Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
“Alyssa, kau tidak berhak melakukan itu!” teriak Darius penuh emosi.
Alyssa langsung menoleh dengan tatapan dingin.
“Kenapa?” ucapnya pelan, lalu tersenyum sinis. “Apakah kau pikir aku masih tertarik padamu?”
Tatapannya naik turun mengejek.
“Lihat dirimu sekarang.” Nada suaranya semakin tajam. “Selain berselingkuh, kau bahkan sudah tidak mampu di atas ranjang."
Wajah Darius langsung berubah merah karena dipermalukan.
“Aku tidak terinfeksi penyakit kotor seperti kalian,” lanjut Alyssa dingin. “Aku tidak ingin anakku ternoda oleh sentuhan pria seperti dirimu.”
Para wartawan langsung semakin heboh mendengar ucapan itu.
Alyssa kemudian berbalik menghadap kamera.
“Teman-teman!” suaranya terdengar lebih keras. “Wanita ini merebut suamiku saat aku hamil besar!”
Ia menunjuk Vanessa tanpa ragu.
“Bahkan mereka tinggal bersama di rumah ini, dan aku diperlakukan seperti pembantu!”
Suaranya mulai bergetar, matanya tampak berkaca-kaca.
“Aku harus melayani mereka setiap hari…” “Aku yang sedang hamil besar justru diperlakukan seperti orang asing di rumah sendiri!”
Beberapa wartawan langsung bereaksi.
“Ini sudah keterlaluan!” “Tidak pantas dilakukan pada seorang istri!”
Alyssa menarik napas pelan.
“Dia tidak pernah berjasa dalam keluarganya sendiri. Semua biaya hidupnya ditanggung keluarga Fan.”
Tatapannya semakin dingin.
“Aku merasa tertipu oleh semua janji manisnya. Hari ini aku tegaskan… aku akan meninggalkan pria ini.”
Ia menatap Darius langsung.
“Bukan dia yang membuangku. Tapi aku yang membuangnya.”
Darius langsung menatap Alyssa tidak percaya.
“Alyssa… ini semua jebakanmu, kan?” tanyanya tajam.
Alyssa tersenyum tipis penuh kebencian.
“Aku hanya membalas apa yang sudah kau lakukan padaku. Luka yang kau berikan… tidak akan pernah sembuh.”
Beberapa saat kemudian…
Ponsel semua orang di ruangan itu berbunyi bersamaan.
Video rekaman Darius dan Vanessa tersebar di media sosial.
Suasana langsung berubah ricuh.
Para wartawan semakin liar mengambil gambar.
“Ini skandal besar keluarga Fan! Berita ini akan viral!”
Rina yang berdiri di samping Alyssa mengedipkan mata pelan.
“Sudah tersebar,” ucapnya pelan sambil tersenyum.
Alyssa hanya menatap layar ponselnya dengan dingin.
Di layar itu, video Darius dan Vanessa sudah menyebar ke seluruh internet.
“Darius Fan… Vanessa Fu…” gumam Rina sambil tertawa kecil. “Hebat sekali kalian. Kalau dijual, mungkin laku mahal.”
Ia melirik Vanessa dengan senyum sinis.
“Mungkin kau cocok jadi aktris film dewasa.”
Vanessa langsung menangis dan menjerit histeris.
Sementara Darius berdiri kaku, wajahnya pucat penuh amarah dan kehancuran.
Tidak lama kemudian…
Alyssa berbalik dan meninggalkan lokasi tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, suara kamera dan kekacauan terus terdengar.
Tapi langkahnya tetap tenang.
Karena untuk pertama kalinya, Ia benar-benar melepaskan semuanya.
***
Mansion keluarga Fan terasa mencekam malam itu.
Di aula utama, Darius sudah berlutut di depan altar leluhur dengan tubuh penuh luka dan wajah yang memar. Akibat menerima hukuman keluarga.
Di sampingnya, Mike berdiri tegak dengan tongkat di tangan, ekspresinya dingin tanpa belas kasihan.
Lucien berdiri sedikit di belakang, menatap semua itu dengan wajah datar.
Sementara Jean berdiri tidak jauh dari sana, matanya berkaca-kaca melihat anaknya diperlakukan seperti itu.
Dan di sisi lain…
Alyssa berdiri tenang.
Tatapannya lurus, tidak ada sedikit pun rasa iba pada Darius.
Mike mengangkat suaranya dengan tegas.
“Anak durhaka!” bentaknya keras. “Kenapa kau bisa melakukan hal memalukan seperti ini?!”
Tongkatnya menghantam punggung Darius lagi.
Plak!
Darius menggertakkan gigi, menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
“Hubungan kotor di kantor dan di rumah sendiri!” Mike kembali menatapnya tajam. “Apakah kau bukan manusia?!”
“Pa…” suara Jean bergetar. “Darius sudah dihukum sejak tadi… dia masih muda… tolong maafkan dia…”
Lucien langsung menoleh.
“Usianya tiga puluh tahun,” ucapnya dingin. “Bukan anak kecil lagi.”
Jean langsung terdiam.
“Dia hanya hidup terlalu dimanjakan sampai tidak tahu konsekuensi,” lanjut Lucien.
Jean tiba-tiba menunjuk ke arah Alyssa.
“Ini semua karena dia!” “Kalau bukan karena dia memanggil wartawan, ini tidak akan terjadi!”
Tatapan semua orang langsung mengarah ke Alyssa.
Alyssa menatap Jean tanpa takut sedikit pun.
“Tidak bisa menjaga anakmu sendiri, lalu menyalahkan orang lain?” ucapnya dingin.
Plak!
Tiba-tiba Jean menampar wajah Alyssa keras.
“Seharusnya kau bercermin!” bentak Jean marah. “Kalau kau istri yang baik, suamimu tidak akan berselingkuh! Vanessa bahkan lebih baik darimu!”
Mike langsung mengangkat tongkatnya.
Brak!
Tongkat itu menghantam kaki Jean.
“Aahh!” Jean menjerit kesakitan dan hampir jatuh.
“Berani sekali kau menyentuhnya!” bentak Mike.
Jean menahan sakit sambil berusaha berdiri.
“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!” teriaknya. “Darius dulu sangat mencintainya, tapi dia hanya tahu makan dan tidur! Tidak membantu suami sama sekali!”
Lucien akhirnya melangkah maju. Tatapannya tajam menembus Jean.
“Apakah keluarga Fan tidak mampu membiayai istrinya sendiri sampai harus memaksa istrinya bekerja?” suaranya dingin. “Lalu apa gunanya dia menjadi seorang anak laki-laki tapi masih bergantung pada wanita?”
Jean terdiam.
Lucien melanjutkan dengan nada lebih tajam.
“Dulu kau sendiri apa yang sudah kau lakukan untuk suamimu? Belanja, spa, salon, foya-foya. Bahkan memasak pun tidak pernah.”
Jean tidak bisa membalas.
Lucien menatapnya semakin dingin.
“Bahkan di saat kau melahirkan, kami diberi dua pilihan antara dirimu dan anakmu. Tapi kami lebih memilih menyelamatkanmu daripada anakmu.”
“Jangan lupa, apa yang dilalui Alyssa jauh lebih sulit daripada dirimu. Lalu kenapa kakakku yang bodoh itu tidak berselingkuh?”
Lucien menatap tajam.
“Karena kami dididik untuk setia pada satu wanita. Hanya maut yang memisahkan.”
“Sementara anakmu sama sekali tidak bisa mengikuti peraturan keluarga dan selalu merasa dirinya di atas angin, hanya karena dia satu-satunya penerus keluarga Fan,” lanjut Lucien dengan suara dingin.
Jean hanya diam, menahan amarahnya.
“Kakek,” suara Alyssa terdengar tegas saat ia melangkah maju. “Hari ini aku di sini ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin bercerai, dan Kael harus ikut denganku.”
“Tidak bisa!” bantah Jean cepat. “Kalau ingin bercerai silakan, tapi jangan berharap bisa merebut Kael dari kami!”
“Kael adalah anakku,” jawab Alyssa tanpa gentar. “Aku tidak ingin dia rusak karena didikanmu dan Darius.”
“Apa yang kau katakan?” suara Jean meninggi, penuh emosi.
“Maksudku, aku tidak ingin anakku tumbuh seperti anakmu,” ucap Alyssa dingin.
Jean mengangkat tangan, hendak menampar Alyssa.
Plak!
Namun sebelum tangan itu mengenai wajahnya, Alyssa lebih cepat menepis dan membalas dengan tamparan keras ke wajah Jean.
Jean terhuyung kecil, matanya langsung membesar.
“Kau berani menamparku?!” teriak Jean penuh emosi.
Alyssa memegang tangannya sendiri, lalu menatap Jean dengan sorot dingin dan tajam.
“Karena kau tidak pernah menjadi mertua yang baik,” ucap Alyssa tenang namun menusuk.
“Selama aku menikah dengan anakmu, kau selalu mencari alasan untuk menyalahkanku. Kau selalu membanggakan Darius seolah dia adalah orang yang penting, lalu merendahkanku tanpa alasan.”
Alyssa melangkah satu langkah lebih dekat.
“Kalau kau ingin tahu yang sebenarnya… di mataku, anakmu sama sekali tidak berguna, sama seperti dirimu.”
ayooooo