Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.18 satu bukti terungkap
Di dalam apartemennya Dimas terlihat dia sedang merapikan jasnya di dalam kamarnya dan setelah itu dia berjalan ke ruang meja makan. Di sana sudah terhidang makanan yang sudah dia masak sendiri pagi tadi. Dimas sudah terbiasa masak sendiri sejak dia duduk di bangku SMA.
Dimas memasak rendang daging tadi pagi dengan bumbu instan yang sudah dia siapkan kemaren pas belanja bulanan di supermarket.
Aroma rendang daging yang wangi menggugah selera Dimas untuk segera menyantap makanannya.
Dimas segera duduk di kursi meja makan, dia mengambil piring yang ada di hadapannya lalu mencentong nasi yang masih berada dalam Magicom mini yang dia letakkan juga diatas meja makan, lalu dia juga menyendok rendang daging buatannya tadi.
Selera makan Dimas sangat baik hari ini setelah kemaren dia menemukan jawaban alasan Ratih menjauh darinya walaupun masih dalam tahap penyelidikan.
Dimas mulai menyantap makanannya dengan sangat lahap sekali tapi di tengah-tengah dia menyantap makanan itu tiba-tiba saja Kenzo menelpon dirinya.
Dengan segera Dimas meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja makan di sampingnya.
"Ya Ken. Ada kabar?" buru Dimas gak sabar setelah mengangkat telepon dari Kenzo.
"Banyak Dim," ucap Kenzo dengan nada serius.
"Banyak," Dimas menghentikan mengunyah makanannya, dia lebih fokus pada apa yang akan di bicarakan oleh Kenzo.
"Ya, banyak sekali Dim. Tapi aku gak akan cerita di sini, pagi ini sebelum aku ke kantor aku akan mampir ke kantormu," kata Kenzo membuat Dimas penasaran.
"Oke. Aku tunggu kamu."
"Oke Dim."
Dimas dan Kenzo mengakhiri percakapan mereka di telepon. Sementara itu selera makan Dimas yang tadinya menggebu-gebu kini sudah hilang. Dia menyudahi makannya walaupun rasanya dia ingin nambah lagi tapi keburu dia ingin tahu berita apa yang akan Kenzo sampaikan padanya tentang perusahaan ayah Ratih nanti.
Dimas segera bangkit dari kursi meja makan itu dan menghambur ke arah bufet tempat dia meletakkan kunci kontak mobilnya.
Kunci kontak mobil itu sudah di tangannya dan dengan setengah berlari Dimas menuju ke teras depan apartemennya tempat mobilnya yang di parkir di sana.
Dimas segera masuk ke dalam mobilnya, sejurus kemudian dia sudah melajukan mobilnya ke arah jalan raya yang sudah padat dengan lalu lalang kendaraan bermotor karena pagi ini memang jam kerja dan jam-jam padat di jalan.
...----------------...
Tak berapa lama kemudian Dimas sudah memarkir mobilnya di area basement gedung kantornya. Setelah memarkir mobil, Dimas berjalan masuk ke dalam gedung kantor itu.
Di koridor yang menuju ke arah ruang kantornya Dimas berpapasan dengan Ratih dan seperti biasa Ratih selalu menghindari kontak mata dengan Dimas. Ratih lebih memilih jalan lain untuk tidak berhadapan dengan Dimas.
Dimas sudah tidak memperdulikan sikap Ratih itu karena ada hal yang lebih penting dari sikap dingin Ratih yang harus di ketahui. Dimas terus saja berjalan menyusuri koridor sampai akhirnya dia tiba di depan pintu ruang kerjanya.
"Pagi pak Dimas," sapa Cindy yang kebetulan berpapasan dengan Dimas juga.
"Hmm." Jawab Dimas pendek.
Cindy mengerutkan keningnya mendengar jawaban Dimas yang tidak seperti biasanya saat dia menyapa.
"Pak Dimas kenapa ya? Kok gak kayak biasanya menjawab sapaan ku tadi," Cindy memicingkan matanya melihat Dimas yang sudah masuk ke dalam ruang kantornya.
Dimas duduk di kursi sofa dan dengan segera menelpon Kenzo.
"Ken, kamu sudah mau berangkat ke kantorku?" tanya Dimas.
"Iya, ini aku sudah di jalan menuju ke kantormu." ucap Kenzo menjawab telepon dari Dimas sambil masih menyetir.
"Oke, aku tunggu." Dimas menutup teleponnya.
...----------------...
Sementara itu di dalam ruangan kantor Ratih dan Cindy.
" Eh Rat tadi aku kan papasan sama Pak Dimas waktu di koridor, lalu aku menyapa dia seperti biasanya tapi tau gak jawaban dia itu cuma 'Hmm' gitu aja gak kayak biasanya," Cindy menatap Ratih seperti meminta penjelasan.
Ratih terdiam untuk sejenak dia juga mikir kalau tadi dia juga sempat berpapasan dengan Dimas tapi Ratih merasa kalau sikap Dimas juga gak kayak biasanya.
"Rat, di tanya kok malah bengong sih," ucap Cindy kesal.
"Mana aku tahu Cin..., coba sana kamu tanya sendiri ke orangnya," seloroh Ratih pada sahabatnya itu.
"Kamu," Cindy merengut menimpuk pundak Ratih pelan.
...----------------...
"Permisi," ucap Kenzo pada resepsionis kantor Dimas.
"Ya," jawab resepsionis itu sambil mendongakkan kepalanya menatap Kenzo.
"Saya mau bertemu dengan Pak Dimas?"
"Oh. Bapak Pak Kenzo?" resepsionis itu balik tanya pada Kenzo.
Kenzo menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan resepsionis itu.
"Mari saya antar Pak Kenzo ke ruangan Pak Dimas."
Kemudian resepsionis itu mengantarkan Kenzo berjalan menuju ke ruangan Dimas.
"Silahkan masuk pak Kenzo. Tadi Pak Dimas sudah berpesan kalau Pak Kenzo sudah datang di suruh masuk ke ruangannya saja, katanya," jelas resepsionis itu ramah pada Kenzo.
"Baik. Terimakasih," Kenzo pun membalas ramah pada resepsionis itu.
Setelah resepsionis itu pergi, Kenzo akhirnya masuk ke dalam ruang kantor Dimas.
"Kenzo!" pekik Dimas sambil beranjak dari tempat duduknya saat melihat Kenzo masuk ke dalam ruang kantornya.
"Dim."
Mereka saling berpelukan karena sudah lama tidak pernah ketemu, Kenzo adakah teman Dimas sewaktu mereka kuliah dulu.
"Duduk Ken," Dimas membimbing Kenzo duduk di kursi sofa.
"Kamu mau minum apa Ken?" tanya Dimas.
"coffe white aja Dim."
"Oke."
Dan tak lama kemudian seorang office girl masuk ke dalam ruangan Dimas dengan membawa dua cangkir yang berisi coffe white pesanan Kenzo tadi dan yang satu punya Dimas.
"Minum dulu Ken," ucap Dimas pada Kenzo.
Kemudian Kenzo meraih salah satu cangkir coklat yang berisi coffe white itu dan menyeruputnya dengan perlahan.
"Bagaimana Ken? apa yang sudah kamu dapatkan?" buru Dimas tidak sabar.
"Begini Dim. Ternyata Regan itu sangat licik."
"Licik?" Dimas menatap Kenzo sambil memicingkan kedua matanya.
"Ya. Dia licik. Kamu tahu, dia dengan sengaja sudah membuat perusahaan ayahnya Ratih menjadi bangkrut." Kenzo menggeser laptopnya ke arah Dimas, menunjukkan beberapa laporan keuangan dan grafik saham dari perusahaan keluarga Regan beberapa tahun lalu.
Dimas menatap layar itu dengan rahang yang mengeras. Tangannya mengepalkan tinju kuat-kuat di atas meja, menahan emosi yang mendadak bergejolak di dadanya.
"Dia memanipulasi pasar, memutus jalur pasokan bahan baku perusahaan ayah Ratih, lalu menyebarkan rumor bohong tentang kegagalan produk mereka," jelas Kenzo ikut geram. "Begitu perusahaan ayah Ratih bener-bener hancur dan terlilit utang di mana-mana, Regan datang berakting jadi pahlawan. Dia memberikan suntikan dana besar, tapi dengan satu syarat mutlak."
"Pernikahan dengan Ratih," potong Dimas dengan suara rendah, bergetar menahan amarah.
"Tepat," Kenzo mengangguk. "Regan tidak pernah menyelamatkan siapa pun, Dim. Dia yang bikin perusahaan itu hancur, lalu dia juga yang datang seolah-olah jadi penolong. Dia menjebak Ratih dan keluarganya lewat utang budi palsu ini."
Dimas bersandar pada kursinya, napasnya memburu. Pikirannya langsung melayang pada kejadian di ruang rapat tadi siang.
Pantas saja Ratih menolak mendengarkan penjelasannya di basement. Pantas saja jemari wanita itu memucat karena memegang pulpen terlalu erat saat disentuh Regan. Ratih mengorbankan seluruh hidup dan kebahagiaannya demi menyelamatkan ayahnya dari kehancuran yang sebenarnya direncanakan oleh pria bajingan itu.
"Dim, kamu gak apa-apa?" tanya Kenzo cemas melihat tatapan mata Dimas yang mendadak berubah menjadi sangat dingin.
Dimas tidak menjawab. Dia menutup laptop Kenzo dengan perlahan, lalu berdiri dari duduknya. Rasa sakit hati dan kecemburuan yang selama ini menyiksanya menguap begitu saja, digantikan oleh tekad yang bulat untuk membebaskan Ratih.
"Ratih harus tahu hal ini, Dim," ucap Kenzo lagi.
"Belum saatnya, Ken," jawab Dimas, suaranya terdengar sangat tenang, namun ketenangan itu justru terasa mencekam. "Kalau aku memberi tahu Ratih sekarang tanpa bukti hukum yang kuat, dia hanya akan panik dan Regan pasti akan memperketat penjagaannya."
Dimas berjalan menuju jendela kaca besar di ruangannya.
"Kamu sudah bertahan di tempat yang salah terlalu lama Rat, batin Dimas bersumpah. Kalau dulu aku pergi karena tidak bisa berbuat apa-apa, maka kali ini, aku akan menghancurkan semua kebohongan Regan untuk membawamu pulang."
Dimas menoleh kembali pada Kenzo. "Ken, tolong simpan semua dokumen ini baik-baik. Dan satu lagi... cari tahu siapa orang dalam di perusahaan ayah Ratih yang membantu Regan waktu itu. Aku mau tahu semuanya."