ketiga sahabatnya malah tersenyum melihat Bima dengan wajah kesalnya. Ekspresi wajah Bima saat kesal sangat lucu hingga tiga sahabatnya menahan tawa hanya memamerkan senyum geli di wajah mereka.
"Sorry, habisnya kamu kasih tahu acara ultah Tante Luna mendadak sih. Kita kan mau kasih hadiah juga." sahut Arvind di angguki Fando dan Arsen.
"Gak usah lebay, kita sudah datang!" seru Fando berkilah.
"Mommy gak butuh hadiah, yang penting kalian hadir disini." Kata Bima.
"Malu lah, datang gak bawa buah tangan. Kan bisa sekalian cari perhatian camer, kira aja di restuin sama Nabila yang cantik dan kalem." seru Arsen, melirik ke arah Nabila yang sedang mengobrol bersama Pasha, anak dari Tante Abel yang beda satu tahun dengan si kembar.
"Hush, enak aja. Aku melarang keras. Don't touch her, kalau sama kamu yang ada Nabila di mesumin terus, mau jadiin dia yang berapa kalau sama kamu, Arsen." tungkas Bima menolak Arsen sebagai adik ipar. Bukan apa-apa predikat Arsen yang playboy membuat Bima hati-hati bila Nabila benar-benar berhubungan dengan pria macam Arsen. Yang ada Nabila di galauin terus.
"Bi, kalau aku sama Nabila aku mah rela melepas para wanita di sekitarku. Asal Nabila jadi milik Arsen seorang." tegasnya dengan muka serius malah berius-rius, ibarat kata Arsen bucinnya Nabila. Dia pacaran dengan banyak wanita asal nikahnya sama Nabila, itu yang Arsen cetuskan.
Arsen bucin tidak tahu diri.
"Lagian Nabila juga gak mau sama kamu!" jawab Bima. Sedangkan Arvind dan Fando mengeleng perdebatan keduanya kalau sudah membahas Nabila adiknya yang sangat disukai Arsen sejak masih sekolah dulu.
"Kita lihat saja nanti."
"Serahlah… "
Bima mengajak ketiga sahabatnya itu menghampiri Mommy-nya yang sedang mengobrol, selesai acara dari keromantisan Daddy-nya. acara obrolan Luna dan Rara terganggu sejenak. Merasa akan lama Rara izin bergabung dengan Abel mengobrol dengan para para suami-suami sahabatnya.
"Mommy, ada sahabat Bi datang," ujar Bima, Luna memandang ketiga sahabatnya senang.
Ketiga sahabatnya memberi hadiah pada Luna dan memeluk rindu pada mereka yang sudah dianggap anaknya sendiri.
"Fando, Arsen, baru kelihatan, sekarang sudah jadi orang sukses jarang ke rumah buat main. Beda sama Arvind tiap minggu selalu kemari." cetus Luna.
Bima, Fando dan Arsen melirik ke arah Arvind dengan wajah datarnya dan meminta penjelasan atas ucapan wanita paruh baya cantik itu.
"Kamu sering main, Arvind?" tanya Bima agak terkejut, di antara ketiga sahabatnya. Arvind lah pria yang susah di tebak.
Arvind berdehem membersihkan tenggorokannya. "Memangnya gak boleh silahturahmi sama Tante Luna. Bukan berarti kamu gak ada aku lupa sama keluarga kamu, Bima."
"Gak modus deketin si kembarkan? Awas aja kalau ngambil Nabila dari aku." ancam Arsen.
Bima tidak habis pikir dengan Arsen kalau memang menyukai Nabila, kenapa dia tidak mengubah sikap dan sifatnya. Dasar kadal buaya.
Arvind mengerit. "Apaan sih, tanya aja Tante Luna, kalau gak percaya." kata Arvind tidak terima atas tuduhan Arsen.
Luna hanya tertawa pelan melihat ke empat pria yang sudah tumbuh jadi pria dewasa. Sejak jaman sekolah dasar, menengah pertama dan menengah atas mereka selalu bersama, ada suka dan duka mereka jalani. Pertengkaran mereka tidak akan jauh-jauh dari masalah pribadi terutama wanita.
"Arvind itu Dosennya, Dila di kampus. Selain itu urusan pekerjaan juga dengan Daddy. Makanya sering main kerumah." Jelas Luna membuat ketiganya paham dan ber oh ria.
"Urusan pekerjaan apa?" namun sejenak kembali sadar akan sesuatu. "Jadi kamu Dosennya Dila?" tanya Bima baru tahu.
Selama di Jerman yang Bima tahu kalau Arvind seorang Dosen tanpa tahu kampus mana yang di pijaknya selama mengajar.
"Nanti aku ceritain soal urusan kerja, soal aku Dosennya Dila, memangnya dia gak kasih tahu kamu?"
Bima menggeleng, yang artinya tidak. "Kamu harus cerita semuanya, Arvind."
Arvind manggut-manggut karena memang harus menjelaskan semuanya. Diantara mereka memang tidak pernah ada rahasia.
Setelah memberikan selamat pada Luna. Mereka berempat masuk kedalam rumah duduk di sofa dan ingin mendengar cerita Arvind.
***
"Cerita, Vind, sekarang, aku penasaran sama kamu yang sering main ke sini ditambah ternyata kamu Dosennya Dila, terus kamu punya kerjaan bareng sama Om Reza. Mau mana dulu yang mau kamu ceritain ke kita, kita siap dengerin kok, awas aja kalau gak sampai jujur dan ada yang ditutupi aku bakal cari tahu sendiri." tungkas Arsen menatap tajam Arvind di seberang sana bersama Bima sementara Arsen duduk dengan Fando.
Bima, Arvind dan Fando saling bertukar pandang lebih jelasnya kenapa jadi Arsen yang lebih ingin tahu ditambah dengan raut wajah yang terbilang terlihat seperti orang yang merasa tersaingi.
Sebelum menjawab, ART meletakkan minuman dan cemilan pada mereka. Setelah kepergian ART baru lah Arvind buka suara dan ketiga sahabatnya sudah tidak sabar mendengarkan semuanya.
Helaan nafas Arvind sebelum bicara membuat Bima menggeleng.
"Aku sering kemari masalah kerjaan, Om Reza minta aku buat bantu dia urusin surat perizinan pembangunan Universitas Winajaya yang akan dibuka tahun depan. Bukan ada modus lain seperti Arsen bilang." Jelas Arsen dan sahabatnya sudah paham namun tidak dengan Arsen yang memang masih belum puas.
"Loh, kenapa minta bantuan kamu bukan Fando yang memang seorang Lawyer? aneh." tanggapan Arsen membuat Bima dan Fando kembali memandang Arvind yang sekarang khalayak tersangka yang sedang di introgasi.
"Kalian lupa kalau aku punya saudara yang bekerja di Direktorat Jenderal Kelembagaan IPTEK dan DIKTIP, aku sebagai perantara. Bagaimana paham gak ada modus-modusan kan? Lagian aku juga gak akan suka sama cewek baru gede. Lebih baik yang matang." Tegas Arvind penuh penekanan.
"Selow aja, Vind. Kita gak pikir aneh-aneh sama kamu cuma kepo." seru Bima.
"Betul memangnya Arsen. Modus terus." bela Fando membuat Arsen tersisihkan.
"Ok fine! Urusan kelar. Tapi… kata kamu cewek baru gede? Maksudnya apa? Cewek matang banyak tapi lebih menantang cewek baru gede. Inget karma, sewaktu-waktu kamu suka sama cewek baru gede gimana tuh? Baru nyaho." petuah Arsen pada Arvind si Dosen es yang tidak tersentuh bilang saja Arvind memang pria yang lempeung seperti jalan tol, masa lalunya membuat seorang Arvind berhati-hati melabuhkan hatinya. Tidak ingin salah melangkah.
Arsen sedikit ragu akan menjawab bagaimana kalau karma itu memang ada?
Kemudian obrolan keduanya hening sejenak namun tidak lama seorang gadis datang menggunakan dress hitam dengan pendek diatas lutut dengan kerah v neck terlihat cantik dan anggun. Mereka berempat memandang kearah gadis tersebut dan tersenyum.
"Hai, Dila.." sapa mereka serentak kecuali Arvind sok sibuk dengan ponselnya. Mereka melihat si tomboy cantik Nadila berubah menjadi Nadila yang feminim dan ini sebuah momen langka bisa melihat gadis itu berpakain khalayak wanita. Biasanya kaos dan celana jeans sobek.
Nadila berdecit kemudian berdiri di depan mereka berempat.
"Akhirnya bisa melihat kalian kumpul, kakak-kakak jomblo!" seru Nadila membuat Arvind sekilas melirik ke arahnya.
"Kok tahu kalau kita jomblo?" balas Fando dengan kegenitannya mengedip mata pada Nadila.
Nadila mengerut. "Cuma asal tebak saja!"
Kemudian Bima menepuk sofa kosong dekatnya agar Nadila duduk gabung, dia pun patuh akan perintah Kakaknya yang tidak pernah bisa ditolak, padahal Nadila ingin ke kamar karena sudah tidak nyaman dengan pakaiannya.
"Kamu sudah punya pacar, Dil?" tanya Bima ingin tahu, karena adiknya yang satu ini sangat berbeda dengan adik-adiknya yang lain. Nadila tipe wanita yang cuek dan judes tidak habis pikir banyak pria yang mendekati tapi langsung menyerah sebelum pedekate.
"Belum!"
Nadila mendelik. Bima tahu kalau tatapan Nadila dan Arvind seperti musuh yang siap bertempur.
"Kamu bisa pilih diantara ketiga pria di sini." kata Bima membuat ketiganya melotot pandangan ke arah Bima.
Bima pikir mereka ajang pemilihan jodoh.
"Big No."
"Why?" seru Fando dan Arsen. Sedangkan Bima dan Arvind terlihat biasa saja.
"Kita ganteng dan mapan." sahut Arsen, hanya ikut-ikutan tetap Nabila di hatinya meski tidak tahu perasaan Nabila terhadapnya.
"Kasih alasan yang jelas dong!" kata Bima hanya ingin mengetahui sesuatu yang dicurigai apa benar sesuai tebakannya.
"Misalkan aku pacaran sama Kak Fando aku bakal diselingkuhin terus, Kak Fando kan dikenal suka bikin cewek patah hati dan aku jelas gak mau."
"Kalau kamu mau, Kakak siap setia sama kamu."
"Gak percaya." Fando syok mendapat penolakan dari Nadila. Pertama dalam hidupnya Seorang Fando ditolak seorang wanita.
Bima hanya tersenyum melihat lontaran alasan yang Nadila cetuskan. Arvind masih setia diam, mendengarkan.
Nadila melihat ke arah Arsen. "Kalau sama Kak Arsen jelas menolak, karena...Kak Arsen adalah cowok mesum gak tahu di untung. Sudah bucin masih aja jelalatan kemana-mana."
"Ya, ampun. Pedes banget omongan kamu. Tenang aja aku mah gak akan nyakitin Nabila kok, yang paling di sayang."
"Prett… "
Kemudian Nadila terdiam. Bima buka suara lebih dulu.
"Kalau Arvind, gimana, Dil?" tanya Bima.
"Pak Arvind. Gak mau." Nadila dengan embel-embel 'Pak' bukan 'Kak'seperti pada yang lain membuat mereka penasaran dan menolak keras Arvind.
Arvind mendelik tidak peduli.
"Kok panggil, Pak, ke Arvind, terus kenapa gak mau?" tanya Bima yang penasaran soalnya panggilan pada Arvind lah yang beda.
"Karena Pak Arvind kan Dosen aku. Lagian Dila sudah punya orang yang disukai kok."
"Uhm, Ok. Ini kan bukan di kampus, jadi panggil biasa aja gak usah formal." tanggap Bima tahu kalau Nadila tidak menyukai Arvind. Mungkin ada sesuatu yang buat keduanya bermusuhan.
"Sudah kebiasaan gak bisa di ubah, rasanya aneh kalau aku panggil kakak." cetus Nadila mendelik kesal karena melihat Arvind tidak pernah merespon ucapan Nadila maupun yang lain.
Dasar Dosen edan!
"Kakak baru ingat sama curhatan kamu waktu itu, kamu bilang Dosen muka tembok, es balok dan muka kulkas itu…jangan bilang kalau itu Arvind?" pertanyaan Bima sekejap membuat Nadila menelan salivanya tidak berani menoleh pada Arvind yang berada di samping Kakaknya. Fando dan Arsen masih setia mendengarkan.
"I-tu… bukan buat Pak Arvind kok. Lagian Pak Arvind orangnya baik dan tidak sombong." kata Nadila kikuk. Padahal dalam hatinya sikap Arvind adalah kebalikannya. Nadila hanya jaga image agar nilainya tidak menjadi korban Dosen edan itu.
"Yakin, bukan untuk saya?" Arvind buka suara, semua mengalihkan padangan padanya.
"Sumpah Pak, Dila gak bohong."
Mereka yang melihat terkikik geli akan respon Arvind dan Nadila bersikap begitu formal.
"Kalian cocok banget sumpah." cetus Arsen.
"Gak!" keduanya bersamaan.
"Kompak banget ngomongnya?" goda Fando.
Nadila berdiri karena sudah tidak bersemangat apalagi mendapat godaan dari mereka bertiga dan lebih parah si muka tembok hanya memandangnya tajam. Memangnya dia kira Nadila mangsanya yang siap diterkam.
"Dila mau ke kamar, bisa-bisa otak aku jadi tambah runyam lama-lama pria tua dan jomblo kayak kalian berempat....bye!"
Nadila melenggang meninggalkan keempat pria itu. Arvind hanya menggeleng akan sikap Nadila sementara yang lainnya saling memandang akan Arvind terlihat masih kesal akan ejekan mereka.
"Dila beneran adik kamu, Bi? Judes banget kalau lihat aku." protes Arvind.
Bima mengangkat bahunya dan mereka melanjutkan kembali obrolan yang tertunda sambil menikmati kue dan minuman yang sudah disediakan.
***
Author udah ada planning bikin cerita Nadila dan Arvind tapi kalau Bima sudah banyak episodenya, masih jauh sih. Next project…
Di tunggu aja ya hehehe
Terima kasih