Sekar Sie bukan siapa-siapa.
Dia gadis biasa dari keluarga sederhana — ayah sudah meninggal, ibu sakit, adiknya masih kecil. Hidupnya hancur ketika Nyonya Tan, wanita paling berkuasa di keluarga Tan, memaksanya menyamar sebagai **Felicia Tan** — putri keempat keluarga Tan — untuk menikah masuk ke keluarga konglomerat Liem.
Alasannya? Felicia yang asli mengidap penyakit parah dan harus bersembunyi dari dunia.
Sekar tidak punya pilihan. Keluarganya dijadikan sandera. Satu langkah salah, identitas palsunya terbongkar, dan semua orang yang dia cintai akan menderita.
Tapi malam pertunangan, segalanya berubah.
Di lorong gelap Hotel Mulia, Sekar yang mabuk tanpa sengaja menyentuh orang yang paling tidak boleh dia sentuh — **Renard Liem**. Bukan tunangannya Kevin, tapi sepupu Kevin. Pewaris sejati keluarga Liem. Pria paling berbahaya di Jakarta.
Dan Renard... tidak melepaskannya.
Di balik wajah dinginnya, Renard menyimpan rahasia sendiri — dia **tahu** Sekar bukan Felicia. Tapi alih-alih membongkar kebohongannya, dia justru melindunginya. Membelikannya cincin rubah berlian merah. Mempertaruhkan nyawa untuknya. Menyerahkan seluruh kekayaannya atas nama Sekar.
Tapi cinta Renard datang dengan harga.
Sekar terjebak di antara pertarungan warisan keluarga Liem yang brutal — Darren si sepupu licik, Jesslyn si menantu yang menyimpan pisau di balik senyum, dan Engkong Liem yang memainkan semua orang seperti bidak catur. Belum lagi jantung Sekar yang semakin lemah, dan masa lalu Renard yang bisa menghancurkan segalanya...
Termasuk sebuah kebenaran tentang kematian ayah Sekar — kebenaran yang mengarah langsung ke tangan pria yang paling dia cintai.
**Bisakah cinta bertahan ketika semua yang kamu percaya ternyata kebohongan?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18: Topeng Retak
Wira muncul lagi tiga hari kemudian, kali ini di tempat yang lebih berani.
Sekar baru keluar dari toko bunga dekat Kediaman Liem ketika lelaki itu berdiri di samping mobil, tersenyum seolah mereka teman lama. Sopir keluarga Liem sedang membantu memasukkan rangkaian bunga ke bagasi. Jarak mereka terlalu dekat dengan gerbang rumah besar itu.
"Kamu gila?" bisik Sekar.
"Aku butuh kepastian."
"Bukan di sini."
Wira menunduk seolah sedang memeriksa bunga, tetapi suaranya menusuk. "Satu bulan terlalu lama. Aku berubah pikiran."
"Kita sudah sepakat."
"Orang miskin boleh berubah pikiran kalau perutnya lebih cepat lapar daripada janji perempuan kaya."
Sekar menahan diri untuk tidak melihat sopir. "Saya belum punya uang."
"Kalau begitu cari. Atau aku mulai kirim potongan kecil bukti ke orang yang berbeda. Satu untuk keluarga Tan. Satu untuk keluarga Liem. Satu mungkin untuk perempuan cantik bernama Celine."
Nama Celine membuat tenggorokan Sekar kering.
"Jangan libatkan dia."
"Berarti dia berguna."
Wira pergi sebelum Sekar sempat menjawab. Sopir menutup bagasi dan bertanya apakah Nona baik-baik saja. Sekar hanya mengangguk. Di rumah ini, bahkan ketakutan harus disembunyikan dari orang yang membukakan pintu.
Sore itu, keluarga Liem mengadakan pertemuan kecil dengan beberapa kerabat dekat. Tidak sebesar makan malam Ong, tetapi cukup banyak mata untuk membuat kesalahan kecil menjadi cerita. Sekar berdiri di dekat meja minuman ketika Celine mendekat dengan senyum yang sudah ia kenal.
"Ci Feli, aku dengar keluarga Tan dulu sering tinggal di luar negeri ya?"
Sekar meletakkan gelas. "Tidak juga."
"Oh? Aku kira begitu. Soalnya ada beberapa hal tentang masa kecil Ci yang tidak pernah aku dengar." Celine menoleh kepada Yolanda dan dua tante lain. "Padahal calon menantu Liem biasanya asal-usulnya jelas sekali, kan?"
Salah satu tante tertawa canggung.
Sekar merasakan wajahnya tetap tenang karena latihan, bukan karena tidak sakit. "Mungkin karena keluargaku tidak suka membicarakan anak yang kesehatannya dulu lemah."
"Lemah?" Celine memiringkan kepala. "Tapi semalam pertunangan Ci kelihatan kuat sekali. Jalan sendiri ke mana-mana."
Tusukan itu hampir mengenai.
Kevin datang tepat saat Sekar hendak menjawab. Ia mungkin mendengar bagian akhir percakapan, karena wajahnya langsung mengeras.
"Celine, cukup."
Untuk satu detik, Sekar mengira Kevin akan membelanya.
Lalu pria itu berbalik padanya.
"Kamu juga. Bisa tidak sehari saja tidak membuat orang bertanya-tanya?"
Ruangan kecil itu hening.
Sekar menatap Kevin. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Justru itu masalahnya. Kamu berdiri saja sudah membuat orang merasa ada yang aneh."
Beberapa orang pura-pura melihat makanan. Celine menunduk, tetapi sudut bibirnya bergerak puas. Sekar merasakan sesuatu di dadanya retak, bukan karena Kevin, melainkan karena ia harus tetap berdiri di sana seolah tidak dipermalukan di depan orang-orang yang menunggu ia tersandung.
"Maaf," katanya pelan.
Kevin mendengus. "Kamu membuatku malu."
Ia mengatakannya cukup keras untuk didengar Celine, cukup pelan untuk membuat orang lain bisa pura-pura tidak mendengar. Itulah kekejaman yang paling rapi di rumah ini. Tidak ada teriakan, tidak ada tangan terangkat, tetapi martabat seseorang bisa dipatahkan di depan meja kue.
Sekar menunduk sedikit, mengikuti peran yang diharapkan semua orang.
Namun ketika Kevin menarik lengannya ke lorong samping setelah acara bubar, rasa kebas di dadanya berubah menjadi nyeri.
"Apa lagi yang kamu sembunyikan?" Kevin bertanya.
Sekar melepaskan lengannya. "Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu."
"Jangan bicara seolah kita dekat. Aku tidak peduli apa pun yang kamu lakukan selama tidak menyeret namaku."
"Namamu?" Sekar menatapnya. "Semalam kamu membiarkan Celine mempermalukanku di depan keluargamu."
"Karena kamu memberi dia celah." Wajah Kevin memerah oleh marah yang tidak matang. "Kalau kamu benar-benar Felicia Tan yang pantas, tidak ada orang berani bertanya seperti itu."
Kalimat itu hampir membuat Sekar lupa bernapas.
Kalau kamu benar-benar Felicia Tan.
Kevin tidak tahu, tetapi kata-katanya menekan tepat di atas rahasia yang bisa membunuhnya.
"Jaga mulutmu," katanya pelan.
Kevin terkejut, mungkin karena untuk pertama kalinya ia mendengar nada itu darinya.
Sebelum ia sempat membalas, seorang pelayan lewat di ujung lorong. Sekar memanfaatkan jeda itu untuk pergi. Ia tahu jika tinggal satu detik lebih lama, ia mungkin mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Kalimat itu menyala di telinga Sekar bahkan setelah pertemuan selesai. Di lorong menuju Paviliun Mei, ia berjalan terlalu cepat sampai napasnya tersengal. Ia hampir tidak melihat Renard berdiri di dekat pintu samping.
"Ikut aku."
Sekar berhenti. "Aku sedang tidak ingin diperintah."
"Bagus. Berarti kamu masih punya tenaga."
Ia ingin membalas, tetapi wajah Kevin, senyum Celine, dan ancaman Wira menumpuk terlalu berat. Pada akhirnya ia mengikuti Renard menuju Rumah Tua tanpa banyak bicara.
Di ruang depan, Renard memberikan sebuah amplop cokelat.
"Apa ini?"
"Catatan lama Wira."
Sekar membuka amplop. Di dalamnya ada salinan laporan polisi, foto buram dari kamera keamanan, dan beberapa nama korban pemerasan kecil. Ada juga catatan hutang dan bukti bahwa Wira pernah menggunakan identitas palsu untuk mengurus pinjaman.
Tangannya berhenti gemetar.
"Ini..."
"Senjata."
Renard menunjuk satu halaman. "Ini korban yang belum berani melapor. Kalau Wira menekanmu lagi, sebut nama ini. Dia akan tahu kamu tidak hanya memegang kertas kosong."
"Dan kalau dia tetap nekat?"
"Halaman berikutnya."
Sekar membalik. Ada bukti transfer ke rekening yang bukan atas nama Wira, tetapi foto di sampingnya menunjukkan lelaki itu menarik uang dari ATM dengan topi dan masker.
"Dia memakai rekening orang lain," kata Sekar.
"Dan orang itu sekarang bekerja sebagai satpam di gudang milik kerabatku." Renard menatapnya. "Kalau perlu, saksi itu bisa muncul."
Sekar menggenggam amplop lebih erat. Senjata itu tidak bersih. Tidak ada yang bersih di sekitar Renard. Tetapi untuk pertama kalinya, kotoran dunia itu tidak hanya menempel di kulitnya sebagai noda. Ia bisa menggenggamnya sebagai pisau.
Sekar mengangkat wajah.
Renard berdiri di depan perapian mati, tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyerahkan kemampuan menghancurkan hidup orang lain.
"Aku bisa memakainya untukmu," katanya. "Tapi lebih baik kamu belajar memegangnya sendiri."
Sekar menatap isi amplop itu lagi.
Selama ini semua orang memegang sesuatu atas dirinya: Lilian memegang Hwee Kin dan Bella, Wira memegang identitas palsu, Celine memegang kecurigaan, Kevin memegang posisi sosial. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu di tangannya yang bisa membuat orang lain mundur.
Rasa takut tidak hilang.
Tetapi bentuknya berubah.
"Kenapa memberikannya padaku?"
"Karena orang yang selalu diselamatkan tidak pernah belajar berdiri."
Kalimat itu tidak lembut, tetapi malam itu, Sekar menerimanya lebih baik daripada simpati.
Renard menatap amplop di tangannya.
"Sekarang," katanya, "kamu punya senjata sendiri."