Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sementara itu, di kediaman keluarga Elvano. Suara teriakan nyaring tiba-tiba memecah ketenangan rumah.
"Salsa! Kenapa kamu mau menggendong anak haram itu?!"
Jesika menatap saudara kembarnya dengan wajah merah padam karena marah. Di hadapannya, Salsa sedang duduk di sofa sambil memangku Arcelio yang terlihat tertidur pulas.
Mendengar teriakan itu, Salsa bahkan tidak mengangkat kepalanya. Dia hanya melanjutkan membaca buku yang berada di tangan kirinya.
"Pelankan suaramu, Kak."
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" bentak Jesika kesal. "Kenapa kamu menggendong anak perempuan itu?"
Salsa akhirnya menutup bukunya perlahan. "Ini anak laki-laki."
"Aku tidak peduli!" Jesika menghentakkan kakinya. "Pokoknya kenapa kamu menggendong anak Serina?"
Salsa menatap saudara kembarnya dengan ekspresi datar. "Kenapa tidak?"
"Karena dia anak haram!"
Tatapan Salsa langsung berubah dingin. "Kakak."
Nada suaranya sangat tenang. Namun justru itulah yang membuat Jesika sedikit gugup. "Apa?"
"Kalau Kak Cristian tidak mengakui anak itu, bukan berarti kamu bisa menghina seorang bayi."
Jesika terdiam sesaat. Dia tidak menyangka Salsa akan membela Arcelio.
"Kamu membelanya?"
"Aku membela menggunakan akal sehat." Salsa mengalihkan pandangannya kepada Arcelio yang masih tertidur dengan damai. "Anak ini tidak melakukan kesalahan apa pun."
"Tapi ibunya—"
"Dan dosa ibunya juga bukan urusannya."
Jesika langsung membisu. Untuk pertama kalinya sejak mereka lahir, Salsa berani membantahnya secara terang-terangan. Hal itu membuat Jesika merasa semakin kesal.
"Kamu berubah."
"Tidak." Salsa kembali membuka bukunya. "Kamu yang terlalu berisik."
Jesika hampir meledak karena emosi. Namun sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Serina muncul sambil membawa segelas susu hangat, dia baru saja selesai mengganti pakaian selepas dari kantor suaminya.
Dia berhenti ketika melihat Salsa dan Jesika saling menatap tajam.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" tanya Serina santai.
Jesika langsung mendengus. "Ambil anakmu!"
Serina mengangkat sebelah alisnya. Sebaliknya, Salsa justru memeluk Arcelio sedikit lebih erat. "Tidak boleh."
Jawaban singkat itu membuat Jesika semakin kesal.
Sementara Serina hanya menahan tawa melihat ekspresi adik iparnya yang mulai kehilangan kesabaran. Situasi di rumah besar itu perlahan berubah menjadi jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan.
"Kenapa kamu malah menahannya? Berikan anak haram itu pada Ibunya, Sal." Ujar Jesika marah.
Salsa melemparkan tatapan dingin pada Jesika. "Berhenti mengatakan Arcelio anak haram, dia keponakan kamu juga."
"Aku tidak peduli, sampai kapan pun aku tidak mau mengakui bayi itu sebagai keponakan aku. Kak Cristian aja tidak mengakuinya, untuk apa aku mengakui anak yang jelas-jelas bukan darah daging kakakku sendiri?" Seru Jesika.
"Jaga bicaramu, Kak. Bagaimana pun juga, Arcelio tetap anak kak Cristian, dan dia keponakan aku!" Jawab Salsa dengan nada tajam.
Seharian ini dia sudah menghabiskan waktu bersama bayi itu, dan dia merasa nyaman. Apa lagi Arcelio sangat pandai mengambil hatinya dengan keimutan dan wajah polos bayi itu, siapa pun yang melihatnya pasti langsung jatuh hati seperti dirinya.
"Terserah apa katamu, tapi aku tetap tidak mau menganggap dia sebagai keponakanku."
"Kamu dengar dari mana kabar itu, Jes? Siapa yang mengatakan bahwa anakku bukanlah anak Cristian?" Tanya Serina yang sejak tadi hanya menjadi pengamat.
"Aku yang bilang, kenapa? Tidak terima?" Jesika tersenyum mengejek. "Kakak aku aja tidak pernah mengakui anakmu sebagai anaknya, terus kalo bukan anak haram emang anak apa? Anak tidak berguna?"
"Tutup mulutmu, kamu sangat keterlaluan, Jesika!" Sentak Salsa mulai hilang kesabaran.
Jesika menoleh tidak percaya kepada saudara kembarnya yang hanya beda lima menit saat lahir. "Kamu membentakku karena anak itu?"
"Aku membentakmu karena kamu tidak tahu batas!" balas Salsa tanpa gentar.
Untuk sesaat ruang keluarga menjadi sunyi. Bahkan para pelayan yang sedang bekerja di sekitar sana langsung menghentikan langkah mereka dan memilih menjauh. Tidak ada yang berani ikut campur ketika dua putri keluarga Elvano sedang bertengkar.
Serina menyandarkan tubuhnya pada kusen pintu sambil memegang gelas susu. Dia tidak berniat ikut campur. Setidaknya untuk saat ini.
Jesika tertawa sinis. "Luar biasa. Baru beberapa hari tinggal serumah dengan wanita itu, sekarang kamu sudah berada di pihaknya."
"Aku tidak berada di pihak siapa pun."
"Jangan bohong!"
Salsa berdiri perlahan dari sofa. Gerakannya sangat hati-hati agar Arcelio tidak terbangun. "Aku hanya mengatakan yang benar."
"Benar menurutmu!"
"Benar menurut fakta."
Jesika mengepalkan kedua tangannya. "Kamu benar-benar percaya anak itu anak Kak Cristian?"
Salsa menatap saudara kembarnya lurus-lurus. "Aku tidak punya alasan untuk meragukannya."
"Lalu bagaimana dengan Kak Cristian? Kenapa dia tidak pernah mengakuinya?"
Pertanyaan itu membuat Salsa terdiam sesaat. Namun sebelum dia sempat menjawab, suara Serina terdengar lebih dulu.
"Mungkin karena suamiku keras kepala."
Jesika langsung mendengus. "Kamu masih berani menyebutnya suami?"
Serina tersenyum tipis. "Selama surat cerai belum keluar, dia memang masih suamiku."
Jawaban itu membuat Jesika semakin jengkel. Wanita itu memang selalu seperti itu. Tidak peduli seberapa tajam hinaan yang diterimanya, Serina selalu mampu menjawab dengan tenang seolah tidak tersentuh sedikit pun.
Padahal justru sikap itulah yang paling membuat Jesika kesal.
"Kamu sungguh tidak tahu malu."
"Terima kasih."
"Aku tidak sedang memuji!"
"Aku tahu."
Jesika hampir tersedak oleh emosinya sendiri. Dia menggeram marah, "Kamu memang wanita gila."
Serina terkekeh. "Sudahlah, jangan memperpanjang masalah yang tidak berguna."
"Tidak berguna? Kamu bahkan memaksa kak Cristian menikah denganmu."
"Benar, tapi bagaimana jika tuduhan yang kamu berikan tidak terbukti dan Arcelio memang anak Cristian, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Serina santai seolah tidak pernah terpancing oleh keributan yang ada.
.. pelan pelan sajaaaaa 🎵🎶🎵
mulai berpihak ke serin kamu cris🫶
novel kmrin blm selesai thor
cerita mu makin seruuu
ada sistem aseekkkk... bisa bantu seina menjinakkan Cristian 😁😁😁😁
ayoooo semangat update. aku maraton nih bacanya😁
lama lama kalau diperlakukan baik lemah lembut Cristian juga akan luluh yaa gaaakkkk😄😄😄
bagus si Serina, ambil hati suamimu. kalau ga bisa cara halus cara kasar aja. terjang 🤣🤣🤣